Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
12| Bibit Unggul


__ADS_3


Berulang kali Neil mengerjap mendengar ucapan tetangga manis-nya barusan. Seolah sedang mendengarkan pertanyaan dari seorang pembunuh bayaran yang tak ada lagi pertanyaan ulangnya. Kenapa jadi jungkir balik begini? Neil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Astaga, kebaikan apa hamba lakukan di masa lalu hingga Kau anugerahkan dua sahabat yang sangat membahagiakan hati ini. Neil mengusap-usap dadanya berkali-kali menatap penuh heran pada sosok manis di depannya ini seraya mengingat wajah sahabat satunya yang juga tak kalah menjengkelkannya.


Neil menghela sekilas, lalu menatap lekat iris bening di depannya, melotot bagai dirinya adalah tersangka yang harus segera diadili sesegera mungkin.


“Naura, saat dalam perjalanan ke sini kepalamu enggak kejedot tiang listrik, ‘kan? Apa perlu Kakak periksa sekarang?” tanya Neil menatap lekat kening Naura di balik poninya yang menjuntai. “Siapa tahu ingatanmu separuhnya masih menempel di tiang listrik,” sambung Neil menahan tawa geli.


Naura mengerucutkan bibir plumnya. “Ih Kakak. Aku masih ingat semuanya.”


“Nah, itu dia.” Neil menjentikkan jarinya, seolah mendapatkan ide yang sangat briliant.


“Apaan?”


“Kan sudah Kakak peringatkan sebelumnya.”


“Peringatkan apa?”


“Waktu itu sudah Kakak bilang sama kamu, mau tahu enggak siapa pendonornya.”


“Hm?”


“Dan kamu malah tetap ngotot enggak mau tahu nama pendonornya.”


Naura tercengir lebar dan garuk-garuk kepala. “He he he.”


“Hn! Kau ini, Naura.” Neil geleng-geleng kepala. Pandangannya segera menerawang ke atas. Mungkin keduanya sudah ditakdirkan untuk bersama.


🍃Dear, My Baby🍃


[Jakarta, tiga bulan yang lalu ....]


Sinar mentari telah lama naik di atas kepala, seakan menantang makhluk hidup di bawahnya untuk beradu kekuatan. Seberkas cahayanya, diam-diam merangsek masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi dengan tumpukan berkas serta obat-obatan. Pelan tapi pasti, sinarnya mulai menaungi pemuda yang duduk termangu di kursi kerjanya. Memberikan kehangatan nyata bagai pelukan hangat sang kekasih.


Neil bertopang dagu. Detik demi detik dilewatinya hanya dengan berdiam diri. Memandang kosong pada layar komputer di depannya. Seolah tak ada yang mampu menarik perhatiannya selain dekstop background komputer-nya, berkedip-kedip di depannya, menampilkan foto sang istri bersama malaikat kecil mereka - berusia sepuluh bulan. Keduanya tersenyum bahagia. Baru dua hari yang lalu dia mengabadikannya, dan langsung menghuni komputernya.


Neil mendesah pendek. Merebahkan punggung ke sandaran kursi, lalu memutar-mutarnya seraya berpikir keras. Sudah seminggu ini pikirannya bercabang. Antara keluarga kecilnya dan masalah yang dibebankan oleh tetangga manisnya.


Siapa yang bisa kupercayai soal masalah ini ...Dokter muda ini mengembuskan napas berat berkali-kali sambil mengacak rambutnya. Kemudian mengetuk-ngetuk meja kerjanya seraya menerawang jauh. Mencoba berpikir keras.


"Carikan aku sperma yang kuat dan tangguh. Kalau bisa dari bibit unggul ..."


Neil mengelus permukaan dagunya yang terawat rapi.


"Hm, sperma yang kuat dan tangguh, ya, juga berbibit unggul," gumamnya mengulang kembali ucapan Naura.


"Astaga, ke mana aku harus mencari pendonornya, yang sesuai dengan kriteria Naura, yang pastinya takkan menimbulkan masalah untuk Naura dikemudian hari. Arrrgh!"


