Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
45| Hanya Bersabar Sedikit Lagi


__ADS_3


 


Kurang lebih sepuluh menitan pria paruh baya itu menghabiskan waktu hanya mondar-mandir dengan ekspresi campur aduk. Marah, bingung dan syok mendominasi perasaannya saat ini. Antara percaya dan tidak pada kejadian yang dialaminya sekarang ini.


Dihentikan langkahnya. Kemudian membalik tubuhnya, pandangannya segera tertuju pada sepasang anak cucu adam dan hawa; duduk di sofa panjang di ruang keluarga. Dan tak jauh darinya berdiri, sang istri---Cathie---duduk di sofa tunggal dengan wajah sembab serta kebingungan - tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya.


Andrew mengembuskan napas. Memijat dahinya yang berdenyut. Sepertinya setelah ini dirinya akan memeriksakan tensi darahnya karena kejadian bertubi-tubi ini. Ditatapnya  Raka dan Naura. Keduanya saling bergenggaman tangan, seolah takut akan dipisahkan. Bahkan Andrew dengan jelas melihat ekspresi wajah sang putra begitu serius. Dipancaran iris abu-abunya ia menemukan sebuah keyakinan yang begitu kuat, tidak goyah oleh apa pun. Seolah tiang besi yang begitu kokoh berdiri di pinggiran jalan. Tetap berdiri tegak meski pun ada badai, hujan dan angin menerpanya setiap saat.


Mata elang Andrew kini hanya tertuju pada Naura seorang - kini sepenuhnya menjadi pusat perhatiannya. Tak jauh berbeda dengan wajah Cathie. Wajah manis wanita muda ini begitu sembab. Tampak kedua pipi putihnya begitu merah. Serta iris cokelat beningnya memancarkan perasaan cemas.


Berulang kali Naura mengigiti bibir plumnya, berusaha menekan rasa takutnya. Buru-buru Naura menundukkan kepala, menatap ujung sandal berbulunya manakala matanya beradu pandang dengan mata dingin Andrew. Tak berani lagi wanita muda ini mendongak ke atas ketika Andrew memperhatikannya begitu lekat.


Samar dielusnya perut buncitnya. Dirinya tahu kedua mata pria paruh baya itu tertuju pada perutnya di balik jubah tidur kebesaran Raka yang dipakainya. Tak sempat lagi ia mengganti piyama hamilnya dengan gaun ketika mendengar suara ribut-ribut di lantai satu. Bahkan rambut almond panjangnya dibiarkan  saja tergerai - tak punya waktu untuk merapikannya.


“Apa benar yang dikatakan Naura, Raka. Kau bertanggung jawab padanya?”


Akhirnya Andrew membuka percakapan setelah sekian lama kebisuan mendominasi ruangan yang hawanya sedari tadi terasa panas dan mencekam. Ditatapnya secara bergantian Raka dan Naura seraya bersidekap. Kedua alisnya bertautan kala memperhatikan perut buncit Naura sambil berpikir. Beberapa pertanyaan telah tersusun apik di kepalanya. Siap untuk dikemukakan pada dua orang berbeda jenis kelamin ini.


Andrew tidak menyangka Naura bisa hamil. Bukankah wanita muda ini bilang dirinya tidak bisa hamil? Lalu ... siapakah ayah dari bayi yang dikandungnya? Benarkah putranya yang menghamilinya? Bukankah selama ini mereka sudah putusan? Apakah mungkin mereka berdua melakukan backsreet?


Astaga! Andrew menarik napas dalam-dalam. Memijat tengkuknya yang terasa kebas - bagai kepalanya dihimpit dengan besi baja yang beratnya berton-ton. Sungguh ia butuh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya itu.


Raka menarik napas dalam-dalam. Tangannya semakin erat menggenggam tangan sang kekasih. Tampak begitu dingin dan bergetar dalam genggamannya. Lewat gerakan tangannya, dirinya berusaha memberikan kode bahwa semua akan baik-baik saja.


“Jadi, alasan kau memutuskan pertunanganmu dengan Thesa karena ingin bertanggung jawab dengan Naura?” tanya Andrew untuk kedua kalinya kala Raka belum juga membuka mulutnya. Seolah ingin meyakinkan telinganya sendiri atas pernyataan Naura sepuluh menit yang lalu.


“Seperti yang Daddy lihat,” jawab Raka ringan sambil mengangkat bahu. Suaranya tampak tegas. Dalam nada suaranya yang begitu serak tak ada keragu-raguan yang terdengar di telinga Andrew.


“Ya, Tuhan!” Andrew mendesah. “Jadi, anak yang dikandung Naura itu anakmu, begitukah?” untuk kesekian kalinya Andrew meyakinkan hatinya sendiri.


Raka mengangguk mantap dan dengan tegas menjawab, “ya, anakku.”


