![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Di pulau Jeju, tepatnya kediaman lama Raka---sudah lama Raka dan Naura tidak menginjak rumah ini lagi, terhitung dua puluh dua tahun lamanya, semenjak insiden Naura dan Lucas yang kala itu baru berusia tiga hari diculik oleh Richard. Dan baru hari ini Raka dan Naura menginjak kembali rumah yang sedikit banyak menyimpan kenangan manis di dalamnya.
Setelah cukup istirahat Raka bersama Naura serta Cathie dan Andrew duduk berbincang-bincang di ruang keluarga. Baik Cathie dan Andrew sangat terkejut akan kedatangan Raka yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Begitupun dengan Maura dan Lucas, keduanya pun terkejut akan keputusan Raka yang tiba-tiba mengajak keduanya liburan ke pulau Jeju tanpa direncanakan terlebih dahulu. Meski begitu, keduanya tampak senang. Setidaknya, Maura dan Lucas bisa mengisi sisa liburan mereka sebelum berpisah, terkait dengan niat Maura yang melanjutkan kuliah di sini.
“Mum.” Mauriq baru saja datang bergabung usai menelepon Miuna, menanyakan kabar gadis itu. Hari ini gadis itu baru saja pulang dari rumah sakit. Ia tak bisa ikut mengantar gadis itu pulang ke rumahnya karena bertepatan dengan kedatangan mendadak orang tuanya ke Jeju. Seharusnya ia yang besok pulang ke Seatle, tetapi rencana berubah.
Di sisi lain, Lucas dan Maura masih berada di kamar masing-masing. Memilah barang-barang bawaan seadanya di koper. Hanya beberapa pakaian, karena memang tanpa persiapan sebelumnya. Usai berberesan barulah beristirahat. Cukup melelahkan, melakukan perjalanan dari Seatle ke pulau Jeju. Duduk berjam-jam sampai rasanya pantat mereka jadi panas dan cukup untuk mengerami beberapa butir telur ayam.
“Kenapa enggak kasih kabar sebelumnya? Minimal dua hari sebelum berangkat,” protes Cathie.
“Ada hal penting yang ingin kami bicarakan dengan Mommy dan Daddy.” Raka melirik Mauriq di sampingnya, merengkuh tubuh Naura. Bermanja-manja seperti biasa dilakukannya. Berpisah selama enam bulan, membuat Mauriq merasa sangat rindu berat pada Naura.
“Hal penting?” Cathie mengerutkan dahi.
Raka mengangguk dan menepuk pucuk kepala Mauriq. “Panggilkan Maura sama Yukhei kemari.”
Tanpa membantah Mauriq segera berdiri dan berjalan ke lantai dua. Selang lima menit kemudian Mauriq kembali ke ruangan bersama Lucas dan Maura. Setelah semuanya berkumpul Raka mulai berbicara.
“Tepatnya enam bulan yang lalu ...” Raka menjeda ucapannya sesaat. Rasanya begitu sulit untuk mengeluarkan beberapa kalimat yang berada di ujung lidahnya.
“Kami mendapat kabar dari dokter yang pernah menangani persalinan kedua Naura. Dokter Mila memberitahu kami, bahwa ... bahwa ...” Raka menatap bergantian wajah Mauriq dan Maura. Raut kebingungan tercetak jelas di wajah keduanya.
“Bahwa salah satu dari Mauriq dan Maura bukan anak kandung kami.”
“Astaga!”
“Tidak mungkin,” sanggah Cathie tercengang. Hal yang sama juga diucapkan Naura ketika mendengar kabar dari dokter Mila.
“Salah satu dari kami bukan anak kandung Mum sama Daddy? Shit! Lelucon macam apa ini,” umpat Mauriq terngangga lebar. Begitu pun dengan Maura, hanya bisa terpaku mendengarnya. Dan satu-satunya anggota keluarga yang tidak menunjukkan reaksi terkejut yaitu Lucas. Ia memang sudah mendengar semuanya tiga hari yang lalu.
“Mungkin saja itu bohong. Kalian percaya begitu saja? Kalian tidak melakukan tes DNA dulu?” Andrew menyela di tengah keterkejutan anggota keluarganya.
