Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
40| Tidak Bisa Dipercaya


__ADS_3


"Astaga! Masih molor?"


Naura berkacak pinggang ketika mendapati sang kekasih masih meringkuk nyaman di balik selimut tebalnya. Wanita muda ini pikir, saat dirinya masak di dapur tadi pria bermata bulat ini telah bangun dan melakukan aktifitas rutinnya. Misalnya joging mengelilingi kompleks perumahan, atau pun melakukan treadmill di ruang khusus fitness - bila cuaca tidak mendukung di luar. Dan bila tidak olahraga, biasanya pria dengan model rambut undercut ini mengurung dirinya di ruang kerjanya - memeriksa hasil pekerjaan kantornya.


Well. Tidak biasanya kekasihnya ini bermalas-malasan di pagi hari. Atau memang pria ini benar-benar kelelahan karena urusan kantornya?


Naura bisa memahaminya. Sebagai CEO di perusahaan besar, Raka jarang punya waktu kosong, apalagi sudah semingguan ini dia sakit. Tentu sangat banyak yang harus diurus.


"Dear, wake up. Wake up. Sudah siang, masa kalah sama ayam." Naura mengguncang-guncang tubuh besar kekasihnya, kemudian menyibak selimut tebal berwarna biru polos itu. Tampak Raka meringkuk bagai janin dalam kandungan. Pria ini hanya menggeliat sebentar.


"Ayo, bangun!"


"Eng ... tapi hari ini hari minggu, Baby," gumam Raka dengan suaranya yang begitu serak dan dalam. Ditariknya bantal guling dan memeluknya sangat erat. Seolah bantal guling itu adalah tubuh berisi kekasihnya. Tampak pria muda ini begitu malas untuk menggerakkan tubuh besarnya.


"Aigo! Jangan mentang-mentang hari ini libur bisa molor sampai siang, eoh. Ayo, bangun!" Kali ini wanita muda ini menarik-narik selimut yang melilit di ujung kaki Raka.


"Bentar lagi, Baby."


"Enggak bisa, Dear."


"Kali ini saja, Na," mohon Raka seraya mengerang samar. “Please, Baby.”


Naura mengembuskan napas. Ia menyerah. "Oke. Tapi jangan lama-lama ya. Enggak baik juga tidur kesiangan. Nanti banyak penyakit yang hinggap di tubuhmu, lho."


"Oke, nyonya cantik, abang mengerti." Raka tersenyum senang ketika wanita muda ini kembali menyelimuti tubuhnya. Membiarkannya bergulat kembali dengan selimut dan bantal.


Ya, kali ini saja biarkan ia tidur dengan nyaman tanpa ada beban pikiran. Setidaknya ia bisa bernapas lega setelah memutuskan pertunangannya dengan Thesalia. Lalu setelah ini membawa sang kekasih ke hadapan orang tuanya - sesuai dengan rencananya semalam.


Omong-omong soal orang tuanya ....


Seketika Raka tersentak. Secepat kilat bangun dari baringannya---seolah tak peduli pada bantal guling yang seakan bersedih ketika dia menyingkirkannya dari dekapannya---hingga membuat Naura mengerutkan dahi akan reaksi tiba-tibanya.


"Kenapa, Dear?" Naura menatap lekat kekasihnya. Memperhatikan penampilannya. Rambut hitam pria bermata bulat ini tampak acak-acakan.


Raka tidak serta merta menjawab ucapan wanita muda ini. Ia melompat dari tempat tidur. Kemudian berjalan agak gesa ke arah kamar ganti pakaian dengan Naura yang mengiringinya. Tercetak jelas di dahi wanita muda ini rasa kebingungan.


Raka membuka lemari pakaian. Mencari jas yang dipakainya kemarin. Setelah menemukan jasnya - ternyata telah ia tumpuk dengan pakaian kotor di samping pintu. Lantas merogoh sakunya. Sudut bibir sensualnya terangkat ke atas, tersenyum manakala menemukan apa yang dicarinya. Dua buah tiket.


