Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
02| Overprotektif [Extra Chap]


__ADS_3

 


 


 


Lucas atau Yukhei Earnest Forrester takkan pernah segan meremukkan tulang leher dalam cengkramannya. Pandangannya menajam menatap korbannya yang seakan menyusut beberapa mili itu. Wajahnya pucat pasi dan lebam. Kedua tangannya yang gemetaran berusaha menahan tangan Lucas yang mencekat napasnya.


“Orang sepertimu mau mendekati Maura.” Lucas menyeringai. Bukannya mengendur, cengkramannya justeru makin mengerat.


“A-aku janji, tak-kan men-mendekatinya lagi,” ucap pria itu terbata-bata. Irisnya menatap takut pada sebuah bungkusan di tangan Lucas. Sialan. Kenapa pemuda berusia dua puluh tahun ini begitu cepat mengetahuinya.


“Kau ingin menjerumuskan adikku dengan barang haram ini, huh.”


Pria yang diketahui Lucas bernama Gilbert ini menggeleng-gelengkan kepala. “Ti-tidak.” Tadinya iya. Tapi, setelah tahu siapa kakak dari orang yang diincarnya, seratus kali dirinya akan berpikir ulang untuk mendekatinya.


“Cepatlah selesaikan, Bro. Jangan buang-buang tenaga lagi.” Mark menyela. Sedari tadi hanya menjadi penonton. Tampaknya ia mulai bosan melihat adegan kekerasan di depannya.


“Enyahlah dari hadapanku!” Lucas meninju--sekian kalinya--pemuda dalam cengkramannya.


“Ingat baik-baik! Jangan pernah lagi mendekati Maura Almira Forrester bila masih sayang sama nyawa tak berhargamu ini!” bisik Lucas. Dengan kasar melepaskan cengkramannya. Pemuda itu jatuh tersungkur ke tanah. Pingsan.


“Sadis juga, kau, Bro.” Mark terkekeh sambil menghidupkan mobil. Untuk sekian kalinya--dalam minggu ini saja--mereka menghabisi orang. Menyingkirkan bak lalat laki-laki dari kehidupan seorang gadis berusia lima belas tahun tanpa diketahui.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Pemuda urakan seperti ini mau menjadi pasangan Maura?” Lucas menyeringai. Menepuk pipi pemuda berambut gondrong di depannya. Kakinya gemetaran berhadapan dengan Lucas. Ia tak menduga, remaja manis yang didekatinya sehari yang lalu itu adalah adik dari Lucas.


Semua orang tahu siapa itu Lucas, seorang pemuda yang takkan segan-segannya menghancurkan orang bila berani mengusik kehidupannya. Termasuk mendekati seorang Maura Almira Forrester, maka akan berhadapan dengan Lucas.


“Saat ini aku tak mau mengotori tanganku.” Lucas mengelus kepalan tinjuannya. “Sekarang kuberi kau kesempatan. Dalam detik ini juga. Kau lari dari hadapanku. Dan jangan pernah berpikir untuk mendekati Maura Almira Forrester lagi, paham, Bro!”


“Iy-iya.” Pemuda itu mengangguk-angguk.


“Nah, kuhitung mundur tiga ... dua ... sa---ha ha ha.” Lucas dan Mark tergelak-gelak melihat pemuda berambut gondrong itu lari terbirit-birit dari hadapannya. Bahkan sempat menabrak pohon di depannya.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Pria berparas tampan itu meneguk ludah berkali-kali. Ia terpojok di sudut ruangan penuh bau asap rokok. Di belakang kampus Universitas Seatle. Matanya menatap ketakutan pada kaki jenjang penuh keangkuhan di sampingnya.


Lucas menaikkan kaki kanannya di atas meja. Sebelahnya tangannya mencengkram kaus pemuda di depannya. Yang ia ketahui seorang playboy kelas teri yang mencoba mendekati Maura.


“Wajah menjijikkan ini mau mencoba menjadi pacar Maura, hum.”


Pemuda ini menggelengkan kepala. “Maafkan aku. A-aku tak tahu kalau dia adikmu.”


“Jadi, kalau dia bukan adikku. Kau akan menjadikannya korban mulut manismu yang sekian kalinya?!”


