![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Sambil memegang nampan minuman di tangannya, entah berapa lama Naura hanya berdiri mematung di depan pintu ruangan atasannya, tanpa sama sekali berniat untuk membuka pintu yang tertutup rapat itu.
Berkali-kali wanita muda ini mengembuskan napas pendek. Keraguan menyelimuti hatinya. Sejujurnya, ia masih belum siap untuk bertemu dengan Richard setelah insiden pagi tadi. Pria itu melihat Raka menciumnya. Dia ingat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah Jongin saat itu. Kecewa bercampur marah.
"Na, waeyo (ada apa)? Kenapa enggak masuk?"
Suara lembut dengan logat Korea-nya mengejutkan Naura dari belakang, menepuk lembut pundaknya. Sosok manis ini segera menoleh ke sampingnya. Kania berdiri sembari mendekap dokumennya, senyuman manis menghiasi wajah cantiknya. Pandangan gadis dengan tinggi 172 cm ini tampak heran menatap wanita muda ini.
"Um, itu ..." Naura berkata gugup. Kebingungan melandanya. Seolah dirinya baru saja terkena hipnotis. Bingung mau melakukan apa.
"Apa di dalam ada tamu?" tanya Kania sembari menyelipkan poni ke samping.
Naura menggeleng.
"Terus? Kenapa berdiri saja di sini?"
"Itu ... ah, iya aku bingung, apa pagi tadi aku sudah minum susu hamil apa belum. He he he." Naura tersenyum kaku. Tentu saja itu bohong. Soal minum susu adalah kewajibannya di pagi dan malam hari. Mana mungkin dia lupa.
"Oh." Respon pendek Kania sambil mengangkat bahu. Sepertinya gadis ini tidak terlalu peduli dengan urusan Naura.
"Sekarang mau masuk?" lanjut gadis ini menatap Naura hanya menimang nampan di tangannya. Sosok manis ini hanya mengangguk kecil. Kemudian Kania membuka pintu dan mempersilahkan wanita hamil ini duluan masuk.
Naura nyaris menjatuhkan nampan di tangannya bila saja tidak menyadari ada Kania di sampingnya. Dalam diam sosok manis ini bersyukur dengan kehadiran rekan kerjanya ini. Kalau tidak mungkin dia sudah berbalik kembali keluar dari ruangan ketika mata elang Richard hanya tertuju menatapnya.
Naura sengaja memperlambat laju langkahnya. Membiarkan Kania berjalan cepat menuju meja Richard. Suara ketukan sepatu heels Kania terdengar begitu lantang di ruangan, memecahkan kecanggungan yang tiba-tiba saja atmosfirnya jadi berubah ketika sosok manis ini ada di ruangan kepala divisi umum ini.
"Ini berkas yang Bapak minta kemarin." Kania meletakkan dokumen dengan tebal lima centimeter yang sedari tadi didekapnya ke atas meja Richard.
"Oh, terima kasih." Richard mengalihkan fokusnya ke atas dokumen yang disodorkan Kania dari memandang Naura yang berjalan bak siput. Seolah menghitung ratusan anak-anak domba di dalam kepalanya.
"Satu lagi, Pak. Tadi sekretaris CEO Harry telepon," imbuh Kania bersamaan Naura telah berdiri di sampingnya meletakkan nampan berisi kopi hitam favorit Richard.
"Jenny?" tanya Richard dengan mata elangnya memperhatikan sosok manis ini menyodorkan minumannya. Begitu hati-hati dan takut tumpah. "Terima kasih," lanjut pria ini tersenyum. Naura hanya mengangguk canggung.
"Iya. Miss Jenny. Katanya, CEO Harry meminta Bapak untuk menggantikannya meeting dengan klien dari Jepang di kafe kawasan Jeju selatan." Kania berkata sembari mencoret-coret sesuatu di kertasnya. Gadis ini tampak fokus dengan tulisannya dan tidak terlalu peka akan keadaan sekitarnya. Sedikit menguntungkan bagi dua orang di ruangan ini. Naura dan Richard yang tampak rikuh satu sama lainnya. Terutama Naura, ingin rasanya ia pergi secepatnya dari hadapan Richard.
