![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Entah apa yang digumamkan sosok manis ini ketika dirinya sedang asyik menikmati alam mimpinya. Mengarungi dunia tanpa batas, tanpa ada yang bisa mengusiknya. Dunia yang bisa membuatnya menghilangkan sejenak permasalahan yang membayanginya selama ini.
Naura mengibaskan tangannya ketika merasakan batang hidungnya gatal manakala ada embusan angin menerpanya. Sosok manis ini berdecak sebal. Sedikit kesal tidur nyenyaknya terganggu. Ia paling tidak suka bila ada yang mengusiknya ketika dirinya asyik berlabuh di dunia mimpi.
Sosok manis ini semakin mengeratkan kedua tangannya di bantal gulingnya. Memeluknya begitu erat. Tapi tunggu dulu ... kenapa rasanya bantal gulingnya tidak rata dan mulus? Sejak kapan bantal gulingnya ada lengan? Juga telinganya mendengar suara jantung yang berdetak kencang. Bukan. Detakan itu bukan berasal dari detakan jantungnya.
Detakan jantung? Seketika Naura membuka mata. Ia membeliak. Sedetik kemudian berteriak kencang. Sukses mengacaukan pagi indahnya.
“Gyaaa. Kenapa ada pria mesum di sini!!!”
🍃Dear, My Baby🍃
Naura meletakkan segelas teh panas ke atas meja bersamaan Raka keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada - usai membersihkan tubuhnya. Buru-buru wanita muda ini memalingkan wajah ke atas meja, berpura-pura menikmati susu hamilnya kala tanpa sengaja melihat lekukan tubuh berotot Raka yang menggiurkan itu. Tak ingin pria---dengan body proporsional, yang selalu menjaga ketat bentuk tubuhnya---ini memergokinya. Melihat wajahnya penuh dengan pendaran merah muda.
Cukup sejam yang lalu ia begitu malu. Ketika bangun mendapati dirinya dalam pelukan Raka. Sampai sekarang wajahnya masih terasa panas manakala membayangkan---ketika dirinya membuka kedua belah mata---Raka memandanginya begitu intens. Ditambah lagi ia bermimpi dalam tidurnya pria ini menciumnya, semakin menjadi warna-warna merah muda berkeliaran di wajah manisnya.
Dan entahlah. Naura tak tahu, selagi dia tidur apakah pria ini sudah meraba tubuhnya atau tidak, secara ia sadar betul selama semalaman Raka terus mendekapnya dan menenangkannya. Tidak salah sosok manis ini berpikiran negatif begitu, sebab mengingat pria ini memang begitu mesum. Kendati demikian, sosok manis ini tetap bersyukur. Berkat kehadiran pria bermata bulat ini, semalam ia tidak takut lagi sampai tertidur lelap.
“Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?” Raka membuka percakapan. Menarik kursi, duduk di depan Naura - usai menyampirkan handuk di sandaran belakang kursi. Mata elangnya begitu intens menatap sosok manisnya yang menyesap susu hamilnya. Sebenarnya pertanyaannyaini cocok ditujukan untuk dirinya sendiri. Pelipisnya terluka. Akan tetapi, ia tidak mau ambil pusing soal dirinya.
“Hum ... iy-ya.” Naura menjawab gugup, sedetik ia menahan napas manakala pandangan Raka begitu menusuknya. Diletakkan gelas susu yang telah habis ke atas meja. Cepat ia melarikan tangannya di bawah meja, meremat ujung gaun hamilnya. Dipandang sebegitu intens oleh pria ini membuatnya merasa tidak nyaman. Dadanya berdebar kencang. Seolah ia kembali jatuh cinta pada pria ini. Tidak. Naura menggeleng. Ia tidak boleh lemah pada pria ini. Setengah hatinya masih belum mampu menerima pria ini kembali.
Sementara di seberang meja sosok manis ini, Raka yang sedari tadi memperhatikannya, mengerutkan dahi manakala melihat ekspresi wanita ini. Dia memang bukan ahli menebak ekspresi wajah seseorang. Tetapi dari pengalaman yang selama ini didapatkannya, terutama terhadap lawan jenisnya, bila wajah perempuan memerah bisa diindikasikan dua hal. Satu, karena marah. Dua, karena ada rasa suka. Dan ia bisa mengindikasikan wajah bersemu merah sosok manis ini karena suka padanya? Mungkin. Semoga ia berharap begitu.
“Ekhem.” Raka berdeham. Mencoba memecahkan kekosongan sesaat di antara keduanya.
"Punyaku, kan," sambung Raka, mengangkat gelas tehnya. Memberi tahu bahwa ia tidak salah ambil. Atau lebih tepatnya berusaha membuat wanita muda ini kembali fokus padanya.
