Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
03| Overprotektif [Extra Chap]


__ADS_3

 


 


“Sepi juga kalau tidak ada anak-anak.” Raka meraih tubuh sang istri, memeluknya begitu erat. Biasanya hari minggu seperti ini, dirinya bersama anak-anak menikmati pantai di belakang rumah. Sudah enam bulan bulan ini, hanya dia dan Naura saja yang bersantai.


“Sangat,” timpal Naura. Meletakkan kepalanya di dada bidang Raka. Mendengarkan detakan irama jantungnya. Ia tersenyum. Debaran dada itu akan selalu bereaksi hanya untuknya.


“Tapi ada untungnya juga, sih.” Raka menyeringai.


“Untungnya?”


“Yup. Kita bisa bermesraan setiap hari, tanpa takut diganggu.” Raka mengangkat kepala Naura, menjauhkan darinya. Sosok manis ini menautkan kedua alisnya. Sedikit keberatan acara mendengarkan detakan jantung Raka diganggu.


“Mau jalan-jalan, Baby?” Raka mengulurkan tangan, dan disambut dengan senang hati oleh Naura.


Keduanya berjalan-jalan sambil bergandengan tangan, menikmati sinar mentari yang indah pagi ini. Sesekali pria bermata bulat ini mencuri ciuman di pipi Naura dan mendapatkan pelototan darinya.


“Dasar kodok sawah mesum, nggak berubah sama sekali, eoh.”


“Tapi cinta, kan. Hey, hey, hey, jangan lari.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Tak usah ditekuk begitu wajahmu, Bro.” Lucas menepuk pundak Mark.


Yang ditepuk semakin menekuk wajahnya. Demi wajah menyebalkan squidward di bikini bottom. Ingin rasanya membubarkan segerombolan remaja di depannya---hanya dibatasi lima meja saja dari mereka duduk.


Betapa tidak Mark kesal. Ia pikir Lucas menculiknya dari apartemennya tadi untuk mengajaknya pergi ke kelab. Bersenang-senang dengan sekumpulan wanita seksi. Siapa tahu salah satu di antara wanita itu ada yang mau tidur dengannya. Sayangnya, semua itu hanya angan-angan belaka.


Ternyata ... Lucas menyeretnya ke kafe, hanya untuk membuntuti Maura. Ya, Tuhan.


“Sampai kapan kau berhenti membuntutinya?” keluh Mark memicingkan mata. Rasanya sudah bosan mengikuti Lucas dengan kegiatannya yang satu ini. Tidak bisakah mereka bersenang-senang saja?


Lucas mengangkat bahu. Ia sendiri tak bisa menjawabnya. Sampai detik ini masih tak bisa melepaskan Maura pergi ke mana-mana seorang diri. Ini saja Maura sudah mulai berbohong padanya. Ia takut, Maura yang polos akan jatuh ke tangan laki-laki berengsek suatu hari nanti.


“Jangan terlalu over padanya. Kasihan. Kau tak bosan selalu mengawasinya terus?” Mark buru-buru menunduk ketika salah satu teman Maura melihat ke arahnya. Sedang Lucas diam. Seolah memikirkan sesuatu.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Lihat! Dua cowok ganteng di sudut sana.” Salah satu di antara keenam remaja menyela pembicaraan serius mereka. Keenam remaja itu sontak beralih melihat ke arah yang ditunjuk.


“Wah, boleh juga.”


“Masuk daftar gebetan, euy.”


“Sudah punya pacar belum mereka, ya?”


Keenam remaja itu mulai berisik. Mereka cekikikan. Sedang satu di antara gadis yang semangat membicarakan dua cowok ganteng itu, hanya diam menggigit bibir.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Kenapa telat?” Lucas menyilangkan kedua tangan di dada. Pandangannya menajam menatap Maura - berjalan pelan melewatinya.


Maura mengembuskan napas. Menghentikan langkahnya menaiki tangga.


“Maura rasa Kakak sudah tahu alasan Maura telat,” jawab gadis ini tanpa melihat ke arah Lucas di belakangnya.


“Kenapa berbohong.”


“Kalau Maura jujur, Kak Yukhei pasti nggak akan ngizinin. Maura sudah tujuh belas tahun, Kak. Sudah nggak perlu diawasin lagi.”