Yup! Tiket perjalanan ke Jakarta. Setelah memutuskan pertunangannya kemarin siang dengan Thesa. Tanpa mengulur waktu lagi ia pun membeli tiket untuk kembali ke tanah air. Sesuai janjinya dengan Cathie. Hari ini atau besok ia akan pulang ke Jakarta.


"Apa itu, Dear?" Naura memiringkan kepala. Alis simetrisnya bertautan kala memperhatikan senyuman lebar menari-nari di belah bibir kekasihnya sembari menimang amplop di tangannya. “Amplop apa itu?” lanjutnya.


"Oh, ini ..." Raka memberikannya ke tangan Naura. "Tiket," imbuhnya sembari menyugar rambut hitamnya. Baru sadar rambutnya sangat berantakan ketika irisnya menatap pantulan tubuhnya di kaca.


"Tiket?" tanya Naura makin bingung. Ditatapnya bolak-balik amplop cokelat di tangannya tanpa membukanya sama sekali.


"Iya." Raka menjawab pendek. Dituntunnya kekasihnya keluar dari kamar ganti pakaian. "Tiket pulang ke Jakarta. Sesuai janjiku, kita akan liburan ke Indonesia," tambahnya.


Diputarnya kembali tubuh berisi kekasihnya hingga menghadap padanya. Mendaratkan kecupan ringan di dahi wanita muda ini. Tampak rona kemerahan menari-nari di wajah Naura. Setiap kali Raka mendaratkan bibirnya di atas dahinya, selalu membuatnya tersipu malu.


"Kapan berangkatnya?" kembali Naura mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Siang nanti."


"Siang nanti?" Naura membelalak lebar. "Astaga. Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku belum izin pada atasanku. Kenapa baru ngomong sekarang,” cerocos wanita muda ini tampak begitu panik, seolah dirinya akan melahirkan detik itu juga.


“Dan berapa hari kita liburan?" lanjutnya seraya mengelus perut buncitnya. Selalu bila dirinya merasa panik bayinya akan menendang dinding perutnya.


Selamanya liburan di Jakarta. Alias menetap di sana dan takkan kembali lagi ke sini, jawab Raka dalam hati. Tentu saja takkan dia ceploskan kalimat yang ini. Bisa bahaya. Bukannnya balik ke Jakarta, justeru mereka menetap di pulau ini sampai si manis melahirkan - bila dia jujur mengatakannya.


"Soal pekerjaanmu---" Raka menyelipkan poni Naura ke samping telinganya - mengganggunya ketika memandang lekat iris cokelat bening nan indah sang kekasih hati. "---aku sudah menelepon langsung atasan dari atasanmu," sambungnya menekan kalimat terakhirnya.


Maksudnya atasan dari Jongin. Dengan kata lain menelepon langsung CEOnya. Mengatakan bahwa seorang pegawai perusahaannya yang bernama Naura Almira Atmajaya akan resign dari perusahaan tanpa perlu dibicarakan langsung pada orangnya. Tentu saja CEOnya menuruti ucapan Raka karena merupakan mitra bisnisnya selama ini.


"Dan kita akan liburan selama dua minggu atau bahkan bisa lebih dari itu."


"Ya ampun lama sekali."


"Percayalah, Na. Kalau sudah balik ke tanah air, waktu dua minggu ini rasanya kurang untuk keliling liburan." Raka berdeham, berusaha memberi alasan yang masuk akal.


"Oh, betul juga." Naura mengangguk - percaya saja telah dikibuli sang kekasih. Sementara Raka tersenyum lebar mengetahui sang kekasih tidak menaruh curiga padanya.


"Kalau begitu aku mau siapin sarapan kita, kemudian lanjut beres-beres untuk persiapan berangkat. Dan kau, Dear ..." Wanita muda ini menunjuk dada bidang kekasihnya di balik piyama yang dikenakannya. "...mandi sana. Ih, kamu bau tuan kodok."


"Aye, nyonya." Raka semakin tersenyum lebar. Sebelum memasuki kamar mandi ia menyempatkan untuk mencuri ciuman ringan di bibir plum kekasihnya.


