![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
“Apa Raka sudah mengajakmu melihat-lihat cincin pernikahan, Na?”
“Eh?” Naura tergagap ketika mendapat pertanyaan dari Cathie di seberang duduknya.
Sambil menikmati waktu minum teh di sore hari, Naura menemani Cathie berbicara di kebun belakang halaman rumah. Banyak hal seru yang mereka perbincangkan. Keduanya tampak begitu akrab, seolah mereka berdua adalah ibu dan anak kandung. Bukan antara menantu dan mertua.
Naura bersemu merah dan dengan gugup menjawab pertanyaan wanita paruh baya di depannya. “Be-belum, Mommy. Mungkin besok. Sebab hari ini Raka masih ada kerjaan di kantornya.”
“Huh, anak itu. Sudah dekat mau menikah masih disibukkan dengan urusan kantor. Astaga!” Cathie menggelengkan kepala. “Kupikir dia sudah menyiapkan cincinnya.”
Naura hanya tersenyum canggung mendengarnya.
“Ya, sudah. Nanti Mommy kembali mengingatkannya--oh, karena waktunya sudah benar-benar mepet dan nggak ada waktu buat kita bersantai-santai. Mommy antar kamu sekarang ke Wedding Organizer kenalan Mommy di sini (pulau Jeju).” Cathie berseru antusias. Berdiri dari duduknya begitu semangatnya.
“Ayo, ayo. Ikut, Mommy, Na. Kita temui Miss Park di kantornya~”
“Uh, baik, Mom. (,,◕ ⋏ ◕,,)”
Bagai robot, begitu kikuknya Naura mengikuti gerakan Cathie; begitu luwesnya berjalan, layaknya model berlenggak-lenggok di atas catwalk. Samar sosok manis ini menghela napas lega.
Untung punya calon mertua begitu baik terhadapnya. Bisa memberi solusi di tengah pikirannya yang carut marut. Boro-boro kepikiran mengenal soal Wedding Organizer, memikirkan pernikahannya yang sebentar lagi akan diadakan masih berasa mimpi.
🍃Dear, My Baby🍃
“Nah, silahkan dipilih. Yang mana cocok dengan selera Nyonya,” ujar Wanita muda berbicara begitu sopannya seraya menyodorkan beberapa katalog ke hadapan Cathie. Naura taksir umurnya lebih tua lima tahun darinya. Bila diperhatikan penampilannya--- dengan berpakaian begitu modisnya---mirip model kelas dunia, Miranda Kerr.
Atas permintaan Cathie sendiri--mengajak penanggung jawab Wedding Organizer itu ketemuan di cafe yang terletak di pinggir pantai. Sembari mengobrol ringan tapi serius, mereka bisa menikmati hawa sejuk dari angin yang berembus sepoi-sepoi.
Naura menyelipkan poni ke samping telinganya manakala sapuan angin begitu lembut menyapanya. Sedang iris cokelatnya begitu lekat memperhatikan wanita cantik di depannya, yang baru saja Naura ketahui namanya---setelah berkenalan singkat tadi---adalah Park Chae Rin.
Satu hal yang membuat sosok manis ini bisa bernapas lega, dan dalam diam mengagumi sosok Miss Park, ternyata wanita muda ini bisa berbahasa Indonesia, meski dirinya asli orang Korea. Jadi, Naura tidak harus melongo dan bagai orang bodoh ketika mendengarkan percakapan antara Cathie dan Miss Park berlangsung.
“Aku ingin semuanya harus perfect pas hari H-nya, Miss Park.” Suara Cathie mengalihkan perhatian Naura--tampak begitu serius melihat-lihat katalog di tangannya.
“Tentu saja, kami akan memberikan pelayanan nomor satu buat anda, Nyonya Forrester,” sahut Miss Park dengan ramahnya.
“Harus itu,” balas Cathie bersemangat. “Untuk acara resepsi pernikahannya ... gedungnya aku ingin memakai Ballroom Lotte City Hotel Jeju.”
Glup!
