Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
46| Malu Mengakuinya


__ADS_3


Tepat pukul setengah enam pagi, Naura selesai menyiapkan semua bahan untuk membuat pancake durian. Semuanya sudah tertata rapi di atas meja. Ada telur, gula pasir, tepung terigu, baking fowder, susu bubuk, dan air. Serta alat-alat dapur seperti mangkuk kaca berukuran sedang dan kocokan telur manual.


Sengaja Naura tidak memakai mixer. Karena baginya kocokan manual saja sudah cukup untuk membuat adonan pancake-nya mengembang sempurna.


Sosok manis ini mengetuk dagu sembari memperhatikan bahan-bahan pancake-nya di atas meja. Mengabsen satu persatu.


“Sepertinya ada yang kurang deh,” gumamnya mengerutkan dahi.


“Tapi apa ya?” sambungnya seraya mengelus bibir merah mudanya. Berusaha berfikir.


“Telur sudah, gula sudah, tepung terigu sudah, baking fowder juga sudah ... Oh, iya. Buah duriannya. He he he. (=^▽^=)” Naura terkekeh menertawai dirinya sendiri. Masa pemeran utama dalam pembuatan bahan kuenya terlupakan begitu saja.


Segera sosok manis ini memutar tubuh berisinya, berjalan pelan ke arah kulkas. Mencari bahan utama buah durian sebagai varian rasa pancake-nya. Kemarin sore, bersama Raka sepulang dari mengunjungi Theresia, (meski berakhir dengan kegagalan. Gadis itu tidak sudi bertemu dengan Naura) mereka berdua menyempatkan mampir ke minimarket sekitaran rumah sakit.


Saat berkeliling mencari bahan-bahan masakan, Naura menemukan buah durian montong impor dari Indonesia, meski di sebelahnya juga ada durian montong dari Thailand. Tetap saja Naura ingin membeli produk dari negara asalnya sendiri. Biar dikata dirinya berada di luar negeri, tetap dirinya mencintai segala produk dari tanah air tercintanya. Indonesia.


Astaga! Merasakan bau buah duriannya saja, membuat Naura makin rindu dengan tanah kelahirannya. Terutama rindu akan masakan-masakan bumi pertiwi yang melegenda sampai ke manca negara. Ada begitu banyak. Setiap membayangkan masakan tersebut membuatnya menelan air liur berkali-kali. Seolah makanan-makanan tersebut sudah berada di ujung lidahnya.


“Sabar, ya, Baby. Ini Mommy lagi bikin pancake kesukaanmu dan Daddy-mu lho,” ujarnya seraya mengelus perut buncitnya.


Ketika hidungnya menangkap bau durian yang mengudara---mencemari seluruh dapur mewah ini---sang jabang bayinya menendang-nendang, seolah tak sabaran untuk ikutan mencicipi buah duriannya.


“Pantasan saja Raka nggak bisa move on darimu, Na. Kalau setiap hari dibuatin sarapan pagi begini.”


Suara lembut dari belakang Naura membuatnya terlonjak kaget. Nyaris saja dijatuhkan kocokan telurnya kalau tidak digenggamnya begitu erat.


“Eh, Tante.” Naura tersenyum canggung mendapati Cathie tersenyum manis padanya.


Wanita paruh baya itu telah berdiri di sampingnya, memperhatikannya yang kembali meneruskan kegiatannya. Tidak seperti beberapa detik yang lalu, sosok manis ini tampak santai membuat kudapan paginya. Kali ini, di bawah Cathie yang mengawasi gerakannya, membuatnya sedikit rikuh kala memasukkan adonan pancake-nya ke atas teflon. Memanggangnya.


“Buat apa, Na?”


“Um ... pancake durian, Tan...te,” jawab Naura gugup.


“Oh, pantas saja bau wanginya sampai ke ruang kerja Raka.”


“He he he.” Naura hanya terkekeh kecil. “Itu kesukaan Raka akhir-akhir ini, Tante,” imbuhnya seraya membalik pancake-nya yang telah berubah warna menjadi kecokelatan.


“Huft! Anak itu. Semua makanan yang ada duriannya pasti disukainya.” Cathie menggelengkan kepala seraya mengingat wajah sang putra semata wayangnya.


Barusan saja ditinggalkannya Raka bersama Andrew di ruang kerja. Membiarkan ayah dan anak itu berbicara hanya empat mata, membahas masalah pertunangan Raka dengan Theresia, serta hubungan Raka dan Naura sendiri.


