![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
“Kalian sudah membawa barang yang kuminta?” tanya dokter Mila setelah lima belas menit Raka dan Naura mengobrol dengannya.
Raka mengangguk sambil mengelus kepala Naura. Tampak sosok manis-nya begitu gelisah. Enam bulan yang lalu, semenjak menceritakan soal anak kembar mereka, Naura tidak bisa tenang seperti biasanya lagi. Raka sendiri sangat syok dan tidak percaya akan berita itu.
Mengikuti saran dari dokter Mila agar mereka lebih yakin lagi. Akhirnya hari ini memutuskan untuk tes DNA. Butuh waktu enam bulan lamanya untuk menguatkan hati melakukan tes DNA. Sungguh mereka belum siap dengan hasilnya nanti.
Dan kebetulan Maura libur kuliah, jadi mereka bisa membawa Maura kembali ke Seatle. Begitupun dengan Lucas, ia juga kembali. Katanya ingin liburan, mengingat hampir setahunan ini ia tidak mengambil cuti. Sedang Mauriq masih berada di Korea. Pemuda itu masih ingin menikmati liburannya di sana. Kebetulan akan menyambut musim salju pertamanya di negeri gingseng itu.
Satu lagi, Naura dan Raka sefakat untuk menyimpan rapat-rapat rahasia ini dari anak-anak. Biar bagaimanapun, baik Maura atau pun Mauriq semisal bukan anak kandung mereka, mereka akan tetap menggangap keduanya anak kandung mereka. Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang singkat, banyak moment berharga mereka lewati bersama dan mereka tidak ingin menghancurkan kenangan-kenangan berharga hanya karena salah satu dari keduanya bukan anak kandung mereka.
Naura mengeluarkan barang yang diminta dokter Mila. Sehelai rambut Maura di dalam kantung plastik kecil. Semalam diambilnya diam-diam dari Maura ketika tidur. Juga sehelai rambutnya dan rambut Raka. Untuk sementara Maura dulu mereka lakukan tes DNA, mengingat Mauriq masih berada di negara Korea.
“Berapa lama kami bisa mengetahui hasilnya, Dok?” tanya Raka setelah dokter Mila mengambil sample dari tangan Naura.
“Karena ini bukan untuk kebutuhan mendesak, dan mengikuti jadwal yang ada. Sekitar 12-14 harian hasilnya keluar.”
🍃Dear, My Baby🍃
Sore ini Lucas mengajak Maura jalan-jalan di belakang rumah. Menikmati sunset yang sebentar lagi akan muncul sembari menyusuri bibir pantai. Sudah lama mereka tidak jalan-jalan berdua seperti ini.
Lucas menyilangkan kedua tangan di dada. Melirik sekilas pada Maura. Pandangan Lucas terkunci sepenuhnya pada adiknya. Sungguh terpesona pada Maura, gadis ini terlihat bagitu cantik. Rambutnya yang tergerai panjang melambai-lambai ditiup angin, seolah menyapa sekawanan burung layang-layang yang terbang di atas laut.
Buru-buru Lucas mengalihkan pandangannya manakala debaran di dadanya tiba-tiba meningkat tajam. Selain itu, ia tak sanggup memandang Maura begitu lama karena takut akan kelepasan ... kelepasan untuk mengatakan ...
Lucas mengembuskan napas. Diam-diam mengepalkan tangan di balik saku mantel-nya. Sudah lima tahun ini hatinya begitu tersiksa. Itu mengapa ia memilih selama setahun ini bekerja di Indonesia. Jauh dari Maura. Mencoba mengubur perasaannya yang terdalam. Awalnya ia bisa melewatinya. Tetapi perasaannya kembali membara ketika Maura mengutarakan ingin kuliah di Indonesia dan tinggal bersamanya.
Kembali Lucas melirik Maura kala telinganya menangkap desisan dari belah bibir cherry-nya. Refleks Lucas melepaskan mantelnya dan menyelimutkannya ke tubuh Maura.
Gadis itu menengadah menatap mata cokelat bening Lucas. Kemudian tersenyum kala rasa hangat menjalari hatinya. Lucas balas tersenyum tipis.
