![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Jadi ini perusahaannya." Wanita itu bergumam kala irisnya menatap lekat bangunan megah di depannya.
Sudut bibir tipisnya mengembang ke atas, tersenyum penuh arti. Awalnya ia ingin memberikan Raka kejutan di rumahnya. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi lebih baik ia mengejutkan tunangannya di kantornya saja. Mengingat jam sudah menunjukkan angka sepuluh, sudah pasti pria bermata bulat itu berada di kantornya. Tenggelam dalam tumpukan dokumen yang menggunung di atas mejanya.
Sekalian dirinya menunjukkan pada seluruh orang-orang di perusahaan Raka, bahwa dirinya adalah tunangan sah pria itu. Bahwa Raka sudah ada yang memilikinya. Dan yang paling penting untuk mengusir para lalat-lalat ganjen yang bertebaran di sekitar tunangannya itu. Memang ia akui, selama ini pria itu tidak pernah mengenalkan dirinya pada siapa pun sebagai tunangannya.
Baginya itu tidak masalah, asalkan pria itu tetap menjadi miliknya. Mau Raka bersikap cuek dan dingin baginya tidak masalah. Benar-benar tidak masalah. Sebab ada pepatah mengatakan, bila nanti sudah menikah, lambat laun rasa cinta itu akan tumbuh sendiri seiring berjalannya waktu dalam kebersamaan mereka.
"Di mana ruangan CEO kalian," ujar wanita itu penuh percaya diri pada salah satu karyawan di meja receptionist.
"Silahkan isi buku tamunya terlebih dahulu. Dan ada keperluan apa anda dengan beliau?" Wanita dengan rambut dicepol itu menyodorkan buku ke hadapan wanita ini.
"Aku tidak butuh itu. Aku hanya butuh di mana ruangan CEO kalian," jawab wanita ini begitu angkuh tanpa membuka sama sekali kacamata hitam yang membingkai wajah cantiknya. Mengabaikan sama sekali buku tamu di depannya.
"Tidak bisa begitu, Miss. Anda harus mengikuti aturan yang berlaku di perusahaan ini. Memangnya anda siapa?" tanya karyawati ini mulai terpancing emosinya saat mendengar jawaban wanita angkuh ini.
Wanita muda itu tersenyum miring. Ia bersidekap dengan dagu terangkat ke atas. Menunjukkan bahwa statusnya lebih tinggi dari wanita sedikit lebih pendek darinya ini.
"Kau tanya aku siapa?" ujarnya begitu sinis.
"Tentu saja. Tidak sembarang orang bisa masuk ke ruangan CEO." Wanita di depannya tidak mau kalah dalam menjawab. Lagipula itu sudah menjadi tugasnya. Serta mengorbankan pekerjaannya. Bisa-bisa dirinya dipecat hanya karena kesalahan seperti ini.
"Asal kau tahu ya. Aku bukan termasuk sembarang orang. Dan aku bisa menyuruh CEOmu itu memecatmu detik ini juga bila kau tidak mau menunjukkan di mana ruangannya. Paham!"
γ
γ
γ
πDear, My Babyπ
γ
γ
γ
"Masuk!"
Raka menghentikan kegiatannya bersamaan irisnya menatap ke arah pintu yang diketuk. Seketika mata pria ini membalak lebar. Tubuhnya mengeras, tidak bisa bergerak bagai kayu mati - meski ada ular yang melintas di depannya pun ia takkan bereaksi sama sekali. Seolah dunianya hanya berpusat pada sosok di depannya. Seolah pandangannya tidak ada yang lain selain kemunculan tiba-tiba wanita muda itu.
"Tararaaaa, kejutan!" Wanita muda itu berkata gembira, tersenyum lebar hingga menampilkan gigi-gigi putih bersihnya.
Keceriaan wanita ini begitu terpancar manakala menatap sosok nyata tunangannya. Hatinya semakin mengembang bahagia kala melihat ekspresi sang tunangan yang sangat diharapkannya. Begitu terkejut akan kehadirannya di kantor---penuh dengan ornamen kemewahan di dalamnya---lebih tepatnya di pulau Jeju ini, yang selama beberapa bulan ini mereka sama sekali belum pernah berjumpa.
"T-Thesa?" Raka berkata terbata-bata. Tidak bisa mempercayai penglihatannya saat ini. Tidak menyangka tunangannya justru menyusulnya ke pulau Jeju.
__ADS_1
Astaga! Raka lupa satu hal tentang gadis ini. Ia bisa bertindak nekad bila menginginkan sesuatu. Bahkan dulunya, ketika dirinya jauh menetap di benua Amerika, gadis ini nekad menyusulnya - meski sama sekali ia tidak pernah menggubris kehadirannya. Jangankan menganggap kehadirannya, gadis ini meneleponnya saja ia tidak pernah mengangkatnya.
