Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
41| Dua Nama Satu Orang


__ADS_3


Entah berapa lama sosok manis ini diam berdiri. Seolah tak mempedulikan waktu yang terus bergulir. Seolah tak peduli pada rasa lelah yang menggelayuti kakinya. Seolah tak peduli pada bau obat-obatan yang menyengat hidungnya. Seolah tak peduli pada hilir mudik beberapa perawat di sekitarnya.


Irisnya hanya terpaku pada sosok lemah di atas tempat tidur dengan selang infus melilit di pergelangan tangannya. Kelopaknya dengan setia menutupi kedua belah mata itu.


Kenapa jadi begini, batin Naura. Tangannya terkepal erat di dalam saku coatnya. Pandangannya menyayu. Ekspresi penyesalan dan kebingungan memenuhi wajah manisnya.


"Baby." Raka menepuk lembuk pundak kekasihnya. Menyadarkan dari rasa terpakunya.


"Duduklah dulu, Na. Sekalian ada yang ingin kubicarakan padamu soal---” Ditatapnya sejenak wajah Thesa. Lalu mengembuskan napas pendek. “---Thesa," sambung pria ini sembari menuntun kekasihnya.


"Sebaiknya kita bicara di luar saja," imbuh Raka. Mata elangnya menatap sekilas pada dokter bername-tage  Claudia Kim di jas dokternya. Membiarkan dokter wanita itu memeriksa mantan tunangannya. Sementara ia segera membawa kekasihnya keluar.


"Kau tidak perlu cemas terhadapnya." Raka kembali berkata setelah mereka duduk di kursi tunggu rumah sakit. Sekali lagi pria muda ini mengembuskan napas pendek. Kembali meneruskan penjelasannya.


"Sebenarnya Thesa memang punya penyakit jantung lemah semenjak dari kecil. Itu kata Mr. Brown saat mengenalkannya padaku. Katanya pula Thesa sering pingsan. Aku sendiri baru melihat Thesa pingsan sekarang ini," aku Raka jujur.


Ya. Mana tahu dia keadaan Theresia yang sebenarnya. Setelah mereka bertunangan dan memutuskan hubungannya dengan Naura saat itu ia segera pergi ke luar negeri. Menetap di sana selama dua tahun lebih untuk menyembuhkan luka hatinya. Dan hanya Theresia-lah yang sering mengunjunginya. Itu pun ia selalu bertindak acuh dan tak peduli pada gadis itu.


"Kak Tere punya riwayat sakit jantung lemah sedari kecil?" ujar Naura nyaris bergumam. Dari nada bicaranya sosok manis ini tidak bisa mempercayainya.


Enggak mungkin, sangkal Naura dalam hati setelah mendengar penjelasan Raka. Ia sangat mengenal Theresia. Gadis itu sangat sehat sekali. Bahkan ketika dia dan Theresia di panti asuhan. Gadis itu sering membuat onar. Sering mengganggu anak-anak panti lainnya. Sering merampas mainan anak-anak lainnya.


Jadi dari mana mungkin Theresia mendapatkan sakit jantung lemah?


Kecuali kak Tere berbuat licik demi ... ya, Tuhan! Naura tercekat sendiri dengan pemikirannya. Bukan tidak mungkin sosok manis ini berpikir demikian. Sebab ia sangat tahu sifat keras kepala Theresia. Menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan keinginannya.


Naura ingat ketika seminggu dia dan Theresia di panti asuhan. Theresia sudah membuat anak seumurannya masuk rumah sakit dengan cidera patah tulang akut. Gadis itu mendorong anak itu hingga jatuh dari tangga hanya demi mendapatkan boneka di tangannya.


Dan bukan hal yang mustahil pula Theresia berbuat nekad dengan berpura-pura sakit demi mendapatkan Raka di sisinya.


"Na." Raka meraih tangan Naura dan menggenggamnya dengan erat. Iris abu-abunya memancarkan perasaan yang mendalam dan penuh harap pada sosok manis ini.


"Soal aku dan Thesa sudah berakhir. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Sekali lagi maafkan aku. Sebelumnya aku tak jujur padamu." Lagi Raka harus berkata jujur dan mengakui kesalahannya.


Naura diam tak menyahut. Ia hanya tertunduk. Perasaannya campur aduk.


