![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Naura terbeliak. Berubah pikiran? Siap dinikahinya?
Geeez yang benar saja ... Naura mendesis bak ular piton, melotot tajam pada Raka yang tiada hentinya menyunggingkan senyuman lebar penuh percaya diri, seolah apa yang ada dalam pikiran Naura memang sejalan dengan pikirannya.
Naura memutar bola mata. Asal tahu saja. Ia datang ke sini bukan untuk dinikahi oleh pria bermata bulat ini. Melainkan untuk menyelesaikan masalah di antara mereka berdua, sangat perlu diselesaikan agar tidak ada lagi permasalahan di masa depannya.
"Hn! Aku datang ke sini bukan untuk memintamu menikahiku. Aku dat---"
"Duduklah dulu!" Raka menepuk sofa panjang di sampingnya. Sengaja memotong ucapan Naura.
Naura menggeram samar, matanya menyipit tajam. "Enggak usah," ketusnya, seolah Raka adalah musuh bebuyutan nenek moyangnya.
Raka menghela napas pendek. Pandangannya menajam memperhatikan wajah merah Naura karena emosi. "Kau mungkin lelah. Duduklah!" ucapnya lagi.
"Kubilang enggak usah, ya gak usah. Kau dengar!" Naura memekik kesal, nyaris saja sosok manis ini melempar sepatu plat shoes-nya ke wajah tampan Raka.
Tidak bisa lagi Naura membendung amarahnya yang sedari awal memang telah menumpuk semenjak mendengar penjelasan Neil di rumah sakit tadi. Makin membuatnya kesal, Raka selalu mengabaikan ucapannya. Sengaja memancing emosinya naik.
Mendengar pekikan Naura, Raka diam sebentar, lalu menarik napas dalam-dalam.
"Aku mendengarnya, Naura. Tapi, tak baik berbicara sambil berdiri. Kau sedang hamil. Lagian, kau seperti debt collector saja. Jujur. Aku sedikit tersinggung dengan caramu bertamu seperti ini," jelas Raka dengan nada suara yang begitu serius. Namun sebenarnya, hanya untuk menekan sosok manis ini agar menuruti ucapannya.
Pada akhirnya Naura menuruti ucapan Raka dengan alasan mempercepat ia pergi dari tempat ini. Terlebih tak ingin memberikan kesempatan Raka mengulur-ngulur waktu lagi.
“Nah, begitu dong, sama-sama enak jadinya.” Raka tersenyum senang melihat Naura akhirnya duduk. "Tunggulah sebentar di sini," lanjutnya segera berdiri.
"Hey!" Belum sempat Naura mencegah, Raka pergi entah ke mana, entah mengambil apa, Naura tidak tahu.
"Sudahlah. Ini rumah dia juga," gumamnya mengedikkan bahu.
Asal jangan saja berusaha menghindariku. Kubunuh dia sekarang juga. Grrr ... Naura mengepalkan tangan dengan dada kembang kempis menahan amarah.
Sementara Raka menghilang entah ke mana di rumah besar ini. Sambil menunggu, seolah mandor yang sedang mengawasi pekerjaan bawahannya, pandangan Naura begitu tajam menelisik rumah ini. Satu kata untuk menggambarkan suasananya. Sepi. Tak ada satu orang pun berkeliaran di rumah besar ini. Assisten rumah tangga pun tidak kelihatan semenjak melangkahkan kaki pertama kali ke rumah ini. Hanya ada empat orang security ketika hendak memasukinya tadi. Itu pun harus punya izin terlebih dahulu dari pemilik rumah bila ingin masuk.
Masa sih, gak ada satu pun orang di sini. Misalnya saja pacarnya. Atau mungkin tunangannya?
Naura bertanya-tanya penasaran dalam hati sambil celingak-celinguk memperhatikan sudut ruangan, bila saja ada tanda-tanda wanita tinggal di sini. Rambut atau pun parfume wanita, misalnya.
"Kau takkan menemukan satu pun wanita di sini, Naura."
Astaga! Jantungku ...
