![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Kak Ter---"
"Mau apa kau kemari, dasar pelakor tak tahu diri! *******!"
Bugh!
Sekuat tenaga Theresia melempar bantal ke arah Naura. Ketika sosok manis ini datang bersama Raka - sesuai janjinya tadi siang. Refleks pria bermata bulat itu menarik tubuh berisi sang kekasih ke dalam dekapannya. Secepat kilat memutar tubuh Naura, menjadikan tubuh besarnya sebagai tameng. Bantal yang dilemparkan oleh Theresia pun mengenai punggungnya.
"Kau tak apa-apa, Baby." Raka mengelus wajah memerah sosok manisnya. Terlihat jelas di wajahnya yang tampan segurat kecemasan. Ia tahu Naura berusaha menahan tangis.
Hati wanita muda ini sakit kala mendengar makian Theresia untuknya. Sebegitu bencinya Theresia terhadapnya, hingga mampu melontarkan kata-kata kejam seperti itu. Jujur. Baru kali ini ia mendengar makian kasar seperti itu terhadapnya.
"Ya, aku baik-baik saja, Dear," jawab Naura nyaris berbisik. Bibirnya bergetar. Tak mampu untuk berucap. Sungguh bila berada di sini setengah jam lagi, mungkin air matanya akan jatuh berderai.
"Kau sama saja seperti Mama. Dasar *******! Pelakor!" pekik Theresia semakin menjadi. Kesal dan marah menyelimuti hatinya manakala irisnya melihat adegan di depannya. Raka rela menjadikan badannya sebagai pelindung Naura. Sungguh ia ingin mencincang tubuh adiknya sekarang juga.
"Theresia! Jaga ucapanmu!" bentak Raka. Pandangannya begitu tajam. Andaikan saja Naura tidak mencegah tindakannya. Sudah tentu dia tampar mulut keterlaluan Theresia.
Theresia mendengkus. "Pergi kau dari sini! Aku tak sudi melihat wajahmu, Naura!"
"Hiks, Kak---"
"Kubilang pergiii!" Sontak Theresia mengambil nampan berisi buah-buahan di atas nakas dan melemparkannya ke arah Naura.
Bugh!
Nampan stainless itu mengenai punggung Raka untuk kedua kalinya. Ketika nampan stainless itu jatuh ke lantai menimbulkan bunyi nyaring dan berisik di udara. Sama seperti keadaan hati Naura saat ini. Hatinya seakan ikut bergetar seirama.
Raka menggeram. Tak menghiraukan denyutan di punggungnya, cepat ia kembali membalik tubuhnya. Berjalan cepat ke arah Theresia. Lagi-lagi Naura menghentikan gerakannya. Menahan lengannya.
"Jangan, Dear."
"Tapi, Baby. Dia sudah keterlaluan." Raka menarik lengan kausnya batas siku. Untuk kali ini. Jangan ingatkan ia tentang gender pada gadis itu. Biarkan ia memberikan pelajaran untuk perempuan bermulut kasar itu.
Naura menggeleng. "Jangan sakiti Kak Tere. Kumohon."
“Ya, Tuhan.” Raka mengembuskan napas panjang. Ditatapnya begitu nyalang pada gadis yang tak kalah nyalangnya menatap Naura.
"Kak---"
"Pergi! Kubilang pergiii!"
"Kita pergi dari sini, Baby!" Raka memutar tubuh Naura. Emosi tergambar jelas di wajahnya. Ia sudah tak tahan lagi. Tak ada pilihan. Dari pada bertindak kasar di ruangan ini lebih baik membawa pergi kekasihnya. Meninggalkan pekikan dan amukan Theresia terhadap mereka berdua.
🍃 Dear, My Baby 🍃
"Ssst! Sudah jangan menangis lagi."
Untuk kesekian kalinya Raka menenangkan kekasihnya. Menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Sekarang ini mereka berada di dalam Range Rover-nya, di parkiran rumah sakit.
"Hiks, mungkin benar yang dikatakan Kak Tere." Naura berkata serak dalam rengkuhan Raka.
"Ya?"