"OMG! Sepertinya kejutanku sangat berhasil. Kyaaa."
Gadis yang bernama lengkap Thesalia Brown itu berseru gembira, berjalan cepat ke arah sang tunangan yang berdiri tak berkedip menatapnya. Segera dipeluknya tubuh atletis Raka. Tubuh yang selama ini diidam-idamkannya setiap malam. Tubuh yang selalu membuat khayalannya membumbung tinggi. Selalu ingin memeluknya.
Tidak berlebihan gadis ini berpikiran seperti itu. Sebab selama dirinya menjadi tunangan pria dengan mata tajam bak pedang samurai itu tidak pernah sekali pun memeluknya. So. Dia ingin merasakan bagaimana berada dalam pelukan hangat pria itu. Dan mumpung pria muda ini dalam fase tidak sadarkan diri.
"Aku merindukanmu, Sayaaang." Thesa berbisik manja dengan bibirnya begitu dekat ke telinga Raka.
Detik itu juga membuat Raka segera tersadar. Buru-buru menyentak tubuh gadis itu menjauh darinya. Mundur beberapa langkah darinya. Menjaga jarak, hingga garis-garis kerutan di dahi Thesa beranak pinak. Sudut bibirnya melengkung ke bawah. Sangat amat kecewa akan reaksi tunangannya. Untuk kesekian kalinya, Raka menolak terang-terangan kehadiran dirinya.
"Sikapmu sungguh melukaiku, Sayang." Thesa mengaku jujur. Berusaha menjaga bibirnya tetap tersenyum meski dadanya bergemuruh.
"Bukankah kita sudah bertunangan. Jadi kurasa sah-sah saja bila kita berpelukan. Lagian mau nikah juga, kan," lanjut gadis ini bersungut kesal.
"Kenapa datang ke sini!" ujar Raka dengan nada begitu dingin. Sama sekali tak ada ekspresi apa pun di wajahnya, meski sebelumnya sempat terkejut akan kedatangan gadis muda ini.
Untung saja gadis ini datang ke kantornya. Bagaimana kalau dia datang ke rumahnya. Sangat berbahaya. Thesa bisa bertemu dengan Naura. Sungguh ia tidak mau itu berjadi. Sangat tak ingin Naura bertemu dengan Thesa. Sangat tak ingin Naura kembali sakit hati.
"Seharusnya kau telepon aku dulu kalau mau ke sini." ... dan aku bisa membatalkan perjalananmu ke sini, sambung Raka dalam hati dengan pandangan begitu tajam menatap gadis di depannya.
Thesa makin mencebik mendengar ucapan dingin Raka. Dibukanya kacamata hitamnya dan menyelipkannya ke sela-sela rambutnya.
"Meneleponmu? Coba ingat-ingat lagi, adakah kau mengangkat panggilanku. Walau itu satu kali pun." Thesa mulai meninggikan suaranya. Mulai terpancing emosi. "Lagian aku datang ke sini tentu saja mau menemuimu. Aku kangen padamu. Apa kau tak kangen padaku?" Thesa balik bertanya.
Raka mengembuskan napas pendek. Dibukanya jas hitam yang membalut tubuh atletisnya, lalu dilemparkannya ke sofa panjang di belakang Thesa. Menggulung kemeja putihnya batas siku kemudian mengusap wajahnya. Seolah baru saja dia mengalami perusahaannya bangkrut dalam semalam.
Karena dia sudah berada di sini. Aku tak bisa mengulur-ulur waktu lagi. Sebaiknya kukatakan saja hari ini soal hubungan pertunangan kami. Lebih cepat lebih baik.
Raka berkata dalam hati sembari memandangi wajah Thesa yang sedikit masam akibat perlakuannya. Well. Jangan paksa ia untuk bertindak baik pada gadis ini. Sebab dirinya memang tidak menyukai gadis ini. Lebih baik dia bersikap seperti ini, agar gadis ini mengerti bahwa dia memang tidak suka padanya.
"Kau tinggal di mana?" tanya Raka.
"Tadinya aku mau langsung ke rumahmu. Tapi karena kecapean, aku tidur sementara di hotel. Semua barang-barangku ada di hotel."
"Bagus. Tetaplah tinggal di hotel."
"Tapi aku mau ke rumahmu." Thesa merengek manja. Ia maju selangkah, hendak bergelayut manja di lengan kokoh Raka. Tetapi kemudian niatnya kembali diurungkan, manakala ia melihat ekspresi wajah Raka menolaknya.
"Tidak usah. Karena kau sudah ada di sini sebaiknya kita bicarakan soal hubungan pertunangan kita. Ayo ikut aku."
Raka melewati Thesa begitu saja, sebelumnya meraih kunci mobil, dompet serta yang paling penting adalah smartphone-nya. Sebaiknya ia menghubungi kekasihnya, memberi tahunya tidak bisa makan bersama siang ini seperti yang dijanjikannya pagi ini pada calon istrinya itu.
