![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
“Eonnie, tuh lihat pelanggan setiamu.” Miura menyenggol lengan Miuna ketika mereka sedang berada di dapur restoran.
Seperti biasanya. Bila mereka tidak punya kegiatan, kedua gadis ini akan membantu apa pun di restoran milik orang tua mereka---terlebih pada musim liburan seperti ini. Memang sedari kecil keduanya sudah dibiasakan orang tua mereka untuk membantu di restoran. Toh, pada akhirnya salah satu kedua gadis ini jugalah yang akan meneruskan bisnis orang tua mereka.
Miuna menengadah. Iris hitamnya memperhatikan layar monitor CCTV di depannya. Tampak Mauriq sedang memesan menu kesukaannya. Sudah seminggu ini—semenjak pertemuan pertama mereka, Mauriq rajin makan di restoran. Terlihat garis tipis melengkung ke atas di bibir Miuna menghiasi wajah datarnya. Buru-buru Miuna menyelesaikan pekerjaannya - membilas piring kotor.
“Tiap hari makan di restoran. Apa tak takut uangmu akan habis?”
Mauriq mendongak. Tersenyum lebar menatap sosok yang menghuni hatinya selama dua minggu ini. “Demi melihat kamu, tak masalah bila uangku habis.”
“Tetap saja kan. Apa ibumu tidak memasakkanmu, eoh,” ujar Miuna ketus sembari menyilangkan kedua tangan di dada, berusaha menutupi pendaran merah merona di belah pipinya.
“Aku tinggal di sini dengan nenek dan kakekku. Nenekku mana bisa masak. Sedang keluargaku ada di Seatle.” Meski ada pembantu yang setiap hari memasak. Yeah, namanya juga usaha untuk mendekati orang yang kita suka.
“Um ... ma-maafkan aku.” Miuna memilin jemarinya, jadi menyesal mengatakannya.
“Tak apa---” ucapan Mauriq terputus ketika pesanannya datang. Dengan cekatan seorang pelayan menyajikan makanan di depan Mauriq. Sebelum berbalik pergi, pelayan itu sekali lagi melihat wajah Mauriq. Meski sudah tidak asing lagi dengan kehadiran Mauriq di restoran, tetap saja wajah Mauriq mampu membuat orang nyaris tidak percaya. Wajahnya sangat mirip dengan anak kedua dari pemilik restoran, nona Miura.
“Duduklah! Lebih baik kau temani aku makan.” Mauriq menepuk kursi kosong di sampingnya. “Walaupun kau sudah makan, setidaknya makanlah sedikit,” sambung Mauriq kala Miuna hendak protes.
Miuna menghela napas. Tanpa mengeluarkan suara lagi, dengan patuh duduk dan mencicipi lobster di depannya. Keduanya makan tanpa banyak bicara. Mauriq bersendawa. Seperti biasanya ia sangat puas makan, terlebih bila ditemani makan dengan orang yang kita sukai.
“Mana Miura?” tanya Mauriq usai menyeka sisa saus di sudut mulutnya. Sedari tadi ia tidak melihat Miura. Biasanya mereka berbincang bertiga. Saling melempar canda tawa satu sama lainnya---meski kebanyakan dialah yang berbicara.
“Di kamarnya. Mau kupanggilin?” Miura memang jarang bergaul dengan orang. Ia lebih suka menyendiri dan bermain game seharian bila tidak ada yang dikerjakannya di restoran.
“Tidak usah.” Mauriq menggeleng. “Una.”
“Panggil aku Noona.”
“Aku lebih suka memanggilmu Una, ketimbang Noona.”
“Tapi aku lebih tua darimu dua tahun.”
“Tidak masalah. Cinta tidak memandang usia.” Mauriq menatapnya begitu intens. Seketika wajah Miuna memerah. Ia tersipu.
“Kau punya waktu kosong sore nanti?” tanya Mauriq serius.
“Hum, kayaknya tak ada. Memangnya kenapa?”
“Berkencanlah denganku.”
🍃Dear, My Baby🍃
Usai makan malam Lucas dan Maura bersantai di balkon kamar Maura. Keduanya duduk bersandar di dinding sembari menatap langit malam tanpa bintang. Sangat gelap dan sepertinya akan turun hujan.
