Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
36| Menikmati Waktu


__ADS_3


Naura menutup pintu Range Rover begitu keras, dentuman suara pintunya bagai bom atom yang mengudara di distrik hiroshima kepulauan Jepang, hingga pria tampan di sampingnya mengembuskan napas dan mengacak rambut hitam lebatnya. Tentu saja Raka tahu, kekasih manisnya marah padanya akan tindakannya, yang kata sang kekasih---sepanjang jalan mengomelinya---menjuluki tindakannya ini adalah bar-bar.


Oh, ayolah. Siapa yang tega membiarkan begitu saja sang pemilik hati tinggal di tempat yang lingkungannya tidak terlalu aman dan sehat, ditambah lagi tinggal sendirian. Terlebih dirinya melihat dengan mata kepala sendiri, ketika berada di dalam lift, mereka selalu memergoki sepasang anak cucu adam sedang berciuman. Takutnya akan berdampak pada berkembangan janin dalam kandungan Naura bila selalu melihat hal begituan.


Sementara dia sendiri punya tempat tinggal lebih dari layak. Dan yang pastinya sangat aman, serta tidak akan membuatnya cemas terhadap ibu dari calon anak-anaknya. Perlu diketahui. Memindahkan Naura ke rumahnya adalah agenda pertamanya ketika mereka kembali menjalin hubungan. Tak ada yang bisa mengganggu gugat keputusannya ini.


"Jangan ngambek dong, Baby."


Raka turun dari tunggangannya. Mengikuti langkah Naura yang berhenti tepat di depan pintu rumahnya. Sosok manis ini berbalik dengan kedua tangan bersilang di dada. Menunggunya membukakan pintu tanpa berbicara sama sekali padanya. Pria ini merogoh saku di balik hoodienya, mengambil kunci rumah.


"Di mana semua barang-barangku." Naura berkata setelah berada di ruang tamu. Pandangannya menajam memperhatikan ruangan luas di sekitarnya.


"Ada." Raka menjawab ambigu hingga membuat wanita hamil ini memiringkan kepala. Tidak terlalu mencerna makna ucapannya.


"Ada di mana? Lagian kenapa harus dibawa ke rumahmu, sih." Naura bersungut kesal sembari melepaskan mantel yang melekat di tubuh berisinya. Rasa kantuk yang ditahannya ketika pulang bekerja tadi telah lenyap entah ke mana semenjak barang-barangnya raib dari apartemennya.


"Dan nggak ngomong-ngomong lagi sama aku," tambahnya seakan tidak puas untuk mengomel, meski dirinya sudah mengomel sepanjang perjalanan menuju kemari.


"Duduk dulu. Jangan berdiri terus, nanti kakimu sakit." Sebelum menjawab omelan sosok manis ini, Raka mengambil mantel berbulu Naura di lengannya dan menuntun sang kekasih duduk di sofa. Setelah menyampirkan mantel wanita-nya ke sandaran sofa, barulah ia menjawab pertanyaan Naura.


"Dengar, Na." Pria bermata bulat ini meraih tangan sang kekasih, mengelusnya dengan sayang. "Sudah kuputuskan, mulai sekarang dan seterusnya kau tinggal bersamaku."


"Apa?!"


"Ya. Tinggal bersamaku, selamanya," imbuh Raka tegas. Setegas mata elangnya menatap pendaran yang menari-nari bagai cahaya lampu disco di bola mata sang kekasih.


"Astaga!" Naura mengelus perut buncitnya ketika bayinya menendang. Sepertinya sang bayi ikut merasakan terkejut ketika dirinya berteriak tadi. Begitu syok akan keputusan Raka yang tiba-tiba.


"Keputusanku bukan tiba-tiba hari ini saja, Baby." Kembali Raka berkata, seolah bisa membaca apa yang ada dalam benak kekasihnya saat ini.


"Aku sudah memikirkannya, jauh sebelum kita kembali bersama---" Tangan Raka beralih mengelus perut buncit Naura, ketika dilihatnya wanita muda ini meringis sakit. Menenangkan bayinya. "---saat kau tinggal di apartemen sendirian di pulau Jeju ini."