“Hancurkan saja wajahnya,” celetuk Mark dari samping.


Pemuda itu melotot. Wajah tampannya ini adalah modal mendekati para cewek. “Jangan, Bro. Aku janji takkan mendekati Maura lagi. Dan menghilang dari kehidupannya.”


Lucas menyeringai membuat nyali pemuda dalam cengkramannya mendadak menciut. “Kalau begitu pergilah! Sebelum aku benar-benar menghancurkan wajah jelekmu ini.”


“Bagaimana kalau aku yang jadi pacar Maura?” goda Mark saat mereka menyusuri jalan menuju parkiran.


“Mau merasakan bogeman mentahku sekarang?!”


Mark mendecak. “Sial.”


Lucas tergelak.


“Dasar Kakak over.” Mark memutar bola mata.


“Daripada berangan-angan jadi pacar Maura. Yuk! Pergi ke kelab. Banyak cewek seksi di sana.” Lucas merangkul bahu Mark. Mark tersenyum semringah. Matanya bersinar cerah.


“Let’s go!”


 


 


 

__ADS_1


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


Naura menyentak tubuh Raka darinya saat mendengar pintu depan dibanting. Suaminya mengerang. Padahal lagi nikmatnya mengisap bibir plum istrinya.


“Maura sudah pulang sekolah.” Naura meletakkan jarinya di bibir Raka. Memberi kode untuk tak melanjutkan lagi aktivitasnya. Raka menurut. Melepaskan rangkulannya di pinggang sang istri. Membantunya turun dari meja pantry bersamaan gadis mereka memasuki area dapur.


Maura berjalan ke arah kulkas. Membukanya dan mengambil sekaleng minuman bersoda. Sembari menenggak minuman, ia menendang pintu kulkas. Lantas berjalan ke arah meja makan. Dipandanginya Raka sekilas.


“Daddy cepet banget sudah pulang?”


Raka mengangkat bahu. Mencomot roti di depannya. Tentu saja pulang cepat hanya untuk bermesraan dengan Naura. Kalau malam sering diganggu Mauriq atau Lucas. Ada-ada saja dua kelakuan cowok itu untuk mengacaukannya.


“Daddy mau ke atas.” Raka menepuk pucuk kepala Maura dan mengecup sekilas pipi Naura. “Kita lanjutkan nanti malam, Baby.” Mengedipkan mata dan berjalan santai meninggalkan dapur.


“Kenapa lesu begitu?” Naura meletakkan sepiring cookies ke hadapan Maura. Gadis itu menelungkupkan kepalanya di atas meja sembari menghela napas berkali-kali.


“Ada masalah di sekolah?” tanya Naura khawatir.


Maura menggeleng. Masalah di sekolah tidak ada. Cuma masalah pada cowok-cowok yang berusaha mendekatinya. Keesokan harinya mereka akan lari berbirit-birit ketika berpapasan dengannya. Uh, kalau begini bisa-bisa ia tidak akan punya kekasih sampai tua.


Sampai kapan Lucas akan protektif padanya?


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Pintu bercat cokelat terbuka lebar. Sinar dari luar ruangan menyinari setengah dari isi kamar yang dibiarkan gelap. Pemuda dengan tubuh tinggi 183cm itu berjalan mengendap-endap sambil berusaha menahan napas. Takut membangunkan sosok manis yang tertidur lelap di balik selimut bergambar Mickey Mouse itu. Dan tubuhnya yang tinggi menutupi setengah cahaya di belakangnya.


Iris cokelat beningnya menatap lekat sosok yang mendengkur halus itu. Sedari masuk tadi, senyum di belah bibirnya tiada henti menghiasi. Ah, tidak. Ia rasa senyum itu sudah lama menghiasi semenjak dirinya mempersiapkan sesuatu yang istimewa di tangannya. Kue ulang tahun, dengan dua buah lilin di atasnya. Hari ini adik kesayangannya tepat berulang tahun ke tujuh belas.


Lucas melirik jam di tangannya. Mulai menghitung mundur angka sepuluh di dalam hati. Tepat hitungan angka ke satu. Jarum jam menunjukkan angka dua belas malam.