Naura terkesiap kaget mendengar suara berat berdengung di telinganya. Sosok manis ini memegangi dadanya yang berdebar kuat bagai barusan saja mengikuti lomba lari marathon olimpiade, hanya saat ketika ia berbalik, mendapati Raka telah berdiri di belakangnya, membawa segelas cokelat panas - minuman kesukaannya di saat musim dingin begini. Ia menelan ludah ketika wangi khas cokelat menembus indera penciumannya.
Kapan dia ada di belakangku? Perasaan tadi aku gak mendengar langkah kakinya.
Kening Naura berkernyit dalam, memperhatikan Raka meletakkan cokelat panas ke atas meja dan mendorongnya ke arah Naura.
"Minumlah!" ujar Raka dengan nada memerintah mutlak bagaikan seorang Raja.
Naura bergeming, tak serta merta menuruti perintah Raka. Pandangannya tetap berputar di ruangan ini. Tak percaya begitu saja ucapan pria ini.
Well, Raka yang punya fisik di atas cowok rata-rata, juga memiliki wajah tampan, serta berduit banyak, siapa yang tidak suka padanya. Eh, ralat, kecuali dia. Dulunya Raka-lah yang tergila-gila padanya, mengejarnya hingga akhirnya ia pun luluh dan jatuh cinta akan kegigihan Raka padanya. Namun akhirnya, Raka jugalah yang mengakhiri jalinan cinta mereka tanpa sebab yang pasti, bagaikan dirinya sebuah mainan saja. Bila rusak maka tak diperlukan lagi.
"Sudah kukatakan sebelumnya, kau takkan menemukan satu pun wanita di sini," ulang Raka setelah membaca ekspresi di wajah Naura.
"Bohong!" bantah Naura menyipitkan mata. "Termasuk assisten rumah tanggamu? Semuanya laki-laki begitu?"
"Yup!"
"Geez. Enggak mungkin," sangkal Naura berdecih keras.
"Kenapa tidak mungkin? Aku tidak pernah membedakan gender soal pekerjaan rumah tangga, mencuci, memasak, atau pun membersihkan rumah. Bila kinerja mereka bagus, kenapa tidak?"
__ADS_1
Naura mengedikkan bahu. Tak bisa lagi menyangkal ucapan Raka.
"Oh, aku ralat ucapanku tadi." Sudut bibir Raka berkedut. Ia tersenyum miring menyeringai. "Ekhem ... maksudku, ada satu wanita di rumah ini."
Kedua alis Naura bertautan. Bibirnya bergerak-gerak, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar, meski dirinya ingin sekali bertanya siapa wanita itu. Tetapi demi gengsi, ia tekan kuat-kuat rasa penasarannya. Bukankah mereka tak punya hubungan lagi? Nanti dikira dia kepo dan mau tahu saja urusan mantan.
"Kau mau tahu, Naura?" tanya Raka sambil menahan kekehan geli di sudut mulutnya. Sengaja Raka memancing Naura semakin penasaran.
"Enggak usah. Sudah bukan urusanku lagi," jawab Naura datar, menekan suaranya agar terdengar biasa.
"Hn! Begitu ya." Raka mengembuskan napas pendek, tampak sedikit kecewa dari nada bicaranya. Ia pikir Naura akan antusias bertanya padanya.
"Kalau begitu, silakan diminum cokelat panasnya," sambungnya.
"Enggak, terima kasih saja, aku masih belum haus," tolak Naura halus, meski cokelat panas di depannya kelihatan sangat nikmat, sedari tadi terus memanggil-manggil untuk mencicipinya. Tetapi, mengingat ia tidak ingin mengulur-ngulur waktu berada di sini, lebih baik tidak usah saja.
"Lagian, aku ke sini enggak lama, aku hanya ingin mengatakan ..." Naura sengaja menjeda kalimatnya, terlebih dahulu menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskannya perlahan-lahan.
"...selain bekerja sama dengan Kak Neil, kau bekerja sama dengan Sunny. Iya, kan?" tuduh Naura langsung.
Bukan tanpa sebab ia menuduh Raka berbuat demikian, sudah banyak buktinya. Setelah mendengar penjelasan Neil soal pengirim misterius boneka kodok-nya, objek orang kedua yang bekerja sama dengan Raka, tentu saja Sunny.
Raka terdiam sesaat, kemudian mengembuskan napas pendek.
