Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
52| Tak Sanggup


__ADS_3


“Tuan Raka, dilihat dari kondisi Nyonya. Sepertinya beliau tidak bisa melahirkan secara normal.” Dokter Kim selaku dokter yang bertanggung jawab mengatasi persalinan Naura memberi tahu.


Sempat mengerutkan dahi ketika tiba-tiba sahabatnya, dokter Neil masuk dan membisikkan sesuatu padanya. Sungguh sangat terkejut ketika Neil barusan saja memberi tahunya, bahwa sosok yang akan melahirkan ini masih perawan.


“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, Neil.” Ia melotot di tengah suara Naura menarik napas. Untung baru saja mereka melakukan persalinan.


“Karena panik tadi aku lupa memberitahumu, lagipula seharusnya memang belum waktunya dia melahirkan. Masih sebulan lagi,” balas Neil sembari meringis, merasa kasihan ketika Naura mati-matian berusaha melahirkan secara normal. Menurut riwayat penyakit yang diderita Naura (Sindrom Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser), sosok manis ini harus melahirkan secara caesar.


“Karena sedari tadi pembukaan dinding leher rahim Nyonya Naura tidak memungkinkan untuk terbuka, serta memang belum waktunya melahirkan. Tak ada jalan lain lagi, tuan Raka. Demi keselamatan ibu dan bayinya, kita harus melakukan caesar. Kasihan keadaan bayinya di dalam sana.”


“Apa pun itu. Lakukanlah, Dok!” perintah Raka.


“Siap, tuan.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Entah berapa lama pria bermata bulat ini hanya berdiri, menatap sosok mungil dalam inkubator. Bayi laki-lakinya. Karena belum masanya dilahirkan, bayinya terpaksa dimasukkan ke dalam inkubator selama lebih dari seminggu. Raka tersenyum getir sekaligus bahagia. Menempelkan jari tunjuknya ke kaca. Seolah bisa menyentuh jari-jari mungil yang menggenggam erat itu.


Ketika pertama kali menyaksikan bayinya lahir. Ia nyaris bertekuk lutut di lantai. Kakinya gemetaran hebat. Betapa tidak. Hari ini adalah hari yang dinanti-nantikannya bersama sang kekasih. Hari di mana dirinya resmi menjadi seorang ayah. Bertekad dalam hati, dirinya akan menjadi seorang ayah yang baik bagi bayinya.


Kemudian beralih pada sosok manis-nya, terbaring lemah terisak-isak. Segera direngkuhnya tubuh lemah itu ke dalam dekapannya.


“Ssst! Jangan menangis lagi. Bayinya baik-baik saja,” bisiknya seraya mengelus punggung kekasihnya.


“Huks ... kurasa tidak, Raka. Lihat, dia terlihat begitu lemah. Hiks ...” isak Naura pilu, menangisi keadaan bayinya tidak seperti bayi dilahirkan pada umumnya.


Menguburkan wajahnya ke dalam dada bidang Raka. Kembali mengingat ucapan Neil, ketika pertama kali mengandung janinnya. Ada banyak resiko yang akan dihadapi ketika mengandung bayi hasil inseminasi. Maka dari itu dirinya harus extra ketat menjaganya. Tapi kini ... belum waktunya sang malaikat kecilnya melihat dunia. Ia sudah dipaksa keluar.


“Huks ...” Naura hanya bisa terisak membayangkan betapa lemahnya bayinya saat ini.


“Dia terlihat lemah karena belum waktunya dilahirkan. Dua minggu lagi dia akan seperti bayi kebanyakan. Jangan khawatir, Baby.” Hibur Raka melayangkan kecupan di pucuk rambut Naura berkali-kali.


“Tapi ... huks ... tetap saja. Dia terlahir prematur dan hasil inseminasi pula. Bagaimana kalau dia menjadi ... menjadi tidak nor---”


“Ssst! Jangan katakan itu.” Raka meletakkan jarinya di atas bibir plum Naura.


Merengkuh kedua pipi pucat itu dengan telapak tangannya yang besar. Bola matanya bergerak menatap iris cokelat bening yang memburam itu. “Jangan berpikiran buruk tentang bayi kita. Dia akan baik-baik saja. Dia akan tumbuh normal seperti bayi yang lainnya. Oke.”