Naura hanya bisa meneguk air liur dalam diam mendengar penuturan Cathie. Bisa dibayangkan olehnya, bagaimana kualitas tamu pernikahannya yang diundangnya nanti. Sekelas apakah nantinya? Sosok manis ini hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Yang pasti tidak sekelas dirinya yang cuma butiran debu di tengah padang gurun pasir.
“Terus, soal makanannya. Aku ingin dari catering terbaik di pulau Jeju ini.”
Sayup suara Cathie kembali merangsek masuk ke telinga Naura. Kembali membuat sosok manis ini fokus pada ucapan wanita paruh baya di sampingnya. Dan kembali lagi ucapan Cathie membuat Naura hanya bisa melongok.
“Tamu undangannya, Nyonya ingin berapa orang?” tanya Miss Park dengan jemarinya begitu lincah menari di atas notebook-nya, mencatat apa saja yang diinginkan oleh Cathie.
“Tiga ratus orang saja cukup. Tamu undangan penting plus keluarga inti. Meski sedikit. Aku ingin mengundang yang benar-benar menjadi rekan bisnis penting suamiku dan putraku saja. Selain itu aku ingin pernikahan putraku dan menantuku ini benar-benar sakral tanpa banyak gangguan sana sini.”
Naura setuju dengan ucapan Cathie kali ini.
“Oke, dipahami,” sahut Miss Park. “Lalu, pengisi acaranya? Nyonya mau siapa? Band? Boyband? Girband? Solo?”
“Hum ... kalau itu.” Cathie menoleh ke arah Naura. “Kamu punya masukan soal pengisi acaranya, Na?”
“Eung ... kurasa enggak ada, Mom. Naura ikut Mommy saja.” Naura menjawab gugup sambil memilin-milin jarinya. Sedari tadi mendengar ucapan Cathie saja membuatnya tak mampu berkata-kata, apalagi mau menyumbangkan masukan. Saat ini kepalanya terasa kosong. Bagaikan cangkang tanpa isi.
“Ya, sudah. Karena kau dan Raka hidup di zaman milenial, sewa saja boyband atau penyanyi solo sebagai pengisi acaranya. Cuma request dariku, Miss Park.”
“Apa itu, Nyonya?”
“Jangan lupa salah satu pengisi acaranya ada penyanyi lawas tahun delapan puluhan, ya.”
“Oke--um, bagaimana dengan acara akad nikahnya?” tanya Miss Park terus berlanjut.
“Hum, akad nikahnya ... aku maunya putraku dan calon menantuku disediakan khusus ruangan di Ballroom hotel saja tanpa mengurangi kesakralan akad nikahnya.”
“Oke.”
“Dan yang paling penting dan dicatat tanggalnya, ya, Miss Park.”
“Ya?”
“Seminggu lagi kami akan mengadakan acaranya itu.”
__ADS_1
“WHAT?!” Miss Park melotot mendengarnya. Nyaris berdiri.
“Bayarannya kunaikkan dua kali lipat dari yang kalian targetkan, bagaimana, Miss Park?” tawar Cathie penuh percaya diri. “Sanggup? Mau enggak menerimanya? Kalau enggak sanggup, kuoper ke Wedding Organizer lainnya saja, Miss Park.”
“Tentu saja sanggup, Nyonya.” Secepat kilat Miss Park menjawab. Mana mau wanita berambut pirang ini melepaskan kesempatan emas yang entah kapan lagi ada klien seroyal ini.
Sementara Naura, tak jauh berbeda dari reaksi Miss Park sebelumnya. Hanya bisa menggangga tak percaya. Seketika bulu kuduknya merinding mendengarnya. Dirinya benar-benar merasa cuma menjadi seekor lalat di sekitaran Cathie.
“Oke. Deal, Nyonya. Dua kali lipat dari harga aslinya, ya,” ulang Miss Park lagi dengan wajah berbinar-binar--menutup notebooknya dan memasukkan ke tas brandednya.
“Deal. Asal semuanya beres dan terkendali dengan aman. Apa pun itu tak masalah,” sahut Cathie.
