Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
09| Mengidam Itu Merepotkan


__ADS_3


Naura membuka paksa mata lebar-lebar, memandang sayu pada langit-langit kamar. Gelap masihlah setia menemani sunyinya malam. Kehangatan selimut yang tersaji bagai berada dalam pelukan hangat sang kekasih, tak mampu membuatnya terbuai kembali ke alam mimpi.


Naura mendesah panjang.Ia bukan terbangun karena bermimpi buruk, melainkan terbangun karena perutnya lapar. Repotnya lagi, ingin makan Jajangmyeon pedas dan masih panas sekarang juga. Haruskah tak mengabulkan kembali permintaan jabang bayinya, setelah seminggu yang lalu gagal memenuhi keinginan mengidamnya ini.


"Baby, please. Mintanya jangan yang susah-susah ya, Mommy bingung cari makanannya kemana," gumam Naura memelas seraya mengelus perut buncitnya, seolah memohon pada sang kekasih untuk tetap tinggal dengannya.


"Mana lagi sudah turun salju. Di luar dingin," tambahnya, melirik tirai jendela yang terbuka lebar. Butiran-butiran salju turun dengan derasnya. Melihat salju putih itu, siapa yang mau ke luar membeli Jajangmyeon, terlebih di jam tengah malam seperti ini.


Kruuuk


Namun sepertinya, sang jabang bayi tak mengerti kehendak sang ibu. Perutnya mengaum keras, seakan berdemo pada kepala departemen perusahaan, berusaha mengeluarkannya dari zona nyamannya.


"Ayolah, Baby, kita makan yang lain saja, ya, ya, ya," bujuk Naura.


Kruuuk


"Haaah ...." Naura mengembuskan napas berat berkali-kali, wajahnya mencebik. Ternyata calon bayi-nya tak menuruti keinginannya. Dengan lesu Naura bangun dari baringannya. Duduk bersila sambil bertopang dagu, sesekali meniup-niup poninya yang menjuntai. Keningnya berkerut dalam layaknya seorang filsuf yang berpikir keras. Memikirkan siapa yang akan bersedia dimintai tolong olehnya, di tengah malam dan di tengah cuaca dingin begini.


Sunny atau pun Do-jin, yang biasanya dia buat repot untuk menuruti acara mengidamnya, baru saja pulang ke Indonesia. Dan itu pun, kembali ke apartemen seminggu kemudian.


"Hey!" Naura meraih boneka kodok-nya, menatap mata bulat besarnya begitu lekat.


"Bantuin aku mikir dong," lanjutnya sambil menekan-nekan mata besar bonekanya. Entah mengapa, melihat


boneka kodok-nya, Naura malah kepikiran dengan cowok yang matanya juga bulat besar. Yang beberapa minggu lalu, mengusik hidupnya, dan akhirnya, Naura melontarkan perkataan dingin padanya.


Setelah ucapannya waktu itu, sudah semingguan ini Raka tak pernah datang lagi ke apartemen. Memang Naura merasakan damai. Tetapi, justru rasa damainya itu membuatnya jadi linglung, seolah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.


"Kalau Sunny dan Do-jin, sudah gak mungkin. Raka?" Naura menggelengkan kepala. Menolak keras


keinginannya yang satu ini.


"Haaah, kalau bukan ketiganya, terus siapa lagiii," jerit Naura mulai frustrasi, sedangkan perutnya semakin mendesaknya, menyantap Jajangmyeon panas dan pedas secepatnya.


"Atau, aku minta tolong---Kak Neil!" Naura berseru saat wajah ramah Neil melintas dipikirannya. Seketika bibir plum Naura mengembangkan senyuman lebar.


"Kenapa dari tadi gak kepikiran sama Kak Neil. Bukankah dia juga di Korea," gumam Naura bersemangat. Bergegas meraih smartphone di atas nakas. Memencet nomor tujuan, menelepon Neil Sutanegara. Tempat curhatnya selama ini. Bukan tanpa alasan Naura menelepon Neil. Ia ingat betul pesan tetangganya ini setiap kali mereka bertemu. Bila terjadi seuatu padanya, cepat-cepat menghubunginya, walau itu tengah malam sekali pun.


Saat ini, bisakah meminta tolong pada pria itu?


Menagih perkataannya. Meski saat ini keadaannya tidak dalam keadaan buruk. Tapi ... tetap saja, tak bisa memenuhi keinginan mengidamnya sendirian.


