![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
"Baby?" Saat membuka mata untuk pertama kalinya dari bangun tidurnya, hal yang pertama kali Raka lakukan adalah memanggil sang kekasih ketika tak mendapati wanita muda itu dalam dekapannya.
"Naura?" Buru-buru Raka turun dari tempat tidur dan langsung menuju ruang ganti pakaian. Mengecek apakah barang-barang kekasihnya itu masih ada.
Barulah pria muda ini menghela napas lega manakala mendapati barang-barang Naura masih utuh. Itu artinya sosok manisnya tidak pergi diam-diam darinya. Kemudian pria muda ini melangkahkan kaki jenjangnya ke luar dari kamar, menuruni tangga satu-persatu. Sedikit terburu-buru, tak sabaran untuk segera melihat wajah kekasihnya.
Raka langsung menuju ke dapur kala hidungnya mencium bau wangi masakan mengudara di sekitarnya. Siapa lagi kalau bukan Naura yang memasak. Senyum indah terukir jelas di belah bibir pria dengan paras tak kalah dari model-model dunia saat mata elangnya menangkap punggung belakang kekasihnya.
"Baby." Raka melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita-nya, tangannya mulai mengelus perut buncitnya. Seperti biasa, menyapa calon bayinya. Ketika telapak tangannya menyentuh perut buncit sosok manis-nya sang jabang bayi selalu bereaksi terhadap sentuhannya. Menendang-nendang. Seolah menyapa balik.
Disandarkan dagunya ke atas bahu sempit Naura yang terekspos jelas, menampilkan kulit putih mulusnya hingga mengundang pria ini untuk menempatkan bibirnya di kulit putih porselen itu sembari menyesap wangi khas kekasihnya. Wangi yang selalu membuatnya merasakan betapa indahnya dunia bila bersama Naura. Seolah tak ada lagi yang diinginkannya dalam hidup ini.
Sementara mata elang pria ini sedari tadi memperhatikan kedua tangan Naura yang begitu telatennya mengaduk nasi di atas wajan bersama toping-toping yang begitu menggiurkan. Nasi goreng. Sungguh menggugah selera. Aroma nasi goreng yang begitu menusuk penciumannya seketika membuat perutnya keroncongan. Rasa lapar langsung menyerangnya.
"Dear, menjauh dariku." Naura berusaha menggerakkan bahu sempitnya, menjauhkan bibir Raka di atas kulitnya. Sedikit terganggu acara memasaknya karena pria ini bergelayut manja padanya.
Raka bergeming. Tak beranjak walau seinchi pun dari tubuh kekasihnya. Ia ingin menikmati waktu seperti ini sedikit lebih lama lagi. Hatinya bahagia. Betapa tidak. Moment-moment indah seperti ini kembali hadir di hidupnya lagi. Ketika putus dari Naura, sungguh ia tidak mampu membayangkan akan bisa menikmati kembali moment indah seperti ini lagi.
"Dear, kau mendengarku?"
"Hum ..." Raka hanya bergumam malas.
"Ayolah, Dear. Kau menggangguku," aku Naura jujur sembari menghela napas.
Raka tetap diam hingga membuat sosok manis ini jadi jengkel. Tiba-tiba ia jadi teringat adegan sama seperti ini. Beruntung di sini cuma ada dia dan Raka. Bagaimana kalau dilihat orang lain. Sungguh rasanya jadi sangat malu. Seperti pertama kali dia memergoki Sunny sama Dokjin bermesraan di dapur.
"Oke, bila kau tidak mau melepaskan tanganmu. Kita tidak usah sarapan pagi ini," ancam Naura sembari mematikan kompor.
"Jangan!" Raka berteriak hingga membuat sosok manis ini tersenyum geli. Padahal dirinya sudah selesai memasak. Pria ini mengerang tertahan. Dengan berat hati menjauhkan kedua tangannya dari tubuh kekasih hatinya ini. Kemudian memutar tubuh sosok manisnya. Menghadap padanya. Mata elangnya menatap lekat pendaran merah muda di pipi wanita muda ini.
"Sudah mandi dulu saja, gih. Kamu bau." Naura berpura-pura kebauan seraya mengibaskan tangan di sekitaran hidung.
