Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
57| Jangan Ikut Campur


__ADS_3

“Tante, aku dat---Papa?”


 


Degh!


 


Theresia membuka pintu. Sontak ia terkejut dengan wajahnya pucat pasi melihat di ruangan bukan hanya ada kedua orang tua Raka serta Mr. Brown, melainkan juga ...


Polisi? Theresia meneguk ludah. Pantas saja di halaman rumah tadi ada mobil polisi.


Dan lima belas menit yang lalu Cathie meneleponnya untuk bertemu di rumahnya. Ia pikir kedua orang tua Raka akan membahas masalah pernikahannya dengan Raka - yang akan diselenggarakan besok hari. Tetapi sepertinya bukan masalah pernikahannya yang akan dibahas.


Apakah gerangannya?


Setelah dipikir kembali, apakah ada hubungannya dengan kejadian tiga hari yang lalu di butik?


Sekembalinya dari butik, Raka meninggalkannya begitu saja. Menyuruh supir untuk mengantarnya pulang. Setelahnya, sampai malam ini dia tak bertemu dengan batang hidung Raka. Di telepon atau di SMS, Raka tidak pernah membalasnya. Di datangi di rumahnya atau pun di kantornya, Raka tidak pernah muncul. Seolah mereka tidak pernah ada hubungannya.


Ke manakah Raka? Bukankah besok mereka akan menikah?


Theresia menyibak rambutnya. Mengabaikan debaran di dada yang meningkat kian tajam. Berusaha memaksakan tersenyum meski rasanya sulit di tengah rasa kalut menghinggapinya.


Menatap dengan gugup empat orang polisi--berdiri tak jauh darinya--Theresia berbicara.


“Um ... apa yang terjad---kyaaa, apa yang kalian lakukan!” Theresia memekik ketika dua orang polisi memegang bahunya dan memborgolnya.


“Apa-apaan ini, lepaskan aku! Kalian tidak bisa menangkapku begitu saja, lepaskan!”


“Maaf, nona Theresia. Ini sudah sesuai prosedur yang kami jalani.” Salah satu dari empat polisi itu memperlihatkan surat perintah penahanan tepat di depan mata Theresia.


“Tidaaak. Ini pasti fitnah. Aku tidak bekerja sama menculik Naura. Mana Raka, aku ingin bicara dengannya---lepaskan aku. Tidaaak, besok kami akan menikah. Papaaa, tolong Tere.”


Mr. Brown menatap nanar putrinya, ditarik paksa oleh dua orang polisi keluar dari rumah ini. Suara sirine polisi mengaum di luaran, membawa Theresia menjauh dari rumah ini diiringi tangisan Theresia.


“Bi-bisakah penahanannya ditangguhkan, Pak?” Mohon Mr. Brown pada kepala polisi - bersiap-siap pergi.


“Tidak ada penangguhan,” sela Cathie dingin. “Silahkan pergi, pak. Terima kasih atas waktunya,” sambung Cathie pada pria seumuran putranya dengan berseragam lengkap polisi.


“Ya. Selamat malam, Nyonya, Tuan.”


“Putrimu pantas di penjara,” lanjut Cathie setelah polisi tidak ada lagi di rumahnya.


“Tapi, Cathie. Besok dia akan menikah dengan Raka. Apakah kalian tidak malu untuk kedua kalinya?”


“Malu? Kami sudah kebal. Apalah artinya malu untuk kedua kalinya,” sindir Andrew tajam.


“Putrimu sudah sangat keterlaluan, Den. Dia pantas menerimanya,” imbuh Cathie.


Mr. Brown terdiam. Mengembuskan napas. Sungguh tak menyangka akan terjadi seperti ini. Cathie dan Andrew memintanya datang dan menjelaskan semuanya. Dan menurut informasi yang didapat dari orang kepercayaan Raka. Naura tidaklah pergi, melainkan diculik oleh seorang pria berkebangsaan Korea, dan yang membuat Denny sungguh terkejut. Theresia-lah yang merencanakannya ....


