Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
07| Seperti Magnet


__ADS_3


 


“Jadi, lo hamil melalui proses inseminasi tanpa menikah terlebih dahulu?” tanya Sunny--sedikit--kaget mendengar cerita Naura ketika mereka sampai di apartemennya. Keduanya duduk di sofa tunggal panjang ruang keluarga.


“Hum.” Naura mendengung samar sebagai jawaban.


Tak ada yang perlu Naura sembunyikan dari sahabatnya ini, bahkan ketika putus dari Raka, Sunny orang kedua yang mengetahui hubungannya telah kandas setelah Neil, tentunya. Sunny termasuk sosok orang yang pemikirannya terbuka dan berpikir dahulu sebelum bertindak, tak langsung memakan mentah-mentah informasi begitu saja.


“Gue salut sama lo. Berani mengambil risiko tinggi, tak memikirkan cibiran orang sekitar.”


Naura tersenyum simpul. “Gue cuma keingin punya Baby. Tapi belum ada niatan menikah."


"Terus, lo milih jalan itu?"


"Iya. Melalui inseminasi itulah jalan keluar gue satu-satunya, Sun.”


"Jalan satu-satunya ya." Sunny mengelus dagu.


"Ya begitulah." Naura mengangkat bahu.


“Hum, itu artinya lo masih gak bisa move on dari dia, ya,” goda Sunny, menaik turunkan sebelah alisnya.


“Apaan lo. Gue sudah move on sejak lama." Naura mengerucut dengan rona kemerahan menghiasi pipi putihnya.


“Bohong lo.”


“Sok tahu lo.” Naura menoyor kepala Sunny.


“Tapi gue benaran, Na."


"Benaran apaan."


"Lo belum bisa move on seutuhnya dari dia."


"Mana buktinya," ucap Naura, berusaha sebisa mungkin suaranya tetap datar.


"Saat makan di restoran tadi. Lo gak nafsu makan."


"Itu karena gue lagi gak mood. Mungkin juga karena kehamilan gue ini," kilah Naura memandangi perut buncitnya. Pikirannya segera melayang ke pertemuannya bersama Raka di restoran tadi.


Baik dia dan Raka, tak ada yang berbicara satu sama lainnya. Ia hanya mendengarkan Raka berbicara dengan Sunny, tanpa ikut nimbrung atau memandang langsung wajah Raka. Dalam pikirannya hanya satu, pertemuan ini segera berakhir, dan menjauh dari Raka secepatnya. Ia tak nyaman bila terlalu lama berada di sekitar pria masa lalunya ini.


“Yaaa, bila itu memang keputusan lo ...," sambung Sunny kembali ke pembicaraan serius mereka sebelumnya, memecahkan lamunan Naura.


"Gue gak bisa berbuat banyak lagi, cuma bisa beri dukungan dan semangat saja. Asal lo bahagia dan nyaman dengan keputusan lo itu. Ya sudah, jalani saja apa adanya.”


“Sunnyyy. Lo memang sahabat gue yang paling mengerti, dan paling sehati sama gue.” Naura menghambur kepelukan gadis berambut pendek sebahu itu.


“Ih, geli gue kena perut buncit lo. Mana sesak lagi." Sunny terkikik sembari menepuk-nepuk punggung sosok manis ini.


Naura melepaskan pelukannya. Kedua sahabat ini saling berpandangan. Dan tertawa bersama, kemudian mulai berbincang menceritakan kehidupan masing-masing, selama tak bertemu secara langsung hampir dua tahun ini. Kesibukan masing-masing membuat keduanya tak punya waktu luang untuk menyapa, hingga akhirnya menjadi jauh.


Setelah puas berbincang, Sunny mengajak Naura melihat kamar yang akan di tempatinya.


“Yuk, gue antar ke kamar lo.” Sunny beranjak dari duduknya --diiringi sosok manis di belakangnya-- sembari meraih koper dan menariknya menaiki lantai dua.


“Ini yang lo bilang kecil?”


“Apanya?”


“Apartemen lo.”


Sunny tak menjawab, hanya mengedikkan bahu.


Sedari masuk ke apartemen Sunny, Naura dibuat terperangah akan apartemennya. Sepanjang perjalanan menuju ke apartemennya, Sunny selalu berkata kalau apartemennya kecil dan jelek. Nyatanya, tak sesuai dengan pendeskripsian yang di gambarkan Sunny tadi. Apartemennya begitu mewah dan berada di kawasan elit pantai Hyeopjae.


