Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
23| Jangan Libatkan Dia [2]


__ADS_3


 


Naura menoleh kiri-kanan ketika telah berada di rooftop gedung perusahaan. Saat ada cela sedikit untuk beristirahat, sosok manis ini buru-buru meminta izin pada Jongin untuk pergi ke rooftop dengan alasan mencari angin. Ia gerah, dan butuh pelampiasan untuk menenangkannya. Setelah memastikan benar-benar tidak ada orang yang akan menguping pembicaraannya, sosok manis ini menekan salah satu nomor yang tersimpan di smartphone-nya.


Sembari menunggu panggilannya diangkat seseorang di seberang telepon, Naura mengelus sayang perut buncitnya di balik blazer longgar biru muda yang dikenakannya. Ia mencoba menenangkan debaran jantungnya yang meningkat tajam. Emosinya tiba-tiba saja menjadi naik seketika. Ingin rasanya ia menumpahkan luapan emosinya ini pada orang di seberang telepon setelah mendengar gosip dari Kania tadi.


"Naura?" Suara berat Raka langsung menyapa gendang telinga sosok manis ini. Dari nada suara pria itu, tampak terdengar sangat bahagia Naura meneleponnya. Naura bisa membayangkan, wajah Raka di seberang telepon tersenyum lebar lima jari.


"Tumben telepon? Belum sampai setengah hari kita berpisah, sudah main rindu saja," lanjut Raka ceria, seolah Naura sudah menjadi istrinya yang sah.


Tidak salah Raka bersikap berlebihan begitu ketika sosok manis ini meneleponnya. Semenjak mereka berpisah, Naura tidak pernah meneleponnya. Selama ini, Raka-lah yang memulai menelepon. Itu pun jarang sekali sosok manis ini mengangkat panggilannya.


"Rindu, pantatmu! 💢" maki Naura seraya memutar bola mata. Buru-buru Naura mengelus perutnya yang sedikit sakit. Calon bayinya bereaksi keras ketika ia berteriak tadi.


"He he he. Selow, Baby. Tidak usah ngegas begitu." Raka menenangkan. Sepertinya pria itu sudah tahu apa yang akan dibicarkan sosok manis ini nantinya.


"Grrr ... selow nenek moyangmu," lanjut Naura dengan mata melotot tajam, benar-benar tidak bisa diajak bercanda saat ini. Andaikan saja pria bermata bulat ini berada di depan sosok manis ini, sudah tentu ia pukul dengan pantat panci yang super hitam milik Sunny.


Raka terkekeh geli. Kemudian kembali mulai berbicara serius. "Fine. Apa masalahmu, Baby."


"Jangan panggil aku, Baby." Naura memekik kesal.


"Kenapa memangnya dengan panggilan Baby? Mengingatkanmu akan masa lalu kita berdua-kah, hum? Bukankah itu bagus untuk langkah kita memulai hubungan kembali." Raka berkata panjang lebar, berusaha mengambil hati sosok manis ini. Sangat berharap Naura luluh padanya.


"Shit. Betul, itu memang mengingatkanku akan masa lalu kita. Itu mengapa aku membencimu memanggil dengan sebutan seperti itu. Mengingatkanku saat kau memutuskanku tanpa perasaan!" tekan Naura dingin dengan sindiran super tajam.


Seketika suasana menjadi senyap di seberang telepon. Raka kehilangan kata-kata. Kalimat terakhir dari belah bibir Naura berhasil menohoknya sampai ke ulu hatinya. Hatinya berdenyut sakit. Samar Raka mengembuskan napas, lalu mengumpulkan kembali rasa percaya dirinya yang sempat turun ke titik terendah.


"Aku tahu itu, Na. Aku salah, dan aku ... minta maaf." Raka berucap serak di tengah mencoba menahan emosinya yang campur aduk.


"Sudahlah, lupakan masalah itu. Aku meneleponmu bukan untuk membahas masa lalu kita." Naura menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menyambung ucapannya, "kenapa kau meninju Richard, apa salahnya padamu." Suara Naura kembali meningkat.


"Richard mengadu padamu, heh. Dasar pria pengecut." Raka berbicara sinis. Mendengar nama Richard disebut oleh sosok manisnya, kembali emosi pria ini meluap.


"Jangan menghinanya. Sama sekali Richard enggak berbicara apa pun padaku. Aku tahu semuanya dari rekanku," jelas Naura.


"Tapi tetap saja aku ..." sudah terlanjur sakit hati, sambung Raka jengkel. Pelan menarik napas dalam-dalam dan perlahan diembuskannya. Tak ingin ia salah sasaran. Marah-marah tidak jelas pada Naura hanya karena terbawa emosi sesaat.


"Oke, aku percaya. So, apa lagi yang ingin kau bicarakan terkait pria berkulit hitam itu?" Jelas dari nada suaranya, Raka tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Ia cemburu, Naura sangat jelas membela Richard.


"Jangan menggangunya lagi," tegas Naura memperingatkan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjaminnya." Raka menggeram bagai raja hutan yang terluka.


