![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
“Raka.” Theresia tersenyum lebar, menatap penuh binar pada Raka yang berdiri di ambang pintu. Dadanya bergemuruh. Ia bahagia bisa bertemu kembali dengan sosok yang dirindukannya--hampir empat hari tidak dijumpainya--walau pria itu hanya diam dengan pandangannya yang menajam. Ekspresinya jelas terlihat begitu dingin.
Theresia meneguk ludah. Tampak ragu untuk melangkah mendekati Raka---kendati kakinya ingin berlari kencang, melompat memeluk tubuh atletis itu. Diliriknya sekilas wanita muda di sampingnya. Naura hanya diam, bagaikan tubuh tanpa nyawa. Entah apa yang dipikirkannya.
Apa mungkin memikirkan ucapannya barusan? Samar ia tersenyum puas. Dan itulah yang diinginkannya.
“Rak---ya, Tuhan.” Theresia terkesiap. Jantungnya hampir copot ketika Raka--dengan sengaja--menyingkirkan sandalnya dan menubrukkannya ke tong sampah berbahan stainless di sampingnya. Bunyi suara nyaring pun terdengar lantang di ruangan inap bersalin ini.
“Astaga, apa it---nak, Raka?”
Mr. Brown seketika beranjak bangun dari sofa kala mendengar suara yang memekakkan telinganya. Diliriknya Theresia dan Naura secara bergantian. Entah apa yang dibicarakan kedua kakak beradik ini. Ia tadi tak mendengarnya karena ketiduran. Sudah beberapa hari ini dirinya sibuk mengurusi Theresia yang mengamuk, menyebabkannya kurang istirahat. Hingga ketika duduk di sofa empuk tadi tanpa sadar matanya telah terpejam.
Berinisiatif, Mr. Brown pun menghampiri Raka duluan---tetap berdiri di depan pintu seraya bersidekap. Karena perbuatannya tadi, sekilas para perawat berhamburan keluar mengecek apa yang terjadi barusan. Tetapi segera berbalik kembali setelah melihat semuanya baik-baik saja.
Salah satu suster penjaga sempat mengingatkan Raka untuk tidak membuat keributan, terlebih ada bayi di dalam inkubator. Sesaat Raka menyesal karena membuat bayinya jadi tidak nyaman di dalam sana. Dan salahkan Mr. Brown dan Theresia, karena mereka berdualah sumber dari emosinya malam ini.
Sialan! Kenapa pria tua ini membawa gadis gila ini ke sini, Raka mendelik tajam pada Theresia hingga membuat gadis itu serasa berdiri di bara api.
“Apa yang kau bawa, Raka?” tanya Mr. Brown dengan suara yang begitu kaku. Berusaha mencari pembicaraan manakala pemuda itu hanya diam tak merespon ucapannya.
Samar Denny menghela. Tak nyaman akan sikap diamnya Raka. “Raka, Om min---”
“Papa, sepertinya Naura butuh istirahat. Kita pulang, yuk.”
Theresia telah bergelayut manja di lengan Mr. Brown. Tetap mempertahankan senyum ceria di belah bibir cherry-nya pada Raka. Meski pemuda itu tidak meresponnya sama sekali.
“Maaf, Raka. Om tak bisa berlama-lama di sini.” Mr. Brown menepuk pundak Raka.
“Yuk, Raka. Sampai nanti,” timpal Theresia sambil menahan napas ketika melewati Raka. Bulu romanya berdiri saat merasakan aura gelap di sekitar Raka.
Raka mengembuskan napas setelah telinganya menangkap suara pintu ditutup di belakangnya. Dirinya diam tadi karena mencoba menahan amarah. Berusaha mengendalikan tangannya agar tidak melayang ke tubuh Mr. Brown dan Theresia. Ya. Sekuat mugkin mencoba menahan amarah demi kekasih dan bayinya di ruangan ini. Tak ingin kembali membuat gaduh dan panik.
Meletakkan kantung plastik berisi kimchi dan tangsuyuk--mengingat Naura baru kemarin operasi caesar maka membelikan makanan yang aman untuk dikonsumsi--lantas memutar tubuhnya. Mengembuskan napas, menatap perih pada punggung ramping yang bergetar itu. Ia tebak, pasti Theresia mengatakan hal-hal menyakitkan lagi pada kekasihnya.
