![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Raka terhenyak. Aliran darahnya berdesir halus. Wajahnya memanas seiring merasakan sengatan yang begitu dalam mendarat di kedua belah pipinya. Sengatannya seolah sampai ke jantungnya. Membuat kinerja jantungnya tidak bisa bekerja dengan normal. Akibatnya menghambat saluran pernapasannya hingga merasa sulit bernapas.
Refleks Raka memegangi pipi kanannya - bekas telapak tangan ayahnya yang mendarat begitu kuat. Pria yang sekarang ini masih memakai kaus putih---belum sempat digantinya saat menenggelamkan diri di ruang kerjanya tiga jam yang lalu---itu ia rasa pipinya sangat merah bagai tomat busuk. Sungguh tak menyangka akan mendapatkan kejutan di jam dua malam seperti ini. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja kedua orang tuanya datang mengunjunginya.
Iris abu-abu Raka menatap lekat wajah kedua orang tuanya. Dipandanginya wajah pria paruh baya yang duplikat dari wajahnya itu. Dari wajah Andrew yang menua jelas terlihat kemarahannya. Kemudian pria muda ini beralih menatap wanita yang paling dihormatinya di seluruh dunia ini. Cathie, tampak begitu syok. Terkejut akan sikap Andrew yang menamparnya.
Plak!
Belum sempat Raka mencerna tamparan di pipi kanannya. Ia kembali mendapatkan tamparan di belah pipinya yang lain. Suara kulitnya yang beradu dengan telapak tangan Andrew beradu dengan pekikan Cathie yang mengudara.
"Dasar anak kurang ajar!"
Bugh!
“Andrew, hentikan. Hentikan! Kyaaa!”
Bugh!
Untuk kedua kalinya ini Andrew meninju sekuat tenaga putra kesayangannya dan satu-satunya garis keturunannya. Jangan anggap remeh tenaganya. Meski umurnya akan menginjak kepala lima bulan depan, nyatanya ia mampu membuat Raka terduduk, bersimpuh di bawah kakinya lewat tinjuannya.
Pria muda itu meringis menahan sakit. Tinjuan Andrew benar-benar membuat tubuhnya luruh seketika - di saat rasa syok masih mendominasi pikirannya.
"Kau pikir kau sudah heb---"
"Cukup, Andrew! Jangan teruskan lagi, hiks!" Seketika Cathie memeluk tubuh Raka, mencegah sang suami bertindak bar-bar pada putra mereka.
"Tidak usah kau lindungi dia, Cathie. Anakmu perlu didisiplinkan!" Andrew berkata lantang - menggema di ruangan yang begitu luas ini. Pandangannya begitu menajam pada Raka dalam pelukan sang istri.
Masih diliputi oleh amarahnya yang begitu memuncak, secepat kilat Andrew menarik tubuh Raka, merenggut tubuh pria muda itu dalam dekapan Cathie. Dicengkramnya kaus Raka. Menghiraukan sang istri yang menggapai lengannya sembari menangis.
"Mau jadi apa kamu, hah!" Andrew melotot menatap wajah sang putra tepat di depan wajahnya. Sedikit pria muda ini merunduk padanya mengingat tubuhnya lebih tinggi dari pria paruh baya ini.
__ADS_1
Sekilas Raka melirik ibunya. Hatinya trenyuh melihat Cathie menangisinya. Inilah yang paling ditakutinya. Melihat ibunya bersedih. Raka mengeraskan hati. Untuk kali ini saja biarkan ia menjadi egois demi kebahagiannya. Ditatapnya bola mata Andrew penuh kemarahan. Berbicara dengan suara tegas.
"Daddy, sebelumnya Raka minta maaf. Rak---"
"Omong kosong dengan permintaan maaf. Apa permintaan maafmu bisa mengembaliksan semua kesalahanmu, hah," potong Andrew kembali melampiaskan kemarahannya. Ditinjunya sekali lagi tubuh sang putra hingga Raka kembali tersungkur ke lantai diiringi pekikan dan tangisan Cathie yang makin menjadi.