"Aku, hiks ..." Naura berusaha meredam isakan dalan ucapannya. "Aku pelakor di antara kalian."
"Jangan katakan itu. Tak ada pelakor di antara kita. Kau tidak bersalah. Akulah yang bersalah di sini. Membiarkan Theresia menjadi orang ketiga di antara kita. Aku terlalu lama mengulur waktu. Terlalu lama memutuskan hubunganku dengan Theresia, padahal aku sama sekali tidak mencintainya," sesal Raka sepenuh hati.
"Ssst! Sudahlah jangan menangis lagi," bujuk Raka seraya menepuk-nepuk punggung kekasihnya.
"Tapi---"
__ADS_1
"Cukup. Aku tak mau mendengarnya lagi, Na. Jangan bebani pikiranmu dengan hal lainnya. Kau fokus saja dengan kelahiran bayi kita dan rencana pernikahan kita, oke." potong Raka. Dilepaskan pelukannya. Kemudian menangkup wajah kekasihnya dengan kedua tangannya.
"Soal Theresia. Aku yakin dia akan mengerti. Masih banyak pria lain yang baik untuknya. Tak ada beban untuknya saat pertunangan kami putus. Seiring berjalannya waktu, luka hatinya akan sembuh. Sementara kau ..." Raka menarik napas dalam. Lalu mata elangnya beralih pada perut buncit Naura.
"... bila aku meninggalkanmu sekarang, akan menjadi beban untukku. Kau mengandung anakku. Itu artinya, kau butuh tanggung jawabku. Kau paham, Baby?" imbuh Raka dengan nada suara begitu lembut, namun tidak mengurangi kadar ketegasannya dalam berbicara.
🍃 Dear, My Baby 🍃
Raka terkejut ketika suara dari smartphone-nya berdering nyaring di atas meja kerjanya. Diliriknya jam elektrik di atas meja. Angka di sana menunjukkan sembilan malam. Baru saja dia kembali dari kamar. Menenangkan kekasihnya yang sedari tadi terus menangis. Hingga akhirnya Naura kelelahan dan tertidur dengan sendirinya.
Raka mendesah. Sungguh ia tak tahan melihat air mata Naura. Hatinya seakan dilubangi. Jadi, bagaimana bisa ia meninggalkan wanita pujaannya untuk kedua kalinya. Sungguh ia takkan sanggup. Bila itu terjadi, lebih baik bunuh saja dia.
Kembali pria muda ini tersentak dari lamunannya manakala deringan smartphone-nya semakin menjadi-jadi. Menarik napas pendek, setelah menyugar sekilas rambutnya. Berdiri dari tempat duduknya, berjalan pelan ke arah jendela sembari mengangkat panggilan teleponnya. Sekilas mata elangnya melirik ke layar benda persegi panjang itu. Nama Mr. Brown terpampang jelas di sana.
Dan Raka sudah menduga alasan pria paruh baya itu meneleponnya. Tentu saja menyangkut soal Theresia. Gadis itu pasti sudah mengadu padanya.
"Hal---"
"Raka!! Dasar kurang ajar. Beraninya kau menyakiti putriku."
Seketika Raka menjauhkan sejenak ponselnya ketika mendengar umpatan kemarahan dari Denny Brown di seberang telepon.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena telah menyakiti putri kesayangan Om," jawab Raka tegas, setelah dirasa Mr. Brown agak tenang. Terdengar deru napasnya sudah mulai teratur kembali.
"Tapi, Om Denny ... dengan sangat terpaksa aku memutuskan pertunangan kami. Sebenarnya niatku ini sudah sangat lama, tetapi belum ada kesempatan berbicara dengan Om secara empat mata," jelas Raka seraya menatap langit tanpa bintang. Begitu mendung. Sepertinya akan kembali turun hujan.
"Kata Thesa, kau memutuskannya karena ada wanita lain."
"Itu benar.” Raka menjawab jujur.
"Kurang ajar. Kau memang pria berengsek!"
"Anak kurang ajar."
"Terima kasih, Om. Dengan begitu anda sudah yakin untuk tidak menjadikanku menantumu. Aku yang berengsek ini tidak pantas bersanding dengan putrimu."