Ya, Tuhan! Ia telah terpedaya akan ucapan dan tingkah manis putri tirinya selama ini. Jadi, selama ini dia telah membesarkan anak iblis.


Begitu pun dengan Cathie dan Andrew. Keduanya sungguh terkejut setelah mendengarkan penjelasan dari Raka. Astaga! Kenapa keluarganya tidak sampai berpikiran kesitu, bila kenyataannya Theresia dan Jongin ada hubungan, saling bekerja sama untuk memisahkan putra mereka dan Naura. Mereka pikir Theresia benar-benar berubah dan takkan mencelakai Naura. Ternyata ...


Ya, Tuhan! Selama ini aku telah terpedaya dengan tipu muslihat Theresia. Termakan dengan ucapan Theresia selama dua bulan ini. Berkali-kali Cathie mengusap wajahnya.


Setelah dipikir-pikir lagi, mereka sungguh bodoh. Percaya begitu saja dengan pesan palsu yang dikirim oleh Naura, dan tidak menyelidiki lebih lanjut kebenarannya.


Sayang, Mommy sudah melaksanakan sesuai perintahmu. Semoga kau kembali membawa kabar gembira, Cathie bergumam dalam hati sembari mengingat akan ucapan putranya dua hari yang lalu, ketika Raka hendak pergi ke luar negeri. Pandangannya menerawang ke atas seiring harapannya tumbuh membumbung tinggi di angkasa.


“Mom, setelah Raka menyelidiki ulang. Memang ada yang ganjil selama dua bulan ini." Raka menghela. Ingatannya melayang pada kejadian siang tadi bersama Theresia di butik. Soal San Diego dan wajah pucat gadis itu terhadapnya.


“Benarkah? Sekarang apa tindakanmu?”


“Raka akan mencari bukti, dan ...” Raka menarik napas dalam. “Nanti Raka mengirimkan buktinya ke Mommy atau Daddy. Ikuti saja instruksi Raka selanjutnya.”


“Memangnya kamu mau ke mana, Sayang?”


“Merebut kembali Naura dan Baby Yukhei dari tanganRichard.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


“Baby Yukhei, lihat pemandangan di bawah sana.” Naura menunjuk kaca tebal dengan jari tunjuknya, seakan ia bisa menyentuh air laut yang berkilauan bagaikan mutiara di bawah sinar rembulan.


Mengembuskan napas. Hamparan laut di depannya perlahan memburam berganti dengan pantulan tubuh seorang wanita kurus dan pucat menggendong bayi berusia dua bulan.


“Kau lihat bayi kita, Raka.” Naura bermonolog dan memandang bayinya---tertawa senang sambil menepuk-nepuk dinding kaca di depannya dengan jari-jari mungilnya.


“Dia begitu sehat. Benar yang kau katakan, bayi kita tumbuh besar setelah umurnya dua minggu. Sama seperti bayi-bayi kebanyakan.” Naura mengecup puncak kepala bayinya. Perlahan pandangannya meredup menatap pantulan dirinya dan bayinya.


“Huks, Raka, aku merindukanmu ...” gumamnya sembari memeluk erat bayinya. Lewat bayinya yang begitu mirip dengan Raka-lah seolah dia bisa melepaskan rindu pada sosok yang dicintainya.


“Matanya begitu mirip denganmu, Raka. Bulat besar.” Naura terkekeh dan mengecupi secara bergantian pipi gembul bayinya.


“Saatnya kau tidur, Baby Yukhei.” Sosok manis ini memutar tubuhnya. Meletakkan bayinya di tempat tidur. Dielusnya pipi yang terasa lembut di kulitnya. Rasanya begitu takjub ketika pertama kalinya dia menyentuh bayinya. Tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seribu kata-kata takkan cukup menggambarkan kebahagiaannya saat itu. Hanya saja yang kurang ... kehadiran sosok yang dicintai di sisinya.


Mengembuskan napas. Naura memperhatikan kamar yang begitu luas ini. Semua fasilitas di kamar ini begitu lengkap. Bahkan pakaian sehari-harinya saja penuh satu lemari besar. Mau apa semuanya ada, tinggal berbicara pada kepala pelayan di rumah mewah ini, nyonya Deborah.