Naura semakin terisak mendengarnya. Air matanya semakin meleleh deras keluar. Ketakutannya semakin menjadi kala mengingat masa lalu surammnya, serta ibunya. Sebagai ibu, ia rasa telah gagal menjaga bayinya.


“Jangan menangis lagi. Lihatlah. Bayi kita hanya butuh tidur dan kehangatan di dalam inkubator. Tidakkah kau melihatnya, Baby?” bujuk Raka menatap bayi dalam inkubator itu. Kelopaknya tertutup rapat menutupi mata kecilnya. Jari-jari mungilnya bergerak seolah merasakan sentuhan tangan kedua orang tuanya.


Menghela napas, kembali menatap begitu lekat wajah kekasihnya. Sesekali jemarinya mengusap lembut pipi yang memerah itu. Tersenyum lebar. Seolah ingin memberikan energi positif pada sosok manisnya.


“Terima kasih telah melahirkan anakku dengan selamat. Selamat, Naura. Akhirnya kau resmi menjadi ibu. Tidakkah kau bahagia?” ujarnya seraya melayangkan bibirnya di atas bibir kering dan pucat itu. Memagutnya dengan lembut. Sebelum lepas kendali lebih jauh, dengan berat hati Raka melepaskan tautan bibirnya.


“Tentu saja bahagia.” Naura kembali menguburkan wajahnya ke dada bidang Raka. Memeluk erat tubuh kekasihnya. Membaui aroma maskulin di tubuh pria muda ini. Aroma khasnya bisa membuatnya sedikit rileks.


“Kau pun akan menjadi ayah,” lanjutnya serak.


“Yup. Kita akhirnya menjadi orang tua,” balas Raka dengan dada membuncah bahagia.


Naura mengintip bayinya dari balik punggung Raka. Lagi-lagi menangis melihat bayinya yang tak berdaya itu tanpa bisa dipeluknya. “Huks ... andaikan saja aku menjaganya sebaik mungkin ... mungkin dia masih aman di dalam perutku. Dia tidak akan dibayang-bayangi keterbelakangan mental. Huks ... aku gagal menjadi ibu yang baik untuknya.”


“Tidak. Kau ibu yang baik baginya.” Raka menggeleng. Semakin erat memeluk kekasihnya. Pandangannya menerawang ke langit-langit rumah sakit. Kembali mengingat ucapan Neil.


Sebenarnya bayinya baik-baik saja. Yang justeru dikhawatirkan di sini adalah keadaan fisikis Naura. Menurut Neil. Naura bisa saja mengalami stress ringan karena persalinannya ini. Karena sebelumnya, Naura mengalami berbagai masalah yang membuat pikirannya sedikit terganggu. Bukan sebab mungkin, Naura mengalami sedikit gangguan mental.


Ya, Tuhan. Semoga saja sampai hari kami menikah. Kondisi Naura membaik. Kumohon jangan ada lagi penghalang kebahagiaan di antara kami, Raka semakin memeluk erat sosok manis-nya.

__ADS_1


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Astaga! Lihatlah betapa manisnya dia.” Cathie berseru antusias. Menatap cucu laki-laki kesayangannya di dalam inkubator. Menghela napas. Meski bahagia masih terselip rasa sedih di hatinya. Dirinya hanya bisa memandangi sang cucu dari balik kaca tebal ini tanpa bisa merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.


Mengembuskan napas pendek. Memutar tubuh. Netranya tertuju pada dua pria berbeda generasi---sedang berbincang di sofa panjang. Dua jam yang lalu Raka baru menghubunginya. Naura telah melahirkan. Sedikit terkejut. Meleset dari prediksi. Bukankah masih sebulan lagi akan melahirkan. Tetapi menurut Raka, ada masalah serius hingga Naura terpaksa harus melahirkan.


Dan tak perlu ia mencari tahu penyebabnya. Ketika sampai di rumah sakit. Ia dan suami berpapasan dengan Denny---baru saja keluar dari rumah sakit menuju lobi. Pria paruh baya itu menceritakan kejadian yang sebenarnya. Mendengar penjelasan dan penyesalan Denny, sungguh ia dan suami marah. Karena ulah Denny membawa Naura ke villa hingga bertemu dengan Theresia.