Rahang Andrew mengeras mendengarnya. Hampir saja ia pingsan kalau tidak sang istri dengan tanggap membimbingnya. Duduk di sofa seraya mengelus lengannya. Menenangkannya. Kali ini Andrew sepertinya benar-benar yakin apa yang didengar langsung oleh telinganya. Dan sama seperti Andrew. Cathie juga tampak terkejut. Akan tetapi ... tak ada yang memperhatikan wajahnya, samar sudut bibirnya terangkat ke atas tersenyum tipis mendengar Naura hamil anak dari putranya.


“Bukankah kau bilang kau tidak bisa hamil, Naura? Lalu apa ini?” Andrew beralih bertanya pada Naura. Tatapannya begitu sengit.

__ADS_1


“Iya, Om. Tapi, tidak seratus persen aku dinyatakan tidak bisa hamil oleh dokter. Memang kalau hamil secara alami aku takkan bisa. Tetapi kata dokter, karena aku mengalami sindrom MRKH (Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser), maka aku bisa hamil melalui inseminasi buatan. Dengan menanamkan ****** ke dalam rahimku.”


Andrew mendadak diam. Bibirnya terkunci rapat. Mendengar penjelasan Naura, seketika membuat Andrew merasa ditampar tak kasat mata oleh kekuatan super besar. Bahkan membuat telinganya berdenging kuat. Diakuinya selama ini ia salah bersikap. Tidak seharusnya ia membuat keputusan yang salah. Seolah memvonis Naura tidak bisa memberikan putranya keturunan, dirinya dengan sengaja menyuruh sang putra memutuskan wanita muda ini.


“Terus kau meminta Raka menanamkan benihnya padamu, begitu?” tanya Andrew. Seolah tidak puas dengan kenyataan yang ada, pria paruh baya itu berusaha mengorek keterangan dari Naura. Mencari kesalahan wanita muda ini. Ia yakin, Naura pasti merengek-rengek meminta benih dari putranya dengan tujuan agar mereka balikan lagi.


“Daddy salah.” Raka yang mengambil alih menjawab pertanyaan Andrew menggantikan kekasihnya. Ia tidak bisa diam saja kekasihnya dipojokkan oleh Andrew.


“Salah?” Andrew menaikkan sebelah alisnya. Menatap wajah kusut Raka. Ia yakin, sang putra sedang mengalami persoalan yang begitu berat hari ini, ditambah lagi dengan beberapa pukulan darinya. Selalu begini, usai melakukan kekerasan pada Raka, akan timbul penyesalan di dalam hatinya. Terlebih bila melihat cap tangannya di pipi sang pemuda ini.


“Ya. Naura tidak pernah meminta apa pun padaku. Justeru sebaliknya, akulah yang setuju menanamkan benihku padanya. Bahkan saat tahu aku yang menanamkan benihnya, Naura menolak keras. Bahkan ia berusaha untuk membesarkan calon anakku sendirian tanpa adanya andil dariku.”


“Oh, ya?” Sudut bibir Andrew terangkat ke atas, tersenyum sinis. Ia tak yakin dengan pernyataan sang putra. Bisa jadi apa yang diucapkan oleh Raka hanyalah sebuah kamuflase untuk melindungi sosok manis ini.


“Tentu. Kalau Daddy tidak percaya, Daddy bisa telepon Neil. Neil-lah dokter yang selama ini menangani proses inseminasi Naura. Serta Neil juga-lah yang memintaku menyumbangkan benihku pada Naura.”


Andrew kembali terdiam mendengar penjelasan Raka. Kali ini tidak ada lagi senyuman sinis yang ditampilkan di wajah tuanya. Tetapi ia juga tidak menampakkan persetujuan dari pernyataan Raka. Pria paruh baya ini menarik napas dalam-dalam dan diembuskannya secara perlahan, seraya berusaha menenangkan rasa gemuruh di dadanya.


“Lalu, kenapa kau menyetujui proposal dari Neil bila kau sendiri sudah punya tunangan?”


“Tentu saja karena Raka masih sangat mencintai Naura, Daddy. Asal Daddy tahu, aku bertunangan dengan Thes--- maksudku Theresia karena Daddy memaksaku. Andaikan Daddy tidak memaksaku, mungkin Raka sudah menikah dengan Naura.”


“Daddy akui itu. Tapi ... coba pikirkan posisi Daddy juga, Raka. Daddy ingin punya keturunan darimu. Sementara Naura tidak bisa memenuhinya,” sahut Andrew setelah menyingkirkan masalah soal nama Thesa. Mungkin saja Raka salah sebut nama gadis itu.


“Itu karena Daddy tidak sabar. Masih banyak kok diluaran sana yang bahkan bertahun-tahun menikah belum dikaruniai anak. Mereka fine-fine saja.”