"Iya, aku memang bekerja sama dengannya." Raka mengakui dengan jujur.
Memang dia-lah yang menyuruh Sunny untuk menampung sementara tempat tinggal Naura, ketika pertama kalinya sosok manis ini menginjak pulau Jeju, serta memudahkannya untuk memantau pergerakan Naura. Misalnya saja soal mengidam, yang selama ini, dia-lah yang memenuhinya.
"Termasuk yang mengirimkan boneka kodok?" Naura memicingkan mata.
"Tentu saja. Kau pikir siapa lagi selain aku?" Raka bertanya balik.
"Sialan!"
"Jangan mengumpat, Naura. Tak baik buat perkembangan janinnya." Raka memperingatkan.
Naura segera berdiri, tak ingin berlama-lama bersama Raka, terlebih ini rumah mantannya, juga wanita yang dikatakannya juga ada di rumah ini, di dalam kamar lainnya,--- mungkin. Dan yang pastinya ia tidak mau mengganggu kesenangan orang yang sedang bermesraan, meski masih banyak masalah yang ingin dibahasnya. Tapi entah kenapa, mood-nya jadi berantakan setelah mendengar Minho mengatakan ada sosok manis di rumahnya.
"Tunggu, Naura." Buru-buru Raka memegang tangan Naura ketika memutar tubuhnya.
Degh
Seolah waktu berhenti berputar, keduanya sama-sama terdiam. Untuk pertama kalinya, kembali getaran halus merangsang hati keduanya, setelah sekian lama mereka tak bersentuhan fisik.
"Lepaskan tanganku!" Naura mendelik tajam. Dia-lah yang pertama kali tersadar dari keterpakuan di antara mereka bedua.
Sedangkan Raka masih bergeming. Semakin mengeratkan genggamannya di tangan Naura, seolah takut sosok manis di depannya ini akan menghilang dalam hitungan detik saja, meninggalkannya dalam kubangan frustrasi dan kebingungan, sama seperti keadaannya selama seminggu ini, ketika Naura mengultimatum untuk tak mengganggunya lagi.
Pada akhirnya ia tidak sanggup lagi, hanya berdiam diri memperhatikan Naura yang hamil anaknya dari kejauhan, terlebih setelah ada satu orang pria yang mendekati Naura dan berniat serius padanya.
"Hey! Kubilang lepaskan tanganku!" Volume suara Naura mulai meninggi seraya mengibaskan genggaman tangan Raka darinya.
"Kau dengar aku, Raka? Lepas!"
"Tidak akan, Naura." Raka menggeleng. "Hanya untuk mengatakan itu saja kau datang kemari?"
"Tentu saja." Naura menjawab mantap.
"Naura, ada banyak masalah yang perlu kita bahas di sini," tekan Raka serius.
"Enggak ada pembahasan apa pun!" tegas Naura memalingkan wajahnya ke arah lain, asal jangan ke arah wajah Raka yang bisa membuat jantungnya kian berdetak tak terkendali.
"Jangan berkilah, Naura. Kau sekarang hamil, dan itu anakku," sengit Raka.
"Ini anakku. Bukan anakmu." Naura melotot tajam.
__ADS_1
"Tapi itu sperma dariku," sangkal Raka mematahkan ucapan Naura.
Naura menggeram bagai induk kucing yang marah anak-anaknya diganggu.
"Sedari awal melakukan inseminasi, aku nggak ingin mengetahui siapa pendonornya. Seharusnya kau sudah tahu itu dari Kak Neil," pungkas Naura tajam. Ketika berbicara ekspresinya benar-benar serius.
Raka terhenyak. Pegangannya sedikit mengendur, Naura menjadikan kesempatan ini untuk mengibaskan tangannya hingga terbebas. Secepat kilat Naura memutar tubuhnya, hendak pergi, secepat mungkin menjauhi Raka.
"Naura ..."
Degh
Lagi, jantung Naura berdegup makin kencang. Dadanya bergemuruh hebat, layaknya deru ombak yang menabrak karang. Ia menahan napas, bagaikan tak ada pasokan oksigen yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya menjadi kaku seketika, warna wajahnya mendadak berubah menjadi merah muda, manakala kedua tangan Raka melingkar erat di pinggangnya. Memeluk erat dirinya dari belakang.