"Cukup, Andrew. Jangan pakai kekerasan lagi, hiks. Dia putramu bukan musuhmu," sergah Cathie. "Kau baik-baik saja, Sayang," lanjut wanita paruh baya ini memegangi lengan Raka ketika pria muda ini berusaha untuk bangkit.
Bukannya Raka tidak mampu melawan dan terlihat begitu lemah. Hanya saja ia sengaja membiarkan ayahnya meluapkan dahulu kemarahannya. Melampiaskan semua kekesalannya. Demi mendapat restu kembali bersama Naura, ia rela dipukuli oleh Andrew.
Sementara itu, di balik dinding lainnya. Naura melihat semuanya. Ia terbangun ketika mendengar suara ribut-ribut lima menit yang lalu. Dengan tubuh gemetaran, disandarkannya tubuh berisinya ke dinding. Ditutupnya rapat-rapat mulutnya, berusaha tidak mengeluarkan suara dari isakannya. Menahan sekuat mungkin agar tidak mengusik tiga orang di ruang tamu itu.
Sungguh wanita muda ini tidak menyangka Andrew dan Cathie akan datang ke pulau Jeju karena masalah pertunangan Raka dan Theresia. Dan baru kali ini dirinya melihat Andrew sebegitu murkanya karena keputusan kekasihnya. Jauh lebih mengerikan ketika pria paruh baya itu bersikap dingin padanya kala mengetahui dirinya tidak bisa hamil.
Dan ingin rasanya Naura menghampiri Raka yang tersungkur tak berdaya di lantai. Menghalangi Andrew berbuat kasar. Tetapi apa daya ia tak mampu. Kakinya seakan sulit untuk digerakkan. Tubuhnya mati rasa. Tanpa sadar air matanya semakin banyak berjatuhan di pelupuk matanya. Hatinya sakit melihat Raka menderita karena memilih dirinya.
"Bukan ini yang Daddy inginkan darimu, Raka. Daddy tidak pernah menyuruhmu memutuskan pertunanganmu. Apa kau tidak mengerti, ha." Andrew menatap nyalang sang putra.
“ .... ”
"Jawab Daddy. Apa kau sudah merasa hebat, ha," lanjut pria paruh baya ini. Ditariknya dengan kasar tubuh Raka hingga mereka berhadapan - dihiraukannya Cathie yang berteriak memohon padanya sembari kembali menggapai lengannya. Berusaha menghalanginya.
"Jawab Raka! Apa kau bisu, ha." Andrew berteriak lantang. Emosinya semakin memuncak manakala sang putra tidak menjawab ucapannya. Diakuinya, diamnya Raka memang disengaja.
Pria muda ini tahu benar membaca situasi. Disaat begini, tidak bisa saling adu otot, mulut dan emosi di kedua belah pihak, agar suasana tidak semakin bertambah runyam. Ini saja sudah semakin runyam dengan Andrew marah dan tangisan dari Cathie.
Bugh!
"Kyaaa! Hentikan Andrew, kau menyikiti putraku!" Cathie menjerit histeris manakala Andrew kembali melayangkan tinjuannya. Kali ini tinjuannya mendarat di rahang Raka.
"Menjauh dari tubuh Raka, Cathie." Andrew mendelik tajam pada sang istri. Napasnya naik turun. Satu kekurangan dari sifat buruknya. Bila emosinya makin memuncak sungguh dirinya tidak bisa mengendalikannya. Dan itu harus disalurkannya, bila tidak ingin menjadi penyakit dalam tubuhnya.
Jujur. Baru kali ini Raka membuatnya sebegitu marahnya. Biasanya tidak begini. Bahkan ketika ia meminta sang putra memutuskan Naura---gadis yang tidak bisa dia letakkan masa depan keluarganya terhadapnya---pun Raka menurutinya. Meski dengan memakai ancaman dan tekanan terlebih dahulu.
