Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
26| Hujan dan Kenangan


__ADS_3


Naura membelalakkan mata begitu lebar. Menahan napas, layaknya mendengarkan kabar paling buruk dalam hidupnya. Sosok manis ini terkesiap ketika mendengar suara petir menggelegar di luar jendela. Padahal baru saja terlelap dalam mimpinya. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang kusut. Kini kembali terbangun dengan bulir-bulir keringat memenuhi wajahnya. Pelan ia meraba tonjolan perutnya. Memastikan jabang bayinya baik-baik saja ketika terperanjat kaget tadi.


Saat otaknya masih mencerna apa yang terjadi, cahaya kilat seketika tampak begitu terang di luar jendela disusul dengan suara guntur menggelegar dua kali lipat dari sebelumnya. Setelahnya, bagaikan hujan meteor yang menghantam bumi, langit pun memuntahkan ribuan kubik air ke bumi tanpa henti. Seolah tidak peduli pada satu makhluk yang berteduh sendirian di apartemen di bawah naungan langitnya, hujan deras pun semakin membesar volume-nya.


Sosok manis ini sangat ketakutan. Tubuhnya menggigil layaknya seorang tawanan perang yang mendapatkan vonis hukuman mati seketika.


Naura meringkuk bak janin dalam kandungan sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat. Berusaha menulikan telinganya dari suara mengerikan di luar jendela. Satu hal yang paling ditakuti oleh sosok manis ini dalam hidupnya, yaitu ketika hujan deras disertai angin dan petir. Karena kedua hal tersebut, mau tak mau memaksanya untuk mengingatkannya akan kenangan pahit di masa lalu. Rahasia kecil yang disimpannya begitu rapat di dalam hatinya.


Di umurnya yang baru berusia lima tahun, dirinya harus menghadapi kenyataan pahit. Ayahnya meninggal karena sakit. Sebulan kematian ayahnya. Ibunya yang telah menjadi janda, karena tak sanggup untuk menghidupi kedua anaknya. Dengan tega meninggalkannya di depan panti asuhan bersama sang kakak perempuannya---Theresia Almira Atmajaya---di tengah malam dalam keadaan hujan deras dan petir yang menggelegar. Menyisakan tangisan memilukan bagi kedua kakak beradik itu sembari menatap lara punggung ibunya yang menghilang ditelan hujan deras dan gemuruh guntur yang mengiringinya.


Lima tahun kemudian. Ketika Naura menginjak umur sepuluh tahun, dan sang kakak berumur dua belas tahun. Disaat mereka berusaha melupakan rasa sakit ditinggal oleh sang ibu. Kejadian menyakitkan kembali terulang. Tiba-tiba saja sang ibu yang telah mencampakkan kedua kakak beradik itu hadir kembali di panti asuhan dengan membawa kabar buruk bagi Naura seorang.


Sang ibu yang telah menikah kembali dengan seorang konglomerat itu hanya datang mengadopsi sang kakak saja. Membawa Theresia untuk tinggal bersama dengan keluarga suami barunya di rumahnya yang megah di kawasan elit kota Jakarta.


Sedangkan Naura tetap ditinggalkan di panti asuhan dengan alasan Theresia akan lebih berguna dibandingkan sosok manis ini. Tanpa bisa berbuat banyak, dengan perasaan getir, Naura kecil memandang sendu punggung sang ibu dan kakaknya pergi menjauh di tengah hujan deras. Menangis pun percuma, karena keduanya juga tak peduli padanya dan takkan mungkin bersamanya lagi.


Empat tahun setelah ibunya membawa pergi sang kakak. Tepat Naura berulang tahun yang ke tujuh belas. Ibu kepala panti asuhan memberikan kabar buruk padanya, bahwa sang ibu telah wafat dengan tenang akibat sakit kanker leukimia yang menggerogotinya. Kini, Naura benar-benar menjadi yatim piatu, dan hanya mempunyai keluarga satu-satunya yaitu sang kakak, Theresia.


Dua tahun setelah ibunya wafat, Naura keluar dari panti asuhan yang membesarkannya selama ini. Bagi sosok manis ini sudah waktunya untuk hidup mandiri sebatang kara di luar sana, tanpa bergantung lagi dengan panti asuhan.