“Sudah, Dad. Kami sudah melakukan tes DNA.”
“Lalu, siapakah yang bukan anak kandung kalian?” tanya Cathie nyaris tenggelam suaranya. Rasanya tak siap mendengarnya.
“Maura,” jawab Raka serak.
“Ya, Tuhan!” Cathie membekap mulutnya. Naura segera merengkuh tubuh Maura disaat terdiam mematung. Sangat syok. Begitu pun dengan Mauriq, tak kalah syoknya. Bukan kabar seperti ini yang diinginkannya.
“Huks, Ma-Maura bukan anak Mum sama Daddy,” lirih Maura dengan suara parau. Air matanya mulai berjatuhan.
“Ssst! Jangan menangis, Sayang. Biar bagaimanapun kau tetaplah anak Mum dan Daddy,” ucap Naura parau. Berulangkali mengelus punggung bergetar gadis manis ini.
“Itu benar, bagaimanapun takkan ada yang berubah. Semuanya tetap sama,” timpal Raka.
“Oma setuju. Maura tetaplah cucu Oma dan Opa. Tak ada yang berubah,” imbuh Cathie ikut mengelus pucuk kepala Maura.
“Aku pun setuju. Maura tetaplah saudara kembarku yang paling cantik dan paling manis,” tambah Mauriq tersenyum lebar. Dan satu-satunya orang yang tidak memberikan ucapan sepatah kata pun hanya Lucas.
“Jadi, jangan pernah merasa sedih, ya, Sayang,” ucap Naura dengan suara bergetar. Air matanya tumpah ruah. Tak sanggup melihat Maura menangis dalam pelukannya.
Maura hanya mengangguk. Dipandanginya satu persatu wajah anggota keluarganya. Ia berusaha tersenyum pahit di tengah rasa hatinya yang terasa perih. Rasanya saat ini ia tidak berada di dunia. Sungguh sangat menyakitkan, saat mengetahui kita bukanlah anak kandung orang tua kita selama ini.
Pandangan Maura berakhir pada wajah Lucas. Keduanya saling bertatapan penuh arti. Lewat tatapan teduh Lucas, mengisyaratkan pada gadis manis ini bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, itu benar. Setidaknya, di tengah kabar buruk itu, ada hal baik lainnya. Mereka bisa menjalin cinta tanpa dibayangi rasa takut lagi.
🍃Dear,MyBaby🍃
__ADS_1
Usai menceritakan siapa Maura, malam-malam, tanpa mengulur waktu lagi Naura dan Raka segera mengunjungi rumah Miuna dengan diantar oleh Mauriq. Sementara Lucas mengajak Maura pergi jalan-jalan menikmati pulau Jeju di malam hari.
Ketika melihat Miura untuk pertama kalinya, Naura dan Raka benar-benar tak bisa berkata-kata. Gadis ini sangat mirip dengan Mauriq. Bahkan sangat mirip dengan berhadapan langsung, bila dibandingkan dengan di foto.
Sedang di sisi lain, kedua orang tua gadis ini sedikit bingung dan terkejut akan maksud kedatangan orang tua Mauriq yang mendadak.
Apa untuk melamar salah satu putri mereka?
Mereka tahu akhir-akhir ini Mauriq akrab dengan kedua anak gadisnya. Atau ada hal lainnya?
Begitu pun dengan Miuna, sama bingung dan terkejutnya akan kedatangan orang tua Mauriq. Ia tidak diberitahu sebelumnya. Mauriq mengangkat bahu ketika Miuna meminta penjelasan darinya.
Sementara Miura yang menjadi objek pandang sedari tadi oleh Naura tampak cuek sembari bermain game di ponselnya. Sebenarnya ia tidak ingin bergabung ke acara pertemuan mendadak seperti ini. Ia lebih suka berdiam diri di kamar bermain game sambil tidur-tiduran. Tetapi karena Miuna--atas permintaan Mauriq--memaksanya untuk bergabung. Ya sudah, ia hanya duduk manis dan mendengarkan percakapan yang baru dimulai dengan perkenalan dari masing-masing kedua orang tua.
“Kalau boleh tahu, ada gerangan apa tuan Raka kemari?” tanya Mr. Park sopan yang umurnya lebih tua lima tahun dari Raka.