“Merapatlah dengan Kakak, Maura,” ujar Lucas saat mendengar desisan samar keluar dari belah bibir Maura. Meski keduanya memakai pakaian tebal, tetap saja angin malam mampu menembus pakaian mereka.
Maura mengangguk dan menggeser tubuhnya lebih mendekat ke Lucas. Tanpa canggung Lucas memeluk Maura dan menempatkan kepala gadis itu di dadanya. Usai mengetahui isi hati-hati masing-masing, keduanya jadi semakin dekat.
Seperti biasa. Mereka hanya diam dan saling berpelukan seperti ini. Seolah menikmati waktu---entah sampai kapan bisa seperti ini lagi.
“Kak Yukhei ...”
“Jangan katakan apa pun.” Lucas berucap serak. Sangat memahami kegelisahan Maura. Sama sepertinya. Ia pun sama tersiksanya dengan Maura karena perasaan terlarangnya ini.
Maura hanya menganggguk kecil. Semakin memeluk erat tubuh Lucas. Ia menggigit bibir. Tak mampu menutupi rasa sakit di hatinya. Ia tidak sekuat Lucas. Pada faktanya mereka tetap tidak bisa mengingkari kenyataan. Mereka bersaudara. Ah, kenapa cinta datang pada tempat yang salah.
“Bagaimana kalau kita menonton film di bioskop, Maura?” tanya Lucas setelah lama mereka berdiam diri.
“Ide bagus.” Maura menyambut baik ide Lucas. Setelah dipikir, mereka memang belum pernah menonton film berdua di bioskop. Selalunya menonton dengan keluarga atau teman masing-masing. Lagipula untuk merayakan hubungan resmi mereka sebagai sepasang kekasih selama dua minggu ini.
__ADS_1
“Kapan mau pergi?” tanya Maura antusias.
Lucas terkekeh. Menyibak poni Maura dan mengecupnya. “Besok siang.”
🍃Dear, My Baby🍃
Keesokan harinya, ketika Raka membuka pintu kamar, didapatinya sang istri sedang berdiri di balkon. Naura tampak begitu lekat memperhatikan ke bawah. Entah apa yang dilihatnya. Bahkan saat Raka berdiri di belakangnya, Naura tidak menyadarinya.
Barulah Naura sadar saat merasakan panas di belakang tubuhnya. Raka memeluknya dari belakang dan menempelkan dagunya di atas bahunya.
Sekarang Raka tahu apa yang diperhatikan sang istri sedari tadi. Lucas dan Maura bermain kejar-kejaran di pinggir pantai menikmati udara segar di pagi hari. Kadang keduanya saling melemparkan air ke tubuh masing-masing dan saling bersenda gurau.
"Dear, coba perhatikan Lucas sama Maura." Naura menepuk lengan berotot Raka.
Raka balas menggumam.
"Kau lihat mereka, Dear. Aku merasakan ada yang aneh dengan keduanya," ungkap Naura jujur.
"Aneh bagaimana?"
"Ih, nggak peka banget jadi orang." Dengan kesal Naura mencubit lengan Raka. "Itu loh, bahasa tubuh mereka. Mereka seperti sepasang kekasih."
Itu memang benar. Sudah seminggu ini Naura merasakan ada yang beda dengan kedua anaknya. Dari cara mereka bersikap dan berbicara, jelas bukan menggambarkan hubungan kakak adik.
Raka diam. Sebenarnya dia sudah merasakannya, jauh sebelum Naura menyadarinya. Lucas menaruh hati lebih pada Maura.
"Ah, mungkin hanya perasaanmu saja, Baby." Raka mengelus pucuk kepala Naura. Tak ingin istrinya jadi memikirkan hal yang bukan-bukan.
"Omong-omong, apa dokter Mila sudah memberi kabar?" tanya Raka mengalihkan pembicaraan dan membalik tubuh Naura, berusaha menghalangi adegan di pinggir pantai. Lucas dan Maura saling berpelukan.
Oh, astaga! Kalau begini Raka berharap Maura bukan anak kandungnya---meski harus memungkiri perasaan sakit di hatinya.
Naura menghela napas. Memeluk erat tubuh Raka sembari menyesap aroma maskulin dari tubuh atletis-nya. Samar menjawab pertanyaan suaminya. "Belum. Katanya besok hasilnya baru keluar."