“Tadi Kakak sudah peringatin sebelum jalan-jalan. Pakai mantel, dasar bandel,” sungut Lucas berpura-pura kesal sembari menendang kerikil di depannya.
“Kupikir tadi nggak akan sedingin ini.” Maura mengangkat bahu. Nyatanya ia salah. Karena akan menyambut musim dingin, angin yang bertiup agak kencang. Dan itu membuatnya jadi tidak nyaman mengingat daya tahan tubuhnya yang lemah. Mudah-mudahan setelah jalan-jalan tidak jatuh sakit.
Kalau begini, kadang ia iri dengan saudara kembarnya. Mauriq sangat kuat dan jarang sakit. Seingatnya Mauriq sakit hanya dua kali. Terkadang Maura heran sendiri dengan mereka berdua. Biasanya, bila saudara kembarnya sakit, yang satunya juga akan menyusul. Selain itu ia tidak merasakan feeling yang kuat terhadap saudara kembarnya. Begitu pun dengan Mauriq, Mauriq juga mengakui soal hubungan batin mereka. Misalkan saja bila Maura sedang sedih, Mauriq seakan tidak merasakan apapun. Begitu pun sebaliknya.
Maura melirik ke arah Lucas, sedari tadi keduanya hanya diam. Lucas mengelus lengannya. Angin yang berembus di sekitarnya membuatnya cukup kedinginan.
“Masukkan saja tangan Kak Yukhei ke sini.”
Lucas terkejut, tiba-tiba saja Maura memasukkan tangannya ke dalam saku mantel yang dipakai gadis ini.
“Gimana, enggak dingin lagi, kan.” Maura tersenyum merasakan tangannya menggenggam tangan Lucas dalam saku mantelnya.
Lucas tersenyum tipis. Memang tidak dingin lagi. Justeru hangat sampai ke hatinya yang terdalam. Ia pun balas menggenggam erat tangan Maura. Kedua tangan mereka saling bertautan. Maura terdiam sejenak, kala merasakan jemari Lucas di tangannya. Ia menggeleng samar. Kenapa tiba-tiba rasanya jadi berbeda? Perasaan ini seperti ....
“Uh, coba deh ada Mauriq juga di sini. Kita bisa main kejar-kejaran seperti dulu,” celetuk Maura mengalihkan perasaan aneh yang merayap di hatinya. Mungkin sekarang warna wajahnya telah berubah warna.
Lucas menaikkan salah satu alisnya. Dalam hati ia bersyukur Maura berbicara seperti itu. Setidaknya mengurangi kecanggungan mereka berdua. Jujur, ia semakin tersiksa dengan perasaannya ini. Yang semakin lama semakin menguat, terlebih dengan adanya skinship seperti ini.
“Kau ingin main kejar-kejaran, Maura?”
__ADS_1
Maura mengangguk. “Hum.”
Lucas terkekeh. Melepaskan genggamannya dan mengeluarkan tangannya dari saku mantel Maura. Lantas menjitak kepala gadis itu. Ia menjulurkan lidahnya dan berlari.
“Ih. Kak Yukhei nyebelin. Sakit, eoh!” Maura mengelus kepalanya dan segera berlari mengejar Lucas. Keduanya mulai terlibat saling kejar-kejaran di pinggir pantai. Tertawa riang bersama.
“Dapat!” Maura berteriak girang ketika meraih ujung kaus Lucas. Dan segera memeluk erat tubuh Lucas dari belakang.
Degh! Degh! Degh!
Keduanya sama-sama terpaku. Merasakan debaran jantung masing-masing. Maura mendengar jelas detakan jantung Lucas, begitu pun dengan Lucas. Lucas memutar tubuh Maura, hingga mereka pun berhadapan. Keduanya kembali berpandangan, dari pancaran mata seolah mereka memahami perasaan masing-masing.
Lucas mengerjap. Maura mengangguk mengerti. Sekarang ia tahu alasan Lucas bersikap over padanya selama ini. Terlebih terhadap pria yang berusaha mendekatinya.
“Sejak kapan, Kak Yuhkei?” tanya Maura nyaris berbisik.