“Selamat ulang tahun, My Princess!” ujarnya sembari membuka gundukan selimut. Gadis manis yang meringkuk bak bola berbalutkan piyama pink itu menggeliat. Lucas terkekeh.


Lucas mengambil remot di atas nakas. Memencet tombol on. Seketika ruangan menjadi terang. Maura menggumam sebentar. Sembari menguap dan mengucek mata. Iris abu-abunya--di antara kedua saudaranya, hanya dia yang mewarisi warna mata Raka--melihat kue ulang tahun untuknya.


Oh, ia lupa. Ini hari ulang tahun ke tujuh belasnya. Hari ulang tahun pertamanya tanpa saudara kembarnya, Mauriq, serta orang tuanya. Pertama kalinya jauh dari kota kelahirannya. Pertama kalinya ada di tanah kelahiran orang tuanya, Indonesia. Pertama kalinya tinggal berdua dengan Lucas di apartemen pribadinya.


Sudah dua tahun ini Lucas bekerja di perusahaan keluarga kakeknya. Andrew. Dan sudah seminggu ini pula ia tinggal di sini, untuk melanjutkan sekolahnya di sini.


“Eits! Jangan ditiup dulu.” Lucas menjauhkan kue ulang tahunnya dari jangkauan Maura. Gadis itu menautkan kedua alisnya.


“Seperti biasa. Ucapkan permohonanmu.”


Maura tersenyum. Menangkupkan kedua tangan di dada, dengan mata terpejam ia mengucapkan harapannya di dalam hati.


Semoga di sini Maura dapat pacar tampan kek Daddy. Amin.


Mungkin Lucas yang mendengar permohonan gadis manis ini akan tergelak. Gadis seumuran dia belum punya pacar di negara barat? Dengan budayanya yang bebas seperti itu?


Sedang gadis ini ... masih sendiri. Cukup aneh. Tapi, bila tahu yang sebenarnya tidak akan merasa aneh lagi. Bagaimana dirinya bisa punya pacar bila punya kakak se-overprotektif seperti Lucas. Yang setiap gerak-geriknya akan selalu dipantau olehnya.


Setiap lelaki yang mencoba mendekatinya akan berhadapan dengan Lucas terlebih dahulu. Dan setelahnya mereka akan menjaga jarak dengannya. Sangat menyebalkan. Memang.


Akan tetapi, di balik sikap over Lucas. Ia masih patut bersyukur, seperti yang dikatakan Mommy mereka, Naura. Setidaknya, ia aman tanpa diganggu oleh siapa pun. Dan yang paling penting, Naura tidak merasa cemas terhadapnya. Cukup hanya mencemaskan kondisi tubuhnya yang begitu lemah. Yang setiap memasuki musim dingin dirinya pasti akan jatuh sakit, bahkan sampai menginap ke rumah sakit segala.


Karena Lucas jugalah, Naura mengizinkannya untuk melanjutkan sekolah di sini. Dan itu butuh setengah tahun meyakinkan Naura, bahwa dirinya akan baik-baik saja sekolah di sini. Huft. Punya ibu yang sangat perhatian kadang membuat diri kita repot juga.


“Apa yang kau harapkan, eum?” Lucas menyenggol lengan Maura. Sepertinya gadis ini terlalu lama membuat permohonan.


Maura membuka mata sembari menutup mulut. “Ra-ha-sia.”


“Paling minta pacar.”


“Ih, Kak Yukhei. Nggak usah disebutin langsung dong, jadi nggak rahasia lagi.” Maura mengerucutkan bibir.


“Kalau cowok-cowok itu bisa lolos dari seleksi Kakak, Kakak bolehin jadi pacarmu.” Lucas menyeringai.


“Ah, Kak Yukhei. Nggak usah terlalu ketat lagi ya sama Maura. Toh, Maura juga sudah tujuh belas tahun. Udah bebas pacaran juga, kan.”


 


 


Degh!


 


 


Lucas tersentak. Tujuh belas dan bebas pacaran ... entah kenapa, ide untuk bebas pacaran pada Maura membuatnya merasa tak nyaman. Lucas terbatuk. Menyingkirkan perasaan sakit yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Ia mencoba tersenyum.


“Lupakan itu dan tiup lilinnya.”

__ADS_1


“Oke.” Maura menarik napas dalam dan mulai meniup lilin angka tujuh belas-nya.