"Baiklah. Tapi sebelumnya ..." Raka menundukkan kepala hingga sejajar dengan wajah wanita muda ini. Secepat kilat menempelkan bibirnya di atas bibir plum kekasihnya. Mengecup ringan bibir menggoda itu.
"Morning kiss, Baby." Raka mengedipkan sebelah mata. Berlalu dari hadapan Naura dengan bibir tersungging senyuman kepuasan. Mulai hari ini pagi indahnya kembali bersinar bagaikan cahaya mentari yang tiada henti menyinari bumi.
"Aih, dasar mesum." Naura bergumam sembari mengelus bibirnya. Tersenyum malu kala irisnya menatap punggung kokoh pria-nya.
🍃Dear, My Baby🍃
"Iya, Mom. Raka mengerti," ujar Raka menjawab pertanyaan ibunya di telepon sembari memakan nasi goreng buatan kekasihnya.
Seperti biasa. Cathie kembali menelepon. Menanyakan kapan pria muda ini balik ke Indonesia. Sementara Naura sibuk menyuapinya. Wanita muda ini mengomelinya ketika jam telah menunjukkan angka delapan. Sebentar lagi jam masuk perusahaan. Sosok manisnya tak ingin terlambat bekerja. Kata wanita muda ini ini dia justeru menghambat waktunya. Oh, ayolah. Ia bukannya sengaja menghambat waktu kekasihnya ini. Hanya saja masih ingin berlama-lama dengannya pagi ini. Berpisah beberapa jam itu terasa sangat lama.
"Raka, kenapa sih kau tak mau cepat-cepat pulang ke Indonesia? Kau tak rindu sama Mommy yang kesepian di sini?”
“Tentu saja Raka rindu sama Mommy.”
“Tapi kenapa belum mau pulang? Apa di sana ada yang lebih menarik hatimu?" tanya Cathie penasaran di seberang telepon.
Sebelum menjawab pertanyaan ibunya, Raka membuka mulutnya lebar-lebar ketika Naura menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulutnya. Suapan terakhir. Tanpa terasa saat berbicara dengan ibunya di telepon, nasi gorengnya telah habis dengan Naura yang menyuapinya.
__ADS_1
"Ada, Mom." Saat menjawab Raka menatap lekat wajah manis kekasihnya. Tak sabaran ingin memperkenalkan Naura pada ibunya sebagai calon mantu.
"Oh, ya? Apa itu?"
"Ada deh, nanti saja. Kalau Raka pulang ke Jakarta, Mommy akan tahu sendiri," jawab Raka. Mata elangnya memperhatikan kekasihnya, kini sibuk dengan jas miliknya. Membawanya ke arahnya.
“Terus kapan pulangnya?” tanya Cathie makin tak sabar.
Raka mengetuk dagu. Berpikir sejenak. “Mungkin besok atau lusa. Pokoknya setelah Raka menyelesaikan urusan Raka di sini,” jelas pria muda ini.
"Coba berdiri dulu, Dear." Naura memberi instruksi, menyela pembicaraan pria ini. Raka menurut. Berdiri dari duduknya, membiarkan Naura memasangkan jas untuknya. Menepuk-nepuk dadanya, merapikan jasnya.
"Siapa itu, Ka?"
"Seseorang," jawab Raka ambigu.
"Iya, Mommy tahu itu seseorang, bukan hantu."
"He he he." Raka menggaruk kepala. Matanya berkedip ketika Naura memiringkan kepala, memperhatikannya yang tercengir. Wanita muda ini tampak penasaran apa yang dikatakan lawan bicara kekasihnya ini.
"Kamu ini ada-ada saja, Raka. Maksud Mommy, siapa yang sekarang bersama kamu itu. Kayaknya Mommy kenal dengan suara itu, deh. Perempuan, kan?"
"Hum." Raka menggumam. Sudut bibirnya makin nyata tersenyum bahagia. Iris abu-abunya begitu lekat memperhatikan Naura begitu seriusnya memasangkan dasi untuknya. Astaga, kalau begini sungguh dirinya tak sabaran untuk segera menikahi sosok manis ini.
"Mirip suara Naura?" tebak Cathie.