Tetapi hanya satu kekurangannya. Alat komunikasi. Richard tidak memberikannya alat komunikasi dalam bentuk apa pun. Tentu saja, untuk mencegahnya berkomunikasi dengan Raka atau dunia luar. Selain itu, penjagaan di rumah ini sangat ketat, bahkan di depan pintu kamarnya pun ada bodyguard yang selalu menjaganya 24 jam.


Tak luput, rumah mewah ini juga dipasangi CCTV di setiap sudut ruangan. Begitu pun dengan kamarnya, juga dipasangi CCTV, kecuali tidak ada CCTV yaitu di kamar mandi dan ruang ganti pakaian.


Hal itu dilakukan Richard untuk mencegahnya agar tidak bisa kabur ke mana pun. Dia adalah tahanan Richard. Sungguh ia tidak menyangka bila rasa suka pria berkulit tanned itu menjadi sebuah obsesi mengerikan terhadapnya. Nekad menculiknya dari tangan Raka. Bahkan pria itu memaksanya untuk menikah dengannya---sekali pun itu dengan cara rekayasa.


Dan tentu saja ia menolak keras keinginan Richard. Tetapi Richard punya seribu akal untuk membuatnya menuruti keinginannya. Salah satunya, menggunakan bayinya sebagai ancaman. Bila tak dituruti maka Richard akan memisahkannya dengan bayinya. Selama bernapas, takkan pernah dia melepaskan bayinya dari tangannya---sekali pun harus mengorbankan nyawanya sendiri.


Selama dua bulan di sini. Sudah lima kali dia merencanakan kabur. Akan tetapi, selalu bisa digagalkan, baik oleh bodyguard mau pun Richard sendiri. Naura jadi bertanya-tanya. Apakah Raka tahu bila dirinya diculik Richard?


“Baby Yukhei, apa benar Daddy-mu telah melupakan kita hingga dia tidak mencari kita,” bisiknya serak sembari menciumi pipi gembul putranya. Perlahan air matanya mengalir di sudut matanya. Kembali memeluk erat bayinya.


Raka, aku merindukanmu, huks ....


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


Ketika membuka pintu ruang kerjanya, Richard langsung disuguhi wajah manis seorang gadis, tersenyum ceria padanya. Jenny Kim. Mantan rekan kerjanya di perusahaan lamanya. Seorang sekretaris dari CEO pemilik perusahaan lamanya.


Tidak, gadis itu lebih dari sekedar mantan rekan kerjanya. Sebab dia adalah sahabatnya sedari kecil. Rumah mereka berdekatan. Umur mereka terpaut satu tahun, dengan Jenny lebih tua darinya. Meski umur Jenny lebih tua darinya, mereka tidak punya batasan dalam bersahabat. Ia menganggap gadis itu seperti kakak perempuannya sendiri.


Dan sedari kecil Jenny suka mengikutinya. Menempelinya ke mana pun dia melangkah. Bahkan ketika dia bekerja di perusahaan mie. Diam-diam tetangganya ini juga bekerja di sana---meski mereka tidak berada di dalam satu ruangan.


Ia pikir, akan aman selama dua bulan ini di San Diego---tanpa ada Jenny mengikutinya. Tapi entah kenapa dan bisa menemukan jalannya sendiri, gadis itu berada di sini petang tadi.


“Kenapa kau membawa wanita itu kemari?” Gadis itu mengikuti Richard dari belakang.


“Hey. Kau dengar aku, Richard?”


“Richard!”


“Diamlah, Jenny! Aku lelah.” Richard mendesah. Mengempaskan tubuhnya di sofa panjang tunggal. Jenny mencebik dan berkacak pinggang di depannya.


“Dan kenapa kau masih di sini? Belum kembali ke Korea?” ketus Richard sambil melirik sekilas pada gadis berambut pendek sebahu itu.