"Memang awalnya Thesa adalah tunanganku. Kau tahu penyebab kita putus? Kenapa tiba-tiba aku memutuskanmu?"


Lagi Naura hanya bergeming. Ingatannya segera melayang pada kejadian dua tahun lebih. Tanpa ada angin dan hujan, tiba-tiba saja Raka memutuskan hubungan mereka setelah melakukan kencan indah.


Raka mendesah pendek. Diacaknya rambutnya menjadi sangat berantakan. Sungguh tidak disangka masalahnya akan jadi serumit ini setelah ia memutuskan pertunangannya dengan Theresia.


"Itu penyebabnya karena Daddy memaksaku untuk bertunangan dengannya. Ia menyuruhku meninggalkanmu dengan menjadikan Mommy sebagai ancaman untukku. Dan kurasa kau tahu alasan terbesar Daddy menyuruhku bertunangan dengan Thesa, Na," jelas Raka jujur.


Ya. Tentu saja Naura tahu. Semua itu karena masalah keturunan. Siapa yang mau menghabiskan waktu sia-sia dengannya tanpa bisa memberikan keturunan. Mungkin juga itu yang dipikirkan oleh Mr. Andrew dan Raka sendiri. Naura tidak bisa menyalahkan keduanya sepenuhnya.


Sebagai manusia normal, bohong dan terlalu munafik bila menikah tidak menginginkan keturunan. Siapa pun tentu ingin punya keturunan untuk meneruskan silsilah keluarga. Hanya saja ... bila saja mereka bisa sedikit bersabar tentu semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Ya. Hanya perlu bersabar sedikit lagi. Tentu akan ada jalan.


Bukankah Tuhan juga memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk terus bersabar dalam mencari rahmatnya?


Di balik penderitaan pasti ada kebahagiaan. Dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Semuanya sudah diatur. Dan buktinya sekarang ia bisa hamil. Itu pun benih dari Raka sendiri dengan melalui perantara sahabat mereka sendiri, Neil.


"Dan sekarang kau tak perlu mencemaskan semuanya, Na." Sayup suara bass Raka merangsek masuk ke telinga Naura. Menghancurkan lamunannya seketika. "Percaya padaku. Hubungan kami sudah berakhir. Yang aku inginkan hanya bertanggung jawab padamu dan anak kita."


Naura mengembuskan napas pendek. Ia tak bisa berkomentar apa pun. Ia bingung bagaimana mengambil sikap selanjutnya. Keraguan kembali memenuhi pikirannya. Apalagi melihat Theresia terbaring lemah seperti itu. Dan jauh di lubuk hatinya ia juga meragukan sikap Theresia.


"Sudah kukatakan tidak perlu kau memikirkannya, Na." Raka berkata seolah bisa membaca jalan pikiran kekasihnya saat ini. Berusaha meyakinkan hati yang mulai ditumbuhi keraguan pada sosok manis ini.


"Yang sekarang kau pikirkan adalah fokus saja sama kelahiran anak kita dan pernikahan kita. Oke?" Raka menggenggam begitu erat tangan Naura. Di dalam hatinya penuh dengan harapan terhadap keputusan sang kekasih.


"Na, tolong bicara," lanjut Raka dengan hati gelisah. Sedari tadi Naura belum sama sekali membuka mulutnya.

__ADS_1


"Entahlah, Dear. Aku ... aku ..." Naura tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya dikala hatinya dipenuhi rasa bimbang. Bibirnya bergetar berusaha menahan rasa sesak di dada dan cairan bening yang tertahan di pelupuk matanya.


Seolah mengerti apa yang tengah dirasakan kekasihnya, segera Raka memeluk tubuh berisi Naura. Mendekapnya dengan erat.


"Gwaenchana (tidak apa-apa). Tak usah dijawab bila memang berat untuk saat ini. Tapi kumohon satu hal padamu. Jangan bertindak gegabah. Pikirkan masa depan bayi kita, oke?" bisik Raka serak di telinga Naura.


Samar sosok manis ini mengangguk. Ia butuh ketenangan untuk menjawab ucapan Raka. Benar apa yang dikatakan oleh kekasihnya. Ia tidak bisa bertindak atas emosinya sesaat. Ia tidak mau menyesal seumur hidup hanya karena salah memilih keputusan. Yang dipertaruhkan di sini bukan hanya menyangkut dirinya saja, tapi yang sangat penting bayi di dalam perutnya.