"Iya." Naura mengangguk sambil menyelipkan poninya yang menjuntai ke samping telinga. Sedikit ia bernapas lega, Raka tidak memandangnya seintens sebelumnya.
"Na ..." Raka meletakkan kembali gelas teh-nya, hanya sedikit saja diseruputnya, masih terlalu panas. "...aku mau berbicara serius akan hubungan kita. Bisa, kan?" Pria ini tersenyum, menampakkan deretan gigi putih bersihnya. Berulang kali takkan ia bosan untuk memperjuangkan hubungannya pada sosok manis ini, demi masa depan mereka berdua dan calon anaknya kelak.
Naura diam sesaat. Untuk kesekian kalinya, ia tak mampu untuk menjawab apa yang akan diutarakan pria ini ke depannya. Hatinya masih dipenuhi rasa bimbang.
__ADS_1
"Apa kau sudah memutuskan untuk menikah denganku?" lanjut Raka penuh harap dan to the point.
"Tidak." Seketika Naura menjawab tegas. Entah darimana datangnya keberanian tiba-tibanya ini. Senyuman yang terukir indah di belah bibir sensual pria di depannya lenyap seketika. "Hanya karena kejadian semalam, bukan berarti aku luluh padamu."
Raka mendesah keras. Kenapa susah sekali meyakinkan sosok manisnya ini. Seolah ia mendaki gunung Everest tanpa persiapan yang matang. Satu hal bisa dia ambil hikmah dari hubungannya dengan sosok manis ini. Sekali kita sudah menghancurkan kepercayaan seseorang, maka akan sulit untuk membuatnya kembali percaya pada kita. Butuh perjuangan dan keyakinan yang kuat. Itulah yang dirasakannya saat ini. Ia akui itu salahnya. Dan mungkin saja dengan cara ini pula ia menebus semua dosa yang telah dilakukannya pada sosok manis ini.
"Dan terima kasih soal semalam," lanjut Naura terus berbicara saat Raka hanya diam tak menyahut.
"Na." Raka meraih tangan Naura. Namun, sosok manis ini segera mengibaskannya. Kembali wajah tampan pria ini dipenuhi ekspresi kecewa. Ia menghela napas pendek. Kembali menyambung ucapannya, "aku tahu kau begitu susah untuk menerimaku kembali. Tapi ... please, pikirkan bayi kita. Masa depannya. Mungkin dengan berlalunya waktu kita kembali bersama, akan menghapus rasa sakitmu padaku. Kumohon."
Naura terdiam cukup lama. Ia menunduk sembari mengelus perut buncitnya. Di sisi lain ia mulai luluh pada Raka, terlebih karena kejadian semalam. Tetapi ... jauh di lubuk hatinya ia masih menolak akan pria ini di hidupnya. Dia masih trauma. Ia takut menikah. Ia takut nasibnya akan sama seperti ibunya. Ia takut akan kembali dikecewakan oleh Raka untuk kedua kalinya.
"Na, please." Kembali Raka berujar.
"Maaf, Raka. Aku ... masih belum bisa. Maafkan aku.”
Raka mengembuskan napas berat. Tidak lagi berbicara. Ia tak ingin mendesak Naura untuk saat ini. Mungkin lain kali ia kembali berbicara. Setidaknya ia sudah punya kunciannya. Hati wanita ini sudah tidak sekeras kemarin-kemarinnya lagi.
"Kurasa sudah cukup kita membahas masalah kita. Sekarang kau bisa pulang. Aku mau bekerja." Naura meraih coatnya di atas sofa dan memakainya. Memasang sepatu flat hitamnya dan meraih tas selempangnya. Tak membiarkan Raka untuk menginterupsi ucapannya.
Raka makin mendesah keras. Mengacak rambutnya menjadi sangat berantakan. Mulai berjalan mengikuti sosok manisnya. Ia menghentikan langkah ketika sosok manis ini juga berhenti. Kedua alisnya bertautan menatap punggung wanita-nya.
"Kenapa?" tanya Raka antusias. Harapan yang sedikit memudar di hatinya tadi kembali merekah, bagai bunga-bunga sakura yang bermekaran indah di musim semi. Ya. Ia berharap sosok manis-nya kembali mempertimbangkan ucapannya.
Naura memandang datar pria di depannya. Bersedekap, layaknya menghadapi penjahat yang meminta pengampunan darinya.
Raka mengernyit. Sontak memperhatikan kondisi tubuhnya yang disebutkan oleh sosok manis ini. Astaga! Mata pria ini membola. Tak kalah terkejutnya. Di detik kemudian, sudut bibir sensual pria ini tersenyum geli. Tentu saja ia belum memakai pakaian atas. Masih bertelanjang dada.
"Kenapa malah tertawa aneh begitu. Cepatlah pakai pakaianmu itu!" pekik Naura kembali.