“Jangan bersedih, semua akan baik-baik saja, Na.” Cathie mengelus punggung Naura. Tampak wajah wanita muda ini begitu sembab. Mendengar penjelasan Raka, selama hampir dua jam-an Naura menangis.


“Huks ... Mom, aku nggak tega melihatnya begitu lemah di dalam sana,” isak Naura.


“Ya, Mommy tahu. Tapi ini yang terbaik baginya.”


“Bila saja aku enggak ceroboh. Mungkin dia aman di dalam perutku,” sesal Naura untuk kesekian kalinya.


“Jangan berbicara seperti itu. Mungkin ini sudah takdirnya untuk dilahirkan dengan jalan seperti ini. Kita bisa memprediksi apa pun. Tapi, Tuhan juga-lah yang punya kuasa.”


“Huks ... tetap saj---”


“Hussh! Janganlah menyalahi diri sendiri. Enggak baik.” Cathie meraih Naura ke dalam dekapannya. Menepuk-nepuk punggungnya. Setelah dirasa agak tenang, dilepaskannya pelukannya.


“Sekarang ini yang kau lakukan adalah jaga kesehatanmu. Empat hari lagi kalian akan menikah. Selain itu kau butuh stamina untuk menjaga bayimu.”


Naura mengangguk. Menyunggingkan senyuman getir, meski hatinya masih diliputi perasaan sedih.


Naura menunduk. Empat hari lagi dirinya akan menikah. Sementara bayinya ... masih di dalam inkubator.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Selamat, Naura. Akhirnya kau jadi ibu.” Sunny memeluk erat sahabatnya setelah meletakkan sebuket bunga di atas nakas. Naura hanya bisa mengangguk lemah. Tampak tidak bersemangat. Selain kelelahan, perasaan sedih dan menyalahkan dirinya sendiri menguras fisiknya.


“Um ... sepertinya kau butuh tidur.” Sunny menangkap rasa kelelahan Naura di matanya. Dan membiarkan sahabatnya untuk beristirahat. Kemudian ia pun bergabung bersama kekasih serta Raka dan Neil. Raka menceritakan kenapa Naura begitu cepat melahirkan. Sama seperti reaksi ibunya. Gadis berambut ungu ini begitu marah.


“Jaga Naura baik-baik. Sepertinya dia masih sangat sedih,” ucap Sunny pada Raka. Melirik sekali lagi pada sahabatnya, kini tertidur lelap. Karena Do-Jin masih ada keperluan lain, Sunny pun tidak bisa berlama-lama di sini.


“Ya. Aku akan menjaganya. Terima kasih telah berkunjung.” Raka menutup pintu setelah kepergian Sunny dan Do-Jin di ruangan ini. Begitu pun dengan Neil, dokter muda itu masih ada keperluan lainnya. Tak bisa menemaninya berlama-lama.


“Baby, sudah bangun.” Ketika berbalik. Raka mendapati Naura menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Sementara netranya terus menatap bayinya dalam inkubator.


“Gwaenchana-yo.” Raka duduk di samping Naura, juga menatap bayi mereka.


Naura mengalihkan pandangannya. Ia menunduk. Tak sanggup untuk terlalu lama memperhatikan bayinya. Kembali buliran bening berjatuhan di pelupuk matanya.


“Oh, omong-omong kita belum menamai bayi kita.” Seru Raka antusias. Mencoba mengalihkan perasaan sedih kekasihnya. “Punya ide untuk nama bayi kita, Baby?”

__ADS_1


Naura menatap lama bayinya. Kemudian menatap mata bulat antusias Raka. Ia menggeleng. “Enggak. Kuserahkan padamu. Apa pun namanya aku terima.”


Raka mengetuk dagu. Kemudian meraba smartphone-nya. Mencari-cari sesuatu di dalam gawainya. Sudah semingguan ini, ia mencari-cari nama yang cocok untuk bayinya kelak. Ia tersenyum. Memperlihatkan sebuah nama di layar gawainya pada kekasihnya.


“Bagaimana menurutmu dengan nama ini, Baby?”


“Yukhei?”


