Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
22| Jangan Libatkan Dia [1]


__ADS_3


 


 


"Anda baik-baik saja, Mr. Park?" Naura bertanya formal ketika Richard memasuki ruangan divisi umum. Sosok manis ini tampak terkejut melihat keadaan atasannya ini, tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Sepertinya bukan hanya sosok manis ini saja yang kelihatan terkejut, beberapa rekan Naura juga bereaksi sama sepertinya. Wajah atasan mereka terlihat sangat pucat. Sedari tadi pria ini terus meringis menahan sakit di bagian area perutnya.


"Anda baik-baik saja, Mr. Park?" ulang Naura lagi - sedikit lebih keras suaranya dari sebelumnya.


Richard berhenti tepat di depan meja Naura.


"Ya, aku baik-baik saja," jawabnya tersenyum kecut. Meski berkata baik-baik saja, tetap saja raut wajahnya tak bisa berbohong.


"Apa Bapak sakit perut?" tebak Naura penasaran melihat Jongin sedari tadi terus meringis memegangi perutnya.


Richard menggeleng cepat. "Tidak."


"Sebelumnya sudah sarapan?" tanya Naura.


Siapa tahu karena belum sarapan perutnya jadi sakit. Sama sepertinya, ia juga sering seperti itu. Apalagi kini dirinya sedang hamil, porsi makannya jadi dua kali lipat. Bila tidak sarapan dan minum susu hamil, jangan harap dirinya akan kuat seharian.


Lagian kasihan bayinya bila dia jarang makan, apa lagi kurang minum susu. Meski sosok manis ini sendiri tidak bisa memungkiri kenyataannya yang sering kali telat makan. Terutama bila pikirannya sedang kacau.


"Mungkin." Richard menjawab sekenanya. Mata elangnya menyapu seluruh ruangan divisi umum. Semua bawahannya kembali menyibukkan diri - berpura-pura, atau memang segan untuk berbicara padanya, kecuali Naura.


Jujur saja, dirinya memang belum sarapan saat akan pergi ke kantor. Ah, sebetulnya ia memang tidak pernah sarapan sebelum melakukan aktifitas di pagi hari. Selain alasan tidak sempat, tentu saja karena tinggal sendiri, jadi tak ada yang mengurusi keperluannya setiap paginya. Well, sepertinya dirinya memang harus mulai serius mencari pendamping hidup untuk mengurusinya.


Richard menatap lekat wajah manis Naura yang menatapnya penuh tanda tanya. Samar sudut bibirnya tersenyum tipis. Ya, hatinya sudah memilih. Sosok manis inilah yang cocok untuk menjadi pendamping hidupnya. Ia sangat perhatian padanya. Bahkan mencemaskan keadaannya yang dikiranya sakit perut karena tidak sarapan. Akan tetapi sakit perutnya ini bukan disebabkan sebagian besar dari tidak sarapan, melainkan karena ditonjok oleh Raka ketika di lobi perusahaan tadi.


Hn. Masa bodoh dengan peringatan Raka. Selama janur kuning belum melengkung, Naura bukan milik siapa-siapa. Lagian jodoh siapa yang bisa menebak. Siapa tahu Naura berjodoh denganku.


Richard mengelus perutnya dengan bibir tiada henti menyunggingkan senyuman menatap Naura.


"Kalau begitu kupesankan sarapan saja. Bapak mau makan apa?" Naura mulai mengekori Jongin yang berjalan masuk ke ruangan khusus kepala divisi umum. Pria ini lantas mendudukkan pantatnya di kursi empuknya. Sementara Naura berdiri di depan mejanya.


"Tidak usah, Naura. Tidak perlu repot-repot," tolak Richard halus.


"Aku tidak merasa repot, kok. Rick." Naura menjawab informal setelah mereka hanya berdua saja berada di ruangan.


"Lagipula kau adalah atasanku langsung," lanjut Naura tersenyum manis.

__ADS_1


Atasan ya. Richard berkata muram dalam hati setelah mendengar perkataan Naura barusan. Seakan sosok manis ini menekankan hubungan mereka, tidak lebih dari sebatas atasan dan bawahan.


"Oke, kalau begitu ..." Richard menarik lengan kemeja putihnya hingga batas siku.


"...pesankan aku apa saja. Apa pun yang kau pesankan akan kumakan," sambung pria berkulit eksotis ini tersenyum lebar - seolah saat ini ia sedang menjawab pertanyaan sang istri impiannya. Mungkin bila gadis lain yang berdiri di depan pria tampan ini akan meleleh hatinya, terpana akan senyuman mempesonanya itu.


"Siap. Bagaimana dengan sarapan bubur abalon, mau?" Naura minta pendapat sebelum memutar tubuhnya.


"Boleh juga." Richard mengelus dagu.


"Mau minum kopi?" tawar Naura lagi. Ia sangat hafal kebiasaan pria ini, setiap paginya minta dibuatkan kopi--- apa pun jenisnya, asal masih minuman dari kopi.


"Sangat tak keberatan," sahut Richard semangat.