Setelah keluar dari panti asuhan. Berbekal alamat keluarga baru sang kakak yang diberikan kepala panti asuhan. Naura nekad mencari Theresia, mengabarkan bahwa dirinya telah hidup bebas di luar. Dan mungkin saja, bila Theresia mau, mereka bisa hidup bersama kembali.


Akan tetapi rasa pahit kembali menghampirinya. Sang kakak tak mau mengakuinya sebagai adiknya lagi. Mengatakan dengan kejam, bahwa sebaiknya tak satu orang pun mengetahui mereka bersaudara. Betapa bodohnya Naura saat itu. Tentu saja Theresia tak mau hidup bersamanya lagi, sebab sang kakak sudah hidup nyaman bersama keluarga tiri ayahnya yang begitu kaya raya. Mana mau Theresia hidup dalam kemiskinan bersamanya.


Disaat menerima kenyataan pahit itulah akhirnya Naura bertemu dengan Neil ketika mencari pekerjaan sembari melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Neil yang punya hati malaikat itu memberikannya pekerjaan sampingan sembari membantunya mencarikan sewaan rumah. Dan akhirnya mengontrak di dekat rumah dokter muda itu.


Sebelumnya, Naura dan Neil memang sudah saling mengenal selama kurang lebih dua tahunan. Ketika sosok manis ini menjadi pasien rutin---memeriksakan kesehatannya---pada ayahnya Neil. Karena hal itu pula. Neil juga mengetahui rahasia kecil Naura yang mengidap Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser atau MRKH. Atau dengan kata lain tidak bisa hamil secara normal seperti perempuan pada umumnya.


Sosok Neil yang begitu perhatian dan peduli padanya, membuatnya merasakan kembali arti saudara kandung. Dokter muda itu pun sudah dianggap kakak kandungnya sendiri menggantikan sosok Theresia di dalam hatinya.


Soal Theresia bersaudara kandung padanya pun disimpannya rapat-rapat. Tak ada yang tahu, bahkan Raka sekali pun yang pernah menjalin hubungan dengannya pun tidak pernah diberi tahu. Begitu pun dengan Neil, meski Naura menceritakan asal usulnya tinggal di panti asuhan, tetapi dia tidak pernah menyinggung soal Theresia.


Selain itu, karena perbuatan ibunya di masa lalu, meninggalkan rasa takut tersendiri bagi sosok manis ini. Dalam hubungan percintaan, Naura sangat takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ia takut suatu hari nanti nasibnya akan sama seperti ibunya. Ditinggal pergi pasangan, kemudian dengan tega pula dirinya akan meninggalkan anaknya di panti asuhan. Tidak. Seumur hidup, Naura takkan pernah berbuat kejam seperti ibunya.


Itu mengapa ia selalu menutup hatinya pada siapa pun. Hingga suatu hari ia bertemu dengan Raka. Pria inilah yang mengubah semua persepsinya selama ini tentang pernikahan. Sosok manis ini yakin Raka tidak pernah akan meninggalkannya. Tetapi yang terjadi, rasa percaya yang dibangunnya selama ini runtuh seketika kala Raka memutuskannya tanpa sebab. Pria itu akhirnya memilih meninggalkannya dengan luka yang begitu dalam tertanam di hatinya, dan sampai sekarang menjadikannya takut kembali untuk menikah.


Naura terisak-isak di sela-sela mengingat masa lalunya yang pahit. Hujan deras masih tetap mengguyur bumi. Petir pun masih setia mengiringi alunan suara derasnya hujan. Seolah cuaca buruk malam ini sengaja tidak berpihak pada sosok manis ini, dan berusaha untuk menjadikannya semakin terpuruk dalam kesedihan. Entahlah apa yang direncanakan sang pemilik alam semesta untuk Naura malam ini.


Menghapus air mata dengan punggung tangannya. Sosok manis ini beringsut meraba meja nakas, mencari smartphone-nya. Menghubungi seseorang yang mungkin bisa menemaninya di tengah hujan deras seperti ini. Disaat seperti ini, ia tak mau sendirian. Sangat takut dan butuh seseorang untuk menenangkannya.