“Kau gila. Aku baru saja berada di sini petang tadi.” Jenny melotot. Dan itu memang benar. Awalnya, dirinya ingin mengejutkan sahabatnya ini dengan kehadirannya. Tetapi juteru dialah yang mendapatkan kejutan yang sangat tidak disangka.


Naura berada di San Diego? Ia tahu sekilas tentang wanita muda itu. Ia hamil hasil dari inseminasi tanpa menikah. Bayi yang dikandungnya ternyata anak dari Raka, seorang pemilik Group Pintech. Dan kabarnya, dua bulan yang lalu mereka gagal menikah. Menurut gosip, tiba-tiba saja sang calon pengantin wanitanya kabur bersama anak mereka.


Dan ternyata ... sosok manis itu berada di sini?


Bagaimana bisa?


Dan tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaannya. Sebab, ia tahu bahwa sosok manis itu diculik oleh Richard. Richard sangat menyukai sosok manis ini. Dilihat dari sikapnya selama ini. Bahkan ketika mereka makan bersama Richard selalu membahas tentang Naura. Sayangnya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Sebab, sosok manis itu mencintai pria lain. Sama sepertinya yang juga bertepuk sebelah tangan.


Tidak tahukah Richard? Di saat dirinya menunggu wanita lain menerima hatinya. Ada hati yang lain juga selalu menunggunya. Ada tangan yang lain menunggu uluran tangannya. Ada hati yang selalu terluka karena sikapnya.


Mengembuskan napas. Jenny mendengkus kesal. “Yak. Aku sampai ke sini karena mengikutimu. Bahkan ikut resign dari perusahaan demi kamu. Aku takkan kembali ke Korea bila tidak bersamamu.”


“Siapa yang menyuruh.” Jongin berkata ketus.


“Aku  mencemaskanmu.” Bibir Jenny bergetar ketika berbicara. Irisnya tidak berani menatap langsung pada mata yang terpejam di balik lengan kokoh itu.


“Aku tak menyuruhmu untuk mencemaskanku,” jawab Richard datar.


Gadis ini mengepalkan tangan mencoba menahan perasaannya. “Kenapa kau menculik Naura,” sergahnya. Mengabaikan rasa sakit hatinya.


“Itu bukan urusanmu.”


“Tidakkah kau kasihan padanya?”


“Aku tak butuh ceramahmu.”


“Dia punya bayi,” tekan Jenny lagi.


“Jangan teruskan.”


“Dia punya kehidupan sendiri.”


“Aku tak peduli, Jenny!”

__ADS_1


“Kau merenggut kebahagiaannya.”


“Jenny!!”


“Dia punya kekas---”


 


Bugh!


 


Jenny terkesiap ketika Richard menghentak meja di depannya. Meninjunya sekuat tenaga, hingga kaca meja sofa itu menjadi retak.


Jenny meneguk ludah. Tubuhnya bergetar manakala Richard mendelik tajam padanya. Kemudian irisnya beralih pada cairan merah kental, mengalir dari kepalan tangan Richard.


“Richard, kau terluk---”


“Pergilah!”


“Tap---”


“Jangan sampai aku menghancurkan benda lainnya atau berbuat kasar padamu. Pergilah!” usir Richard dingin sambil menunjuk ke arah pintu.


Jenny terpaku sejenak. Mengembuskan napas. Tangannya terkepal erat dan menggigit bibir. Membalik tubuhnya hendak berjalan ke arah pintu, tetapi kembali memutar badan. Menatap nanar Richard.


“Kau tahu? Perbuatanmu sangat memalukan. Kau terlalu terobsesi pada Naura. Padahal ada orang lain---huft! Sudahlah!”


Jenny menghela napas. Kali ini dengan langkah pasti berjalan ke arah pintu. Menutup pintu sekuat tenaga hingga menimbulkan bunyi debaman di udara. Cukup membuat kaget dua bodyguard yang berdiri di kiri-kanan samping pintu.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Cahaya bulan keperakan itu perlahan merangsek masuk dari balik tirai jendela yang terbuka lebar. Cahayanya yang bersinar begitu terangnya, menerpa setengah wajah yang tertidur lelap dengan posisi menyamping itu. Membuka mata indahnya. Sudut bibir plum-nya terangkat ke atas. Tersenyum kecut sembari memandangi Baby Yukhei dalam dekapannya.