“Yup! Percayakan semuanya pada kami, Nyonya.”
“Nah, untuk selanjutnya silakan nanti diskusikan sama putraku dan calon menantuku ini, ya.” Cathie mengelus lengan Naura.
“Baiklah.”
🍃Dear, My Baby🍃
“Huft, selesai juga. Tinggal besok kalian yang mengurus lebih detailnya lagi, Na.” Cathie menarik napas lega setelah kepergian Miss Park beberapa saat yang lalu.
“Ingat, jangan berleha-leha. Masih banyak yang belum didiskusikan, soal kartu undangan dan foto pre-wedding juga lho,” lanjutnya seraya meneguk teh rosalianya. Rasanya begitu haus setelah berdiskusi panjang dengan Miss Park tadi.
“Foto pre-wedding?” Naura tampak ragu. “Menurutku, Mom ... bagaimana kalau foto pre-weddingnya ditunda setelah aku melahirkan saja,” usulnya sembari meringis--membayangkan akan berfoto di depan kamera memperlihatkan perut buncitnya membuatnya sangat gugup luar biasa.
“Mommy rasa enggak apa-apa, Na. Bahkan menurut Mommy akan terlihat bagus--sudah, enggak mikirin soal itu. Mommy jamin hasilnya akan bagus nantinya,” tutur Cathie serius dan tak ingin mendengar ada bantahan lagi--sama persis dengan sifat Raka.
“Iya, Mom,” jawab Naura pasrah--bisa dibayangkan betapa super sibuk dirinya semingguan ini. Berharap dirinya tidak jatuh sakit saja.
“Terus agenda kita setelah ini, lihat baju pengantin kalian dulu saja,” imbuh Cathie meletakkan gelas tehnya.
“Eh, sekarang ya, Mom?”
“Iya. Waktunya mepet. Mommy enggak mau menunda-nunda lagi. Apalagi baju pengantinnya harus dibuat khusus untuk ukuran tubuh berisimu dan harus selesai dalam dua hari saja. Yang pasti debaynya harus nyaman.” Cathie mengelus perut buncit Naura.
“Aduh, tunggu di sini dulu ya, Na.” Cathie tiba-tiba berdiri dari duduknya.
“Kenapa, Mom?”
“Mommy mau ke toilet sebentar. Astaga! Kalian yang mau nikah kok, Mommy yang jadi heboh melebihi calon pengantinnya, ya?” Cathie berlalu dari hadapan Naura.
Tiada hentinya Naura tersenyum. Dalam hati sangat bersyukur akan kehadiran Cathie. Wanita paruh baya ini begitu baik dan sangat membantu sekali. Tidak bisa dibayangkan, andaikan saja Cathie tidak ada. Mungkin sekarang ini dirinya hanya bisa termangu di kamar, memikirkan urusan-urusan yang entah kapan akan selesai. Stress sendiri--pastinya.
“Naura?”
“Ya--Richard?”
🍃Dear, My Baby🍃
Sungguh Naura tidak menyangka akan bertemu kedua kalinya dengan Richard--tanpa direncanakan sebelumnya--di waktu yang tidak tepat. Pertama bertemu di rumah sakit. Kedua bertemu di cafe, di tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahannya.
“Eung ... duduk dulu, Rick.” Naura berkata canggung ketika iris cokelatnya bertemu pandang dengan iris hitam kelam milik Richard. Hatinya berdesir halus. Entah kenapa, ketika memandang netra Richard, seolah ada perasaan sedih yang tak bisa dijabarkannya.
Richard duduk di depan Naura - sebelumnya di tempati oleh Miss Park. “Sendirian?” tanyanya seraya menatap bekas gelas di atas meja.
“Enggak. Sama Mommynya Raka ke sini. Cuma Mommy lagi ke toilet sebentar.”
“Oh. Jadi tante datang ke pulau Jeju, ya.” Dari sudut bibir Richard ada seringai tipis menari tak kentara.
“Iya. Sama Om Andrew juga ke pulau Jeju,” tambah Naura semakin canggung. “Kamu sendiri, Jong?”