🍃Dear,MyBaby🍃
Menjelang sore, mobil sport lamborghini berhenti tepat di depan rumah kediaman keluarga Forrester. Lucas keluar dari pintu kemudi dan memutari mobil sport-nya. Ia mengulurkan tangan dan segera Maura menyambutnya. Keduanya bergandengan tangan memasuki rumah besar mereka.
Dari raut wajah keduanya, tampak bahagia dan puas usai menonton film horor romantis di bioskop. Baik Lucas dan Maura benar-benar menikmati film tadi. Apalagi bila ada adegan tegangnya, tanpa canggung Maura memeluk lengan Lucas. Dan Lucas dengan senang hati akan mengelus punggungnya untuk menenangkannya.
Habis menonton, keduanya melanjutkan kencan mereka dengan makan siang di resto pinggir pantai. Dan mengakhiri kencan mereka dengan mengabadikan kebersamaan mereka di foto. Mungkin sudah ratusan foto tersimpan di galery ponsel pintar milik Maura. Selama dua minggu ini, Maura selalu mengabadikan moment kebersamaannya bersama Lucas.
“Ekhem.” Suara dehaman di samping Lucas dan Maura mengejutkan keduanya. Terlalu senangnya, mereka sampai lupa bila sudah berada di ruang keluarga. Buru-buru Lucas melepaskan genggaman tangannya. Mereka berbalik dan mendapati Naura berdiri di samping rumah sedang menyemprot tanaman anggrek-nya.
Maura bergegas menghampiri Naura dan memeluknya. Gadis manis ini menguburkan kepalanya di dada Naura, menyesap aroma vanilla di tubuhnya. Sedang Lucas menjatuhkan tubuhnya di sofa.
“Bisa pulang bareng?” tanya Naura heran ketika mereka duduk bersama di sofa. Setahunya, siang tadi Lucas izin pergi kumpul bersama dengan teman-temannya semasa kuliah, selang lima belas menit kemudian Maura izin pergi ke bioskop bersama sahabatnya.
Maura dan Lucas saling berpandangan. Tentu saja keduanya berbohong. Untuk menghilangkan kecurigaan Naura, mereka sudah janjian bertemu di depan halte tak jauh dari rumah dan pergi bersama-sama ke gedung bioskop.
“Pas mau pulang ke rumah, tak sengaja ketemu Maura saat menunggu taksi di depan bioskop,” jelas Lucas sembari terbatuk kecil dan diangguki oleh Maura.
“Oh. Syukurlah.” Naura mengangguk kecil.
“Eung---Mum, Yukhei mau ke kamar dulu. Mau balesin email Mark dulu.” Baru ingat, Lucas belum membalas email Mark sedari semalam.
Pemuda ini beranjak berdiri dan sebelum berbalik sempat mencubit kedua pipi Maura hingga gadis itu berteriak sebal. Awalnya Lucas ingin mengecup pipi Maura, tetapi mengingat ada Naura. Sebagai gantinya ia cubit saja dengan keras kedua pipi gadis manis ini. Tawa renyah pun mengiringi langkah puas Lucas menuju kamarnya.
“Ih, Kak Yukhei nyebelin.” Maura menekuk wajahnya sembari bersidekap.
Sedang Naura tergelak. Syukurlah. Hanya perasaannya saja. Ternyata hubungan keduanya masih dalam tahap normal kakak adik. Tadi sempat Naura meragukan keduanya, saat bergandengan tangan memasuki ruang keluarga tadi. Dan semua keraguannya terbayar dengan tingkah menyebalkan Lucas.
__ADS_1
“Ih, Mum. Enggak usah ketawa begitu, deh. Jadi makin menyebalkan,” protes Maura saat Naura masih saja tergelak. Gadis manis ini melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naura dan meringkuk di dadanya. Seperti biasa. Bermanja-manja dengannya.
“Iya, iya. Maafkan Mum, Sayang.” Naura menjawil hidung bangir Maura. “Tadi nonton apa di bioskop, eum?” tanyanya.
“Nonton film horor romantis,” jawab Maura dengan wajah bersemu merah bila mengingat sepanjang film dirinya terus memeluk lengan Lucas. Hal yang tak pernah dilakukannya pada pria mana pun.
“Bila dilihat dari genre-nya, keknya nonton sama si Doi ya,” tebak Naura hingga membuat kedua pipi Maura makin memerah bagai buah persik.