Entah berapa lama Naura tertidur. Mengusap sudut matanya yang bengkak. Perlahan beranjak bangun. Ia butuh minum untuk mengisi tenggorokannya yang terasa kering. Ketika berbalik, sosok manis ini tertegun. Jenny berdiri di ambang pintu kamarnya. Tersenyum kaku padanya. Naura balas tersenyum getir. Jangan salahkan dirinya untuk tidak tersenyum semringah seperti dirinya beberapa bulan yang lalu. Sungguh, ia tidak bisa membohongi perasaannya yang sakit ini.


Lagipula ia tidak terlalu mengenal gadis yang tingginya lebih pendek darinya ini, serta memakai sweater panjang berwarna biru dan celana jeans belel selutut ini. Yang dia ketahui nama gadis ini Jenny Kim dan sekretaris CEO di perusahaan mie---tempatnya bekerja dua bulan yang lalu.


Lebih membuatnya terkejut, gadis itu ada di sini bersama Richard? Ada hubungan apa mereka berdua?


“Bagaimana kabarmu  ... Naura?” tanya Jenny begitu kaku dan beringsut ke arah Naura ketika sosok manis ini meraih botol minuman di atas nakas.


Naura tidak menjawab. Toh, setiap orang yang melihat kondisinya pasti akan tahu seperti apa keadaannya saat ini.


Jenny menggigit bibir. Hatinya miris melihat sosok manis ini. Begitu kurus dan pucat. Cahaya matanya tampak redup. Tak ada kebahagiaan sama sekali terpancar di iris cokelat bening itu. Pandangannya begitu kosong, seakan tak ada jiwa yang mengisi raga yang rapuh itu.


“Aku ... sungguh prihatin padamu.”  Jenny berkata serak, tak tahu harus berkata apa serta bingung harus memulai bicaranya dari arah yang mana.


Naura diam. Ya. Seperti inilah yang dilakukannya. Tak berniat mengeluarkan suara apa pun pada orang di rumah ini. Meletakkan botol minumannya kembali ke atas nakas. Lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kepala tempat tidur. Seolah membiarkan gadis di sampingnya terus berbicara. Barang kali mendengarkan sosok ini berbicara bisa mengurangi rasa sesak di hati - bagai ada batu besar menghimpit dadanya.


Jenny beralih menatap bayi mungil yang tertidur lelap di samping Naura. “Bayimu sungguh manis,” katanya tersenyum canggung. Sunyi senyap tak ada respon dari Naura.


Menghela napas. Jenny kembali menatap wajah pucat Naura. Tiba-tiba dipeluknya wanita rapuh ini dengan begitu erat. Ia paham, sosok manis ini butuh teman untuk melampiaskan perasaannya. Benar saja, Naura tergugu dalam pelukan Jenny. Menangis tersedu-sedu.


“Jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja,” bisik Jenny tepat di telinga Naura. Menepuk-nepuk punggung yang begitu ringkih itu. Sesama perempuan, ia sangat mengerti akan perasaan sosok manis ini.


“Katakan padaku, Na. Apa yang harus kulakukan untuk menolongmu,” bisiknya dengan suara paraunya. Ujung matanya melirik kiri-kanan, banyak CCTV di kamar ini. Pantas Naura tak bisa melarikan diri dari rumah ini. Dalam hati Jenny sangat menyayangkan tindakan Jongin yang menjadi terobsesi seperti ini.


Jenny mulai berpikir keras. Dahinya mengerut dalam. Samar ia tersenyum. “Jangan menangis. Aku akan membantumu besok pagi.”


“Benarkah?” Naura berbisik parau di telinga Jenny.


Jenny mengangguk. “Akan kucoba. Tapi kau tetap tenang. Jangan menimbulkan kecurigaan apa pun. Terutama dari Richard.”


\================


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2