"Apa pun itu. Pokoknya jangan libatkan Richard dalam permasalahan kita berdua!" Suara sosok manis ini juga makin meninggi. Samar telinga Naura menangkap Raka mengeluarkan bahasa planet---memaki---dengan menjauhkan ponselnya di seberang telepon.


"*Tergantung. Kalau dia*---"


"Pokoknya jangan ganggu dia lagi," tekan Naura.


"Grrr ... kau sungguh memancing emosiku, Na. Aku akan terus mengganggunya bila kau menerima lamarannya," ancam Raka serius.


Naura berdecih dan berujar sinis. "Siapa kamu bagiku, heh. 💢"


"Tentu saja, seorang ayah dari anak yang kau kandung itu!" tegas Raka. Berulang kali akan ia katakan bahwa bayi dalam perut Naura itu adalah miliknya, termasuk ibu dari bayinya. Mi-lik-nya. Titik.


"Kau memang licik, Raka."


"Terserah apa katamu. Dan aku takkan mengganggunya lagi bila kita kembali bersama. Bagaimana?"


Tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Raka, Naura memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Dengan hati bersungut-sungut, ia pun kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


 


 


 


 


 


 


"Rick, apa perutmu sudah nggak sakit lagi?" tanya Naura saat mengantarkan berkas ke dalam ruangan Richard.


Richard mengangguk di sela-sela memeriksa berkas yang diberikan oleh Naura. "Ya, sudah tidak sakit lagi. Ini semua berkat sarapan yang kau belikan tadi. Makasih atas perhatianmu, aku sangat terbantu, Na."


Richard tersenyum lebar sembari meraih bolpoint dalam kotak pensil, lalu membubuhkan tanda tangannya pada beberapa lembar kertas di atasnya.


"Hum. Kenapa kau enggak jujur padaku, Rick." Naura menghela napas panjang. Irisnya tertuju pada tarikan pena yang digerakkan oleh atasannya ini.


Richard berhenti sekilas. Pandangannya meredup menatap guratan tanda tangannya. "Jujur? Soal apa?"


"Soal Raka yang meninjumu pagi tadi."

__ADS_1


Lama Richard terdiam. Kemudian menghela napas pendek.


"Ah, itu hanya gosip saja. Jangan diambil hati." Richard berkilah dengan memberikan senyum palsu baik-baik saja.


"Jangan bohong lagi, Rick. Aku tahu itu."


Lagi, Richard terdiam beberapa saat.


"Huft. Sebenarnya itu memalukan untuk diungkit kembali," balas Richard.


Kejadian tadi memang sangat memalukan baginya. Terang-terangan Raka meninjunya di depan orang banyak. Dan lebih menyakitkan lagi, ia tidak bisa membalas balik tindakan Raka. Bagai orang yang terkena hipnotis, hanya diam meratapi punggung dingin Raka menjauh darinya.


"Tapi, Rick, tetap saja it---"


"Sudahlah, Naura, tidak usah dibahas lagi. Aku baik-baik saja sekarang. Buktinya tak terjadi apa pun padaku." Richard tersenyum meyakinkan, meski menyisakan sejumput kekesalan di hatinya untuk saingan cintanya ini.


Raka sialan. Awas saja kalau ada kesempatan, akan kubalas perbuatannya berkali-kali lipat.


Seketika Richard mengepalkan tangan kirinya di bawah meja kala mengingat wajah angkuh Raka pagi tadi.


"Ah, sudah waktunya istirahat." Richard mengalihkan pembicaraan. Melirik sekilas pada Rolex favoritnya yang melingkar elegan di pergelangan tangan kanannya.


"Bagaimana kalau kita makan di Cheonhaecheon saja? Aku yang traktir," lanjutnya, meletakkan tangannya di atas punggung tangan Naura. Terkejut. Sosok manis ini sontak menarik tangannya.


"Maafkan aku, Jong, aku ..." Naura menggigit bibir dengan perasaan serba salah.


"Tidak apa-apa." Richard tersenyum tipis, meski kecewa akan sikap sosok manis ini. Seolah menolak perhatiannya ketika dia menyentuhnya tadi.


"Jadi, kau ingin makan di mana? Atau kau punya rekomendasi tempat yang dituju, hum?" sambung Richard mengalihkan suasana yang tiba-tiba saja menjadi canggung.


"Richard, sekali lagi maafkan aku, aku ... sudah punya janji makan dengan Sunny," jawab Naura memelas. Dengan pandangan bersalah ia menatap wajah penuh harap Richard.


"Huft. Oke, tidak masalah." Richard menarik napas panjang.


Naura buru-buru menunduk, mencoba menyembunyikan perasaan bersalahnya.


Maafkan aku, Richard. Begini lebih baik. Aku enggak ingin kamu terlibat ke dalam lingkaran masalahku dengan Raka. Cukup mengetahui Raka yang mendonorkan ******-nya saja membuat masalah jadi makin bertambah runyam. 



 


 

__ADS_1


__ADS_2