![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
A/N;
Sebelum lanjut baca, aku mau cerita soal part sebelumnya.
Konflik di part sebelumnya itu konflik puncak menuju ending yang artinya sebentar lagi cerita ini mau tamat ☺️☺️. jadi sabar ya. Karena aku menulis berdasarkan outline yang kubuat, ya begitu.
Aku bisa saja buat cerita ini tanpa konflik lagi 🤧. Misal Naura menikah dengan Raka, Naura melahirkan baby nya dan kakaknya Theresia menyesal 😯. Udah, kurasa gak ada konflik lagi yang artinya cerita nya tamat sampai disitu 😂😁. Ye kan 😁
Dan ku apresiasi buat readers yang masih bertahan membaca cerita ini sampai part ini😘😘. Terima kasih sudah menyemangati 🤗🤗.
Selamat membaca ♥️♥️
[San Diego, California]
Cklek!
Pintu bercat koral itu terbuka lebar. Muncul seorang wanita paruh baya bertubuh tambun, dengan perawakan khas bangsa Amerika latin serta berpakaian khas maid, mendorong troli makanan, berjalan pelan ke sudut kamar.
“Selamat malam, Nyonya,” sapanya begitu hangat dengan berbahasa Inggris fasih. Senyum khas ramah wanita latin itu menghiasi belah bibirnya sembari memindahkan makanan di troli ke atas meja sofa.
Kemudian wanita paruh baya itu menatap sosok yang hanya diam saja--bagai patung--di atas tempat tidur, pandangannya begitu kosong menatap inkubator tak jauh darinya. Badannya begitu kurus dan pucat. Banyak lebam di tubuhnya.
Semenjak tuan mudanya membawanya tiga hari yang lalu, belum pernah ia melihat wanita muda ini tersenyum. Justeru sebaliknya, sosok manis ini terus berontak meski tak mengeluarkan suara. Menghancurkan semua benda di kamar ini serta berkelahi dengan tuannya. Hingga akhirnya, karena kewalahan menghadapi sikapnya, tuannya memilih mengikat tangannya di tiang tempat tidur. Barulah hari ini---setelah dirasa agak tenang, tuannya melepaskan ikatan tangannya.
Dan untuk pertama kalinya, sebelum masuk tadi dirinya mendengar suara sosok manis ini berdialog--yang tidak ia pahami bahasanya--pada bayi lemah di dalam inkubator itu.
“Nyonya, waktunya makan malam,” ujarnya hati-hati. Menghela napas. Wanita paruh baya ini begitu prihatin terhadap sosok manis ini.
“Nyonya, makanlah walau hanya sedikit saja. Sedikiiit saja,” bujuknya. Sudah tiga hari sosok manis ini belum makan apa-apa. Setidaknya perutnya terisi dengan makanan, bukan hanya angin saja. Kalau tidak ada infus sebagai pengganti nutrisi makanannya, sudah berkali-kali wanita muda ini pingsan.
“Aku tidak lapar.” Untuk pertama kalinya Naura berbicara padanya dan itu pun dengan nada marah.
“Tapi Nyonya---"
“Pergilah!”
“Nyonya---”
“Katakan saja pada tuanmu, aku tidak sudi makan. Aku hanya ingin pulang. Kau mengerti?!”
Ya. Naura hanya ingin pulang kepelukan Raka, bukan di tempat asing seperti ini.
Kenapa pria itu tega menculiknya.
Yang lebih menyakitkan lagi, mengirimkan pesan mengecewakan pada Raka. Seolah-olah pesan itu dirinya-lah yang mengirimkannya. Ya, Tuhan! Raka mungkin percaya akan pesan yang dikirimnya itu.
Jujur. Meski dirinya meminta memundurkan jadwal pernikahan mereka, itu disebabkan hatinya belum siap. Hatinya masih terguncang.
__ADS_1
Katakanlah ia memang cengeng dan lemah. Itu karena jiwanya yang tidak stabil saat melahirkan, ditambah lagi dengan masa lalunya yang tidak mengenakkan, serta rasa bersalah terhadap bayinya. Makanya ketika kakaknya menyindirnya ia tidak melawan. Dan Theresia mengambil keuntungan dari kelemahannya ini.
Tetapi, jauh dari itu. Dirinya tidak pernah terbersit untuk meninggalkan Raka seorang diri. Ia mencintai Raka. Raka adalah segalanya. Sama seperti bayinya.
🍃Dear, My Baby🍃
“Tuan muda, Nyonya kembali tidak mau makan.”
Pria muda dengan postur tubuh tinggi tegap. Menghadap ke jendela, pandangannya begitu tajam menatap langit malam kota San Diego, kota kelahirannya. Sementara sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana chino-nya, sedang tangan lainnya memegang vaping.