Tak ada jawaban di seberang telepon. Sepertinya, pria paruh baya di seberang telepon itu sedang berpikir. Samar Raka mendengar Mr. Brown menarik napas panjang. Berusaha untuk mengontrol emosinya. Ia salah. Seharusnya tidak terpancing ucapan Raka, yang memang itulah diinginkan pemuda berambut hitam lebat ini.
"Raka, maafkan atas ucapan Om tadi," kata Mr. Brown melunak
Raka mengedikan bahu. Tidak terlalu diambil hati. "Tidak apa-apa, Om."
"Nak Raka, coba pikirkan kembali keputusanmu itu," bujuk Mr. Brown dengan suara begitu lembut. "Apa kau tidak memikirkan betapa sakitnya hati Thesa? Ia begitu terpuruk. Ia menangis tersedu-sedu ketika menelepon Om tadi. Ia mengatakan dunianya sudah berakhir tanpamu. Tidakkah kau kasihan padanya? Dia sekarang sendirian di rumah sakit karenamu."
"Om ... sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa. Ada yang lebih membutuhkanku ketimbang Thesa."
"Wanita itu, kan. Thesa sudah menceritakan pada Om masalah kau memutuskan pertunangan kalian."
"Betul. Wanita itu bernama Naura. Ia kekasihku --- tidak, dia calon ibu dari anak-anakku kelak," tegas Raka.
"Calon ibu? Maksudmu dia hamil?"
"Ya."
"Astaga. Jad---"
"Kujelaskan di telepon Om takkan mengerti. Tapi itulah yang terjadi. Dia hamil anakku. Lebih kurang sebulan lagi dia akan melahirkan."
Enggan Raka menjelaskan detailnya pada Mr. Brown. Ia sudah menebak. Reaksinya akan sama saja dengan Theresia ketika dia mengungkapkannya. Sungguh ia tak ingin mendengar orang lain menghina wanitanya lagi.
"Lalu bagaimana dengan Thesa?"
Raka menarik napas panjang. "Sudah kukatakan sebelumnya, juga pada Thesa berulang kali. Aku memutuskan hubungan kami."
"Tidak bisa, Raka. Kau tidak bisa memutuskan pertunangan kalian begitu saja. Bagaimana kalau kau yang memutuskan hubunganmu dengan wanita itu? Kau beri saja uang padanya sebagai ganti rugi. Beres, kan. Atau suruh saja dia menggugurkan kandungannya."
“Om, gila ya. Menyuruhnya menggugurkan kandungan sama saja dengan membunuh keduanya.” Raka mencengkram benda persegi panjang di tangannya. Hatinya mencibir akan ucapan Mr. Brown. Sama buruknya dengan ucapan putri tirinya itu.
"Dan Om harus tahu. Aku takkan memutuskan hubunganku dengan kekasihku. Apalagi sampai bertindak di luar perikemanusiaan. Tidak akan pernah itu terjadi." Raka berkata tajam. "Satu lagi. Yang Om maksud wanita itu bernama Naura. Saudara kandung putri tirimu itu."
"Maksudmu?"
"Om tanya saja Thes--- maksudku Theresia. Sudah, Om. Intinya aku sudah memutuskan pertunangan kami. Sekarang kami sudah tidak ada ikatan lagi. Kuharap, putrimu mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Sekali lagi maafkan atas ketidak sopananku, telah berbicara dengan Om melalui telepon. Terima kasih banyak atas waktunya. Lain kali, bila ada kesempatan aku akan berbicara dengan Om secara empat mata."
Tanpa menunggu balasan di seberang telepon, Raka memutuskan sambungan teleponnya. Mengurut dahinya. Meluruskan gurat kerutan yang menghiasi wajahnya. Kembali Raka mengingat ucapan Mr. Brown beberapa saat yang lalu.
Menggugurkan kandungan? Astaga! Manusia macam apa itu. Benar-benar manusia berhati iblis.