"Tapi--- huft. Ya, sudahlah." Naura mengangkat bahu. Kehabisan kata-kata. Tak ada gunanya lagi protes sebab itu percuma saja. Ia tahu benar sifat kekasihnya ini. Dalam kamusnya tidak mau mendengar ada kata bantahan, bila menurutnya itu benar. Maka pria ini akan mempertahankannya sampai titik darah penghabisan.


"Lalu mana semua barang-barangku," lanjutnya.


"Ada di kamarku."


"Semuanya?" Naura membelalak lebar tak percaya. Masa seluruh isi apartemennya berada di kamar pria ini. Rasanya sungguh mustahil.


"Memang mustahil." Raka menjawab apa yang ada dalam benak sosok manisnya. Menyugar rambutnya sekilas. Sudut bibirnya tersenyum tipis seolah menyembunyikan sesuatu.


"Jangan bercanda. Aku serius, kau ke manakan barang-barangku."


"Di kamarku." Sekali lagi Raka mengulangi ucapannya.


"Termasuk kulkas? Lemari? Sebatang sofa? Tempat tidur?" Naura mengabsen satu persatu barang yang ada di apartemennya.


"Itu ..." Raka mengusap tengkuknya sembari tercengir lebar. Ia tahu kalimat yang akan meluncur dari belah bibir sensualnya nanti mungkin akan membuat rumahnya bergejolak bagai berada di atas lautan ketika badai menghampiri. Pria muda ini menelan air liur sebentar, seakan bisa memprediksikan mulutnya tidak akan bisa memproduksi saliva dalam beberapa detik ke depannya.


"Kurasa kau ... tidak membutuhkan barang-barang itu di rumah ini. Jadi ... kulkas dan sejenisnya sudah kusumbangkan pada yang lebih membutuhkan."


"Apa!! Arrrgh!" Naura memekik. Lengkingan suaranya nyaris menyamai penyanyi solo USA---Mariah Carey---ketika menarik nada tinggi. Buru-buru sosok manis ini mengelus perut buncitnya. Menarik napas dalam-dalam, menenangkan dadanya yang bergemuruh. Nyaris saja bayinya keluar akibat kontraksi dini.


"Sayang, kau baik-baik saja." Raka ikut mengelus perut buncit wanita muda ini. Diraut wajahnya yang tampan terlukis segurat kecemasan.


"Kamu, sih." Naura memukul lengan Raka disela-sela meringis kesakitan. Kembali ia menarik napas-napas dalam, lantas melanjutkan kembali kata-katanya,"kau gila, ya, kodok sawah! Kau pikir aku membeli barang-barang itu pakai daun, ha!"


Naura mendelik tajam. Sungguh dirinya sangat kesal. Padahal ia membeli perabotan rumah tangganya memakai uang sisa hasil tabungannya dari inseminasi beberapa bulan yang lalu. Uang tabungan yang dikumpulkannya dengan susah payah. Sedikit demi sedikit dikumpulkannya sehabis gajian.

__ADS_1


"Dasar kodok sawah budug! Errr!!" teriak Naura gemas sembari memukuli tubuh Raka dengan bantal sofa berkali-kali.


"Maaf, Na. Iya, kuakui aku salah tidak meminta izin padamu terlebih dahulu. Asal main memindahkan semua barang-barangmu ke rumahku dan memberikannya ke orang lain." Raka merebut bantal sofa dari tangan kekasihnya. Lalu melempar bantal itu entah ke mana. Yang pasti jauh dari jangkauan wanita muda ini.


"Tetapi mengertilah, Baby. Aku melakukan ini demi kamu dan anak kita. Jujur, aku tak sanggup melihatmu tinggal di apartemen ... yaaa, tanpa kujelaskan kau tahu sendiri kondisi kompleks apartemenmu seperti apa."


"Ya sesuai dengan harga sewanya," tutur Naura mencebik.


"Betul. Maka dari itu aku ingin kau tinggal bersamaku. Lagian hanya tinggal menghitung hari kau akan melahirkan. Toh, akhirnya kita resmi menikah. Cepat atau lambat kita berdua tinggal bersama." Raka menjelaskan argumennya yang masuk diakal.


Naura diam sesaat, pada akhirnya benar-benar menyerah akan tindakan kekasihnya ini.


"Fine. Jadi kau hanya membawa pakaianku saja begitu?"


