Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
49| Menuju Hari H


__ADS_3


[Day-5, menuju hari H pernikahan]


 


Naura meraih kalender duduk di atas meja nakas. Sembari membulati tanggal di kalender wanita muda ini berjalan pelan menuju sofa panjang di ujung kamar. Dengan nyaman mendudukkan butt-nya di sofa yang menghadap langsung ke jendela. Sinar mentari senja merangsek masuk ke dalam, menerpa kulit porselen Naura di balik gaun hamilnya.


Dua hari telah berlalu, tinggal lima hari lagi menuju hari H. Hari yang paling dinantikannya bersama Raka.  Jantungnya---semenjak ditetapkan tanggal pernikahan---seakan tiada henti berdegup liar. Sungguh perasaannya tak bisa dijabarkan lewat kata-kata. Gugup, takut, bingung dan segala jenis perasaan bercampur aduk dalam dirinya.


Naura rasa, Raka pun demikian. Sama gugupnya dari hari ke hari. Hanya saja, pria itu pandai menutupi kegugupannya di balik ekspresi dingin yang menghiasi wajah tampannya sehari-hari.


Ditatapnya pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Terdengar suara kecipak air dari dalam. Raka sedang mandi. Pria bertubuh atletis itu baru saja pulang dari kantor dengan membawa setumpuk kartu undangan berwarna biru muda dengan bertuliskan tinta emas. Undangan pernikahan yang baru saja selesai dicetak.


Naura mengalihkan perhatiannya ke atas meja sofa. Diraihnya paper bag. Mengambil satu kartu undangan di dalamnya. Sudut bibirnya tersenyum bahagia manakala jemarinya menyentuh tulisan timbul bertinta emas.


{Naura & Raka}


Sungguh Naura tidak pernah membayangkan akan sampai ke tahap ini. Pada akhirnya, cintanya pada Raka akan berlabuh di atas pelaminan. Sebulir cairan bening di sudut matanya perlahan jatuh membasahi kartu undangan yang telah diberi plastik transparan. Ia menangis ketika membayangkan wajah kedua orang tuanya. Di hari bahagianya nanti, kedua sosok paling penting dalam hidupnya tidak bersamanya.


“Hiks Ayah. Ibu ...” Kembali tetesan air mata membasahi kartu undangan pernikahannya. Semakin lama menatap kartu undangan di balik matanya yang buram oleh air mata, semakin deras pula cairan bening itu meluncur. Ketika pandangannya semakin memburam, nama Theresia muncul dalam benaknya.


Bagaimana dengan Theresia sendiri?


Sudah tiga hari ini dirinya belum mengunjungi Theresia yang kini dirawat di sebuah villa. Ingin dia melihat langsung keadaan kakaknya. Namun, perempuan itu masih menolak kehadirannya saat Raka menyambungkan teleponnya ke Mr. Brown--kemarin dan tadi pagi, Theresia tetap kekeuh menolaknya. Bahkan Theresia semakin meraung-raung histeris setelah mendengar kabar pernikahannya bersama Raka akan digelar lima hari lagi.


Menurut kabar dari Mr. Brown, Theresia---entah bohong atau tidak---masih terbaring lemah di atas tempat tidur bersama selang infus melilit pergelangan tangannya, serta menolak untuk makan. Sepertinya Theresia masih mengharapkan Raka kembali padanya. Masih menunggu hati Raka luluh padanya--meski itu tidak mungkin terjadi.


“Kak Tere, maafkan aku.” Naura berbisik seraya menyeka air matanya.


Tak bisa sosok manis ini berbuat banyak terhadap Theresia. Ini bukan masalah kebahagiaannya sendiri. Bukan masalah egoisme semata. Tetapi ini demi bayi yang dikandungnya. Andaikan saja dirinya tidak hamil anak Raka, mungkin saja dia rela melepas pria yang dicintainya untuk Theresia.


“Baby? Kenapa menangis?”


Tanpa disadari Naura, Raka telah berdiri di sampingnya. Baru saja pria itu memakai kaus putih polos ke tubuh atletisnya. Samar wanita muda ini mencium wangi sabun dan sampo yang menguar dari tubuh Raka ketika duduk di sampingnya.


“Sudah kubilang jangan menangis lagi.” Raka berucap serak penuh nada kecemasan di dalam suaranya. Disekanya air mata yang berkilauan di pipi Naura. Ia mengembuskan napas pendek dan meraih tubuh berisi sang kekasih ke dalam dekapannya.


“Ssst! Ini untuk terakhir kalinya kulihat kau menangis. Kecuali ... saat akad nikah nanti, baru kuizinkan kau menangis sepuasnya. Oke.” Hibur Raka sembari mengelus sayang punggung kekasih manis-nya.