“Tunggu sebentar,” ujar Lucas usai Maura meniup lilin.


Belum sempat Maura bertanya. Lucas bergegas keluar dari kamar setelah meletakkan kue ke tangan Maura. Dan kembali lagi menenteng laptop di tangannya. Meraih meja kecil di dalam laci nakas. Meletakkannya tepat di depan Maura. Laptop menyala.


“Muuum.” Maura berteriak girang. Matanya yang awalnya redup menyala dalam kegembiraan kala melihat wajah manis ibunya, Naura, serta Raka yang merangkul mesra ibunya. Oh, astaga. Sungguh ia iri melihat kemesraan kedua orang tuanya. Berharap dalam hati ia juga menemukan pangeran yang sama seperti ayahnya. Sangat perhatian dan cinta keluarga.


“Haiii.” Selang beberapa detik kemudian Mauriq juga bergabung bersama mereka. Melakukan skype dari Korea. Berbeda dari Maura, melanjutkan sekolah ke Indonesia. Mauriq justeru memilih melanjutkan sekolah ke Korea. Katanya sih sambil sekolah sekalian mencari cewek-cewek cantik bagai Girl Band buat dikecengin. Perlu diketahui, Mauriq tumbuh mengikuti jejak Lucas, playboy. Bila Maura belum pernah pacaran. Maka Mauriq sudah lima belas kali berpacaran.


“Bagaimana kabar kalian semua,” sapa Naura sembari menyingkirkan wajah Raka, begitu dekat dengannya. Sebelum laptop menyala, Raka tiada hentinya mencuri ciuman di bibirnya. Untunglah, ketika sambungan skype-nya terhubung, ia berhasil menyingkirkan bibir menggoda Raka di wajahnya. Kalau tidak, mereka akan kepergok lagi oleh anak-anak mereka.


“Baik-baik saja,” sapa ketiganya. Berusaha mengabaikan keintiman orang tua mereka.


“Maafkan Mum dan Daddy, ya, Maura, Mauriq. Mum nggak bisa merayakan ulang tahun kalian di dekat kalian,” ujar Naura dengan wajah sedih. Segera Raka merangkulnya semakin erat.


“Nggak apa-apa, Mum. Masih ada Kak Yukhei yang ngerayain, kok.” Maura bergelayut di lengan Lucas, usai menyingkirkan kue ulang tahunnya ke atas nakas. Lucas tersenyum dan mengelus pucuk kepala remaja manis ini. Begitu pun dengan Mauriq, ia mengangguk.


“Betul, Mum. Di sini ada Oma Cathie sama Opa Andrew yang ikut ngerayain, cuma keduanya sudah tidur,” jelas Mauriq sembari menguap. Bila sekarang di Indonesia sekitar jam dua belas malam, maka di Korea sekitar jam dua malam. Sedang di kota Seatle sekitar jam tiga siang.


“Syukurlah. Kemarin, Mum sudah kirim kado buat kalian. Mungkin tiga hari lagi kadonya baru nyampai di tempat kalian.” Naura memperkirakan.


“Oke, Mum.” Si kembar kompak menjawab.


“Apa kalian betah di sana?” tanya Naura lagi.


“Yup, mulai betah, Mum. Meski udara di kota Jakarta nggak menentu. Kadang panas, kadang hujan. Ini saja lagi hujan.” Maura melirik dari kaca jendela. “Uh, aku merindukan musim semi di Seatle.”


Naura membenarkan. Melirik bunga-bunga bermekaran di halaman rumah.


“Sama, di sini lagi musim semi. Bunga Canola lagi bermekaran,” timpal Mauriq antusias. Dan itu berhasil membuat Naura merasakan rindu pada pulau Jeju. Rindu ingin jalan-jalan bersama Raka menikmati bunga-bunga berwarna kuning itu. Sudah sangat lama dirinya tidak menginjak negeri gingseng, terhitung semenjak dirinya diculik oleh Jongin.


“Dan ada banyak cewek-cewek bening secerah musim semi di sini, loh,” tambah Mauriq lagi.


“Kelihatan niat aslinya ingin sekolah ke sana,” komentar Lucas datar. Semua tergelak mendengarnya.