“Tahu saja, Mum. He he he.”
“Tentu saja. Mum juga pernah muda, lho. Terus siapa si Doi?” tanya Naura penasaran. Selama ini gadis manisnya tidak pernah menceritakan dekat dengan cowok mana pun.
“Ada, deh.”
“Aih, pakai rahasia-rahasiaan segala lagi. Mirip Daddy-mu.”
“Iyalah, Mum. Kan anaknya.”
“Oh, kamu benar.” Naura tersenyum. Ditatapnya begitu lekat wajah manis putrinya. “Melihatmu sudah segede begini, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Nggak sangka Mum sudah membesarkanmu sampai saat ini,” kenang Naura. Ia mulai membuka cerita tujuh belas tahun yang lalu.
“Waktu umurmu seminggu, kau membuat panik Mum dan Daddy. Sehari kau pulang dari rumah sakit, tiba-tiba saja kau jadi rewel. Kau terus menangis, tubuhmu sangat panas dan tidak mau menyusu dengan Mum.” Naura menghela napas sesaat, dan melanjutkan ceritanya.
“Saat didiagnosa dokter, kau terkena penyakit autoimun.” Itu mengapa, sampai sekarang Naura jadi selalu khawatir dan cemas berlebihan terhadap gadis manis ini.
“Satu lagi, sampai kau segede ini, kau nggak pernah lagi merasakan ASI dari Mum. Saat mulutmu didekatkan dengan payudara Mum kau akan menolak. Juga saat Mum beri ASI lewat botol susu, tetap kau menolak,” kenang Naura dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar.
Bila mengingat saat itu, seakan baru kemarin kejadiannya. Rasanya begitu sesak bila melihat salah satu bayi-mu tidak mau meminum susu dari ASI-mu. Dan kini ... masalah kembali datang. Salah satu di antara anak kembarnya, bukan anak kandungnya.
Tanpa sadar air mata telah membasahi kedua belah pipi Naura. Didekapnya begitu erat putrinya. Tidak. Sampai kapan pun keduanya tetaplah anak kembarnya. Anak kandungnya.
Sedang gadis yang didekap Naura sedari tadi, terus mengelus punggung Naura. Hati Maura sesak melihat Naura menangis seperti ini. Lalu ... tegakah dia menyakiti Naura bila mengetahui hubungan terlarangnya dengan Lucas?
🍃Dear,MyBaby🍃
“Kau siap, Baby?” Raka menatap lekat Naura sembari memegang amplop cokelat di tangannya. Amplop yang berisikan hasil tes DNA Maura. Mereka memutuskan untuk membuka isi amplopnya di rumah dan di kamar mereka sendiri.
Meski berat dan dengan hati yang dikuat-kuatkan, Naura mengangguk. Ia menahan napas ketika Raka mulai membuka amplop cokelat di tangannya. Sesaat waktu berhenti kala Raka membaca hasilnya. Naura tidak bisa membaca ekpresi yang ditampilkan suaminya.
“Bagaimana, Dear? Apa hasilnya?” tanya Naura cemas. Raka meraih tubuh Naura dan merengkuhnya. Dipeluknya begitu erat istrinya. Ia tahu, sebentar lagi sosok manis-nya akan menangis tersedu-sedu setelah ia mengumumkannya.
“Hasilnya ...” Raka memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas. Pelan ia berbisik. “Maura bukan anak kandung kita.”
Naura terhenyak sesaat. Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna ucapan Raka. Di detik berikutnya Naura menangis tersedu-sedu dalam pelukan Raka.
“Kenapa harus begini. Hu hu hu.”
“Ssst! Sampai kapan pun Maura tetap anak kita,” bisik Raka menenangkan.
“Ya. Maura tetap putri kita.” Naura mengangguk. “Sekarang apa yang kita lakukan? Haruskah kita memberi tahu anak-anak?” tanya Naura menengadah, menatap mata bulat suaminya.
Raka tersenyum dan menanamkan kecupan ringan di dahi Naura. “Untuk sementara kita rahasiakan dulu. Setidaknya, setelah kita menemukan saudara kembar Mauriq yang asli.”
“Kau benar, Dear.” Naura kembali memeluk tubuh Raka.
Raka hanya menggumam. Samar sudut bibirnya tertarik ke atas saat mata elangnya menangkap bayangan seseorang di ambang pintu.
===============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1