“Kali ini apa yang kau tangisi, eum? Ditinggal aktor favoritmu menikah? Idola boyband-mu ketahuan dating diam-diam sama pacarnya?” seloroh Raka.


“Ih, enggaklah, Dear.” Naura meninju dada bidang kekasihnya. Samar bibirnya tersenyum tipis. Setidaknya, tangisannya tidak sehebat sebelumnya. Raka memang pintar menghibur hatinya.


“Ayah dan Ibumu sudah bahagia di atas sana. Mereka juga menyaksikanmu bahagiamu,” tutur Raka seolah tahu apa yang ditangisi oleh kekasihnya tadi. Dilepaskan pelukannya setelah berhasil menanamkan kecupan di puncak kepala sang kekasih.


Samar Naura mengangguk. Hatinya semakin tenang setelah mendengarkan penuturan Raka.


“Eh, katanya tadi mau ke tempat Sunny, jadi tidak?” tanya Raka mengganti topik pembicaraan--mengalihkan perhatian sang kekasih agar tak larut dalam kesedihan.


“Jadi dong. Kan mau memberikan undangan kita.”

__ADS_1


“Kalau begitu bersiaplah. Aku tunggu di bawah, Baby.” Raka beranjak dari duduknya. Lagi dan lagi, ia mengambil kesempatan, mencuri ciuman ringan di bibir plum sang kekasih.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Ya, ampun. Nauraaa!” Sunny berteriak gemas. Segera memeluk sahabat tercintanya ketika Naura menyodorkan kartu undangan pernikahannya.


Belum sampai dua menit keduanya duduk di sofa tunggal ruang keluarga apartemen mewah Sunny dan Dojin, gadis dengan rambut disemir biru itu menjerit rusuh. Sedang Raka dan Dojin melongokkan kepala di balik pintu balkon saat mendengar jeritan Sunny dengan suara cempreng melengkingnya itu. Mereka pikir gadis itu sedang kerasukan arwah penasaran bunuh diri di pohon toge--akhir-akhir ini viral di sosmed.


“Aih, kupikir tadi apa.” Dojin menggelengkan kepala melihat tingkah sang kekasih. “Kita lanjutkan obrolan kita tadi, sudah sampai mana, Bro,” lanjut Dojin menepuk bahu Raka sekilas. Keduanya pun kembali asyik berbincang di balkon apartemen.


“Ya, Tuhan! Gue gak nyangka lo bakalan nikah juga sama Raka.” Tiada hentinya Sunny berucap. Membolak balik kartu di tangannya. Kembali menatap wajah berbinar sahabatnya. Mungkinkah ini efek mau nikah. Makanya aura bahagia begitu terpancar dari tubuh sosok manis ini, hingga ia pun merasakan kebahagiaannya.


“Dalam minggu ini pula nikahannya. Gila lo, Na.” Sunny menyenggol lengan sosok manis ini.


“Maunya gue begitu, Sun. Habis lahiran nikahnya. Eh, tahunya daddy mertua langsung netapin minggu ini nikahnya.” Naura mengerucutkan bibir plumnya.


“Tapi, gue setuju sama Om Andrew, Na. Nggak usah tunggu si debaynya lahir. Yang penting lo bedua di sahkan dulu ke penghulu.”


“Aih. Bisa saja lo, Sun.”


“Hum. Gih, diminum dulu wedang jahenya, mumpung masih anget,” kata Sunny saat asisten rumah tangganya menyodorkan minuman berhahan rempah-rempah---buah tangan ibu Sunny dari Jakarta---dan beberapa cookies di piring.


“Makasih, Sun.” Naura segera menyeruput wedang jahenya bersamaan asisten rumah tangga Sunny berbalik pergi. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Kebetulan cuaca sedang gerimis di luar apartemen, cocok dengan minumannya.


“Terus, setelah lo nikah rencananya mau tinggal di mana?” Sunny menatap jari-jari lentiknya yang telah dicatnya dengan warna pink--salah satu hobinya, bila punya waktu senggang melakukan manicure pedicure sendiri.


“Di Jakarta. Tapi sebelum ke Jakarta, gue sama Raka masih tinggal di pulau Jeju sekitar setengah tahunan gitu. Pekerjaan Raka di sini masih harus diselesaikan dulu.”


“Gue paham. Sebagai CEO memang tidak mudah memutuskan sesuatunya secara tergesa-gesa. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak.”


“Yup---eh, omong-omong ... gimana hubungan lo sama Dojin? Ada kemajuan enggak?” Naura mengalihkan topik pembicaraan.