Lucas menutup mata sebentar. Pada akhirnya isi hatinya diketahui juga oleh Maura. Apakah Maura juga merasakan hal yang sama? Ia tahu, ketika Maura memeluknya tadi, ia merasakan debaran jantung gadis ini. Biasanya bila mereka saling berpelukan, dia tidak merasakan debaran yang kuat dari Maura. Sedang ia sendiri, selama ini bisa mengendalikan debarannya. Tetapi tadi, entah mengapa tak mampu lagi membendungnya.
“Lima tahun lalu ...” jawab Lucas serak.
Maura diam. Hanya bisa menundukkan kepala dan menggigit bibir. Hatinya dipenuhi perasaan sedih. Mengapa mereka harus menjadi saudara?
“Maura, Kak---”
“Jangan teruskan, Kak Yukhei. Maura juga ... huks!”
Lucas meraih tubuh Maura dan memeluknya begitu erat. Mengelus punggungnya. Keduanya hanya berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan memahami benar isi hati masing-masing.
🍃Dear, My Baby🍃
Berkali-kali Mauriq mengembuskan napas. Sedikit menggigil kala embusan angin merayap masuk ke dalam tubuhnya dari balik jaket kulit yang dipakainya. Memang sebentar lagi akan menyambut musim dingin, itu makanya cuacanya mulai berubah-ubah.
Kendati demikian, tak menyurutkan semangat Mauriq mengayuh sepedanya. Menelusuri jalanan taman bunga Canola. Pohon-pohon yang meranggas di sisi kiri kanannya menerbangkan dedaunan yang kering. Banyak pengunjung yang berpasangan saling bergandengan tangan menelusuri jalan. Menikmati sore yang agak mendung ini.
Pemuda berambut ikal ini menghentikan sepedanya di samping kursi taman. Rasa lelah mulai merayapinya setelah sejam mengelilingi taman bunga Canola. Mauriq memutuskan untuk beristirahat di kursi taman persis menghadap hamparan kebun bunga Canola.
Melihat hamparan bunga di depannya dan tak ingin melewatkan bunga-bunga yang sebentar lagi tertutupi salju itu, Mauriq pun mengabadikannya dengan kamera yang setia menggantung di lehernya. Mengikuti jejak neneknya, Cathie, Mauriq hobi fotografi.
Jepretan demi jepretan mulai Mauriq abadikan melalui lensa kameranya. Nanti hasilnya akan diperlihatkan pada ibunya. Naura sering sekali menceritakan padanya tentang bunga Canola. Dan setiap bercerita wajah Naura akan berbinar-binar bahagia. Selain itu ada perasaan rindu yang terpendam Mauriq rasakan ketika ibunya menceritakan taman dengan bunga berwarna kuning ini.
Ketika hendak membidik kembali kameranya, Mauriq terpaku manakala ada sesuatu objek yang menarik perhatiannya. Tiba-tiba saja sosok cantik entah dari mana datangnya telah berdiri di depannya---lebih tepatnya berkacak pinggang di depannya dengan wajah tertekuk. Menghalangi penglihatannya.
Oh, astaga! Mauriq rasa ... gadis itu terlihat tampak lucu dilihat dari sudut kamera-nya.
“Yak, Miura, ternyata kau di sini!” Gadis yang memakai topi baret berwarna pink itu berteriak persis di depan Mauriq.
Mauriq mengerjap dan terkaget. Miura? Belum sempat Mauriq mencerna ucapan gadis di depannya. Tiba-tiba saja ia merasakan telinganya dijewer gadis ini.
Mauriq mengerang berusaha melepaskan jeweran gadis itu. “Hey! Jauhkan tanganmu dari telingaku!”
“Tidak akan, Miura! Enak saja. Kau kabur dari kedai dan enak-enakan memotret hal tak jelas. Lagian sejak kapan kau punya kamera mahal, hum.” Gadis itu berusaha menyeret tubuh Mauriq.
__ADS_1
“Apanya yang kabur. Lagian aku tidak kenal kamu. Lepaskan tanganmu! Lama-lama bisa putus telingaku.”