Menghela napas sekilas, Richard membenahi letak duduknya. “Tadinya janjian ketemuan dengan klien perusahaan kita di sini. Tapi mendadak saja mereka membatalkan pertemuannya.”
“Sayang sekali,” komentar Naura pendek.
__ADS_1
“Bagaimana kabar si Thesa?” singgung pemuda ini menatap lembut Naura. Terdengar suara sumbang penuh penekanan darinya.
Naura mencengkram erat ujung gaun hamilnya. “Um ... Ka-kak baik-baik saja di rumah sakit ...” lirihnya.
Diputuskannya untuk sedikit berbohong. Tak ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa hari ini dirinya belum mengunjungi Theresia. Akan tetapi sedikit bisa bernapas lega. Ketika di mobil tadi, sempat bertanya pada Cathie keadaan Theresia. Gadis itu baik-baik saja.
“Syukurlah.” Richard tampak tidak puas akan jawaban Naura. Tetapi tidak ingin juga terlalu memaksa untuk bertanya lebih lebih lanjut.
“Na, sekali lagi aku bertanya. Benaran mau serius sama Raka?” Untuk kesekian kalinya Richard tak pernah menyerah mengajukan pertanyaan tersebut.
“Maafkan aku, Rick. Aku ... benar-benar serius sama Raka. Aku ...” Naura tak melanjutkan ucapannya. Ditariknya napas sejenak dan diembuskannya perlahan-lahan, seolah mengikuti irama angin yang berdesir lembut di sekitarnya.
“Ya. Aku benar-benar serius pada Raka.” Ulang Naura lagi. Kali ini lebih yakin dan tegas. Tadinya mau mengatakan pada pemuda ini--sebagai tanda keseriusannya bersama Raka, mereka akan menikah minggu depan. Tetapi diurungkan niatnya. Entah mengapa, hatinya seolah menolak untuk berbicara hal itu saat ini. Hatinya tak tega membuat pemuda ini bersedih.
Sebaiknya, aku mengatakannya lusa saja. Saat di kantor. Sekalian resign dari perusahaan dan memberikan kartu undangan, batin Naura memutuskan.
“Sepertinya benar-benar tak ada kesempatan buatku, ya, Na.” Richard berkata penuh nada kecewa. Tersirat begitu sedih.
Naura tertunduk. “Iya. Maafkan aku, Rick,” lirihnya menatap ujung sepatu flat-nya.
Lama keduanya terdiam. Hingga Naura melihat di ujung pintu karyawan khusus cafe, Cathie perlahan berjalan ke arah mereka.
“Na ...”
Naura hanya diam menunggu Richard mengatakan sesuatu. Sungguh ia tak sanggup lagi untuk berbicara. Hatinya kacau balau. Bingung dan juga takut mendominasinya. Takut bila Cathie---lambat laun semakin memperkecil jarak ke arah mereka---mengatakan soal pernikahannya bersama Raka. Jujur. Ia belum siap untuk semuanya. Setidaknya jangan saat ini mengatakan hal tersebut.
“Ah ... tidak jadi, Na. Kok, tiba-tiba aku jadi amnesia ya, he he he.” Richard mengusap tengkuknya. Terkekeh pahit di tengah luka hatinya yang menggangga--bersamaan Cathie telah berdiri di sampingnya. Ia pun berdiri dan membungkuk sekilas.
Sementara Naura sendiri, sedari tadi menunduk seraya memilin jemarinya. Pikirannya terus bertanya dan menerka-nerka akan Richard. Ia yakin ada sesuatu yang Jongin ingin katakan, tetapi tak sanggup untuk diungkapkannya.
“Lho, kok sudah mau pergi? Enggak gabung dulu, nak, Richard?” sapa Cathie heran. Sebenarnya ingin bertanya kenapa bisa kenal dengan Naura, tetapi diurungkannya manakala melihat Richard memilih pergi.