"Well. Kurasa, Baby. Tidak us---"
"Yak, kau sudah nggak sayang nyawa lagi rupanya, Hah!" Naura bersiap melemparkan tas selempangnya kalau saja Raka tidak menggunakan jurus kabur darinya, kembali ke kamarnya, secepat kilat memakai kausnya kembali. Tentu saja Naura tahu niat Raka, biar tetangga pada membicarakan mereka berdua, mereka semua jadi salah paham dan akhirnya mereka berdua ....
Naura menggeleng. Melirik Raka di sampingnya telah rapi. Barulah menutup pintu apartemennya. Sebelumnya sempat melirik luka di pelipis Raka, sudah mulai mengering, tidak separah seperti semalam. Tadinya ia mau bertanya pada pria ini, apakah dia baik-baik saja. Tetapi niatnya diurungkan melihat rasa percaya diri pria ini di atas manusia kebanyakan. Bisa-bisa Raka kembali salah paham. Ia tak ingin Raka atau siapa pun (termasuk Jongin) berharap lebih padanya.
🍃Dear, My Baby🍃
__ADS_1
"Na. Kapan mau membeli perlengkapan bayi?" Raka membuka percakapan, melirik sekilas pada sosok di sampingnya. Sudah lima menit berlalu, sosok manis ini hanya diam saja. Kembali pria ini memandang ke depan. Fokus menatap jalanan di depannya. Ia tahu, Naura marah padanya, karena dirinya memaksa ikut naik taksi online dengan alasan mengkhawatirkan keadaannya. Biar pun Naura marah, akan tetap dia lakukan yang menurutnya baik, demi sosok manis ini luluh padanya.
"Masih lama. Dan bukan urusanmu juga." Naura menjawab malas.
"Semisal akan beli perlengkapan bayi, nanti telepon aku, oke."
Kemarin Raka menerima laporan dari Neil. Memperlihatkan hasil pemeriksaan Naura. Dokter muda itu menunjukkan hasil USG kandungan wanita-nya lewat WA. Dan menurut dokter kandungan, calon bayinya berjenis kelamin laki-laki. Ia tersenyum mengetahuinya. Laki-laki. Cocok untuk menjadi penerus keluarga Forrester. Sesuai yang diharapkan ayahnya. Astaga. Bila mengingat semuanya. Sungguh Raka tidak sabar untuk segera membawa Naura ke hadapan ayahnya dan memperkenalkan calon istrinya ini.
"Satu lagi, karena makin hari perutmu membesar. Sebaiknya kau berhenti bekerja dan fokus dengan kandunganmu saja," sambungnya.
Sosok manis ini mendelik tajam. "Apa katamu?! Kau menyuruhku berhenti bekerja? Jangan ngawur. Bagaimana aku bisa menghidupi diriku dan bayiku kelak."
"Ada aku. Makanya, menikahlah denganku." Raka mendesak.
"Tidak. Tidak. Tidak." Naura berkata tegas dengan volume suara mulai meninggi. Tak peduli pada sang supir taksi online yang melirik ke arah mereka. "Awas kau melakukan apa pun pada pekerjaanku," lanjutnya dengan nada mengancam. Ia sudah hafal betul dengan watak keras pria ini.
Raka mengangkat bahu. Untuk kesekian kalinya tak peduli dengan ucapan sosok manis ini. Pria ini menyeringai. "Sebaiknya berhentilah bekerja, Na. Kau tahu? Aku bisa memberhentikanmu detik ini juga."
Naura menoleh cepat pada Raka. Matanya memicing. Sudut bibirnya tersenyum miring. "Cih, siapa kamu bisa memberhentikanku."
Raka menyugar rambutnya sekilas. Menumpuk sebelah kaki kanannya ke atas paha kirinya. Kedua tangannya bertumpu di atas paha. Auranya mulai berbeda dari sebelumnya. Ia mulai menggunakan kekuatan dominasinya untuk menyerang lawannya.
Didekatkan bibirnya ke telinga wanita-nya, berbisik mengintimidasi. "Siapa aku? Hum. Asal kau tahu, Baby. Orang di balik suksesnya kamu diterima perusahaan mie itu karena aku. So, kau tebak sendiri kelanjutannya."
Rahang Naura seketika mengeras. Giginya gemeletuk. Pantas saja ia begitu mudah diterima di perusahaan, dan sangat kebetulan sekali perusahaan mie di pulau Jeju membuka lowongan pekerjaan dikala dirinya mencari pekerjaan. Ternyata ... Naura menarik napas dalam-dalam dengan tangan terkepal erat sambil mengumpulkan semua gumpalan amarahnya yang sudah berada di ujung kepala. Dan dalam hitungan detik saja akan disemburkannya.
"Dasar kodok sawah buluk. Benar-benar cari mati kamu, ya. 💢"
Mampirin juga dong novelku yang satunya. This Is Your Baby.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1