Setelah dirasa tenang, Raka melepaskan pelukannya. Dielusnya wajah memerah Naura yang berusaha menahan tangis. Kemudian melayangkan kecupan ringan di dahi sosok manis-nya.


"Dan katakan padaku, ada hubungan apa kau dengan Thesa, Baby? Kenapa kau memanggilnya Tere? Bukankah namanya Thesalia Brown?" tanya Raka begitu hati-hati dan penuh penasaran.


Naura meremat ujung coatnya. Memejamkan matanya sekilas. Sudah saatnya membuka rahasianya yang lain pada kekasihnya.


"Sebenarnya ... Thesa itu adalah kakak kandungku. Nama aslinya Theresia Almira Atmajaya. Biasa aku memanggilnya, Kak Tere."


"Benarkah? Astaga!" Seketika Raka membeliak. Begitu terkejut. Nyaris ia tidak percaya dengan ucapan kekasihnya. "Kenapa bisa?"


"Panjang ceritanya, Dear."


"Ceritakan saja. Aku ingin mendengar semuanya," pinta Raka serius.


Pantas saja saat aku melihat warna mata Thesa, seolah aku melihat Naura. Ternyata keduanya memang memiliki hubungan darah. Ya, Tuhan. Sungguh tidak bisa dipercaya, lanjut pria muda ini dalam hati.


"Huft, baiklah,” sahut Naura. “Awal mulanya ... aku dan kak Tere ditinggalkan di panti asuhan. Kurasa kau juga tahu sebagian masa laluku, Dear."


"Ya, aku tahu itu." Raka mengangguk membenarkan. Ingatannya kembali melayang ketika Naura menceritakan asal usul dirinya.


"Kemudian setelah lima tahun kami berada di panti asuhan, ibuku datang menjemput kak Tere dan mengadopsinya bersama suami barunya, Mr. Brown. Dan baru saja kutahu kak Tere ternyata telah mengubah namanya menjadi Thesalia darimu. Dan setelah empat tahun berselang, ibu meninggal, lalu dua tahun kemudian aku pun keluar dari panti asuhan, kemudian setelahnya aku ..." Naura terdiam cukup lama.


"...mencoba mengajak kak Tere ikut bersamaku. Tapi kak Tere nggak mau. Dan mengatakan bahwa kami sudah enggak ada hubungan apa pun lagi," lanjut Naura dengan suara nyaris tenggelam. Tak sanggup membayangkan kembali masa lalunya yang begitu kelam.


"Dan itu mengapa kau tak pernah menceritakan soal kau bersaudara dengan Thes--- maksudku Theresia, pada siapa pun ... termasuk aku, karena permintaan dia sendiri, begitukah?"


"Ya, Tuhan!" Raka menggeleng. Ia tak menyangka ada manusia yang begitu kejamnya, tidak mau mengakui saudaranya sendiri hanya karena takut hidup sengsara. "Na---"


"Lepaskan aku, dokter. Mana Raka. Aku ingin dia! Rakaaa!!"


Pekikan dari kamar pasien membuat Naura dan Raka berdiri. Mereka menatap ke dalam ruangan di balik kaca pintu. Tampak Theresia mengamuk dan dipegangi oleh dokter Claudia. Menenangkannya.


Dan itu yang dikatakan sakit jantung lemah?


Sekuat itu berontak?


Seharusnya berbaring saja di atas tempat tidur bila memang sakit. Sungguh Naura tak habis dengan cara hidup kakaknya. Benar-benar mengikuti tingkah laku buruk ibu mereka. Sosok manis ini yakin, Theresia hanya berpura-pura pingsan demi mendapatkan simpati dari Raka.


"Mana Raka? Aku ingin melihatnya! Rakaaa." Kembali Theresia berteriak.


"Pergilah, Dear. Temui kak Tere." Naura menepuk lembut punggung tangan Raka. Wanita muda ini tahu kekasihnya tampak enggan untuk menemui Theresia.


"Dear?"


Raka mengembuskan napas pendek. Diacaknya rambutnya kembali. Sejujurnya. Ia sudah malas menemui gadis itu. Ia muak melihat tingkah perempuan itu. Semakin muak setelah mengetahui tidak mau mengakui Naura sebagai adiknya sendiri. Saudara macam apa itu.