Tetapi kali ini, rasanya itu tidak mungkin lagi. Bahkan bila menggunakan ancaman atau menekan Raka sampai membuatnya depresi sekali pun mustahil untuk dilakukan. Sebab Andrew bisa melihat dengan jelas sebuah tekad yang berkobar di dalam mata elang sang putra. Terpancar lewat iris abu-abu yang diwariskan darinya.
Kembali Andrew menatap sang istri. Wanita yang sudah hampir 28 tahun mendampingi hidupnya, memberikannya seorang keturunan yang sangat baik. Raka Earnest Forrester. Tetapi kini sang putra sedang mencoba membangkang padanya.
"Kubilang menyingkir dari tubuh Raka, Cathie. Biarkan aku memberinya pelajaran. Biarkan aku melunakkan sikap keras kepalanya itu!" Suara Andrew semakin meninggi memenuhi seluruh ruangan yang atmosfirnya sudah sangat panas.
"Tidak akan." Cathie menggeleng. Ia semakin erat memeluk putra semata wayangnya.
__ADS_1
“Aku takkan membiarkan kau menyiksanya lagi, hiks. Bila kau bersikeras. Pukul dulu aku," sambung wanita paruh baya ini dengan wajah memelas dan suara bergetar.
Sungguh bila Andrew masih melakukan tindakan kekerasan, terpaksa ia menelepon polisi setempat untuk mengamankan suaminya.
“Kumohon, sudah cukup kau memberinya pelajaran. Kita bicarakan masalah ini baik-baik tanpa kekerasan, Andrew. Hiks.”
Andrew menghela napas sebentar. Pandangannya tetap menajam menatap ibu dan anak tak jauh darinya berdiri.
"Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik lagi, Cathie. Inilah yang diinginkan oleh Raka sendiri," tekan Andrew dengan nada begitu dingin. Dari ekspresi wajahnya, jelas pria paruh baya ini tidak bisa lagi mentolerir sikap sang putra.
"Jadi, menyingkirlah dari tubuh putramu, Cathie. Biarkan aku memberikan pelajaran untuknya."
"Tid---"
"Jangan sakiti Raka lagi, Om. Hiks."
Baik Raka, Andrew dan Cathie menoleh ke sumber suara lain - menyela pembicaraan mereka.
“Naura?” Ketiganya sangat terkejut akan kemunculan Naura tiba-tiba. Wanita muda ini menyandarkan tubuhnya di dinding seraya memegangi perut buncitnya. Air matanya makin meleleh deras tak terkendali.
Entah dari mana datangnya kekuatannya. Tiba-tiba saja tubuh Naura menjadi ringan seketika. Bagai ada yang mendorongnya, dengan langkah pasti tanpa ketakutan, sosok manis ini menghampiri Raka.
"Hiks ... semua ini ... salahku, Om." Naura menggantikan posisi Cathie memeluk Raka. Pria muda ini memandang sendu serta penuh rasa kecemasan pada kekasihnya.
"Kenapa kau kemari, Baby. Seharusnya kau di kamar saja," bisik Raka begitu serak. Sungguh ia tidak rela Naura menjadi korban kemarahan ayahnya menggantikan posisinya.
Naura menggeleng. Ditatapnya wajah penuh angkuh dan ketak-sukaan Andrew padanya. Tetapi itu tidak dihiraukannya. Kembali Naura melanjutkan ucapannya.
"Raka melakukan semua ini karena ..." Naura menelan salivanya sebentar. Tiba-tiba saja tenggorokannya jadi kering. "Karena ... ingin bertanggung jawab padaku."
"Bertanggung jawab?" Andrew mengerutkan dahi. Ditatapnya wajah manis gadis yang lebih dari dua tahun tidak dijumpainya lagi - terhitung semenjak Raka tidak menjalin kasih dengannya lagi.
Kemudian pria paruh baya ini menurunkan pandangannya. Menatap sesuatu yang aneh di tubuh gadis itu. Sesuatu yang luput dari pandangannya sedari tadi. Seketika mata Andrew membola. Tubuhnya bergetar, seolah baru saja disambar petir.
"K-kau ... ha---mil?"
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1