Neil mengacak kembali rambutnya hingga berantakan bagai orang gila di tengah pasar. Ia mulai frustrasi, memikirkan pendonor yang cocok untuk Naura. Neil mulai mengabsen satu persatu teman dekatnya, serta siapa saja pria yang dekat dengan Naura, yang pernah berhubungan dengan sosok manis itu. Sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas. Senyum merekah terbit di bibirnya.


Setelah bergelut dengan waktu dan pikiran. Akhirnya Neil menemukan satu pendonor yang cocok dengan kriteria Naura.


"Hanya dia yang bisa meluruskan masalah yang rumit ini," putus Neil, tanpa membiarkan waktu terus berjalan, segera meraih smartphone-nya, kembali menyatukan tali silaturahim yang terserak.


🍃Dear, My Baby🍃


Kelopak mata itu masih setia terpejam erat, menutupi mata elang di baliknya. Dering telepon pintar yang mengaum memecah kesunyian di presidential suite room di salah satu hotel berbintang di Jakarta, tak membuat pria di balik selimut tebal itu bergeming. Beranjak bangun dan meninggalkan kehangatan dari selimut tebalnya hanya untuk menjawab auman tersebut.


Pria itu tebak, palingan juga dari wanita yang sangat dicintai sekaligus dihormatinya lebih dari apa pun, wanita yang layak mendapatkan tempat paling spesial di hatinya, wanita yang paling berjasa melahirkannya ke dunia, ibunya, Catherine Gayatri, yang menanyakan di mana dirinya berada saat ini.


Ayolah. Pria yang bernama lengkap Raka Earnest Forrester ini masih sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang dari kota Seattle ke kota Jakarta. Menyebrangi benua antar benua, dari pulau ke pulau. Menembus beribu mil jaraknya, mengangkasa di atas awan, menghabiskan waktu selama kurang lebih 13 jam. Lumayan, membuat pantatnya panas dan mungkin bisa menghasilkan suhu yang cukup untuk menetaskan beberapa butir telur ayam.


Setelah sampai di ibu kota Indonesia yang semrawut ini, ia pun tak lekas pulang ke rumah orang tuanya, justeru tidur di hotel milik keluarganya.


Raka tahu, Cathie (panggilan akrab ibunya) rindu padanya, sudah lebih dari dua tahun mereka tak bertemu secara langsung di Jakarta (hanya Cathie-lah yang terbang langsung menuju kediamannya berada) setelah dirinya memutuskan menetap di kota Seattle, mencari ketenangkan batin. Menyembuhkan hatinya yang telah retak, menyatukan kembali serpihan-serpihan luka hatinya yang berserak di semua sudut kota Seattle. Namun, tetap saja tak mampu menemukan puzzle yang hilang itu di sana. Sebab, kunci puzzle hatinya berada di sini, di kota Jakarta.


Salahnya memutuskan secara sepihak sang mantan kekasih. Meninggalkan sosok manisnya menangis tersedu-sedu sendirian di malam yang dingin, memberikan luka batin mendalam dengan menancapkan kata-kata yang teramat menyakitkan.


Raka tahu ia salah, tetapi, ini semua bukan sepenuhnya kesalahannya ....


Mungkin karena hal itu juga-lah ia enggan untuk menginjakkan kaki ke rumah orang tuanya, malas untuk bertemu dengan pria yang memberikan darah campuran Inggris ini padanya. Terus mendesaknya, memberikan keturunan untuk keberlangsungan keluarga Forrester di dunia fana ini.

__ADS_1


Raka mengembuskan napas dalam-dalam. Memijit pelipisnya yang berdenyut. Sepertinya, suara auman dari benda mati persegi panjang itu takkan berhenti mengoceh sampai ia mengangkatnya. Dengan menahan kuap, malas-malasan Raka meraba samping tempat tidurnya, mencari keberadaan benda paling penting baginya setelah ibunya. Tanpa melihat siapa yang menelepon, Raka segera menggeser tombol hijau.