Cathie sendiri tidak ingin mencampuri urusan kedua ayah dan anak itu. Yang penting baginya sang putra bahagia. Tetapi, akan lebih setuju lagi bila Raka bersama dengan Naura. Terlebih wanita muda ini hamil anak Raka. Otomatis itu juga menjadi cucu pertamanya.


Cathie mengikuti Naura dari belakang, membawa pancake yang telah jadi ke atas meja makan. Diperhatikannya begitu lekat sosok manis ini menyiramkan sirup maple ke atas pancake. Sebagai hasil akhir ditambahkannya keju cheddar di atasnya. Cathie tersenyum melihat hasil kreasi masakan sosok manis ini. Dalam hati ia berkata, putranya tidak akan kelaparan bila Naura yang menjadi calon menantunya.


“Sudah berapa bulan kandunganmu, Na?” Cathie menjilat bibirnya di balik polesan lipstik merah hati.


“Baru jalan delapan bulan, Tan...te.” Naura menjawab canggung seraya meletakkan sisa kejunya ke atas meja dengan pandangan Cathie tiada lepas dari keju di tangannya.


“Panggil saja Mommy. Seperti dulu, Sayang.” Cathie berkata lembut seraya melarikan tangannya ke perut buncit wanita muda ini.


“Iya ... Mom...my...” Mata Naura berkaca-kaca menahan haru. Hatinya dipenuhi rasa sesak bahagia. Ketika tangan Cathie menyentuh perutnya, seolah ia merasakan tangan ibunya-lah yang mengelus perut buncitnya. Ya, Tuhan. Betapa dia rindu sosok ibunya yang telah tiada.


“Astaga, Naura. Baby-nya menendang-nendang.” Cathie berseru antusias.


“Baby-nya memberi salam sama Oma-nya.” Naura berkata dengan wajah penuh merah merona, membiarkan Cathie terus mengusap perutnya.


“Oh begitu, ya. Hallo Baby Boy. Ini Oma,” sapa Cathie tepat mensejajarkan wajahnya di depan perut besar Naura.


Kemudian Cathie menciumnya dengan sayang seraya berkata; “cepatlah lahir Baby Boy, biar Oma ada teman ngobrol ... atau mungkin teman berantem dan adu mulut? He he he.”


 

__ADS_1


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


“Terus bagaimana hubunganmu dengan Thesa, Raka?” tanya Andrew sepeninggal sang istri dari ruang kerja sang putra. Membiarkannya bersama Raka. Kedua pria berbeda generasi ini duduk berhadapan di sofa panjang.


“Seperti yang kukatakan kemarin malam, Dad. Hubunganku dengan Theresia sudah berakhir. Bukankah Daddy sudah tahu semuanya dari Om Deny.”  Tampak dari raut wajah Raka begitu jengkel akan pertanyaan ayahnya. Sudah berapa kali diajukan padanya.


“Iya, Daddy tahu itu. Tapi ...” Andrew mengusap wajah tuanya. Dalam hati ia tidak ingin Raka mengakhiri hubungannya dengan Theresia. Setidaknya jangan terlalu mendadak seperti ini. Beritahu dirinya terlebih dahulu.


“Ya, bagaimana lagi, Daddy. Terima saja kenyataan yang ada. Aku tidak ingin bersama Theresia. Aku tidak mencintainya. Dan aku tidak ingin menikahinya.” Tegas Raka.


“Oh ...” Andrew semakin mendesah keras mendengarnya. Seolah dirinya mengalami depresi berat.


“Sebenarnya apa yang Daddy takutkan dari putusnya hubungan pertunanganku sama Theresia?”


“Itu---”


“Daddy takut Om Deny memutuskan hubungan bisnisnya pada kita?” potong Raka cepat.


Andrew tidak menjawab, seolah membenarkan apa yang diucapkan sang putra.


“Daddy. Menurutku semua itu tidak akan ada masalah. Toh, tidak banyak pengaruhnya pada perusahaan kita saat ini. Hanya sekedar berkurang partner bisnis saja. Tidak lebih dari itu. Kita bisa mencari partner bisnis yang benar-benar real bisa diajak kerja sama tanpa ada maksud tersembunyi di belakangnya,” lanjut Raka menyindir tajam seraya mengupas apel dan memotongnya menjadi beberapa bagian.