"Seperti biasa, jatah morning kiss, Baby." Raka mengedipkan sebelah mata seraya menutup pintu.


"Aih. Dasar mesum." Naura mencibir sembari mengelus bibirnya. Kemudian berbalik hendak melanjutkan kembali membuat sarapannya yang tertunda setelah meletakkan amplop di tangannya ke meja nakas.


Baru saja menuruni beberapa anak tangga telinga wanita muda ini menangkap suara bel pintu berdering berkali-kali. Seolah orang yang berada di balik pintu dikejar anjing gila dan sangat membutuhkan pertolongan dari pemilik rumah.


"Ya. Tunggu sebentar. I'm coming," sahut Naura mengurungkan langkahnya ke arah dapur dan berbalik arah menuju pintu ruang tamu.


🍃Dear, My Baby🍃


"Siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Naura dengan dahi berkerut ketika memegangi handle pintu berwarna gold itu.


Cepat dibukanya pintu. Seketika matanya membelalak lebar melihat siapa yang bertamu. Naura bergeming. Tubuhnya menjadi kaku. Tak peduli meski ada badai dahsyat menerpanya. Ia tetap mematung. Seolah dirinya adalah kayu mati. Matanya hanya terpaku pada sosok wanita yang berlinangan air mata di depannya. Hatinya berkecamuk melihat sosok yang hampir sepuluh tahun tidak dilihatnya lagi. Rindu memenuhi hatinya kala melihat wajahnya.


"Kak Tere? / Naura?" Kedua wanita muda ini sama-sama terperanjat kaget melihat sosok di depannya.


"Kenapa ada di sini?" Lagi keduanya kompak berbicara bersamaan.


Kak Tere ... Terlalu syok dengan apa yang dilihatnya Naura hanya mampu menggumamkan---sekali lagi---nama panggilan perempuan yang lebih tua darinya tiga tahun ini dalam hati. Meyakinkan penglihatannya.


Sementara perempuan itu berusaha berontak dari dua security di kiri kanannya---memegangi tangannya---yang mencoba menghalanginya. Sepertinya wanita muda ini akan menerobos masuk tanpa izin dari Raka.


"Pak tolong lepaskan dia," titah Naura.


Wanita muda ini mendengkus manakala dua security itu akhirnya melepaskannya. Ditatapnya begitu sinis Naura di depannya. Dia berikan pelototan tak suka ketika dua security itu melintas pergi di depannya sembari mengusap air mata. Dalam hati ia akan menyuruh Raka memecat dua penjaga keamanan ini karena telah bertindak tidak sopan padanya. Serta wanita ....


"Kak Ter---"


"Ya ini aku." Thesa dengan nama asli Theresia Almira Atmajaya ini bersidekap memotong ucapan sosok manis ini.

__ADS_1


"Dan seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di tempat Raka. Aku tunangannya," sambung Theresia berkata angkuh seraya berkacak pinggang. Dagunya terangkat tinggi, seolah ingin menunjukkan pada sosok manis di depannya ini bahwa statusnya lebih tinggi. Iris cokelatnya yang sama persis dengan milik Naura memandang sinis penuh kebencian. Seolah wanita muda di depannya ini adalah musuhnya.


"Satu lagi. Jangan panggil aku kakak dengan nama asliku. Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Panggil aku Thesa. Namaku sekarang adalah Thesalia Brown, bukan Theresia Almira Atmajaya."


Degh!


Jantung Naura berhenti berdetak selama beberapa detik. Ada sesuatu tak kasat mata meremat-remat jantungnya. Rasanya sangat susah sekali bernapas manakala mendengar kalimat terakhir dari belah bibir saudara perempuannya.


Hati Naura berdesir halus. Buru-buru wanita muda ini mengelus perut buncitnya saat bayinya menendang. Merasakan apa yang tengah dirasakannya. Rasa sakitnya menjadi dua kali lipat dari pertama kalinya mereka bertemu, sebab Theresia mengatakan dirinya adalah ....