"Ya, Mom," sapanya sambil membuka lebar-lebar mulutnya, mengeluarkan hawa berbau khas tidur, tak mampu ditahan kuapnya lebih lama lagi.


"Hai, Bro."


Kening Raka berkenyit. Matanya terbuka lebar mendengar suara lain yang menyapanya, bukan suara ibunya. Beringsut bangun, menyandarkan punggungnya kesandaran tempat tidur.


"Neil?"


"Ya, ini aku,"


Raka bisa membayangkan sahabat masa kecilnya ini tersenyum lebar dengan mata sipitnya yang setengah terpejam di seberang telepon.


"Apa kabar, Bro?"


"Baik."


"Ke mana saja kau selama ini?"


"Kau tak tahu ke mana saja aku selama ini?" Raka balik bertanya. Pria dengan model rambut undercut dan disemir hitam legam ini bisa membayangkan Neil mengangkat bahu di depannya.


"Enggak," kata Neil pendek.


"Masa?" ujar Raka tak percaya.


"Iyalah. Semenjak kalian putus, kau seperti ditelan bumi, menghilang tanpa terendus sama sekali kabarmu."


Raka menggaruk bagian belakang kepalanya yang terasa gatal, bukan karena pria ini kutuan, tetapi mengalihkan rasa bersalahnya. Ia berbuat demikian karena Neil juga merupakan bagian dari mantan kekasihnya. Ia tak mau lagi berhubungan dengan apa pun yang berkaitan dengan mantan kekasihnya. Termasuk sahabatnya, Neil yang bertetangga langsung dengan mantannya itu.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Raka ambigu.


Neil terkekeh sekilas. "Kau tanya aku atau si dia?"


"Lupakan saja," balas Raka datar.


"Ck! Ternyata kau sama saja dengan tetangga manisku itu."


"Yang mana?"


"Sialan."


"Ha ha ha."


"So, mau apa kau menggangguku pagi-pagi begini?" tanya Raka, setelah membiarkan Neil selama lima menit puas menertawainya.


"Pagi-pagi begini, Bro? Kau sehat?"


Raka menggeram kecil tertahan mendengar perkataan Neil. Kemudian sudut matanya melirik keluar jendela. Matahari telah meninggi di atas kepala. Ia lalu menghela. Tak bisa mengelak lagi.


"Terus maumu apa?"


"Aku punya permintaan padamu."


"Memang aku jin."


"Bisa dianggap begitu." Neil terkekeh di seberang telepon.


Raka memutar bola mata. "Cukup bermain-mainnya. Serius, aku tak punya waktu bercanda saat ini. Kau tahu? Semalam aku baru sampai ke Jakarta terbang dari kota Seattle."


"Oh, ya? Jadi, selama tiga tahun ini kau lari dari kenyataan ke benua Amerika."


"Anjir. Mulutmu tajam juga, Neil." Raka tak sanggup lagi untuk tak mengumpat kasar pada sahabatnya. Terdengar tawa tergelak-gelak di seberang telepon.


"Lupakan soal itu. Aku serius tentang yang tadi."


"Permintaanmu?"


"Tentu saja."


Raka mengembuskan napas. Tak biasanya Neil meminta padanya. Apa saat ini Neil punya masalah yang sangat berat? Apa kondisi keuangannya sedang memburuk?


"Kau butuh uang, Neil?" tebak Raka.

__ADS_1


"Enggak. Hartaku masih sanggup untuk menghidupi keluargaku sampai tujuh turunan."


"Sialan! Aku tarik ucapanku.”


“Ha ha ha.”


“Aku serius, bodoh,” umpat Raka kesal, andai Neil ada di depannya, sudah ia pelintir kepala si dokter menyebalkan ini. “Lalu, apa yang kau butuhkan dariku?"


Hening beberapa saat, hingga Neil menarik napas panjang dan berucap, “aku butuh sperma-mu."


"Triple shit for you, Neil Sutanegara!!" maki Raka keras bagai penyanyi roker yang menarik nada tinggi. Hampir Raka melempar tempat tidur berukuran super king ke jendela dari lantai tiga puluh ini, bila saja bisa berubah menjadi Hulk.