"Maaf, Kak. Untuk pertama kalinya, aku ngerepotinmu di saat lagi hamil begini," lirih Naura sambil menunggu sambungannya diangkat Neil di seberang telepon. Selang beberapa detik, panggilannya langsung tersambung.


"Kakak.โ€ Naura merengek layaknya bocah TK meminta sesuatu ke orang tuanya.


"Ya, kenapa, Naura?"


"Maaf, Kak. Aku bangunin Kakak, malam-malam begini."


"Nggak apa-apa. Katakan saja apa yang kau ingini, eum," ujar Neil langsung.


"Masih ingat,'kan, sama ucapan Kakak sendiri."


"Hmmm, yang mana ya?"

__ADS_1


"Itu lho, bila keadaanku sedang buruk, aku harus telepon Kakak." Naura kembali berbaring telentang di tempat tidur sambil memeluk boneka kodok-nya, seukuran tubuh bayi berumur lima bulanan.


"Oh itu ... kenapa? Apa kondisi kandunganmu sedang gak baik?" tanya Neil, suaranya kedengaran begitu khawatir.


"Enggak. Kandunganku baik-baik saja. Tapi ...."


"Tapi?"


"Tapi, aku lagi ngidam kepingin makan Jajangmyeon." Naura mengelus perut buncitnya dari balik piyama-nya yang berbahan sifon. Terlihat jelas lekuk-lekuk tubuhnya dari baju transparan berwarna biru ini.


"Ya sudah, makan saja. Gak apa-apa. Tapi, jangan terlalu pedas juga ya."


"Bukan itu masalahnya." Naura mengerucutkan bibir plum-nya.


"Bukan itu masalahnya?" ulang Neil meng-copy paste ucapan Naura.


"Iya. Soalnya Jajangmyeon-nya belum ada." Naura menerawang, memandang lekat langit-langit kamar. Menjilati bibirnya yang sedikit kering, membayangkan semangkuk besar Jajangmyeon, begitu besar terlukis di langit-langit kamar. Pasti nikmat, dimakan saat masih panas di waktu dingin begini. Kembali Taemin menjilati bibirnya.


"Minta tolong belikan sama Sunny atau pacarnya saja." Suara Neil yang kedengaran serak di telinga Naura, seketika menghancurkan khayalannya akan Jajangmyeon di langit-langit kamarnya.


"Mereka pasti mau membelikanmu Jajangmyeon-nya," lanjut Neil.


Naura berdecak samar. "Aih, Kakak. Mulai muncul ih sifat pikunnya."


"Ya?"


"Kalau ada Sunny sama pacarnya, aku belum tentu telepon Kakak tengah malam begini," jawab Naura gemas sambil menggigiti kepala boneka kodok-nya. Terdengar di seberang telepon Neil terkekeh.


"Iya, Kakak lupa. Kau sudah cerita sebelumnya, kalau Sunny lagi pergi ke Indonesia."


"Tuh, kan."


"Kakak."


"Hm."


"Aku kepingin Kakak yang beliin Jajangmyeon-nya, mau ya," rengek Naura.


Hening. Lama tak ada jawaban dari seberang telepon.


"Kakak?"


"Iya."


"Mau ya, Kak. Kali ini saja. Please," pinta Naura memelas. Samar telinga Naura menangkap helaan napas panjang di seberang telepon, serta suara berisik orang-orang berbicara. Alis Naura bertautan erat bagai ulat bulu sedang kawin.


"Kakak sibuk, ya?" tebak Naura sambil menggigit jari telunjuknya. Sedikit merasa bersalah telah mengganggu Neil, tanpa bertanya terlebih dahulu.


"Maaf. Kakak lagi menunggu pasien yang sebentar lagi akan operasi."


"Tengah malam begini? Masih ada pasien yang mau operasi?" tanya Naura tak percaya. Berprofesi sebagai dokter ternyata tak enak juga. Waktunya banyak tersita untuk pasien.


"Banyak. Terlebih bila pasien itu dalam keadaan sekarat, butuh pertolongan secepatnya."


"Oh, begitu ya." Naura berkata dengan nada sedih. Sedih, sebab Neil tak bisa memenuhi keinginan mengidamnya. Naura juga tak bisa marah pada Neil. Ia mencoba mengerti pekerjaan Neil. Sebagai dokter, tentu saja hal yang paling penting adalah nyawa pasien. Sayup-sayup, Naura mendengar seseorang berbicara pada Neil memakai bahasa Korea. Sepertinya, jadwal operasi pasien akan segera dimulai.