"Kak Tere tun---"


"Siapa, Baby?" Raka menyela ucapan Naura. Tiba-tiba pria muda ini telah berdiri di belakang sosok manisnya.


"Thesa?" Raka membelalak lebar melihat siapa yang berada di depan Naura. Mantan tunangannya. Thesa.


Ya, Tuhan. Ternyata perempuan ini nekad datang kemari. Astaga! Rahang Raka mengeras menatap Thesa yang begitu sinis menatap Naura.


"Oh, jadi wanita ini penyebab kau memutuskan pertunangan kita!"


Seketika Theresia atau Thesa memekik keras melihat wajah Raka. Merangsek masuk. Menyenggol lengan keras Naura yang masih tampak syok hingga terpundur beberapa langkah. Nyaris wanita muda ini oleng andaikan Raka tidak sigap meraih pinggangnya. Segera mendekapnya.


Raka mendelik tajam akan sikap kasar Thesa terhadap kekasihnya. Beruntung dirinya cepat sampai di sini. Memang sebelumnya dirinya sudah punya feeling buruk tentang ini ketika mendengar suara bel yang mengaum saat dirinya tengah mandi tadi.


Theresia menatap nanar dua orang di depannya. Adiknya dan tunangannya. Sungguh ia benci melihat adegan di depannya. Raka begitu posesifnya memeluk Naura. Selama dia bertunangan, belum pernah melihat Raka bersikap seposesif itu pada perempuan lainnya. Bahkan pada dirinya sekalipun. Kemudian irisnya beralih pada sesuatu yang menonjol di balik gaun yang dipakai Naura.


Naura hamil? Anak Raka-kah? Astaga. Apa-apaan ini. Kenapa bisa jadi begini? Theresia melotot tajam. Tangannya terkepal erat. Hatinya makin mendidih. Bagai ada bara api yang mengipasi hati--- tidak ia rasa seluruh tubuhnya, manakala irisnya begitu lekat menatap perut buncit Naura.


"Naura!! Teganya kau berbuat ini padaku! Kau menusukku dari belakang, sialan!" Theresia kembali memekik. Dilayangkan tas kesayangannya ke arah Naura. Hendak menampar wanita muda ini.


Dan secepat kilat pula Raka menghindarkan Naura dari serangan Theresia. Tas bermerek terkenal itu pun hanya mendarat di lengannya. Giginya gemeletuk marah. Tak ada yang boleh menyakiti kekasihnya. Itu sama saja dengan menyakiti dirinya.


Sementara Theresia makin mengamuk melihat sikap Raka yang melindungi Naura. Cepat ia melayangkan kembali tasnya. Dan kembali Raka menghalanginya. Kali ini Raka tak tinggal diam saja. Ia rebut tasnya dan melemparnya begitu jauh dari jangkauan gadis ini.


"Thesa, hentikan!" Raka mencoba menghalangi jalan Theresia yang begitu gigih hendak menyakiti Naura. Wanita muda ini hanya diam bergeming tak melakukan apa pun. Begitu syok melihat sikap kasar sang kakak.


"Hiks, Raka. Ternyata kau tega memutuskan pertunangan kita demi dia!" Thesa meraung sembari menunjuk penuh amarah pada Naura di belakang tubuh pria muda ini.


"Thesa hub---"


"Enggak. Sama seperti kemarin. Aku enggak mau putus darimu. Enggak akan pernah!!" Thesa meninggikan suaranya. Ia menjerit dan menangis makin keras, sama seperti kemarin dilakukannya. Tak peduli pada apa pun. Ia bersikap bagai orang gila yang mengamuk di pasar.


"Aku enggak bisa menerima ini." Theresia menutup kedua telinganya, seolah menolak mendengar apa pun dari mulut Raka. Ia menggeleng keras. Air matanya meleleh deras di pipi. "Hiks ... Enggak bisa. Aku eng---"


Bruk!


"Astaga, Thesa / Kak Tere!"



\=================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


__ADS_2