“Tentu saj---”


“Sampai kapan Kak Yukhei mau ngawasin Maura kek begini.”

__ADS_1


“Di luar ada banyak bahaya, Maura. Kamu masih hijau mengenal dunia luar.”


“Tapi ... Maura bukan tahanan. Maura bisa jaga diri sendiri kok. Mauriq saja Kakak biarin bebas.”


“It---”


“Kak Yukhei berlebihan. Jujur. Maura nggak nyaman dengan sikap over Kakak. Maura ingin bebas. Lebih baik Kakak cari pacar, deh, biar ada yang Kakak awasin selain Maura.” Maura mengentakkan kaki. Bergegas menaiki tangga, secepatnya memasuki kamarnya. Menumpahkan semua perasaannya di sana.


Lucas mengempaskan tubuhnya di sofa. Pandangannya menerawang ke atas. Cari pacar dan ada yang bisa diawasinya selain Maura. Itulah masalahnya. Sampai detik ini, belum ada wanita yang mencuri hatinya. Menggetarkan dunianya seperti Maura yang mengejutkan dunianya setiap saat.


Maafkan Kakak, Maura, bila selama ini membuatmu merasa tidak nyaman dengan sikapku. Sebenarnya Kakak ... kakak ....


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Maura mengembuskan napas pendek. Rasa lelah sepulang dari kuliah hilang seketika saat tiba di rumah, bergantikan dengan perasaan tak nyaman. Sedikit menyesal dirinya melontarkan ucapan seperti itu kemarin malam.


Tidak seharusnya berkata seperti itu. Menyuruh Lucas mencari pacar. Ia sendiri tahu, sudah hampir dua tahun ini Lucas tidak menjalin hubungan spesial pada wanita mana pun. Selain itu, mengatakan tidak nyaman. Padahal selama ini begitu nyaman dengan sikap over Lucas padanya. Ia jadi merasa terlindungi di mana pun berada.


Dan sampai mau pergi kuliah pagi tadi, mereka berdua belum bertegur sapa.


“Kamu bodoh, Maura.” Maura mengetuk kepalanya sendiri. Mengabaikan perasaan bersalahnya dan perasaan takut kehilangan perhatian dari Lucas. Dengan lesu memutar kenop pintu. Dahinya mengernyit kala hidungnya mencium bau wangi masakan yang menguar di udara, memenuhi seluruh ruangan.


Lucas memasak? Tapi itu tidak mungkin. Kakaknya mana bisa masak, selama tinggal di sini, dialah yang bertindak menjadi koki dadakan.


Atau jangan-jangan Lucas membawa seorang wanita ke rumah gara-gara ucapannya kemarin malam? Jantung Maura berdebar kencang. Jujur, di lubuk hatinya yang terdalam, ia belum siap bila Lucas tiba-tiba mengumumkan bila dirinya punya pacar.


Bergegas Maura menuju dapur. Matanya membelalak lebar melihat siapa yang memasak. Ia nyaris melompat memeluk sosok yang membelakanginya. Itu ibunya. Naura.


“Muuum.” Maura memeluk punggung belakang Naura.


“Maura?” Naura memutar tubuhnya. Membiarkan Maura bergelayut manja di dadanya dan memeluk erat pinggangnya.


“Maura rindu Mum.”


“Mum juga.” Naura menyibak poni gadisnya dan mengecup dahinya.


“Kapan sampainya? Kok, Maura gak dikasih tahu.” Maura mengerucutkan bibir. Melepaskan pelukannya, membiarkan Naura melanjutkan memasak.


“Siang tadi. Kalau dikasih tahu, nanti gak suprise lagi.” Dengan gemas Naura menjawil hidang Maura. Karena Raka ada urusan pekerjaan di Indonesia, makanya mereka ada di sini.


“He he he, iya juga.” Maura tercengir dan menggaruk kepala. “Mana Daddy?”


“Lagi mandi. Bantu Mum bawa makanan ini ke meja, Sayang.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Kau sibuk Yukhei?”


Lucas menengadah. Tersenyum lebar mendapati Naura berjalan ke arahnya sembari membawa minuman jahe panas.


“Seperti biasa. Pekerjaan kantor---makasih, Mum.” Lucas meraih minuman dari tangan Naura dan menyeruput minumannya. Kemudian kembali meletakkannya ke atas meja dan melanjutkan pekerjaannya.