Terdiam sejenak mendengar pemberitahuan dari kepala pelayannya - Ny. Deborah. Seorang wanita Amerika latin yang berkulit hitam. Bila mengingat postur tubuh Ny. Deborah, mengingatkannya pada pemandu acara talk show terkenal di dunia, Oprah Winfrey. Kembali ia mengisap vaping dengan aroma buah melon. Asap putih pekat berbau khas itu keluar dari celah mulutnya ketika ia mengembuskannya.
“Mungkin Ny. Deborah terlalu lembek memaksanya,” ujarnya dingin. Membalikkan badan. Meletakkan vaping-nya ke atas meja dan meneguk minuman favoritnya. Kopi hitam. Mengernyit samar kala rasa kopi hitam itu sedikit berbeda dari kopi hitam yang biasa diminumnya. Akan jadi berbeda bila yang membuatnya bukanlah Naura---sosok manis pengisi hatinya. Yang menjadi obsesinya sekarang ini.
“Maafkan saya, Tuan muda.” Ny. Deborah membungkuk. Mengakui kesalahannya.
“Pergilah, aku mengerti!” usir pria ini dingin seraya meletakkan gelas kopinya.
“Terima kasih, Tuan muda.”
Setelah pintu ruang kerjanya tertutup rapat. Pria muda itu mengitari meja kerjanya. Duduk di kursi kebesarannya. Membuka laci dan mengambil kartu undangan pernikahan--didapatinya dari tangan salah satu bodyguardnya ketika memeriksa tas Naura--tertera di sana namanya sebagai tamu undangan.
[Richard Park & Partner]
Sudut bibirnya menyeringai tipis. Setidaknya besok takkan terjadi hari bahagia itu. Kembali ia mengingat kejadian di rumah sakit tiga hari yang lalu ....
Lama ia berdiri di ujung lorong rumah sakit. Menatap hampa pada pintu yang tertutup rapat kamar inap bersalin. Sebelumnya, ia mendapatkan SMS dari seseorang yang dirahasiakan keberadaannya. Memberi tahunya, bahwa Naura telah melahirkan seorang bayi laki-laki.
*Richard* menengadah. Menatap pintu kamar inap yang terbuka. Raka keluar dengan wajah kusut. Terus diperhatikannya Raka hingga menghilang di balik lorong. Kemudian memberi kode pada beberapa pria berjas hitam di sudut ruangan. Segera beberapa pria berjas hitam itu berdiri di depan pintu kamar inap Naura.
Hanya butuh lima belas menit bagi dirinya untuk memastikan bahwa lorong rumah sakit ini aman. Serta menyuap kepala keamanan untuk memuluskan rencananya dengan memanipulasi CCTV dan membuat perawat yang berjaga sibuk.
*Richard* tersenyum menatap punggung lemah Naura yang bergetar. Sosok manis itu menangis memperhatikan bayi lemah dalam inkubator itu.
“Naura,” panggilnya serak.
Degh!
*Naura membeku sesaat. Mengerutkan dahi.*Richard?
Ia pikir yang membuka pintu tadi itu Raka. Naura berbalik. Kembali dahinya berkerut manakala memperhatikan penampilan Richardberpakaian serba hitam. Serta di belakangnya beberapa pria berpakaian jas---ia hitung, sepuluh pria? Atau bisa jadi lebih?
Naura menggigit bibir ketika matanya bertemu dengan mataRichard. Tatapannya sungguh berbeda dari tatapannya terakhir kali bertemu dengannya.
“Ck! Sungguh malang nasibmu, Baby Boy.” Komentar Jongin mendekati bayi dalam inkubator itu. Kemudian memberi kode pada beberapa pria yang berdiri di ambang pintu. Dalam sekejap mata, beberapa pria sangar bergegas mendekati inkubator.
“Apa yang kalian lakukan!” Naura memekik ketika beberapa pria sangar itu mendorong inkubator bayinya. Menjauhkan darinya---tidak lebih tepatnya membawa bayinya pergi dari ruangan ini dan menukarnya dengan inkubator kosong.
“Tolong, suster, dokter!!” Naura berteriak, terlalu jauh menuju bel darurat di atas tempat tidur, Naura meraba telepon pintar di dalam sakunya. Menelepon Raka serta berusaha menghalangi beberapa pria yang berusaha membawa inkubator bayinya. Bila terus begini. Ia tidak bisa menyelamatkan bayinya seorang diri.
“Huks ... Maafkan aku Raka, Baby Yukhei ... kembal---lepaskan aku, bedebah!” Naura berontak ketika dua pria sangar menahan tubuhnya. Memegang tangan kiri dan kanannya---bersamaan sambungan teleponnya terputus di tengah pembicaraan tadi. Dan Smartphone-nya dirampas oleh salah satu pria yang memeganginya.