"Maaf, Naura. Kakak harus tutup dulu teleponnya, ya."

__ADS_1


"Iya. Aku mengerti."


"Kalau kau mau, selesai operasi, Kakak akan belikan Jajangmyeon-nya," pungkas Neil sebelum benar-benar menutup pembicaraannya.


"Gak usah, Kak. Besok masih bisa beli, kok. He he he," balas Naura, jadi tak nyaman saat Naura berucap tak enak hati padanya.


"Sudah, ya, Kak. Naura tutup dulu. Selamat bekerja. Bye."


Segera Naura mematikan sambungan teleponnya, dan meletakkan kembali benda persegi panjang itu ke atas


nakas, lalu mendesah pendek.


"Maaf, Baby. Kali ini kita tak jadi makan Jajangmyeon-nya, kita makan Jajangmyeon-nya besok pagi saja, ya," bisik Naura sambil mengelus perutnya sayang. Ditariknya selimut sampai batas dada. Mulai memejamkan mata. Berharap ia bermimpi makan Jajangmyeon.


ใ€€


ใ€€


๐ŸƒDear, My Baby๐Ÿƒ


ใ€€


ใ€€


Naura kembali membuka mata saat mendengar suara bel apartemen berbunyi. Baru setengah jam menutup mata, baru juga mulai ingin bermimpi. Kini, dengan terpaksa kembali terbangun.


Kruuuk


"Sabar, ya, Baby. Kita cari makanan setelah bukain pintunya, ya," gumam Naura lesu ketika menuruni tangga menuju ruang tamu. Irisnya melirik angka di jam elektrik, melekat di dinding ruang keluarga; 01:30 AM. Benar-benar tengah malam. Sementara bel pintu apartemen terus mengaum tak sabaran, bagaikan seorang istri sah yang melabrak pelakor suaminya.


Siapa yang tengah malam begini ingin bertamu?


Neil?


Atau, Sunny mendadak pulang?


Tapi, kalau keduanya pasti terlebih dahulu mengontaknya. Terutama Sunny, ini apartemennya sendiri,


masa minta bukain pintu. Atau, jangan-jangan itu ....


Naura menggelengkan kepala sambil mengencangkan jubah tidur ke tubuh berisinya, menutupi piyama


transparannya.


"Iya,sebentar," teriaknya menjawab bel yang masih berbunyi.


"Nuguya (siapa)?" tanya Naura menahan napas, menatap layar monitor yang tertempel di dinding dekat pintu apartemen. Sedetik kemudian, Naura menghela napas lega, mengetahui wajah seorang pria memakai seragam khas restoran serta topi. Orang itu menempelkan note kecil ke layar monitor. Kedua alis Naura bertautan saat membaca isi note tersebut. Ditulis tangan menggunakan bahasa Indonesia.


[Mie Jajangmyeon untukmu.]


"Untukku?" gumam Naura. Keningnya mengerut dalam.


Kira-kira siapa orang yang mengirimkan mie Jajangmyeon untuknya?


Kalau Neil tentu bukan. Dia tahu persis tulisan tangan itu bukan dari dokter muda tetangganya ini. Tak ingin membuat kurir makanan menunggu lama, Naura buru-buru membuka pintu. Memang benar, mie Jajangmyeon itu untuknya, terlihat dari alamat dan nama yang tertulis di sana tertuju untuknya.


"Gomapseumnida." Naura membungkukkan tubuh setelah memberikan kembali note itu ke kurirnya. Kembali Naura menutup pintu. Dengan wajah berseri-seri, Naura menenteng tote bag berisi dua kotak Jajangmyeon-nya menuju ke dapur. Dalam hati, Naura sangat berterima kasih pada siapa pun orang yang telah mengirimkan Jajangmyeon ini. Akhirnya, keinginan mengidamnya terpenuhi juga malam ini. Dia jadi tak kelaparan. Dan yang pasti tak harus terus menerus menyiksa Baby-nya.

__ADS_1


"Hm, baunya sangat wangi sekali. Pasti enak," seru Naura saat membuka satu kotak Jajangmyeon-nya. Bau bumbu Jajangmyeon langsung menembus ke penciumannya, membuat cacing-cacing di dalam perutnya makin gencar berdemo. Tak sabar lagi, Naura segera menyumpit Jajangmyeon-nya, dan membuka mulut lebar-lebar.


"Selamat makan, Baby. (=^โ–ฝ^=)"


__ADS_2