“Pasti mahal harga apartemen di sini,” terka Naura.


“Iya,” jawab Sunny tak memungkiri. Juga bukan untuk bermaksud sombong pada sahabatnya ini.


“Pasti lo nyiapin duitnya juga bejibun.” Naura tercengir sambil menaiki anak tangga satu persatu.


“Gak juga. Bahkan gue santai saja soal uang.”


“Mulai deh tinggi hati," cibir Naura.


“Bukan begitu. Sebab bukan gue yang beli apartemen ini.”


“Lo nyewa? Kalo begitu lebih berat lagi, dong.” Mulut Naura membulat.


“Gak nyewa juga. Ini memang apartemen milik gue. Tapi dibeliin pacar gue.”


“Wow, berarti doi-nya kaya.”


Sunny tersenyum simpul. "Selain itu dia bucin sama gue. Makanya, dia bela-belain beliin apartemen ini buat gue.”


Keduanya berhenti tepat di salah satu kamar yang terletak di tengah-tengah dua kamar lainnya.


“Ini kamar lo.”


“Makasih.”


“Kalau yang di sebelahnya, kamar gue sama pacar gue.” Tunjuk Sunny pada kamar di sebelah kanan Naura.


“Lo tinggal bareng sama pacar?” tanya Naura.


“Iya.”


“Gue jadi gak enak sama lo. Sudah ganggu kehidupan lo." Naura meringis tak enak hati.


“Gak apa-apa. Biasa saja.”


“Tetap saja.” Naura mengembuskan napas pendek. “Tapi, tenang saja. Gue akan cari tempat tinggal secepatnya.”

__ADS_1


“Santai saja, gak usah buru-buru.” Sunny menepuk pundak Naura.


“Sekali lagi, makasih. Gue akan cari tempat secepatnya.”


“Gak usah jadi gak enakan begitu. Lagian, pacar gue orangnya nggak cerewet soal beginian.”


“Huft! Syukurlah.”


“Istirahatlah. Gue tahu lo pasti capek banget dalam perjalanan tadi.”


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


Setelah tidur, Naura bangun dengan wajah tampak segar. Saking kecapaiannya, ia tidur sampai subuh menjelang. Diliriknya jam beker di atas nakas, jam lima.


 


Kruuuk


 


“Ya, Allah. Kamu lapar Baby. Maafkan Mommy ya,” lirih Naura mengelus perutnya sayang. Karena terlalu lelahnya, sampai lupa makan dan minum susu hamil. Sosok manis ini mengambil susu yang sudah disiapkannya di atas nakas.


“Oke, Baby, kita ke dapur dan minum susu. (=^▽^=)”


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


Saat menuruni tangga sayup-sayup Naura mendengar suara cekikikan dari arah dapur.


“Ternyata Sunny sudah bangun duluan,” gumam Naura terus menuruni tangga sambil menenteng kotak susu di tangannya.


“Oops!” Naura terperanjat kaget saat melihat Sunny tak sendirian di dapur.


Cewek cantik itu bersama seorang pria yang memeluk mesra pinggangnya. Sedang Sunny sibuk memasak. Naura tak begitu jelas melihat pria itu. Dari tampak belakang, sepertinya, cowok itu bertubuh tinggi proporsional dengan rambut disemir cokelat.


Sepertinya orang Korea?


Dilihat dari percakapan antara Sunny dan cowok itu. Terdengar Sunny mengucapkan kata, banghajima (jangan ganggu aku), berulang kali.


Terpaksa Naura berdeham untuk memberitahukan keberadaannya di dapur. Sebenarnya ia sungkan untuk mengganggu kemesraan dua sejoli itu. Tapi apa daya, dedek bayi di perutnya lebih penting. Kasihan dedek bayinya, belum dikasih makan semenjak semalam.


“Sudah bangun,” lanjut Sunny dengan wajah merah padam, bergegas berjalan menghampiri Naura diikuti dari belakangnya cowok itu.


“Iya.” Naura tersenyum canggung.


Pandangannya beralih sekilas pada cowok yang sekarang terlihat jelas rupanya.


Tampan seperti idol-idol Korea. Naura membatin sembari mengelus perutnya, berharap Baby-nya lahir juga tampan atau cantik nantinya.