“Bisakah hanya orang tua saja yang berbicara?” Raka menatap Mauriq, Miuna dan Miura bergantian. Ketiganya mengangguk dan berdiri. Setelah ketiganya sudah tidak ada di dalam, Raka kembali melanjutkan ucapannya. “Maksud kedatangan saya dan istri kemari hanya ingin memastikan salah satu dari putri kalian.”
Sepasang suami istri ini saling berpandangan. “Memastikan salah satu putri kami?” Mr. Park mengerutkan dahi. Dan setelah diperhatikan lagi, pria di depannya ini begitu mirip dengan anak kedua mereka, Miura.
“Ya. Tapi sebelumnya, saya mau tanya, apakah Nyonya Park melahirkan Miura di kota Seatle?” tanya Raka hati-hati.
Kembali sepasang suami istri ini saling menatap satu sama lain. Keduanya tampak enggan untuk menjawab pertanyaan Raka.
“Jawab saja, tuan Park. Percaya sama kami. Kami bukan orang jahat,” terang Raka kala membaca keraguan di wajah keduanya.
“Apakah anda berdua benar-benar bisa dipercaya?” tanya Mr. Park menyelidik.
“Tentu. Anda bisa memegang kata-kata saya,” jawab Raka serius. “Jadi, bisakah anda memberi tahu kami, apa benar Miura lahir di kota Seatle?” ulang Raka dengan sabar.
“Ya. Miura dilahirkan di kota Seatle.” Akhirnya Mrs. Park menjawab dengan ragu-ragu. “Tujuh belas tahun yang lalu,” tambahnya.
“Apakah Nyonya melahirkan di rumah sakit Seatle Medical Center?” tanya Raka lagi.
Lagi-lagi sepasang suami istri ini saling berpandangan. Entah apa yang mereka katakan lewat pandangan masing-masing, hingga akhirnya Mr. Park mengembuskan napas berat dan menatap Naura dan Raka bergantian.
“Sejujurnya ini rahasia hanya saya dan istri saya yang tahu.” Alih-alih menjawab pertanyaan Raka, Mr. Park justeru memberikan pernyataan mengagetkan dan membingungkan.
“Maksud, tuan Park?” Raka menatap serius bola mata hitam Mr. Park.
“Sebenarnya ... Miura bukan anak kandung kami. Tujuh belas tahun yang lalu, ada seorang wanita memberikan bayi pada kami. Kebetulan saat itu bayi kami baru saja meninggal. Dan wanita itu memohon agar kami mengasuh bayinya. Katanya dia tidak sanggup untuk membiayai kehidupan bayinya,” beber Mr. Park hingga membuat Naura dan Raka terhenyak. Tak bisa berkata apa-apa untuk beberapa saat.
“Seorang wanita?” ulang Raka memastikan kembali. Entah mengapa ia merasakan firasat buruk. Begitu pun dengan Naura. Ia tiba-tiba menggigil, seolah ada angin yang bertiup deras di dekatnya. Padahal AC di ruangan tidak dihidupkan. Melihat Naura yang memucat, Raka segera merengkuh tangannya dan menggenggamnya.
Mr. Park mengangguk tanpa ragu-ragu. “Ya. Seorang wanita ...” Mr. Park memandang lekat Naura. “...kami pikir wanita itu masih ada hubungan dengan Nyonya Naura.”
“Hubungan denganku?” Naura menunjuk dirinya. Dadanya mulai bergemuruh hebat.
“Ya. Dia mirip dengan Nyonya Naura. Terlebih pada warna mata. Wanita itu juga memiliki warna mata cokelat.”
“Siapa nama wanita itu?” desak Raka. Satu nama tiba-tiba muncul di kepalanya.
“Thesalia Brown.”
Astaga! Naura dan Raka terkejut bukan main. Tidak salah lagi. Itu Theresia, kakak kandung Naura. Sudah tujuh belas tahun ia dan Naura tak berjumpa lagi dengannya. Mereka benar-benar lost contact. Dan memang tak ingin tahu kabar darinya.