"Menurut Mommy?" Raka balik bertanya dengan mata elangnya tetap memperhatikan Naura yang telah selesai memasangkan dasi. Sebelah tangannya menarik pinggang sosok manis ini agar semakin merapat padanya, lantas mengecup dahinya sekilas. "Makasih, Baby," ujarnya kemudian.
"Benar itu Naura, Raka?"
"Hum." Lagi Raka hanya menggumam sebagai jawaban.
"Ya, Tuhan!"
"Kau balikan sama gadis itu?" lanjut Cathie di seberang telepon setelah bisa menguasai rasa terkejutnya.
"Iya, Mom." Raka menjawab tegas, tanpa ada keraguan sama sekali dalam nada bicaranya. Merengkuh tubuh kekasihnya sembari berjalan menuju ruang tamu. Samar telinganya mendengar ibunya menarik napas panjang.
"Bagaimana dengan Thesa? Kalian sudah bertunangan lebih dari dua tahun." Cathie mengingatkan.
Raka melirik kekasihnya, pandangannya bertemu dengan iris cokelat bening itu, dari pancarannya seolah ingin meminta penjelasan padanya. Pria ini menepuk pucuk kepala Naura sebelum menjawab pertanyaan ibunya. Atau lebih tepat rasa resah ibunya.
Hanya Cathie-lah yang mengetahui isi hatinya selama ini. Ibunya sangat memahami perasaannya. Bahkan ketika putus dari Naura dan memilih bertunangan karena dipaksa ayahnya pun Cathie sangat tahu. Sempat ibunya menentang keputusan kepala keluarga mereka yang tanpa persetujuan dari putranya sendiri, menjodohkan Raka dengan teman bisnis suaminya. Akan tetapi, apalah daya, ia tidak punya kekuatan penuh untuk menentang keputusan Andrew.
"Soal Thesa ..." Pandangan Raka bertemu dengan iris Naura, ketika ia menyebut nama tunangannya--- tidak, lebih tepatnya mantan tunanganya. Sosok manis ini mengernyitkn dahi.
"...aku akan mengurusnya segera, Mom," sambung Raka seraya mengelus dahi kekasihnya. Meluruskan garis-garis kerutan di dahi tersebut.
"Lalu bagaimana dengan Daddy?" tanya Cathie.
Terdengar dari nada suara wanita paruh baya itu rasa cemas menghinggapinya. Takut suaminya murka kala mengetahui Raka kembali menjalin hubungan dengan gadis berparas manis itu. Sejujurnya, andai bisa memilih Cathie lebih suka Naura menjadi menantunya ketimbang Thesa.
Naura lebih bisa diandalkan untuk mengurus kehidupan putra semata wayangnya ketimbang Thesa yang acuh tak acuh pada kehidupan putranya. Yang hanya menyukai Raka dari paras dan uangnya saja. Menurutnya, jangankan mau mengurus kehidupan putranya, mengurus dirinya saja Thesa tidak mampu.
"Mommy tak usah cemas pada Daddy. Nanti Raka akan menjelaskan semuanya pada beliau," ujar Raka, sedikit mengurangi rasa cemas ibunya.
"Baiklah, Mommy mengerti. Kau mau pergi bekerja?”
“Ya, Mom.”
“Oke. Nanti kita sambung lagi. Salam buat Naura."
"Ya, akan kusampaikan."
“Eh, tunggu dulu.”
__ADS_1
“Ya?” Raka menahan sambungannya tetap terjaga.
“Janji ya sama, Mommy.”
“Janji?” Dahi Raka berkerut.
“Iya. Katanya mau pulang besok atau lusa, kan. Awas kalau bohong. Mommy kutuk kau jadi makin tampan dan kaya raya. Arraseo?”
Raka terkekeh geli mendengar ucapan ibunya dengan nada merajuk. Astaga. Mirip nada kekasihnya bila sedang marah padanya. “Siap, Mom.”
Usai Raka menjawab ucapan ibunya, terdengar beep panjang di seberang telepon.
"Siapa itu Thesa, Dear?" tanya Naura setelah Raka memasukkan kembali alat komunikasinya ke balik saku jasnya.
"Um, itu ..." Raka tampak berpikir.