Dugh Dugh Dugh
Debar di dada Naura makin meningkat tajam seiring telapak tangan Raka berada di atas perut buncitnya, mengelusnya dengan posesif. Tak ada lagi jarak di antara mereka. Seketika merinding bulu romanya, merasakan deru napas hangat Raka berembus di sekitar tengkuknya.
"Jangan pergi," bisik Raka dengan nada sedih, tepat di telinga Naura, membuat sosok manis ini menggeliat tidak nyaman. Sekelebat bayangan pahit masa lalunya mendadak muncul dipikirannya. Tubuh Naura bergetar. Kejadian ini seakan dejavu. Namun sekarang, posisi mereka berubah.
"Kumohon, Naura, pikirkan kembali niatku. Aku serius ingin menikahimu."
Naura menggigit bibir, menekan perasaan tak enak merayap di hatinya.
"Sebaiknya batalkan niatmu itu.” Naura menjawab dingin.
Bagaikan mengulang kembali adegan kejadian dua tahun silam. Kali ini, sosok manis inilah yang berbicara dingin. Sungguh, Naura tak ingin sakit hati kembali. Tak ingin dibuang begitu saja untuk kedua kalinya. Ia jadi sedikit trauma.
"Tidak.” Raka menggeleng, semakin menelusupkan kepalanya di bahu sempit Naura. Menyesap aroma khas favorit dari sosok manis-nya.
"Jangan memaksaku, Raka. Jangan membuatku makin membencimu ..." lirih Naura menahan sesak di dada.
Begitu pun dengan Raka, hatinya berdesir halus mendengarnya, ada denyutan yang menusuk hatinya. Pedih rasanya.
"Maafkan aku, Naura. Aku salah." Raka berkata serak.
Naura terdiam beberapa saat. Bibirnya bergetar. Pandangannya menyayu menatap pantulan wajahnya di ubin keramik. Bila dalam beberapa menit lagi dirinya masih berada di sini, bisa dipastikan bulir-bulir bening yang membendung di sudut matanya akan meluncur bebas ke lantai.
Kenapa baru sekarang kau meminta maaf padaku?
Kenapa baru sekarang kau menyadari kesalahanmu?
Ingin rasanya Naura berteriak seperti itu. Namun entah kenapa, kalimat-kalimat pahit itu tak mampu lolos dari cela bibirnya.
"Maafkan aku, Naura.” Raka berkata lagi saat sosok manis ini hanya diam saja.
"Aku menerima permintaan maafmu," jawab Naura dengan gigi gemeretak. Tubuhnya menggigil menahan amarah.
Raka bergeming tak menjawab. Ia semakin erat memeluk Naura.
"Sekarang kau sudah mendengarnya. Aku sudah memaafkanmu," ulang Naura lagi.
"Tapi, sepertinya kau tidak tulus memaafkanku."
"Aku tulus memaafkanmu." Naura mengepalkan tangannya. Dalam hati Naura berharap semoga ini cepat berakhir.
Tetap saja kedengarannya ia tak tulus memaafkanku. Ia masih marah, Raka termangu sesaat. "Kalau kau memang tak marah lagi. Itu artinya kau siap kunikahi."
"Itu berbeda," sergah Naura cepat. "Aku memang memaafkanmu, tetapi bukan berarti siap menerimamu kembali. Camkan itu!"
Mendengar ucapan Naura, Raka termenung. Perlahan pelukannya melonggar. Kali ini Naura takkan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Tanpa menoleh ke belakang lagi, Naura bergegas berlari menuju pintu, meninggalkan Raka tenggelam dalam ketermanguannya, menatap sendu punggungnya. Hingga beberapa detik kemudian, Raka barulah tersadar saat mendengar suara dentaman pintu ditutup.
Bergegas Raka berlari mengejar Naura. Lalu berhenti di ambang pintu, tak melanjutkan lagi pengejarannya. Diacaknya rambutnya hingga berantakan. Pandangannya menyayu menatap punggung Naura yang berlari menjauh dari area rumahnya.
Maafkan aku, Naura, selama ini telah melukai hatimu ....
__ADS_1