"Kapan?"
"Siang ini, sekalian makan siang."
"Oke. Kalau begitu saya butuh asissten untuk menemaniku menemui klien."
"Ya. Tentu saja." Kania menjawab cepat.
"Kamu bisa?"
"Maksud Bapak, saya?" tanya Kania memastikan. Soalnya sedari tadi dia mencuri pandang dari balik coretan kertasnya, pandangan atasannya ini hanya tertuju pada sosok manis di sampingnya. Naura segera berbalik buru-buru membawa nampannya kembali.
"Iya, kamu. Bisa, kan?" Richard menyeruput sedikit kopi panasnya. Iris hitam pekatnya melirik punggung Naura berjalan menuju pintu.
"Eung ... maafkan saya, Pak. Saya benar-benar minta maaf."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Soalnya, saya mau izin pulang setelah ini." Kania menggigit bibir. Berharap atasannya tidak marah padanya.
"Izin pulang?" Richard meletakkan cangkir kopi ke tatakannya kembali.
"Iya. Ibu saya lagi sakit. Sekarang berada di rumah sakit."
"Oh." Richard mengetuk bolpoint di sela-sela jarinya. Sementara pandangannya tetap fokus menatap sosok manis berbadan dua itu telah mencapai pintu.
"Kalau begitu, Naura saja yang menggantikan Kania," sambung pria ini dalam sekian detik saja sudah membuat keputusan final. Kecepatan ucapannya bagai anak panah yang lepas dari busurnya.
Naura membeku di tempat, tangannya seperti kayu mati saat menyentu handle pintu ketika telinganya mendengar keputusan dari belah bibir atasannya ini. Hatinya menjerit untuk menolak perintah Richard. Jelas hari ini dirinya ingin menghindari pria dengan pandangan setajam silet itu padanya.
Lagipula hari ini dirinya sudah ada janji makan siang bersama sang kekasih. Tetapi sepertinya, janji makan bersama Raka terpaksa dibatalkannya manakala menatap pandangan memelas dan memohon dari Kania. Bagi gadis berambut bob ini tentu saja hanya sosok manis ini solusi terbaik untuknya. Bukankah wanita muda ini adalah bawahan langsung atasannya ini. Sudah tentu Naura yang tepat mendampinginya. Sosok manis ini menghela sekilas. Tak ada pilihan lain lagi. Selain menemani Richard bertemu klien perusahaan hari ini.
Huft ... semoga saja kali ini si tuan kodok sawah enggak marah padaku.
🍃Dear, My Baby🍃
"Masuklah." Richard membukakan pintu mobilnya. Mempersilahkan wanita muda di sampingnya - baru saja selesai menelepon Raka. Dari raut wajahnya, sepertinya Naura sedang kesal pada kekasihnya itu. Berulang kali telinganya menangkap sosok manis ini bergumam tidak jelas sembari mengelus perut buncitnya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Naura segera memasuki Rolls Royce - tunggangan pribadi Richard,
"Soal pagi tadi ..." Naura membuka percakapan ketika Rolls Royce yang ditumpanginya telah melaju ke jalan raya. Ia menatap sekilas pada Richard di depannya. Pria ini duduk dengan kaki bertumpu sembari menatap lekat i-pad di pahanya. Dari penampilannya memakai setelan jas dan celana slim fit serta cara duduk pria ini benar-benar menggambarkan eksekutif muda yang elegan.
Melihat penampilan Richard. Sosok manis ini jadi membayangkan penampilan Raka bila berada di kantornya. Tampan dan menggoda. Dan tentunya akan banyak pula predator di sekelilingnya. Bersiap memangsa dan menggodanya. Tiba-tiba Naura mendengkus tak kentara bila mengingat banyaknya wanita yang menginginkan kekasihnya itu.
Awas saja kalau Raka sampai main mata di belakangku. Akan kugoreng kodok sawah itu. Huh.
"Naura?"