“Ya ampun! Tanpa terasa kalian sudah berusia tujuh belas tahun. Sudah besar dan mulai bisa pacaran,” sela Raka. Ditatapnya wajah putra putrinya bergantian. Ia jadi merasa tua kalau begini. Ingin rasanya kembali memutar waktu. Di mana anak-anak masih pada bocah. Masih bisa dipeluk-peluk. Mendengarkan kegaduhan di rumahnya. Mendengarkan celotehan istri dan anaknya setiap hari. Astaga. Sungguh menyenangkan.


“Baby, aku merindukan mereka saat masih bocah.” Raka mengecup pipi Naura.


“Aku juga,” jawab Naura tersipu.


“Bagaimana kalau kita membuat bayi lagi?” Tanpa canggung Raka meraup bibir Naura. Tidak sadar bila masih melakukan sambungan live di depan anak-anak.


“Ih, Dear. Bayi apaan. Cukup mengurusi bayi besar sepertimu saja sangat merepotkan. Jangan ditambah lagi.”


“Biar rame, Baby, rumah kita.”


“Ih, enggak mau. Hmmmpppt.”


“Astaga. Dasar orang tua mesum.” Dengan sigap Lucas menutupi mata Maura. Sementara Mauriq hanya memutar bola mata. Dan didetik berikutnya, layar laptop berubah warna hitam, setelah Raka--orang yang pertama--memutuskan sambungan skype mereka.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Berhenti di sana!”


Sontak Maura menghentikan langkah. Menggigit bibir. Otomatis memutar tubuh ke arah sofa.  Ia pikir, Lucas--duduk tenang sembari fokus melihat layar laptop dipangkuannya--tidak akan menyadarinya. Astaga! Mata kakaknya begitu tajam.


“Mau ke mana?” tanya Lucas.


“Ke kost-an Ami, mau ngerjain tugas kelompok.” Maura menggigit bibir.


Iris cokelat bening Lucas menelusuri tubuh Maura. Memakai kaus putih lengan pendek dan berkerah v-neck, bagian bawah kausnya dimasukkan ke dalam celana pensil-nya. Serta memakai sepatu sneakers. Tak lupa melengkapi penampilannya, tas mini mini backpack berada di punggungnya.


Rambut almond panjangnya dibiarkan tergerai, kulitnya yang putih bening terekpose tanpa ditutupi dengan jaket. Sialan, Lucas mengumpat dalam hati. Bila penampilan Maura seperti itu, pasti akan mengundang mata jelalatan laki-laki padanya. Dan ia sangat tak suka membayangkannya.


“Belajar bersama?” gumam Lucas antara bertanya dan meminta penjelasan.


Maura mengangguk. Tentu saja bukan belajar bersama. Sebenarnya ia mau pergi hangeout sore ini ke kafe. Dan ia rasa kakaknya sudah tahu ia berbohong. Sifatnya sama persis dengan ibunya, bagai buku yang terbuka. Lagipula, ia berbohong agar kakaknya tidak membuntutinya seperti hari-hari yang lalu. Meski umurnya sudah menginjak tujuh belas tahun, tetap saja Lucas diam-diam mengawasinya. Astaga! Kapan dia bebas pergi kemana-mana, seperti teman-temannya yang lain.


Lucas menghela. Ditatapnya mata Maura penuh permohonan padanya. “Jangan lama-lama perginya, setelah selesai belajar bersama langsung pulang.”


“Siap, bos!” Mata Maura berbinar-binar.


“Mau kakak antar ke kost-an Ami?”


“Enggak usah.” Maura menjawab cepat. “Tadi sudah janji, Ami yang jemput ke sini. Sepertinya Ami sudah datang.” Suara motor terdengar di depan rumah.


“Sudah, ya, Kak. Maura pergi.” Maura melambaikan tangan. Dalam sekian detik saja sudah menghilang dari pandangan Lucas.


Lucas mengernyit. Diliriknya jam di tangan. Sudah lima belas menit Maura pergi. Mengelus dagu. Menyingkirkan laptop di pangkuannya. Bergegas memakai jaket dan pergi ke garasi. Menggeser layar navigasi. Sudut bibirnya menyeringai. Ia tahu ke mana tujuannya sekarang.


\============


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2