"Kau waras?" tandas Raka. Terdengar di seberang Neil yang juga balas memakinya karena suaranya yang tiba-tiba saja melengking tinggi di telinganya.


"Hei, Bro, gak usah ngegas juga kali," gerutu Neil. "Kau nyaris membuatku kehilangan indera pendengaranku."


"Salahkan akan ucapanmu sendiri," balas Raka dingin membuat Neil menelan ludah.


"Jangan marah begitu, Bro. Aku serius."


"Aku juga serius. Kenapa kau meminta sperma padaku? Bukankah kau bisa mengambilnya dari bank sperma? Gila!"


"Nah, itu dia masalahnya."


"Masalahnya?"


"Iya. Sebab, sperma di bank sperma gak memenuhi kriteria yang diajukan pasien."


"Terus, hubungannya denganku?"


"Karena kau memenuhi semua standar kriterianya, sperma-mu tangguh, kuat dan berbobot."


"Kau gila, Neil,"


"Mungkin, sebentar lagi aku bisa gila betulan, bila kau enggak menyanggupinya."


"Berengsek, kau, Neil."


Raka melotot tajam. Membayangkan Neil benaran berada di depannya saat ini, lalu ia blender dokter muda ini sekarang juga dan dijadikannya makanan ikan-ikan Koi kesayangannya di Seattle. Gila saja, mengajukan permintaan yang tak masuk di akal.


"Bagaimana, Bro? Mau?"


"Tidak."


"Jangan begitu, Bro. Jangan langsung berkata enggak dulu."


"Sialan kau, Neil. Kau menjerumuskan teman sendiri ke lubang neraka."


"Enggak juga, bila kau sendiri yang mau."


"Tidak akan. Aku tak ingin dibebani soal bayi dari perempuan yang tidak kukenal. Bagaimana kalau suatu hari dia datang menuntutku? Memerasku? Meminta pertanggung jawaban dariku. Kau tak memikirkan konsekuensinya sampai ke sana, Neil?" tutur Raka panjang di kali lebar dengan satu tarikan napas panjang.


"Soal itu aku jamin, dia enggak akan menuntutmu macam-macam."


"Ck! Jangan terlalu percaya diri," sangkal Raka cepat.


"Tentu, sebab sosok ini berbeda. Dan kurasa, kelak suatu hari kau-lah yang menuntutnya."


"Tidak mungkin, jangan memutar balikkan fakta, Neil," bantah Raka, melempar asal selimutnya ke lantai, hingga tampaklah otot-otot perutnya yang dikelola dengan baik menghiasi tubuh setengah telanjangnya.


"Kau tak percaya?"


Raka mengangkat bahu. "Tentu."


Terdengar Neil menarik napas panjang.


"Oke, kalau begitu, akan kukirim fotonya lewat WA. Kemudian beri aku jawabanmu secepatnya soal ini."


"Hei! Tunggu dul---" Raka tak melanjutkan ucapannya lagi, kala telinganya menangkap bunyi beep panjang di seberang telepon.


"Sialan!"


Raka membanting smartphone ke sampingnya. Kembali membanting tubuhnya ke atas ranjang. Menutupi kedua mata bulatnya dengan lengannya. Selang beberapa detik, Raka mendapatkan notifikasi Whatsapp. Tetapi, dibiarkannya begitu saja. Tak berniat langsung membacanya. Barulah di menit ke enam puluh, ia membuka aplikasi Whatsapp-nya, setelah kembali memejamkan mata. Kini, Raka jauh tampak lebih segar dari sebelumnya.

__ADS_1


Pria ini beranjak bangun, duduk santai di sofa tunggal sembari menikmati minuman espresso-nya. Jari-jari panjangnya segera menekan aplikasi Whatsapp-nya. Mengecek pesan Neil. Kening Raka berkenyit. Alisnya menukik tajam, matanya tak berkedip memperhatikan foto di smartphone-nya. Apa tak salah kirim Neil. Sosok itu adalah ....


Naura?


__ADS_2