“Kenalin pacar gue, namanya Park Do-jin,” ucap Sunny saat suasana mulai sedikit mencair. Tidak seperti suasana awkward saat kepergok oleh Naura tadi.


“Honey, ini teman gue, namanya Naura,” lanjut Sunny, menepuk lembut dada bidang Dojin


“A-annyeong haseyo---”


“Gak usah pakai bahasa Korea. Dojin bisa bahasa Indonesia,” bisik Sunny terkikik geli.


“Eh, iya juga ya. He he he.” Naura tercengir malu. Ia lupa, padahal sedari tadi Sunny berkomunikasi dengan Dojin pakai bahasa Indonesia.


“Hai, salam kenal,” sapa Dojin dengan logat Korea-nya, mengulurkan tangan pada Naura. Mereka pun saling berjabatan tangan.


“Salam kenal juga,” balas Naura.


Tak berapa lama kemudian Dojin minta izin. Katanya mau mandi. Kini hanya tinggal Naura dan Sunny di dapur.


“Maaf, gue jadi ganggu lo sama pacar lo,” lanjut Naura tak enak hati.


“Gak apa-apa. Lo mau buat susu, kan?” Sunny menatap kotak susu di tangan Naura.


“Iya.”


“Sudah buat saja, gak usah canggung, anggap saja ini dapur lo sendiri.”


“Makasih,” balas Naura. “Lo bikin apa?” tanya Naura sambil menyeduh susu, dia melirik sekilas pada Sunny yang meneruskan acara memasaknya.


“Kimbap.”


“Woah, tiap hari gue bakalan makan makanan khas Korea terus. Asyik.”


“Betul. Kalau di sini lo bakalan sepuasnya makan makanan Korea lainnya. Sebaliknya, kita susah nemu makanan negara kita di sini.”


“Iya juga, ya.”


“Dan lo bakalan rindu makan makanan Indonesia nantinya."


Naura mengangguk setuju, mulai meminum susunya. Sekilas Naura mengernyit saat bibirnya menyentuh bibir gelas. Hidungnya mencium bau anyir susu hamil yang membuatnya ingin muntah. Buru-buru Naura menyelesaikan minumannya kala merasakan asam lambungnya naik.


“Hueks.” Naura berlari ke kamar mandi, segera memuntahkan cairan bening dari mulutnya.


“Morning sick, ya.”

__ADS_1


“Iya, bikin repot,” keluh Naura tampak lesu sekembalinya dari kamar mandi. Naura duduk di kursi makan memperhatikan Sunny, memasukkan beberapa jenis sayur ke dalam beberapa mangkuk kecil di depannya.


“Omong-omong, sudah berapa bulan kandungan lo?”


“Mulai besok, jadi tujuh minggu,” balas Naura sambil memainkan sepasang sumpit layaknya stick drum di atas meja makan.


“Kayaknya enak, gue jadi lapar.” Naura menelan ludah menatap Kimbap buatan Sunny yang menggiurkan.


“Lo mau?”


“Mau banget.”


“Ya sudah, sarapan bareng gue dan Dojin saja.”


“Lagi-lagi gue ganggu.”


Sunny menggeleng. “Nggak. Jarang-jarang kita kumpul seperti ini.”


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


Baru saja Naura meletakkan handuk kecil di atas kepalanya ke sandaran kursi di depan meja rias, ketika mendengar suara bel apartemen Sunny berbunyi. Sosok ini baru saja selesai keramas setelah membereskan pakaiannya ke lemari.


Buru-buru Naura menyisir rambut seadanya, meski masih basah. Kemudian bergegas keluar dari kamar, membuka pintu apartemen. Penasaran siapa yang datang bertamu ke apartemen Sunny di tengah siang bolong begini. Sedangkan sang pemilik apartemen masih bekerja dari tadi pagi. Meninggalkan dia seorang diri di apartemen mewah ini.


"Kamu!"


Naura memelotot kesal saat melihat siapa tamu di depannya ini.


Raka. Berdiri bak model di depannya. Cowok yang harus dia hindari kehadirannya. Tetapi, entah kenapa, seperti ada magnet yang menarik mereka berdua, keduanya selalu bertemu.