Sudah dipastikan, Miura anak kandung mereka. Tetapi ... yang jadi pertanyaannya, kenapa Theresia menukar anak mereka dan memberikannya pada keluarga Park?
Lalu ... benarkah Maura anak kandung Theresia?
🍃Dear,MyBaby🍃
__ADS_1
Ketika Naura dan Raka sedang berbicara serius di lantai tiga. Mauriq dan Miuna telah berada di lantai satu, di lobi restoran. Sedang Miura kembali lagi ke kamarnya.
“Apa sih yang dibicarakan oleh kedua orang tua kita?” ujar Miuna. Keduanya duduk di sofa panjang di ruang tunggu.
Mauriq mengangkat bahu. Ia tebak, mungkin saja soal Miura? Dan selama itu belum pasti, ia tidak mau mengatakannya pada Miuna atau pun Miura.
“Mungkin saja soal pernikahan kita?” goda Mauriq mengedipkan mata pada Miuna. Gadis itu bersemu merah.
“Ku-kurasa ti-tidak,” sangkal Miuna malu-malu.
“Kenapa tidak? Siapa tahu saja itu benar.” Mauriq terkekeh geli.
“Ih, tidak mungkin. Pacaran saja tidak. Masa tiba-tiba main lamaran saja.” Kembali Miuna menyangkal meski dalam hati sangat berharap seperti yang dikatakan Mauriq.
“Oh, jadi kau ingin kita resmi pacaran dulu?” lagi-lagi Mauriq menggoda Miuna.
“Bu-bukan begitu. Hanya saja ...” Miuna menundukkan kepala. Tak berani menatap wajah Mauriq.
Mauriq tersenyum. Diusapnya pucuk kepala Miuna dengan sayang dan berkata serius. “Kau tahu, Una? Pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu.”
Miuna menengadah. Pandangannya segera bertemu dengan mata cokelat bening Mauriq. Dadanya berdebar-debar kencang. Ia pun sama. Sudah seminggu ini mulai merasakan getaran cinta pada Mauriq.
“Una.” Mauriq meraih tangan Miuna, kembali berkata, “mulai sekarang dan seterusnya, berpacaranlah denganku.”
🍃Dear,MyBaby🍃
Setelah puas mengelilingi setengah pulau Jeju malam ini. Lucas menghentikan mobilnya di bahu jalan, di dekat pintu masuk taman bunga Canola. Bila saja Lucas memajukan mobilnya beberapa meter ke depan. Maka akan menemukan mobil Raka terparkir di depan restoran seafood. Menemui orang tua Miura.
Dan disepanjang jalan tadi, Maura tampak tidak semangat. Lucas beberapa kali menggodanya pun tidak digubrisnya. Bagaimana mau menikmati pemandangan indah malam ini bila perasaanya sangat sakit. Maura berharap semua ini hanyalah mimpi. Saat bangun ia masih berada di kota Seatle.
“Sudah merasa baikan, Maura?” tanya Lucas hati-hati. Keduanya memutuskan tetap berada di dalam mobil.
“Masih sangat buruk.” Maura mengaku jujur. Sebetulanya ia senang bila dirinya bukan saudara kandung Lucas serta bukan saudara angkat sepersusuan. Tetapi, mengetahui dirinya bukan anak kandung Naura, rasanya lebih menyakitkan dari apa pun. Sungguh, ia sangat menyayangi Naura yang lemah lembut dan penyayang.
“Kakak tahu perasaanmu.” Lucas merengkuh tubuh Maura. Menyurukkan kepala gadis itu di dada bidangnya. “Tapi setidaknya, ada sisi positifnya. Kita bisa bersama selamanya sebagai pasangan, tanpa perlu disembunyikan lagi status kita. Bila perlu kakak berani melamarmu di depan Mum dan Dad,” hibur Lucas dengan nada serius.
“Ih, jangan.” Maura memukul dada bidang Lucas.
“Kenapa? Kau tak suka?”
Maura menggeleng. “Bukan begitu. Aku baru berumur tujuh belas tahun. Masih lama memikirkan pernikahan. Masih ingin melanjutkan kuliah. Juga bekerja. Dan yang lebih penting ...” Maura menarik napas dalam. “...mencari orang tua kandungku.”
\===========
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1