"Oke, segelas kopi dan bubur abalon, lima belas menit lagi sarapannya akan tiba di mejamu."


"Hum, tolong ya, Naura." Richard berkata tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kok. Tidak perlu sungkan begitu. (=^▽^=)"


"Terima kasih, Naura. Kau memang selalu bisa diandalkan."


"He he he. Kalau begitu, bulan depan tolong direkomedasikan gajiku dinaikkan 50% ya. (≧∇≦)b " Usai berkata begitu, sosok manis ini mengambil langkah seribu menuju pintu.


"Hn, andaikan saja kau menjadi istriku, akan lebih baik lagi," gumam Richard sengaja dengan suara agak keras. Ia yakin sosok manis ini mendengar ucapannya.


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


Baru saja Naura memencet tombol mesin pembuat kopi otomatis ketika dirinya dikejutkan oleh rekan duduk di sebelahnya - menepuk pundaknya lembut. Kania.


Kania merupakan salah satu rekan seniornya di divisi umum. Selain itu, Kania orangnya ramah dan supel. Serta berpenampilan sangat modis dengan ditunjang tubuh proporsional. Naura pikir, Kania termasuk wanita paling cantik di divisi umum perusahaan mie ini. Kania juga berkebangsaan sama dengan sosok manis ini, Indonesia.

__ADS_1


Melihat Kania, mengingatkan Naura pada salah satu member girls band paling terkenal dan legend di Korea Selatan, Choi Soo-young. Rupa mereka sangat mirip sekali, bahkan bentuk badan dan tingginya pun sama. Karena kemiripannya itu, Kania sering dipanggil Soo-young KW 1 oleh rekan-rekan di perusahaan.


"Kopi buat Pak Richard, ya?" terka Kania.


Naura hanya mengangguk singkat. "Mau ngopi juga, ya, Soo Eonnie?"


Sekedar informasi kecil, Kania paling suka dipanggil sebutan Soo Eonnie atau Noona oleh orang yang umurnya lebih muda darinya, tanpa terkecuali, termasuk Naura juga memanggilnya Eonnie. Meski sosok manis ini sebenarnya lebih suka memanggilnya dengan Mbak atau Kakak. Tapi, ya begitulah. Kita harus mengikuti selera masing-masing empunya nama, maunya dipanggil apa.


Sosok manis ini sedikit menyingkir dari tempatnya berdiri setelah kopinya terisi kopi panas, memberi ruang untuk Kania mengambil bagian kopinya.


"Yup. Kau tahu sendirilah. Aku pecinta kopi. Kalau enggak ngopi di pagi hari, kepalaku rasanya berat, mataku pun jadi ikut-ikutan ngantuk. Dan berujung pada pekerjaanku yang kena imbasnya. He he he." Kania berujar panjang lebar sembari tercengir lebar.


"Hum, sangat bergantung sekali, ya, Soo Eonnie," komentar Naura sambil mengangguk paham.


"Yes," jawab Kania singkat sembari menyeruput kopi panasnya. Setelahnya, kembali melanjutkan ucapannya saat melintas hal yang menarik di kepalanya. Kemudian matanya begitu lekat memperhatikan sosok manis ini. Seolah Naura berasal dari planet alien.


"K-kenapa, Eon. Ada yang aneh sama wajahku ya?" tanya Naura risih.


"Hmmm. Ternyata kau hebat juga, Na."


"Hebat?" Naura menaikkan salah satu alisnya. Entah kenapa sosok manis ini mengurungkan niatnya untuk kembali secepatnya ke ruangan divisi umum. Ia jadi tertarik pada apa yang akan diucapkan oleh seniornya ini.


"Yup." Kania berkata penuh semangat, melebihi semangatnya bertemu dengan gebetan di malam minggu.


"Kau diperebutkan oleh dua orang pria kece pagi ini. Wow, daebak." Gadis itu menepuk pundak Naura dengan gemas.


"Oh, ya?" Dahi Naura berkerut dalam. Irisnya menatap lekat iris hitam kelam Kania. Samar sosok manis ini menelan air liurnya.


"Kau tahu, Na?"


"Ya?"


"Kenapa saat masuk ke ruangan tadi pak Richard meringis pegangin perutnya."


"Karena sakit perut? (,,◕ ⋏ ◕,,)" Naura berkata polos.


"Salah." Kania semakin menepuk keras pundak Naura. Sedangkan sosok manis ini memasang wajah datar. Semangat sih semangat. Tapi tak perlu menepuk pundaknya segala.


"Itu karena dia ditinju oleh pria tampan bermata bulat di bagian perutnya. Kalau tidak salah, cowok itu penerus perusahaan Pintech ...."


Astaga! Naura menutup mulutnya. Matanya membelalak lebar. Ocehan Kania terdengar berdengung-dengung di telinganya. Ia tidak terlalu mendengarkannya lagi. Pikirannya hanya tertuju pada Raka dan Richard saja. Ada apa dengan kedua pria itu?


__ADS_1


__ADS_2