"Sunny-nya gak ada." Naura berkata ketus dengan kedua tangan bersilang di dada. Ia berdiri bersandar di depan pintu, menghalangi Raka untuk masuk.


Ia menyipit menatap paper bag di tangan pria ini. Dari baunya, Naura bisa menebak yang dibawa Raka adalah makanan. Seketika perutnya keroncongan minta diisi. Mengingatkan bahwa ia dan Baby-nya memang belum makan siang.


Ingin Naura mengelus perutnya. Tetapi, mengingat siapa orang di depannya, serta mengingat kejadian di pesawat kemarin. Raka memperhatikan begitu lekat perutnya, membuatnya jadi mengurungkan niat. Tak ingin membuat Raka curiga padanya, bahwa dia hamil, yang pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin dia bahas dengan pria ini.


Sangat tak ingin. Bertemu muka saja ia enggan sebenarnya. Apalagi untuk membahas masalah pribadi. Jangan harap.


"Sunny-nya kerja. Mungkin nanti malam dia pulang," jelas Naura memecah kekosongan waktu di antara mereka berdua beberapa saat tadi.


"Aku tahu. Aku bukan datang ke sini mencari Sunny." Raka berujar tenang dengan sebelah tangan tenggelam di saku celana Chino-nya.


"Terus?" Naura berucap ketus sambil memelotot, tanpa sadar ia memberengut sebal.


Terlihat jelas sosok manis ini enggan bicara dan berlama-lama bersama Raka. Ingin Naura mengusirnya, tetapi, entah mengapa, ada sesuatu yang mendorongnya tak bisa mengusir Raka secara langung.


"Aku mencari Dojin."


"Sama saja. Dojin juga gak ada di sini." Lagi, Naura berkata ketus.


"Ya sudah, aku mencari yang ada saja."


"Maksudnya?"


"Tanpa kujawab kau sudah tahu sendiri."


Tiba-tiba saja tanpa Naura tahu, Raka memajukan tubuh ke arahnya. Spontan Naura mundur selangkah, memberi kesempatan pada Raka dengan bebas melenggang masuk. Raka tergelak akan reaksinya.


Naura mengumpat keras dalam hati. Kesal. Karena terpengaruh akan tindakan Raka, hingga membuat debaran jantungnya naik setingkat. Naura mengentakkan kaki ke lantai. Menutup pintu kembali, lalu mengikuti Raka yang berjalan tanpa canggung menuju ruang keluarga.


Raka meletakkan paper bag-nya ke atas meja. Bagai berada di apartemen sendiri, tanpa dipersilakan duduk, Raka telah duduk di sofa panjang menghadap televisi di depannya.


"Mau ke mana?" tanya Raka ketika Naura melintas di depannya dan menaiki tangga. Tak mempedulikan kehadiran Raka.


"Bukan urusanmu."


"Jangan begitu sama tamu."


Naura melotot mendengar ucapan Raka.


"Seharusnya kau menemani tamu, bukan meninggalkannya sendiri," ujar Raka dengan santainya.


Naura mengepalkan tangan. Pria ini benar-benar ingin dia tendang jauh-jauh dari apartemen sampai ke ujung Afrika sana. Lihat saja mukanya itu. Pria ini merasa tak bersalah padanya akan kejadian dengannya di masa lalu.


"Tapi kau bukan tamuku," sangkal Naura cepat.


"Memang. Tapi, Dojinnya tidak ada, sedangkan kau tinggal di apartemen ini. Sebagai orang yang tingg---"


"Terserah. Memang aku pikirin. Siapa kamu bagiku, hingga harus menemanimu. Kau tamunya Dojin, bukan aku," jelas Naura.


Sosok manis ini kembali melangkah, tergesa-gesa menaiki tangga, meninggalkan Raka yang terhenyak di tempatnya. Suara dentaman pintu yang ditutup keras oleh Naura membuat Raka tersentak.


"Masih marah," gumam Raka mengembuskan napas pendek.


"Oke, kau tak usah berbicara denganku. Tapi, temani aku makan saja, gimana?" tanya Raka dengan volume suaranya sedikit meninggi.


Senyuman penuh arti menari di belah bibir Raka. Pria ini yakin, Naura mendengar ucapannya barusan dari balik pintu kamar yang tertutup rapat itu. Dan ia tahu, sosok manis itu tergiur dengan makanannya yang dibawanya.


 


 



 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2