Pandangannya tertuju pada jari-jarinya di balik sandal yang dipakainya. Dirinya belum memakai sepatu. Dielusnya pinggang kekasihnya, setelah menimbang untuk tidak mengatakan Thesa adalah tunangannya. Toh, pada akhirnya pertungannya dengan Thesa akan segera berakhir. Itu artinya Naura tidak perlu tahu siapa gadis itu. Demikian pula dengan Thesa.
"Thesa itu sepupuku. Gadis itu sering sekali membuat onar di rumah, kali ini dia kabur entah ke mana." Raka terbatuk-batuk kecil ketika menjelaskan. Berkata bohong pada sosok manis ini membuat hatinya dipenuhi rasa bersalah. Dadanya terasa sesak. Seolah ada yang menutup jalur pernapasannya.
"Oh." Naura hanya berkomentar singkat sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Samar kedua alisnya bertautan. Setahunya, selama berpacaran dengan Raka kurang lebih lima tahunan ia belum pernah mendengar nama sepupu Raka itu Thesa.
Sudahlah. Naura mengangkat bahu. Tidak terlalu dipikirkannya. Mungkin saja Thesa itu sepupu jauh Raka dari negara lain. Bukankah rata-rata sepupu kekasihnya ini memang tinggal di luar negeri mengingat Raka punya darah campuran. Inggris-Kanada-Indonesia.
"Na, tunggu sebentar di sini." Raka mengelus lengan Naura di balik blazer hitam yang dipakainya hari ini. "Aku lupa membawa kunci mobil," jelas Raka sembari menaiki tangga satu persatu.
"Astaga, pakai lupa segala lagi. Buruan, jangan lama-lama." Naura bersungut kesal. Menyingkap ujung lengan blazernya.
Sosok manis ini memberengut sebal manakala irisnya menatap angka delapan lewat lima belas menit di jam tangan gucci-nya. Jam tangan kesayangannya dan paling berharga untuknya. Punya banyak kenangan di dalamnya. Berkali-kali hampir hilang akibat kecerobohannya sendiri. Salah satu benda mati yang menjadi saksi bisu ketika Raka memutuskannya.
Jam tangan yang selalu menemaninya ketika menjalani hari-hari berat tanpa pria itu disisinya, dan di saat rasa rindunya terhadap Raka membubung tinggi. Ya. Jam tangan yang dibelikan spesial oleh Raka di saat merayakan anniversary pertama kalinya mereka berpacaran.
🍃Dear, My Baby🍃
Di bandar udara Jeju Internasional tampak arus hilir mudik penumpang di terminal kedatangan luar negeri. Salah satu dari sekian banyaknya manusia. Seorang wanita bak model. Bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang almondnya dibiarkan saja tergerai. Tubuhnya yang ramping dibalut dengan blus hitam dengan dipadukan celana jeans.
Karena sekarang cuaca di pulau Jeju mengalami musim dingin, maka ia memakai cardigan berwarna cokelat sebagai lapisan pakaiannya. Menghiasi kakinya yang jenjang, ia menggunakan sepatu boot dengan tonggak tidak terlalu tinggi. Untuk menyempurnakan penampilannya, ia pun memakai kaca mata hitam yang membingkai wajah cantiknya. Tak lupa tas merek Givency yang menggantung indah di lengan kanannya.
Tak ayal dengan penampilannya yang memukai itu, banyak pasang mata melirik ke arahnya. Sementara wanita ini tampak biasa saja, sebab dirinya memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Hanya saja, meski ia sudah berdandan semaksimal mungkin. Tetap saja ia tak mampu menarik perhatian satu pria yang menjadi pusat dunianya saat ini.
Samar sudut bibir wanita muda ini tersenyum tipis. Berjalan santai menuju pintu keluar terminal dengan mendorong troli yang berisi tiga koper. Merogoh saku cardigannya. Matanya berbinar-binar di balik kaca mata hitamnya manakala menatap secarik kertas beralamatkan rumah pria-nya. Salahkan pria itu, selama ini acuh terhadapnya. Seolah tak pernah melihatnya ada di dunia ini.
Gue penasaran akan reaksi Raka ketika melihat gue ada di pulau Jeju ini. Hm.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1