Andrew hanya mengangkat bahu tidak menampik ucapan putranya. “Kau benar. Tetapi Daddy tidak bisa menunggu terlalu lama, Raka. Mungkin kau bisa bersabar bertahun-tahun. Tetapi Daddy tidak bisa. Bayangkan olehmu, umur Daddy sudah tua. Mau berapa lama lagi Daddy menunggu kau punya anak?” Andrew tak mau kalah berdebat.


“Sebagai Ayah dan kepala keluarga, Daddy hanya ingin yang terbaik buatmu. Salahkah bila Daddy bertindak demikian?” imbuh Andrew.


Kali ini Raka yang terdiam. Begitu pula dengan Naura. Ia juga tidak bisa menyalahkan siapa pun. Ucapan Andrew memang benar. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Termasuk dalam memilih pasangan hidup dan penerus keluarganya.


Samar Naura mengelus perut buncitnya. Sebentar lagi dirinya pun akan merasakan menjadi orang tua. Dan ia rasa, ia pun akan bertindak seperti itu. Menginginkan yang terbaik buat buah hatinya.


“Sebaiknya kita sambung besok pagi saja pembicaraannya. Kurasa tidak akan selesai malam ini pembahasannya.” Cathie menyela pembicaraan serius antara ayah dan anak ini.


“Kita juga butuh istirahat,” imbuh wanita paruh baya ini.

__ADS_1


Cathie tidak bohong. Dirinya sungguh benar-benar lelah. Selain pikiran, tenaganya juga terkuras habis dalam perjalanan dari Indonesia menuju pulau Jeju. Usai mendapatkan kabar dari calon besannya - lebih tepatnya mantan calon besannya, Mr. Brown. Dengan emosi yang begitu memuncak Andrew segera mengajaknya terbang ke pulau Jeju. Untuk memastikan sendiri kabar kebenarannya.


Dan sungguh diluar dugaannya, dirinya akan mendapati Naura di rumah ini dalam keadaan berbadan dua. Selama ini sang putra tidak pernah bercerita soal kehamilan wanita muda ini. Raka hanya menceritakan ia kembali menjalin kasih dengan Naura. Kemudian Cathie melirik jam elektrik yang menempel di dinding, menunjukkan hari sudah semakin larut.


“Yang dikatakan Mommy benar, Daddy. Hari sudah sangat malam. Kalian pasti lelah melalui perjalanan jauh.” Raka menambahi kata-kata ibunya. Sungguh, ia mencemaskan kesehatan kedua orang tuanya. Selain itu, dirinya juga mencemaskan keadaan kekasihnya dan kehamilannya.


Andrew menarik napas dalam. Ditatapnya satu-persatu wajah ketiga orang di ruangan ini. Eskspresi mereka menampakkan kelelahan.


“Baiklah, Daddy setuju. Kita sambung besok pagi. Kau berhutang banyak penjelasan pada Daddy, Raka.” Andrew berdiri dari duduknya. Sebelum beranjak ke kamar, ia melirik wanita muda ini. Tak ada ekspresi apa pun di wajah pria paruh baya ini ketika matanya bertemu dengan iris cokelat Naura. Bahkan dirinya tidak membalas senyum tipis Naura padanya.


Naura kembali menunduk. Hatinya berdenyut sakit. Sikap dingin Andrew kembali mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam, kala mengetahui dirinya tidak bisa hamil.


Dan kali ini apakah Andrew akan merestui hubungannya dengan Raka setelah tahu dirinya bisa hamil?


“Kau baik-baik saja, Naura?” tanya Cathie ketika Andrew telah pergi dari ruangan.


Naura hanya bisa mengangguk canggung. Ditatapnya wajah menua Cathie. Meski umurnya sudah tidak muda lagi, wanita paruh baya ini masih tampak begitu cantik. Bahkan tidak berubah. Tetap sama ketika terakhir kalinya mereka bertemu.


“Astaga, sungguh Mommy tidak bisa percaya. Kalian balikan dan memberikan kejutan seperti ini. Kau akhirnya bisa hamil Naura,” seru Cathie antusias. Berbanding terbalik dengan sikap suaminya. Cathie begitu senang mengetahui Naura hamil, apalagi itu anaknya Raka.


Baik Raka dan Naura tersenyum bahagia melihat reaksi Cathie. Keduanya begitu lega. Setidaknya meski Andrew bersikap dingin, Cathie tidak demikian. Seolah mereka punya pendukung.


Dan dengan adanya Cathie merestui hubungan mereka, mungkin akan menular pada Andrew. Lambat laun pria paruh baya itu juga akan merestui mereka berdua. Mereka hanya perlu sedikit bersabar lagi, menunggu waktu yang tepat.


Ya. Hati orang siapa yang bisa menduga. Mungkin malam ini hati Andrew sekeras besi baja. Siapa tahu besok pagi selembut buih di lautan.



 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2