Sunny tersenyum lebar. “Banyak kemajuannya, Na. Pada akhirnya emak gue setuju sama Dojin. Merestuin hubungan kami berdua.”


“Syukurlah.” Naura ikut merasakan bahagia.

__ADS_1


“Tahu enggak, Na. Kemarin emak gue baru saja liburan dari sini.”


“Oh, ya? Kenapa enggak ngabarin gue? Gue kan bisa ketemu emak juga. Ih, gimana lo, Sun.” Naura mencebik.


“Sorry, Na. Bukan maksud gue sengaja enggak beri tahu lo. Gue kasihan sama keadaan lo.”


“Iya. Gue ngerti.”


Tentu saja Sunny tahu permasalahan yang sedang dihadapi Naura tiga hari yang lalu. Entah kenapa, ketika dirinya merasakan sedih. Seolah merasakan feeling yang kuat, tiba-tiba saja Sunny meneleponnya. Apakah ini yang dinamakan sahabat sejati? Tanpa diberi tahu, sahabat kita juga bisa merasakan apa yang kita rasakan.


“Gimana dengan Theresia?---astaga, Na. Sampai sekarang gue masih gak nyangka bahwa lo sama Theresia itu saudara kandung. Gue pikir lo benaran hidup sebatang kara di dunia ini. Kakak lo gila banget. Tega banget gak ngakuin lo sebagai saudaranya. Kalau gue jadi lo, sudah gue jadiin sayur kol buat makanan anjing itu wanita. Bahkan gue gak nyangka alasan kalian putus waktu itu gara-gara Raka ditunangin sama Theresia. Heolll ...” cerocos gadis berambut bob pendek sebahu ini, bagaikan rapper yang melakukan demo di depan para produser pencarian bakat.


Sunny mengepalkan tangan membayangkan wanita bernama Theresia itu ada di depannya--meski baru tahu siapa itu Theresia tiga hari yang lalu dari mulut sahabatnya ini. Sampai kini ia belum melihat bentuk wajah Theresia itu seperti apa. Lebih cantikan Theresia atau Naura-kah? Tapi yang pasti, sahabatnya ini menang selangkah dari segi sifat.


Naura mendesah pendek. “Ya, begitulah. Maafin gue ya, Sun. Gue nyembunyiin hal ini dari lo. Padahal ... lo sahabat karib gue,” lirihnya.


“Iya. Gak apa-apa. Biasa saja. Gue ngerti kok posisi lo gimana.”


“Makasih, Sun.”


“Ya, sama-sama---ya ampun! Kok kita jadi ngomongin Theresia? Bukannya tadi kita ngomongin hubungan gue sama Dojin, ya?”


“Ho’oh. Kamu sih.” Naura menampar lembut lengan Sunny. “Lama emak liburan di sini?”


“Lumayan lama. Lima hari. Dan selama itulah, emak mulai terbuka pikirannya.” Sunny kembali mengingat ketika ibunya ada di sini. Melihat anak gadisnya tinggal seatap dengan Dojin, ibunya memekik hiteris. Berulang kali ia mendapatkan pukulan gratis dari ibunya.


Dan pesan terakhir ibunya ketika balik ke Indonesia pada Park Dojin. Dalam waktu dekat mengultimatum Dojin untuk membawa rombongan keluarganya ke Jakarta, melamar putri semata wayangnya. Kalau tidak, ibunya bakalan mengancam akan mengirim santet ampuh pada Dojin.


“Sudah malam, Baby. Kita pulang. Besok kau mau pergi ke kantor,” ujar Raka dengan suara seraknya--muncul dari balik pintu balkon diiringi Dojin di belakangnya.


“Yaaah, kenapa cepat banget pulangnya.” Sunny mengerang. Tak rela berpisah dengan sahabatnya. “Kenapa enggak nginap saja di sini, Na? Sudah lama kita nggak bobok bareng. Hitung-hitung ngerayain melepas masa lajang lo.”


Seketika Raka dan Dojin melotot mendengar ucapan Sunny. Keduanya kompak berteriak. “Tidak setuju kalian tidur bareng.”


Sunny mendelik tajam, kedua tangannya bersilang di dada. “Kenapa memangnya kalau kami tidur bareng?”


“Kami mau di kemanain?” Raka dan Dojin kompak mengerang.


“Tentu saja kalian juga tidur bersama,” timpal Naura.


Baik Raka dan Dojin saling pelototan. Memandang satu sama lain dengan tatapan mengejek. Keduanya kompak bersuara, “Tidur sama dia, sama saja tidur dengan kebo. Yang ada malah mimpi buruk ditimpuk taik gajah. 💢”



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2