“Yup. Yukhei melambangkan kemandirian dan kebebasan. Aku ingin bayi kita kelak tumbuh mandiri dan menikmati kehidupannya yang bebas tanpa beban.”


“Hum, Yukhei. Lumayan. Nama yang cukup tampan.” Ada senyum menari indah di belah di bibir Naura kala menatap bayinya.


“Ya. Yukhei Earnest Forrester.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Huks ... Baby Yukhei, maafkan Mommy. Mommy telah gagal menjagamu. Huks ...”


Air mata Naura tumpah ruah. Tersedu-sedu. Mencengkram erat kaca tebal di depannya. Penghalang utama untuk menyentuh langsung bayinya. Ini hari kedua bayinya berada di dalam inkubator. Terbaring lemah tak berdaya. Meringkuk sendirian tanpa bisa dipeluknya.


“Apakah kau kedinginan di sana, um? Maafkan Mommy tak bisa memelukmu seperti biasanya,” bisiknya sendu. Biasanya, bila bayinya menendang dinding perutnya, maka ia akan mengelusnya dengan sayang.


Ruangan inap terasa begitu sepi. Hanya ada dirinya dan bayinya. Sementara Raka pergi keluar sebentar membeli mie jajangmyeon kesukaannya. Sedang Cathie dan Andrew sudah lima belas menit yang lalu pulang ke rumah.


Mengusap air mata. Wanita muda ini menoleh ke belakang saat mendengar suara ketukan. Pintu terbuka lebar. Muncul orang yang tak diharapkan kehadirannya. Theresia datang bersama Mr. Brown. Kembali berbalik, seolah tak menganggap kehadiran kedua orang itu di ruangan ini.


“Bagaimana bayinya?” Suara berat Mr. Brown memecah kesunyian. Perlahan Naura mendengar langkah kaki mendekatinya. Mr. Brown dan Theresia berdiri di sampingnya. Ikut menatap bayinya.


Naura diam. Toh, tak dijawab pertanyaan Mr. Brown, sudah jelas bagaimana keadaan bayinya. Dan itu kembali membuat luka hatinya kembali terkuak. Ia bergetar menahan tangis.


“Ke mana Raka?” tanya Mr. Brown lagi.


“Pergi keluar sebentar.” Naura menjawab dengan enggan.


“Aku duduk di sofa. Bicaralah kalian berdua.” Seolah mengerti Mr. Brown membiarkan kedua saudara kandung ini berbicara.


Belajar dari pengalamannya. Tak ingin benar-benar meninggalkan mereka berdua, jadi memilih sofa sebagai tempatnya duduk. Sekalian mengawasi tindakan Theresia. Bila saja gadis itu melukai Naura kembali.


Sebenarnya ia ragu untuk membawa Theresia kemari. Tetapi gadis itu memaksa untuk menemui Naura. Menangis dan memohon padanya. Melihat air mata penyesalan Theresia, ia pun luluh. Menemani gadis itu berkunjung ke sini.


“Maafkan aku, Na. Sungguh aku tak ingin mencelakaimu seperti ini.” Theresia berujar. Pandangannya meredup menatap bayi lemah itu di dalam inkubator. Dalam hati merutuk. Kenapa bayi lemah dan mungil ini justeru begitu terlihat mirip dengan Raka.


“Bayinya begitu lemah, apalagi hasil inseminasi,” celetuknya semakin membuat Naura menunduk.


“Hn! Andaikan saja ...” Theresia melirik Naura. Mengembuskan napas. “Andaikan saja kau tidak egois, mungkin dia ...” Seolah sengaja. Theresia tidak meneruskan ucapan ambigunya. Ia rasa Naura pintar untuk menelaah ucapannya. Tetapi mulutnya gatal untuk melanjutkan sindirannya.


“Ya. Mungkin bayimu akan baik-baik saja dan tidak perlu menanggung derita seperti itu. Tidak seharusnya kau dan Raka bersama.”


Naura menegang. Menatap sendu bayinya.


“Ini hukuman, karena kau telah mengambil milikku, maka bayimu yang menderita. Satu lagi, Naura. Jadi orang jangan terlalu rakus mengambil kebahagiaan. Pikirkan kebahagiaan orang lain juga.”



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2