"Yup. Pakaianmu dan barang rahasiamu aman di kamarku."


"Kenapa harus di kamarmu? Kulihat di sini banyak kamar kosong."


"Sebab kamarku juga kamarmu, dan mulai sekarang kita tidur bersama."


"Dasar otak mesum!" Untuk kesekian kalinya Naura memekik. "Cepat pindahkan pakaianku ke kamar lainnya!"


"Baby. Bagiku tidak masalah berbagi kamar. Sebentar lagi juga kita akan menikah."


"Memang. Tapi siapa yang akan menjamin kalau aku baik-baik saja, ha. Kau ... bisa saja meraba-raba tubuhku saat aku tidur nanti. Apalagi sampai berbagi tempat tidur."


"Astaga, Baby. Pikiranmu terlalu jauh. Percaya padaku. Aku tidak akan melakukan apa pun pada tubuhmu bila kau tidak mengizinkannya. Kau bisa pegang kata-kataku ini ..." ...meski aku harus mati-matian menahan nafsuku agar tidak tergoda dengan tubuh berisimu itu, sambung Raka dalam hati sembari melarikan sebelah tangan ke saku celana slim fitnya. Mencoba mengalihkan rasa panas di dalam tubuhnya.


"Selain itu, semua privasimu takkan kuganggu," imbuh Raka sembari menjilat bibirnya yang kering.


Naura memicing tajam. "Janji?"


"Bila kau melanggarnya, maka seumur hidup kau takkan mendapatkan jatah batin setelah menikah, mau?"


Astaga! Demi ratusan paduan suara sang kodok yang bernyanyi di sawah. Hukumannya terlalu berat. Raka menelan saliva berkali-kali. Jelas terlihat di raut wajahnya rasa keberatan.


"Dear?" panggil Naura ketika kekasihnya diam bagai patung.


"Eum ..." Raka mengembuskan napas berat. "Ya, Baby. Aku janji."


Barulah Naura bisa tersenyum lega setelah mendengar ucapan kekasihnya.


"Kecuali ..." sela Raka sambil menggerakkan jemarinya. Mengeluarkannya dari saku celana slim fitnya.


"Kecuali?"


"Izinkan aku tidur memelukmu. Hanya memeluk. Aku tidak akan macam-macam." Buru-buru Raka menambahkan kata-kata diakhir kalimatnya.


Lama Naura menjawab. Menimbang dalam pikirannya seraya mengetuk dagu. Hanya memeluk. Sejujurnya dari dulu, semenjak dirinya hamil, satu keinginannya di setiap malam, dirinya ingin dipeluk seseorang. Tidur dalam dekapan hangat seseorang. Menjaganya sepanjang malam.


Baby, akhirnya keinginanmu terpenuhi juga, eoh. Akhirnya kita berdua tidur dipeluk oleh Daddymu. Naura mengelus perut buncitnya sembari tersenyum tak kentara.


"Oke, hanya memeluk. Tidak boleh lebih." Pada akhirnya Naura memberikan jawabannya.


"Yes, terima kasih, Baby." Segera Raka meraih tubuh berisi Naura dan mendekapnya dengan erat. Sesekali menciumi puncak kepala kekasihnya ini sambil menghidu aroma wangi sampo di rambut panjangnya.


"Dan ... bisakah kita tidur sekarang, Baby?" sambung Raka begitu senang, seolah baru saja menyelesaikan konfrontasi pelik bersama musuh bebuyutan. Tak sabar untuk tidur memeluk kekasihnya. Mendekapnya dan menciuminya sepuasnya ketika kekasihnya sudah tertidur lelap.


"Aiya. Kelihatan maksud sebenarnya. Heol. (︶︿︶)"


"He he he."

__ADS_1


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 



"Yak! Apa yang kau lihat, kodok sawah!" Naura melempar handuk yang semula berada di atas kepalanya ke arah Raka yang diam mematung dengan mata membulat di atas tempat tidur.


Mata Raka tak berkedip barang sedetik pun saat melihat sosok manisnya keluar dari ruang ganti pakaian dengan gaun tidur berwarna pink muda melekat di tubuh berisinya. Bahkan saat handuk putih dengan aroma wangi sampo dewasa yang mendominasi itu tepat mengenai wajahnya, tak dihiraukannya. Sepenuhnya pria ini sudah terhipnotis pada wanita di depannya. Berjalan pelan dengan wajah memerah menuju tempat tidurnya.