“Apa yang kau pikirkan, um?” bisik Raka. Merengkuh tubuh kurus kekasihnya. Melingkarkan kedua tangannya di perut datarnya. Pemuda ini mengernyit. Merasakan ada yang aneh ketika merasakan perut datar Naura---selama beberapa bulan ini dirinya akrab dengan perut buncitnya.
“Sepertinya Baby Yukhei suka tidur.” Raka terkekeh, berusaha menghibur kekasihnya.
Dipandanginya bayi merah berumur dua hari itu sambil meletakkan dagunya di atas bahu sempit Naura. Kemudian mengerling pada wajah sosok manis-nya dari samping. Tak ada ekspresi apa pun di sana. Pandangannya begitu kosong, meski irisnya memperhatikan bayi mereka.
Mengembuskan napas. Raka memutar tubuh Naura, hingga mereka saling berhadapan, lalu menangkup wajah Naura. Diusapnya pipi pucat itu dengan jemarinya---menghapus jejak-jejak air mata di sana. Kemudian menanamkan kecupan di atas dahi sosok manis-nya dengan durasi cukup lama.
“Kau pasti lelah. Ayo istirahat. Biarkan Baby Yukhei tidur dengan tenang.”
Raka menuntun Naura kembali ke tempat tidur. Ditariknya kursi di sampingnya setelah sosok manis-nya duduk di sisi ranjang. Saling berhadapan dan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan tubuh Naura, seraya memandang wajah pucatnya.
“Karena baru kemarin kau selesai operasi. Aku putuskan tak jadi beli jajangmyeon-nya. Gantinya aku beli kimhci dan tangsuyuk.” Raka melirik sekilas pada kantung plastik di atas nakas. Kemudian beralih menatap wajah kekasihnya dan menyisipkan poni yang menjuntai itu ke samping telinganya.
“Mau makan kimchi dan tangsuyuk-nya sekarang, Baby?”
Naura hanya menggeleng lemah.
“Kurasa, akan lebih enak dimakan selagi panas,” bujuk Raka dengan suara yang begitu lembut terdengar. “Mau kusuapin?” lanjutnya.
“Enggak, nanti saja,” balas Naura tak bersemangat.
“Oke.” Raka menyerah. Tak ingin memaksa kekasihnya. “Apa yang dibicarakan Theresia tadi? Memprovokasimu lagi?” sambungnya.
Naura mendesah. Menggigit bibirnya sekilas. Dipandanginya begitu lekat bola mata abu-abu itu. “Enggak. Kakak mengatakan yang sebenarannya.”
Raka nyaris berdecih tak percaya. “Paling yang dikatakan gadis itu hanya menyindirmu.”
“Memang benar kak Tere menyindirku. Tapi yang dikatakan kak Tere itu ada benarnya.”
“Kuras---”
“Mungkin ini hukuman untukku.”
“Hukuman?” Raka menaikkan salah satu alisnya.
“Ya. Karena aku telah merebutmu dari kak Tere.”
__ADS_1
“Tidak. Kau tak pernah merebut apa pun dari Theresia.”
“Tapi itu kenyataan. Makanya, bayiku kena imbas akibat perbuatanku, huks.” Naura mulai terisak.
Raka berdiri, menjauh dari tubuh kekasihnya. Mengusap wajahnya. Tampak mulai frustasi dan gelisah. Astaga! Apa yang dipikirkan kekasihnya saat ini. Kenapa begitu mudahnya terpengaruh ucapan Theresia.
Thresia berengsek. Dia pasti sengaja menyindir Naura dengan menggunakan kondisinya yang tidak stabil ini. Memperburuk keadaan. Astaga! Raka kembali mengusap wajahnya. Hatinya benar-benar kesal.
“Raka, kurasa ... kita perlu memikirkan ulang soal pernikahan kita, huks.”
Raka membeku di tempatnya. Sontak memutar tubuhnya dan menatap nanar kekasihnya yang menunduk.