Gadis itu berdecih. “Oh, begitu ya. Jadi sekarang kamu pura-pura tidak ingat dengan Kakak kandungmu lagi, huh.”
“Memang tidak kenal,” desis Mauriq. Dalam hati menggerutu sebal, jeweran gadis ini begitu kuat. Untungnya sudah dilepaskannya, kalau tidak mungkin telinganya benaran putus.
“Wah, sepertinya ini anak minta diceburin ke kolam buaya biar ingat, eoh. Lagian, kenapa berpakaian laki-laki. Mau mengibuliku, huh. Dan sejak kapan kau jadi tinggi begini?”
Mauriq memutar bola mata sembari mengelus telinganya. “Aku memang laki-laki dan memang sudah tinggi begini, noona.” Mauriq rasa gadis di depannya lebih tua darinya.
“Noona, katamu! Panggil aku Eonnie. Eon---”
“Eonnie!” Seseorang menyela dari samping.
Gadis itu menghentikan ucapannya. “Miura?! Lho kok kamu ada dua?” tunjuknya pada Mauriq dan gadis yang diketahui pemilik nama asli Miura---tak jauh darinya berdiri.
Sama seperti gadis ini, reaksi Mauriq juga terkejut.
“Kamu/kamu.” Mauriq dan Miura berbicara bersamaan. Keduanya saling berpandangan.
“Astaga! Aku jadi seperti berkaca melihat wajahku,” gumam Mauriq tak percaya. Sungguh gadis yang bernama Miura ini sangat mirip dengannya. Cuma beda warna bola mata. Warna mata gadis ini mirip dengan warna mata Maura dan Raka, abu-abu.
“Bisa sangat mirip begini ya. Bahkan namanya juga mirip. Miura, Maura dan Mauriq.” Mauriq menggaruk kepalanya. Kebingungan. Menatap Miura dan gadis itu bergantian. Gadis itu tercengir menyadari kesalahannya. Astaga! Ia benaran salah orang.
“Ayo, pergi Eonni. Appa sudah menunggu kita sedari tadi.” Miura menyenggol lengan gadis itu.
“Ne,” jawab gadis itu. Kemudian gadis itu membungkukkan badannya sekilas pada Mauriq. “Maafkan kesalahanku,” ujarnya tidak enak hati.
Mauriq tersenyum tipis. Entah mengapa mendengar gadis ini meminta maaf padanya membuatnya luluh seketika. Apalagi dengan wajah semanis itu. Astaga! Dadanya jadi berdebar-debar kencang. Baru kali ini ia merasakan debaran yang begitu kuat terhadap seorang gadis.
“Hey, tunggu!” panggil Mauriq ketika kedua gadis itu beranjak pergi meninggalkannya.
“Ada apa?” sahut gadis itu menoleh.
“Namaku Mauriq Earnest Forrester. Ingat ya, jangan salah lagi. Namaku Mauriq.” Entah mengapa Mauriq ingin mengenalkan namanya pada gadis itu.
Gadis itu dan Miura tersenyum geli. “Ne, Mauriq. Namaku Park Miuna. Panggil saja Una.” Gadis itu menunjuk dirinya sendiri, lalu menyenggol lengan Miura. “Kalau dia Park Miura. Anny---”
“Tu-tunggu dulu.”
“Apalagi?” Miuna mengerutkan dahi. Sementara Miura hanya memasang wajah datar. Ekspresi kedua gadis ini mengingatkan Mauriq pada ekspresi kakak sulungnya, Lucas dengan wajah datarnya.
“Kalau boleh tahu---”
“Kami punya restoran tak jauh dari pintu masuk taman bunga Canola ini. Cari saja nama Restoran Seafood Jeju,” potong Miura seakan tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Mauriq.
“Oke. Terima kasih.” Mauriq tersenyum lebar. Nyaris melompat kegirangan sambil memperhatikan kedua gadis itu mulai menjauh dari pandangannya.
“Una, sepertinya ... aku menyukaimu,” gumam Mauriq. Hum, setidaknya ia punya alasan datang ke restoran seafod setiap harinya.
==============
__ADS_1
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.