“Aduh, Tante. Aku benar-benar minta maaf. Sepertinya belum bisa gabung, soalnya masih ada urusan di kantor.” Richard melirik sekilas pada Naura yang tak berani menatapnya lagi.
“Yah, sayang sekali.” Cathie tampak keberatan. “Ya, sudahlah. Lain kali saja. Bila punya waktu luang.”
“Yup! Aku setuju, Tante.” Richard tersenyum hambar.
“Yo, Tante. Aku pergi dulu. Salam buat Raka, Tante. Dan ...” Richard menatap sendu Naura. Tangannya bergerak perlahan di bahu sosok manis ini, dan merematnya begitu kuat. Seolah ingin mengisyaratkan apa yang dirasakannya saat ini.
“Jaga diri baik-baik, Naura.” Richard berucap lemah dan tak bersemangat.
Lagi-lagi Naura hanya terdiam membisu. Angin yang bertiup pelan di sekitarnya seakan mengiringi langkah gontai Richard. Perlahan hilang di balik tembok besar cafe. Naura menarik napas sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Cathie. Wanita paruh baya itu tampak asyik menyantap tiramisu cake-nya.
“Mommy, kok lama di toiletnya tadi?” tanya Naura, berusaha mencari pembicaraan yang hangat. Tak ingin larut dalam perasaan kosong yang tak bisa dijabarkannya sendiri.
“Tadi ketemu teman lama. Jadi ngobrol dikit dengannya,” jelas Cathie santai.
“Mommy.”
“Kenapa, Na?”
Naura menatap lekat bola mata Cathie. “Naura benar-benar mengucapkan banyak terima kasih. Untung ada Mommy. Naura nggak bisa bayangin kalau Mommy enggak ada di sini.”
Cathie tersenyum. Dijauhkan tiramisu cake darinya. Meraih tangan Naura. Digenggamnya begitu erat. “Seharusnya, Mommy-lah yang berterima kasih padamu. Terima kasih sudah mau kembali pada Raka, dan mengandung cucuku dengan penuh perhatian dan kasih sayang.”
“Mommy ...” Mata Naura berkaca-kaca mendengar ucapan Cathie. Begitu tersentuh. Segera dipeluknya tubuh wanita paruh baya ini. Tak sanggup lagi menahan buliran di sudut mata--memang sedari tadi ketika Jongin pergi dari hadapannya, ia ingin menangis. Satu persatu tetesan cairan bening itu mulai berjatuhan di pelupuk matanya.
“Makasih, Mommy. Sudah menerimaku di keluarga besar Mommy,” bisiknya begitu serak menahan haru.
“Sama-sama. Mommy juga, Na.” Cathie mengelus punggung Naura yang bergetar. Pikirannya menerawang ketika berada di rumah sakit. Mengingat percakapannya dengan Theresa.
“Huks, Tante.” Theresia menatap Cathie penuh harap di balik air matanya yang berurai. Tidak sedetik pun gadis ini melepaskan pelukannya di pinggang ramping wanita paruh baya ini.
“Bi-bisakah, Tante, menolongku?” lanjut Theresia di tengah sedu-sedannya.
“Soal apa, Thesa?” tanya Cathie sedikit datar.
Terlihat wanita paruh baya ini kurang bersimpati pada gadis ini meski buliran-buliran cairan bening di pipinya berjatuhan. Tak membuatnya untuk semakin iba, sebab kadar rasa ibanya berkurang setelah tahu cerita di balik nama asli gadis ini dari suaminya.
“Membujuk Raka, Tante.”
“ .... ”
“Bujuk Raka agar mau kembali padaku, Tante. Kumohon, Tante. Please. Bujuk Raka untukku. Huks ...”
..........
.....
...
Cathie menarik napas dalam ketika ingatannya kembali ke masa sekarang. Angin yang berembus semakin kencang menyapa kulitnya. Aroma wangi yang menguar di tubuh Naura menyadarkannya, bahwa dirinya harus bisa memilih dengan tegas.
Maafkan tante, Theresia. Tante tak bisa menolongmu. Bagi tante ... kebahagiaan Raka lebih penting di atas segalanya.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1