Raka tidak bodoh. Sangat tahu maksud tersembunyi Mr. Brown dengan membuatnya menikahi putri tirinya. Tidak lain untuk meminta bantuan dana dari ayahnya. Saat ini perusahaan Mr. Brown mengalami krisis keuangan. Dengan dia menikahi Theresia, maka perusahaan Mr. Brown akan aman dari krisis ekonomi global yang melanda seluruh perusahaan di dunia saat ini.


“Apa Daddy tidak membaca maksud Om Deny yang sebenarnya?” tanya Raka santai.


“Daddy mau?” tawar Raka. Disodorkannya satu buah potongan apel pada ayahnya.


“Terima kasih.” Andrew meraih potongan apel di tangan Raka dan memakannya. Kemudian kembali Andrew mendesah. Tampak jelas raut kekecewaan di wajah menuanya.


“Lagipula, Dad.” Raka menelan sisa potongan apel di mulutnya. “Raka cuma mengingatkan. Sesuai perjanjian kita waktu dulu, bila Raka bisa memberikan Daddy keturunan, maka Raka bebas dari pertunangan dengan Theresia. Nah, sekarang Raka bisa memenuhi keinginan Daddy. Memberikan Daddy keturunan. Itu artinya, Daddy tidak bisa memaksa Raka untuk bertunangan dengan Theresia lagi.”


Andrew terdiam. Mulutnya seakan terkunci rapat. Ucapan sang putra telak menamparnya. Ingatannya kembali ke delapan bulan yang lalu. Ketika sedang makan malam bersama. Perjanjiannya dengan Raka. Astaga! Dia baru sadar. Ternyata ini yang dimaksud oleh putranya waktu itu.


“Daddy? Tidak mungkin, kan Daddy mengingkari ucapan sendiri,” tekan Raka.


Andrew mengembuskan napas pendek. Mengangkat bahu. Sepertinya menyerah akan keputusan putranya. Tak ada gunanya berdebat lagi. Janji tetaplah janji. Tidak bisa lagi dirinya menuntut Raka mengikuti kehendaknya. Toh, yang diinginkannya pada Raka saat itu hanyalah memberikannya keturunan. Dan Raka telah memenuhi keinginannya.


“Seperti perjanjian kita waktu itu. Daddy mengikuti keinginanmu. Kau bebas menentukan pilihanmu.”


Raka tersenyum lebar mendengarnya. Hatinya lega, sekarang dia bisa menikahi Naura dengan tenang tanpa ada gangguan lagi.


“Permasalahan ini Raka anggap beres, Daddy. Dan Raka tak mau lagi membahas masalah ini ke depannya,” tegas Raka beranjak berdiri seraya mengelus perut six pack-nya.


Andrew mengangkat bahu. “Ya, sudah. Kalau menurutmu permasalahanmu dengan Thesa dan Deny sudah benar-benar selesai, Daddy tidak bisa berbuat banyak lagi.”


“Hum.” Raka hanya menggumam. Pikirannya sudah tidak konsentrasi lagi menjawab ucapan Andrew. Hatinya sudah tertutupi perasaan bahagia. Ditambah pula perutnya sedari tadi kerongcongan. Rasa lapar menyergapnya manakala hidungnya terus-terusan mencium bau wangi pancake, membuatnya ingin segera menyantapnya.


“Sebaiknya kita sarapan dulu, Daddy. Raka laper.”


“Jangan buru-buru dulu, Raka,” cegah Andrew menahan lengan sang putra.


“Kenapa, Dad?”


“Masih ada yang mau Daddy tanyakan padamu.”

__ADS_1


“Apa itu?” Raka menaikkan salah satu alisnya. Gurat keberatan tercetak jelas di wajahnya.


“Soal Thesa.”


“Ada apa lagi dengannya.” Raka berujar begitu datar. Bukankah sudah dikatakannya sebelumnya tak ingin membahas perempuan ini lagi.


“Daddy yakin sekali. Tadi tidak salah dengar. Berkali-kali kau menyebut nama Theresia. Bukankah nama tunanganmu itu Thesa? Sejak kapan berubah jadi Theresia?”


“Oh, itu ...” Raka mengelus dagu. Tingkat kejengkelannya berkurang sedikit dari sebelumnya. Ada seringai tipis menari di belah bibir sensualnya. “Apa Daddy tahu?”


“Tahu apa?”