Astaga! Raka menelan air liur berkali-kali. Seketika merasakan tubuhnya panas dingin dan menegang. Bukan karena demam. Melainkan karena menahan gejolak hasrat seksualnya yang tiba-tiba memuncak manakala melihat tubuh molek kekasihnya begitu menggiurkan. Gaun tidur yang dipakai Naura memang tidak terlalu transparan atau terlalu ketat membentuk lekuk-lekuk tubuh berisinya. Tapi ... baginya itu sudah membuat libidonya naik kepermukaan.


Terlebih yang paling menarik dilihat dari sosok manisnya adalah perut buncitnya yang tampak menonjol serta bagian dadanya yang tampak penuh. Hal itulah yang membuatnya menjadi lebih menarik. Raka tidak memungkiri apa yang dikatakan oleh Neil ketika pria bermata sipit itu bercerita padanya. Bila wanita hamil itu memang punya daya tarik tersendiri. Mereka tampak sangat seksi dengan perut buncitnya itu. Dan hari ini, ia menyaksikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa ucapan Neil memang benar.


Sialan. Benar-benar godaan paling berat sepanjang hidupku ini. Raka mengumpat keras dalam hati seraya berusaha menekan denyutan di antara kedua pahanya. Tiba-tiba saja tanpa diundangnya bagian bawahnya telah tegang.


Sialan. Kembali Raka mengumpat keras. Merutuki keputusannya. Apakah sudah tepat membiarkan sang kekasih tidur di sampingnya kalau pada akhirnya godaannya membuatnya jadi terangsang begini.


Sementara itu, Naura tampak risih ketika berjalan menuju tempat tidur dengan pandangan Raka tiada henti mengikutinya. Rasanya mata kekasihnya ini akan keluar bila memandangnya begitu intens begini.


"Yak. Jangan pandang aku begitu." Naura memukul wajah Raka dengan bantal ketika dirinya sudah berada di samping pria ini.


Buru-buru sosok manis ini menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Seolah berusaha melindungi tubuhnya dari serangan predator buas di sampingnya. Cepat ia membaringkan tubuh berisinya. Sedikit meringis manakala tubuhnya telah menyatu dengan kasur empuk di bawahnya. Rasa pegal dan penat mulai terasa menggerayangi tubuhnya ketika sudah berbaring nyaman begini.


"Kenapa, Baby?" tanya Raka ketika mata elangnya menangkap kernyitan di dahi sang kekasih - setelah berhasil mengenyahkan hasratnya.


"Um ... kakiku pegal." Naura mengeluh. "Rasanya tubuhku mau remuk, Dear."


"Kalau begitu biar aku memijit kakimu, sini."


Tanpa menunggu waktu dan membiarkan sosok ini protes, segera Raka meraih kaki Naura, lantas meletakkannya di pahanya. Sementara dia sendiri menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, dan mulai memijit kaki kekasihnya. Hitung-hitung ucapan terima kasihnya pada wanita muda ini karena telah mengandung anaknya.


"Bagaimana? Sudah merasa baikan?" tanya Raka setelah sepuluh menit berlalu memijati jari-jari kaki gembul kekasihnya.


Naura mengangguk. Matanya mulai terpejam. Menikmati sentuhan tangan Raka yang begitu halus dan lembut itu. "Ya. Sedikit mendingan dari sebelumnya, Dear."


"Makanya. Sudah kubilang berhentilah bekerja. Kau mungkin tidak akan terlalu capek begini." Raka berujar, berusaha membujuk kekasihnya untuk berhenti saja dari pekerjaannya.


Naura tak menjawab. Toh, percuma saja. Sebelum dirinya melahirkan, ia masih ingin bekerja. Menikmati waktunya di depan komputer. Menikmati dokumen-dokumen bertumpuk di atas meja. Menikmati bersenda gurau bersama rekan sekantornya. Menikmati gosip-gosip yang beredar di perusahaannya. Yang kesemuanya itu takkan dinikmatinya lagi setelah menikah dengan Raka.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2