 

__ADS_1


 


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


 


 


"Ya, Mom. Ada apa?" sapa Raka sembari mata elangnya mengerling ke luar jendela. Tampak gerimis mulai terlihat dari kaca jendelanya disertai angin yang cukup kencang, menderu-deru bagai mesin mobil balap sedang melakukan test drive di sirkuit balapan. Sambil meraih remot televisi dan menghidupkannya, pria ini pun duduk santai di sofa tunggal dengan smartphone masih setia menempel di telinga kanannya.


"Ada apa katamu? Meneleponmu harus punya masalah dulu begitu?"


Raka mengelus batang hidung mancungnya. "Bukan begitu, Mom. He he he."


"Hn. Kau ini." Terdengar Cathie mengembuskan napas panjang di seberang telepon. "Kapan pulang ke Indonesia? Mommy sudah kangen sama kamu," lanjutnya.


"Maaf, Mom. Dalam waktu dekat ini Raka belum bisa pulang ke Indonesia."


"Kenapa memangnya?" Terdengar dari suaranya Cathie tampak begitu kecewa.


"Ada banyak urusan Raka yang belum diselesaikan di sini," kilah pria bermata bulat ini.


Sebenarnya memang betul. Pertama, tentu saja ia tidak ingin ayahnya memaksanya menikahi tunangannya. Yang kedua, menyelesaikan masalahnya dengan Naura secepat mungkin. Setelah masalahnya selesai dengan Naura. Maka ia pun bisa pulang ke Indonesia membawa serta Naura sebagai pasangan hidupnya.


“Huft. Kenapa mes---”


"Secepatnya diselesaikan urusanmu itu Raka," suara di seberang telepon beralih ke suara serak dan berat. Andrew, ayahnya yang mengambil alih, memotong ucapan Chatie.

__ADS_1


"Iya, Dad. Aku mengerti." Raka menjawab datar kala mendengar suara Andrew.


"Tadi ayah calon mertuamu telepon, menanyakan hubungan kelanjutan pertunanganmu dengan Thesalia."


Mendengar nama Thesa, Raka menggengam erat smartphone di tangannya. Karena gadis itulah hubungannya dengan Naura berakhir menyakitkan.


"Soal hubunganku dengan Thesa. Biarkan aku sendiri yang berbicara langsung pada Mr. Brown nantinya," jelas Raka dengan sebuah tekad bulat dalam pikirannya. Tidak satu pun orang yang akan menggugat keputusannya kali ini. Tidak ayahnya, tidak Mr. Brown, atau pun Thesa, tunangannya sendiri.


Mengembuskan napas pendek. Raka kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Gerimis telah berubah menjadi titik-titik air yang turun dengan derasnya, disertai suara petir yang menggelegar. Pandangan Raka beralih ke televisi di depannya seraya mendengarkan suara presenter yang memberitakan prakiraan cuaca di tengah-tengah suara ayahnya yang berbicara.


"Daddy setuju akan idemu ... "


[...akan terjadi badai topan yang mengarah dari selatan menuju ke pulau Jeju dan sekitarnya. Disarankan untuk warga Jeju, sebaiknya tetap berada di rumah untuk menghindari ...]


Raka tertegun mendengar suara presenter ramalan cuaca di televisi.


Badai topan? Raka menoleh cepat keluar jendela. Hujan semakin deras. Suara guntur semakin menggelegar membelah bumi. Melihat cuaca yang begitu buruk ini, pikirannya segera melayang pada sosok manis yang sangat takut akan hujan petir begini.


Naura ....


"...sebaiknya menurut Daddy ..." Sayup-sayup suara Andrew di seberang telepon kembali menyadarkan Raka. "...pertunangan kal---"


"Maafkan Raka, Daddy. Raka masih punya urusan penting lainnya."


Tanpa menunggu protesan keras dari Andrew, Raka memutuskan sambungan teleponnya. Secepat kilat berganti pakaian. Meraih kunci mobil. Berlari cepat menuruni tangga menuju garasi. Menghiraukan peringatan buruk tentang cuaca di luar sana. Masa bodoh pada semuanya, ia harus berada di sisi sosok manisnya saat ini. Naura dan calon bayinya lebih penting di atas segalanya.


Na. Semoga kau baik-baik saja. Jangan menangis, tunggu aku di apartemenmu.


 


 


 


 



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2