__ADS_1
“Kembalikan bay---” Seketika Naura tak sadarkan diri saat salah satu pria yang memeganginya menutup mulutnya dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius.
“Maafkan aku, Na,” bisik Richardmengambil alih tubuh Naura kepelukannya. Menggendong bridal style tubuh Naura. Bergegas melangkah pergi. Menyuruh beberapa bawahannya untuk mengulur waktu Raka sampai kemari.
“Jet-nya sudah disiapkan?” tanyanya pada salah satu pria di sampingnya.
“Siap, Tuan muda.”
..........
.......
.....
Richard tersenyum akan skenario penculikannya. Sempurna. Ia telah mengundurkan diri dari perusahaan lamanya. Takkan ada yang curiga padanya. Selain itu, semakin sempurna skenarionya dengan mengirimkan pesan pada Raka melalui smartphone Naura sendiri. Seolah-olah, Naura-lah yang mengirimkan pesan itu pada saingannya. Kemudian menghancurkan benda elekronik tersebut tak berbekas sebelum Raka melacak keberadaan telepon pintar itu.
Awalnya ia ingin menculik Naura hari ini. Karena besok adalah hari pernikahan Naura bersama Raka. Tetapi, rencananya sedikit meleset dan justeru terlihat tampak alami. Tanpa disangkanya, Naura melahirkan lebih cepat dari yang diprediksinya. Dan itu karena campur tangan pihak ketiga.
🍃Dear, My Baby🍃
[Maafkan aku, Raka. Setelah kupikir lagi. Aku tidak bisa ... bersamamu. Aku menyerah. Biarkan aku hidup bersama bayiku. Dan kau hidup bersama kak Tere.]
Untuk kesekian kalinya, tanpa bosan Raka membaca pesan dari belahan jiwanya.
Ya. Belahan jiwanya, kini pergi membawa separuh jiwanya. Tidak, ia rasa bukan lagi separuh jiwanya, lebih dari separuh jiwanya. Karena Naura membawa serta bayi mereka pergi.
“Kenapa kau lakukan ini padaku, Na.” Raka menghela napas panjang. Termenung di sisi tempat tidur. Menatap hampa kamarnya. Perlahan jemarinya mengusap tempat tidurnya. Tempat di mana ia berbagi kehangatan pada kekasihnya.
Ini hari ketiga kepergian Naura dan bayinya dari sisinya. Selama itu pula, ia belum menemukan jejak Naura di mana pun. Di hari pertama kepergian Naura, ia telah menjelajahi seluruh pulau Jeju, mengerahkan seluruh detektif dan bodyguard terbaik di pulau ini untuk membantunya. Tak luput untuk memeriksa CCTV rumah sakit. Tapi hasilnya membuatnya kecewa. Sungguh aneh. Seolah Naura tak pernah keluar dari ruangan inapnya.
Di hari kedua ia memperluas pencarian. Hingga seluruh Korea. Namun, tetap saja ia tak menemukan jejak Naura. Tak kehabisan akal ia pun melacak melalui smartphone Naura--terakhir kalinya mereka berkomunikasi--hingga melacak dari sosial media yang digunakannya. Sahabat dan kenalan Naura pun tak luput dari interogasinya.
Hasilnya tetap nihil, seolah Naura benar-benar tenggelam dari dunia ini.
“Di mana kalian sekarang ini? Apa kalian baik-baik saja?” Raka menggumam serak, mengelus foto di dalam gawainya. Sempat diabadikan foto Naura---sedang memperhatikan bayi mereka di inkubator. Satu-satunya foto Naura bersama bayi mereka.
Satu penyesalannya. Kenapa di malam itu ia membiarkan Naura sendirian. “Ah, aku benar-benar bodoh” Raka mengacak rambutnya.
Mengembuskan napas. Meletakkan kembali gawainya ke atas nakas. Membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. Meski tubuhnya berteriak lelah, namun pikirannya seolah tidak mau berkompromi. Meletakkan lengannya di atas kepala, menutupi wajahnya---tidak, lebih tepatnya menyembunyikan cairan bening yang mulai terlihat di sudut matanya. Hatinya seakan ditusuk ribuan jarum. Bila memikirkan esok hari ....
Sungguh Raka tak sanggup untuk membayangkannya. Seharusnya besok adalah hari yang paling dinantikannya seumur hidup, kini menjadi hari yang paling tak diinginkannya. Seakan itu adalah mimpi buruk - paling buruk dalam hidupnya. Dulunya, ia sangka putus dari Naura adalah hari paling buruknya, tetapi besok lebih buruk dari itu.
“Arrrgh!” Raka berteriak teredam. Membenamkan sebagian wajahnya ke bantal. Berulang kali memukul-mukul sisi tempat tidur. Menyesali tindakan Naura. Kenapa harus menyerah di saat mereka sedikit lagi akan meraih kebahagiaan.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1