__ADS_1
🍃 Dear, My Baby 🍃
Ketika Raka kembali dari ruang kerjanya, ia begitu terkejut. Di dalam kamar, Naura duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan pencahayaan remang-remang. Hanya mengandalkan cahaya bulan yang mengintip dari tirai jendela yang terbuka.
"Kenapa belum tidur, Baby?" tanya Raka begitu lembut. Cepat kakinya melangkah menuju sang kekasih berada.
"Katakan padaku yang sejujurnya, Dear." Naura balik bertanya bersamaan Raka telah duduk nyaman di sampingnya. Keduanya saling bertatapan.
"Apa lagi yang ingin kau ketahui dariku?"
Naura menarik napas dalam sejenak. "Kenapa kau memberikanku benihmu di saat kau masih bertunangan dengan kak Tere?"
Raka diam sesaat. Ditatapnya begitu lekat bola mata Naura yang bergerak-gerak meminta penjelasan darinya. "Itu karena aku masih mencintaimu. Masih menginginkanmu."
"Tapi tetap saja, Dear. Posisimu saat itu sudah bertunangan dengan kak Tere."
"Iya. Aku tahu. Aku sadari itu. Tapi, Na. Asal kau tahu. Bertunangan dengan Theresia bukanlah pilihanku. Aku bertunangan dengannya karena dipaksa. Karena Daddy menginginkan keturunan dariku. Sebenarnya aku sudah lama ingin memutuskan pertunanganku dengan Theresia. Tetapi aku tidak punya alasan yang tepat. Lalu ..." Raka menarik napas sebentar. Mengisi paru-parunya dengan pasokan udara yang cukup.
"Tiba-tiba saja Neil meneleponku. Memintaku untuk menyumbangkan benih padamu. Dan kau tahu, Na? Permintaanmu saat itu seakan menjadi solusi terbaik untukku."
"Solusi terbaikmu?"
"Ya. Pertama aku punya alasan untuk memutuskan Theresia. Dan yang kedua, memenuhi keinginan Daddy, punya keturunan dariku tanpa menikahi Theresia. Dan yang ketiga, kembali kepadamu. Sekarang kau paham, Baby."
🍃 Dear, My Baby 🍃
Baru saja Raka memejamkan mata bulatnya, ia telah dikejutkan dengan suara bel yang berdering nyaring. Cepat pria muda ini bangun dari baringannya. Sebelumnya terlebih dahulu menenangkan sang kekasih. Menepuk punggungnya. Takut wanita muda ini ikut terbangun dan mengganggu tidurnya.
Dia hanya ingin Naura beristirahat dengan tenang setelah kejadian seharian ini yang tak disangka menghantam ketenangan mereka berdua. Cukup hari ini Naura mengeluarkan air mata. Ia tidak ingin wanita-nya kembali menangis karena masalahnya dengan Theresia.
Dengan pelan Raka menapakkan kedua kakinya ke lantai. Setelah sebelumnya memberikan kecupan di dahi dan mengelus perut buncit sang kekasih. Sudah menjadi kebiasaan pria muda ini, diam-diam mengelus perut Naura kala di malam hari. Seolah sedang berdialog dengan calon bayinya dari hati ke hati.
Sepanjang menuju pintu, tiada hentinya Raka merutuki seseorang yang mengusik ketenangannya.
Siapakah yang bertamu malam-malam begini?
Dan ke mana pula para security yang bertugas? Astaga! Sepertinya ia harus memberi sanksi pada ke enam penjaga keamanannya. Karena tidak becusnya mereka menjaga rumah. Masa dalam sehari ini dua kali tamu tak diundang menerobos masuk. Kali ini siapa lagi tamu kurang ajar itu?
Raka menarik napas sejenak. Setelah dirasa bisa meredam sedikit rasa kesalnya. Dengan pelan memutar handle pintu. Seketika mata Raka membelalak lebar manakala mengetahui siapa tamunya.
“Dad---”
Plak!
“Raka! Siapa suruh kau memutuskan tali pertunanganmu dengan Thesa! Apa kau tidak memikirkan akibatnya? Apa kau tidak memikirkan hubungan bisnis kedua keluarga ke depannya? Apa kau sudah merasa hebat dengan bertindak semaunya!"
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1