“Sudah terlambat. Empat hari lagi kita akan menikah. Kubur semua perasaan ragu-ragumu itu, Na,” ujarnya bergetar.
Naura menggeleng lemah. “Enggak bisa, ini salah.”
“Ya, Tuhan, Na. Apa yang kau katakan. Dengar, Naura! Pernikahan kita tinggal empat hari lagi. Tidak mungkin kita membatalkannya.” Raka memegang kedua bahu Naura. Menatap mata sayu sosok manisnya.
“Seharusnya kau tidak menemui Theresia kemarin siang.” Raka menjauhkan tangannya dari bahu Naura. Mundur beberapa langkah. Mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
“Kenapa kau begitu bodoh, Na. Bisa-bisanya kau menemuinya. Dan mendengarkan apa yang diucapkannya. Menelan mentah-mentah sindirannya.” Raka berkata sengit, tanpa disadarinya telah meninggikan volume suaranya.
“Ya, aku memang bodoh. Huks ... seharusnya, sedari awal tidak memutuskan menikah denganmu. Sedari awal tak usah tahu siapa ayah dari bayiku. Seharusnya kita tidak bertemu kembali. Seharusnya aku membesarkan bayiku seorang diri seperti tujuan awalku. Tapi kau merusak semuanya, datang padaku. Kau seharusnya dengan kak Tere. Aku dengan bayiku. Dan bayiku tidak perlu menjadi korbannya. Hu hu hu ....”
Raka terhenyak. Dadanya berdenyut, seakan ada ribuan jarum menusuk dadanya.
“Setelah semua yang terjadi ... aku belum siap. Maafkan aku, huks ...” ucap Naura jujur sambil mengusap air matanya.
Raka tertunduk lemas. Kakinya mati rasa. Ia bagaikan sebuah kayu yang terpancang kuat di tanah. Hatinya begitu sakit mendengar penuturan Naura. Menghela napas. Dengan langkah gontai menghampiri Naura.
“Kurasa ... kau terlalu banyak bicara hari ini, Baby. Kita bicarakan lagi besok pagi, oke,” ujarnya parau seraya melayangkan kecupan di dahi Naura. Berbalik. Dengan perasaan campur aduk, meninggalkan sosok manis-nya seorang diri di ruangan. Mereka berdua perlu mendinginkan kepala masing-masing.
Naura merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Menguburkan wajahnya di bantal. Ia tergugu. Menangisi penyesalannya tentang keputusannya selama ini.
Ya. Seharusnya, dirinya tidak bersama Raka. Bukankah tujuannya sedari awal ia hamil karena ingin punya bayi tanpa menikah?
Tapi ... kenapa rencananya jadi berubah?
Mengusap air matanya. Dengan langkah tertatih-tatih, Naura kembali menghampiri inkubator. Menatap sendu bayinya.
“Bukankah, begitu Baby Yukhei. Kita seharusnya hanya berdua saja,” bisiknya. Berpaling keluar jendela. Menatap hampa hamparan bintang di langit luas, di malam penuh cahaya itu, seolah ia melihat wajah Raka yang tersenyum sedih padanya.
“Huks ... apa yang seharusnya kulakukan padamu Raka.”
🍃Dear, My Baby🍃
“Kenapa di sini, Bro?” Pria berkaca mata bulat ini menepuk pundak Raka, ketika pemuda berambut hitam legam ini duduk termenung di taman rumah sakit. Kepalanya mendongak, mengamati langit luas yang tiada jenuhnya menampakkan cahaya indah dari bintang yang dinaunginya.
Raka menoleh ke samping. Neil tersenyum menatapnya. Dokter muda ini mendudukkan pantat di sampingnya.
“Lagi mencari angin segar,” jawab Raka serak.
“Gak menemani Naura?” Neil memandang lurus ke depan.
Raka mendesah. Wajah sendu Naura melintas di depannya. “Kurasa ia butuh sendirian.”
“Butuh sendirian?” Neil mengerutkan dahi. Menoleh sekilas pada Raka. Dilihat dari raut wajah kusut sahabatnya ini, ia tahu jawabannya.
__ADS_1
“Kalian bertengkar?”