“Sebenarnya, Thesa adalah kakak kandung Naura. Nama aslinya Theresia Almira Atmajaya.”


“Astaga!” Rahang Andrew mengeras kaku mendengarnya. Untuk ketiga kalinya, ia mendapatkan kejutan tidak terduga. “Bagaimana bisa?”


Raka mengelus hidung mancungnya, pikirannya mulai mengingat-ingat kembali penjelasan sang kekasih kemarin siang.  “Ketika keduanya masih berada di panti asuhan. Ibu mereka hanya mengadopsi Theresia seorang. Dan yaaa ... setelah beberapa tahun kemudian, setelah kematian ibu mereka, Theresia  tidak mau mengakui Naura sebagai saudara kandungnya lagi. Juga mengubah nama aslinya.”


“Sungguh tidak bisa dipercaya.”


“Ya, begitulah, Dad. Sebuah cerita yang sulit untuk dipercaya. Tetapi itulah kenyataannya. Bila Daddy tidak percaya, tanyakan langsung kebenarannya pada Theresia.”


“Tidak perlu, Daddy percaya ucapanmu.”


“Bila melihat sikap Theresia seperti itu, apa Daddy masih berkeinginan menjadikan dia menantumu?” sindir Raka menyeringai tipis.


Andrew mengembuskan pendek. “Tanpa Daddy jawab pun, kau sudah mengetahuinya, Raka,--- lupakan soal itu, lebih baik kita sarapan saja.”


“Oke, Raka setuju.” Baru saja Raka beranjak berdiri, Naura muncul dari balik pintu.


“Baby~” Dengan langkah ringan dan senyum yang tercetak jelas di wajah tampannya, Raka menghampiri sang kekasih.


“Sarapan sudah siap, kita makan dulu,” ujar Naura ketika Raka melayangkan bibirnya ke atas dahinya. Segera pendaran merah merona menyebar merata ke seluruh wajah manisnya. Dicubitnya pinggang Raka, menahan malu kala Andrew berdeham di belakang pria muda ini.


“Pagi, Om,” sapa Naura canggung sembari tersenyum. Sayangnya, senyuman di belah bibir plumnya hanya mampu bertahan sedetik kala melihat ekspresi dingin Andrew padanya. Tanpa berucap apalagi membalas senyumannya, Andrew lewat begitu saja.


Naura tertunduk menatap ujung kaki gembulnya. Hatinya berdenyut sakit melihat sikap Andrew. Pria paruh baya itu masih tetap dingin terhadapnya.


“Sudah. Tak usah dipikirkan sikap Daddy. Dimaklumi saja, mungkin dia syok.” Raka mengelus pinggang Naura, menenangkannya.


“Kuharap juga begitu, Dear.”


“Yup.” Raka menggangguk dan kembali melayangkan kecupan di dahi sang kekasih.


“Hey! Mau sampai kapan bermesraan seperti itu? Pilih makan, atau berdua-duaan saja dengan perut lapar.” Andrew menyela pembicaraan sepasang kekasih ini.


“Tuh, kan, Baby.” bisik Raka. “Daddy cuma gengsi ngakuin kekalahannya. Ia malu padamu, karena kau bisa hamil.”


“Itu benar!”


Raka dan Naura terlonjak kaget kala suara Andrew kembali menyela. Mereka pikir pria paruh baya itu sudah menuruni tangga. Ternyata kembali berdiri di depan keduanya. Tubuh Naura nyaris membeku manakala Andrew menatapnya begitu tajam, bergantian dari menatap wajahnya lalu memperhatikan perut buncitnya, dan kembali lagi menatap wajahnya.


Andrew berdeham sekilas seraya bersidekap. “Dan kau, Naura. Mulai sekarang jaga putraku dan cucuku baik-baik bila ingin menjadi menantuku. Paham.”


Mendengar ucapan Andrew, rasanya Naura tidak sedang berpijak di bumi saat ini. Begitu pun dengan Raka, nyaris melompat dari tempat berpijaknya---saking gembiranya---terbang menuju ke pangkuan ayahnya. Memeluknya begitu erat layaknya kembali ke masa dua puluh tahun silam, ketika dirinya masihlah bocah ingusan.


Segera Raka mengacungkan jempolnya pada Andrew. “Jangan khawatir, Daddy. Raka jamin. Naura akan menjadi menantu idaman Daddy dan Mommy selamanya.”



 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2