"Eh? Ya? He he he." Naura tergagap dan tercengir bersamaan. Ingin rasanya dia menguburkan dirinya ke dalam tanah kala ketahuan oleh atasannya ini melamun di tengah pembicaraan. Ia melihat pemandangan di sekitarnya ketika sang supir pribadi Richard membelokkan Rolls Royce ke arah kanan. Sekitar lima menit lagi mereka sampai di tempat tujuan.
"Tadi kau bilang soal apa?"
"Oh itu ..." Naura menarik napas dalam-dalam. Sudah diputuskannya untuk berterus terang soal hubungannya dengan Raka, agar pria ini tidak lagi mengharapkan sesuatu darinya lagi.
"Soal aku dan Raka."
"Ya?"
"Sebenarnya aku sudah menjalin hubungan dengannya. Aku menerima Raka menjadi kekasihku. Jauh sebelumnya, aku dan Raka pernah pacaran selama lima tahun. Lalu kami putus, dan sekarang balikan lagi," jelas Naura.
"Dan kau juga harus tahu ..." Naura mengelus perut buncitnya. Sudah saatnya berkata jujur, bahwa bayi yang dikandungnya adalah benih dari Raka. "...anak yang kukandung ini adalah anak Raka."
__ADS_1
Lama keheningan terjadi di antara mereka berdua. Naura menarik napas dalam. Tak ada pilihan lain, selain berkata jujur. Ia tahu pernyataannya ini akan menyakiti perasaan pria ini. Namun tetap harus dikatakannya. Agar pria ini bisa mencari wanita lainnya.
"Aku tahu."
"Ne?" Naura menengadah. Irisnya menatap lekat iris hitam pekat pria ini.
"Aku tahu bayi yang dikandungmu itu adalah anak Raka."
"Eh?" Naura terperanjat kaget mendengarnya. Ia menggaruk kepala. Bingung dengan ucapan Richard barusan. Setahunya, dia tidak pernah menceritakan pada siapa pun soal siapa ayah dari bayi yang dikandungnya ini.
"Dari mana kau tahu?"
"Raka tidak cerita padamu?" Richard balik bertanya.
"Soal?" Dahi Naura semakin berkerut.
"Sebenarnya, aku dan Raka berteman."
Naura membeliak. Pantas saja, ketika pertama kalinya Raka ingin bertanggung jawab padanya beberapa bulan yang lalu, pria itu langsung menyebut nama Richard.
"Jadi, kau sudah tahu kalau aku hamil anak Raka dari dulu?"
"Ya."
Astaga! Rahang Naura hanya bisa terngangga. Tak mampu lagi untuk berbicara apa pun. Baik Richard atau Raka, tidak ada yang memberitahunya. Ia pikir Raka dan Richard benar-benar orang asing satu sama lainnya.
"Na."
Tanpa diduga sosok manis ini, Richard meraih tangannya, membuat Naura tersentak dan seketika menarik tangannya.
"Kau yakin menerima Raka kembali?"
Naura mengangguk pasti.
"Kau tidak takut, Raka akan meninggalkanmu untuk kedua kalinya? Kali ini bukan kamu saja yang ditinggalkan, mungkin juga bayimu."
Mendengar ucapan Richard. Naura terdiam. Ia menahan napas beberapa detik. Sejujurnya. Itu juga yang menghantuinya selama ini.
"Na. Daripada menerima Raka. Lebih baik pertimbangkan lagi lamaranku waktu itu. Sampai kapan pun lamaranku tetap berlaku untukmu."
"Ma---"
"Jangan terlalu cepat mengucap kata maaf, Na. Coba benar-benar pikirkan kembali. Semuanya belum terlambat. Kau belum menikah dengan Raka. Kau bisa membatalkannya, daripada nanti kau menyesal. Aku tak ingin kau menyesal. Aku tak ingin kau sakit hati kembali oleh Raka."
"Ak---"
"Aku serius, Na. Aku tak masalah dengan bayi yang dikandungmu itu anak Raka. Aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku hanya ingin menjadi teman hidupmu. Aku hanya ingin menjadi pusat duniamu. Aku sangat mencintaimu, bahkan lebih dari rasa cinta Raka padamu."
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1