“Tidak hanya saja---” Raka mengembuskan napas. Mengeratkan mantel ke tubuh atletisnya kala hawa dingin merayap ke kulitnya. Mencoba untuk menggodanya. “---suasana hati Naura sedang tidak baik.”
“Oh.” Neil mengangguk mengerti.
Sebelumnya sudah disampaikannya pada Raka. Mungkin saja setelah melahirkan Naura akan mengalami depresi ringan, mengingat masalah yang datang bertubi-tubi menghampirinya. Ditambah lagi ia melahirkan dalam kondisi tidak diinginkan.
“Banyak-banyak bersabar saja, Bro. Yang kau lakukan hanyalah menguatkan hatinya dan mencoba memahami perasaannya.” Neil meremat pundak Raka. Mencoba memberikan kekuatan.
Raka mengangguk lemah. “Ya, aku paham.”
“Mau kopi?” tawar Neil sembari menatap Vending Machine; berdiri kaku di bawah tiang listrik di ujung taman.
“Boleh.”
“Tunggulah sebentar. Mau rasa apa?” Kembali dokter muda ini berbalik.
“Original saja.”
“Oke, original.” Neil melangkah, bergegas mendekati mesin otomatis minuman. Tak berapa lama kembali dengan membawa dua gelas plastik minuman kopi panas di tangannya.
“Punyamu, Bro.” Neil menyodorkan satu minuman di tangannya pada Raka.
“Terima kasih.” Raka segera menyeruputnya. Rasa panas menjalar ke tenggorokannya dan memenuhi seluruh tubuhnya. Sedikit membuatnya tenang.
Suara dering smartphone di dalam saku Raka memecahkan kesunyian di antara kedua pria ini. Meletakkan minuman di sampingnya. Tersenyum melihat nama di layar gawai-nya. Mengatur suaranya agar tak terlalu terdengar parau.
“Na---”
“Huks ... Raka, Baby Yukhei ...”
Seketika tubuh Raka menegang. Sontak berdiri, membuat Neil di sampingnya mengerutkan dahi melihatnya tampak panik.
“Huks ... Maafkan aku Raka, Baby Yukhei ...”
“Tenang, Baby. Aku akan ke sana.” Mengabaikan suara berisik di seberang telepon, Raka memutuskan sambungan teleponnya. Bergegas berlari menuju ruangan Naura. Neil mengikutinya dari belakang tanpa mengajukan pertanyaan apa pun. Hanya mengikuti langkah Raka; bagai orang kesurupan berlari sekuat tenaga.
Ketika sampai di ujung lorong ruangan, terlihat kamar inap Naura tampak terbuka lebar. Mengabaikan keganjilan, Raka terus berlari menuju ke arah pintu---rasa-rasanya untuk mencapai daun pintu berwarna putih itu butuh waktu setahun, di tengah perasaan kalutnya. Selain itu, ada saja hambatannya untuk mencapai kamar inap Naura. Beberapa kali ia berbenturan dengan orang tak dikenal.
“Baby ...” Raka menerjang pintu yang terbuka lebar itu. Napasnya tersengal-sengal. Mengisi oksigen untuk paru-parunya sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Sunyi senyap. Seolah ruangan ini tidak pernah dihuni sebelumnya.
“Naura?” Raka melangkah. Menahan napas sambil bergegas melihat ke dalam inkubator. Seketika sekujur tubuhnya melemas. Merosot ke lantai dengan pandangan suram.
“Ya, Tuhan!” Neil menutup mulutnya. Melihat tak ada lagi bayi mungil di dalam inkubator, begitu pula dengan Naura. Bergegas memencet bel darurat di atas tempat tidur. Dalam sekejap semua suster penjaga berhamburan masuk ke ruangan.
“Dokter Neil, ada apa?” tanya salah satu suster penjaga.
“Ke mana bayi di dalam sini? Mana ibunya?”
“Eh?” Bergegas para suster melihat inkubator. “Astaga!”
“Ke mana mereka?” Kembali Neil bertanya menuntut. Apa yang petugas jaga ini lakukan hingga mereka kehilangan pasiennya.
“Ka-kami tidak tahu, Dok.”
“Cepat cari mereka!”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1