"Ikut bersamaku, Na." Raka menarik tangan kekasihnya. Ya. Ia ingin menjelaskan pada Theresia soal hubungannya dengan Naura. Agar gadis itu sadar. Jauh sebelum dia bertunangan dengannya, dia dan Naura adalah sepasang kekasih.


"Kenapa, Na?" Dahi Raka berkerut manakala Naura menarik kembali tangannya hingga menahan langkahnya.


"Kurasa ... kau sendiri saja menemuinya. Aku tunggu di sini saja, Dear." Naura mencoba tersenyum, meski terlihat getir.


"Tap---"


"Kurasa kalian butuh waktu berdua untuk menyelesaikan urusan kalian tanpa aku ikut campur, Dear," jelas Naura. Raka diam sejenak.

__ADS_1


"Oke!” Raka mengngkat bahu.  “Dan tunggulah di sini, jangan ke mana-mana. Aku akan segera kembali." Raka melayangkan kecupan ringan di dahi Naura. Dengan langkah berat memasuki ruang inap.


Naura terduduk lemas setelah Raka masuk. Ingin rasanya lari dari kenyataan pahit ini. Bagai ada benang kusut yang membelenggunya. Mengikatnya bersama Raka dan Theresia. Semakin rumit dan membingungkan.


"Naura?"


"Ya?" Naura spontan menengadah. "Eh, Richard?"


"Kenapa ada di sini?" Richard menoleh ke samping. Kemudian mengangguk paham ketika melihat keadaan ruangan di sampingnya. "Aku tahu," lanjutnya.


"Gadis yang ada di dalam itu tunangan Raka." Richard duduk di samping Naura. Sosok manis ini menatap lekat Richard. Kedua alis simetrisnya bertautan.


"Dari mana kau tahu, Rick?" tanya Naura.


"Kau lupa? Selain bersahabat dengan Raka, keluargaku adalah mitra bisnis keluarga Raka. Saat Raka resmi bertunangan dengan gadis itu, aku ada di sana. Diundangnya."


"Oh." Naura hanya berkomentar pendek. Tampak begitu lesu.


"Tapi ... kenapa kau tidak menceritakannya padaku bila Raka sudah punya tunangan."


Apa kak Neil juga tahu soal Raka bertunangan? Tapi ... kalau kak Neil tahu. Mana mau dia memberikan ****** Raka padaku. Aku yakin, kak Neil tidak sejahat itu padaku. Aku percaya padanya. Juga ... kenapa Raka masih mau menyumbangkan ******-nya padaku bila dia sendiri sudah bertunangan.


Dalam hati Naura terus bertanya-tanya. Dirematnya ujung coat-nya bersamaan tubuhnya yang terasa menggigil. Selain cuaca yang sangat dingin menyapa kulitnya, hatinya pun ikut menjadi membeku hingga membuatnya menggigil hebat seolah orang yang terkena demam.


"Itu ..." Richard mengusap tengkuknya sekilas. Berpikir sejenak. "Aku bungkam karena tak ingin membuatmu patah hati."


Naura tertunduk. Itu memang benar. Seolah ia merasakan ada suara retakan kecil di dalam hatinya. Seakan kembali merasakan sakit untuk kedua kalinya ketika Raka pergi meninggalkannya.


"Na, kali ini tinggalkan saja Raka. Aku siap bertanggung jawab padamu. Dan apa lagi yang kau harapkan dari Raka? Ia sudah punya tunangan. Apa kau tega merusak pertunangan mereka? Apa kau mau bersikap egois?"


Degh!


Naura tersentak mendengar ucapan Richard. Ia semakin tertunduk. Perlahan buliran cairan bening mulai mengalir di sudut matanya. Hatinya begitu sakit, bagai ada sembilu yang mengirisnya. Pedih dan pilu.


Bersikap egois?


Merusak pertunangan Raka dan Theresia?


Lalu bagaimana dengannya? Calon anaknya? Rencana pernikahan mereka?


Egoiskah dirinya?


Kenapa selama ini dirinya yang harus mengalah dari Theresia?


Kenapa selama ini dia yang selalu menerima nasib buruk?


Kenapa?



====================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2