γ
γ
γ
__ADS_1
πDear, My Babyπ
γ
γ
γ
"Sebelumnya aku minta maaf padamu, Thesa. Mungkin kata-kataku selanjutnya akan menyakiti perasaanmu."
Raka membuka percakapan setelah gadis di depannya selesai menyantap hidangan favoritnya. Sedang dia sendiri tidak memesan makanan. Hanya minuman espresso yang menemaninya dikala menunggui Thesa makan. Sama sekali ia tidak selera makan di depan gadis yang sebentar lagi jadi mantan tunangannya ini. Apalagi akan mengucapkan kalimat-kalimat pahit yang sebentar lagi akan meluncur dari balik lidahnya.
Jadi mana bisa dia nafsu makan, bila mengingat akan ada tangisan tidak rela dari sosok di depannya ini. Jujur. Baginya, memutuskan sebuah hubungan ikatan itu sangat sulit. Lebih sulit dari memulai hubungan untuk pertama kalinya. Atau sama sulitnya ketika pertama kali menyatakan isi hati pada sang pujaan hati.
"Minta maaf? Soal?" Thesa mengelap bibirnya dengan tisu basah. Ditatapnya bola mata abu-abu pria di depannya ini. Bola mata yang pertama kalinya menyihir dunianya dan membuatnya jatuh cinta pada pria ini dipertemuan pertama mereka di sebuah pesta perusahaan.
Ayahnya---Deny Brown---dan ayah Raka-lah yang mengenalkan mereka berdua. Sepulang dari pesta, ia tidak bisa melupakan Raka. Dirinya jatuh cinta pada pria yang tak pernah berubah tatapannya---selalu dingin terhadapnya---ketika pertama kali mereka bertatap muka itu. Kemudian ia pun merengek pada ayahnya untuk menjadikan Raka miliknya.
Mr Brown setuju akan permintaan putri semata wayangnya. Dan apa pun yang diinginkan Thesa, dengan alasan demi kebahagiaan putrinya, Mr Brown pasti akan mengabulkannya, meski dengan seribu alasan untuk mendapatkannya. Termasuk membohongi keluarga Raka. Satu bulan kemudian acara pertunangan mereka pun digelar.
Raka menarik napas dalam-dalam, seolah ingin memenuhi semua paru-parunya dengan oksigen, yang mungkin saja ia tidak bisa menghirupnya lagi setelah meluncur kata-kata menyakitkan ini.
"Soal pertunangan kita ..."
"Apa kau sudah memutuskan untuk mempercepat pertunangan kita?" Thesa buru-buru menyambung kalimat Raka. Iris cokelat beningnya berpendar-pendar, mengepresikan hatinya yang dipenuhi rasa bahagia.
Raka mengembuskan napas pendek sekali lagi. Kenapa dia jadi ragu-ragu untuk memutuskan hubungan pertunangannya setelah melihat pendaran di iris cokelat bening itu. Pendaran yang sebentar lagi akan redup itu. Dikepalkan tangannya. Itulah masalahnya. Kenapa selama ini dia selalu menunda untuk memutuskan ikatan pertunangannya. Disebabkan karena gadis ini memiliki riwayat lemah jantung. Mr. Brown selalu mengingatkannya untuk tidak berkata kasar pada gadis ini.
"Raka? Begitukan yang mau kau katakan?"
Raka tersentak ketika tiba-tiba tangannya dipegang oleh Thesa. Buru-buru ia menarik tangannya.
Tidak. Aku tidak boleh lemah akan ancaman Mr. Brown. Naura dan calon anakku lebih penting dari segalanya, kata hati Raka mengingatkannya hingga membuat tekadnya kembali kuat.
"Bukan itu maksudku." Raka menyeruput minuman espressonya. Perasaannya mulai sedikit tenang setelah ada pasokan oksigen ke otaknya.
"Terus?" Terlihat jelas ekspresi Thesa tidak suka akan reaksi Raka yang menarik tangannya. Sangat jelas pria ini menolak sentuhannya. Astaga! Kapan pria muda ini hatinya akan lembut padanya. Sedikit saja. Setidaknya tidak menolak sentuhannya ia sudah sangat bersyukur.
Raka melirik tempat di sekitarnya. Sengaja ia mengajak Thesa makan di ruangan khusus dan kedap suara di salah satu resto terkenal di pulau Jeju ini. Memudahkannya untuk berbicara bebas. Bila gadis ini meraung-raung dan mengamuk, tentu tidak akan menimbulkan masalah bagi pengunjung lainnya karena tidak terima akan keputusannya ini.
"Maafkan aku, Thesa. Aku ingin mengakhiri pertunangan kita."
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes π, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya π€π, oke π.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya π€π.
γ
__ADS_1
γ