“Kalian berdua bertengkar?”


Lucas mengerutkan dahi. Diam sesaat. Disingkirkannya laptop dari pangkuannya dan menatap iris cokelat bening ibunya. “Maksud, Mum?”


Naura duduk di samping Lucas dan mengelus kepalanya. Mata Lucas terpejam. Rasanya begitu nyaman dibelai oleh tangan yang selembut sutera itu.


“Saat makan tadi Mum lihat kau dan Maura saling diam-diaman. Aneh. Biasanya kalian berdua akan saling bercanda satu sama lainnya. Apa ada masalah?” Sebagai orang yang melahirkan keduanya, Naura merasakan ada yang tidak beres di antara keduanya.


“Tidak.” Lucas menggeleng, meski hatinya berkata lain. Lantaran ucapan Maura kemarin malam, hubungan mereka jadi sedikit merenggang. Baik dirinya atau Maura tidak ada yang berinisiatif untuk berbicara duluan.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Lucas menarik napas dalam. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia memutuskan untuk berbicara pada Maura empat mata, masalah mereka harus diselesaikan. Tak baik dibiarkan berlarut-larut. Lagian mereka bersaudara, masa tidak saling teguran.

__ADS_1


“Maura?” panggil Lucas sembari mengetuk pintu. Ini yang ketiga kalinya ia mengetuk pintu. Tetapi tak ada jawaban. Apa gadis manis itu sudah tidur?


“Kakak masuk, ya.” Lucas memutuskan untuk masuk meski tak ada jawaban. Lagipula Maura tidak pernah mengunci pintu kamarnya. Lucas berjalan mengendap-endap menuju sosok manis yang tertidur membelakanginya. Sudah diputuskannya untuk berbicara pada Maura, meski mungkin tak mendengarkan ucapannya.


Lucas duduk di sisi tempat tidur. Pandangannya menerawang ke depan. Ia mulai bermonolog.


“Maura ... soal kemarin malam, Kakak minta maaf. Mungkin kau benar. Selama ini Kakak terlalu over padamu. Dan membuatmu merasa tidak nyaman. Tapi percayalah, Kakak lakukan itu demi kebaikanmu. Kakak khawatir padamu. Kau berbeda dengan Mauriq. Kau mengerti kan perasaan Kakak ...”


Lucas menjeda kalimatnya dan menarik napas dalam. Ia menunduk, menatap jari-jari kakinya. “Sekali lagi Kakak minta maaf. Sebagai saudara tak seharusnya kita diam-diaman seperti ini. Lagian ada Mum di sini. Kakak tak mau membuat Mum khawatir pada kita.”


Lucas rasa sudah cukup untuk berbicara. Sedikit lega dirasakannya setelah mengeluarkan separuh isi hatinya. Ia beranjak berdiri.


“Tunggu, Kak Yukhei.”


Lucas terpaku sesaat. Sontak memutar tubuhnya. Maura menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang. Gadis itu menggigit bibir dan tak berani menatapnya langsung.


Jadi, Maura tidak tidur?


Dan mendengarkan semua ucapannya barusan?


“Maura juga minta maaf sama Kak Yukhei. Maafkan ucapan Maura kemarin malam. Semua yang Maura ucapkan enggak semuanya benar. Maura mengerti kenapa Kak Yukhei bersikap begitu.”


Lucas tersenyum mendengarnya, begitu pun dengan Maura. Ia tersenyum lega.


“Sekarang kita baikan lagi, kan. Tidak diam-diaman lagi, kan?” ujar Lucas perlahan mendekat kembali pada Maura.


“Yup, kita baikan.” Maura mengangguk. Merentangkan kedua tangannya dan disambut Lucas dengan pelukan.


“Tuh, kan. Benar feeling-ku, mereka memang marahan. Tapi, syukurlah sudah baikan lagi.” Naura menutup kembali pintu kamar Maura dengan hati-hati. Memutar tubuh dan terlonjak kaget.


“Astaga! Ngagetin saja, Dear.” Naura mengelus dada. Melotot pada Raka yang berdiri bertelanjang dada di depannya. Untung tadi dirinya tidak berteriak, bisa-bisa ketahuan sama Lucas dan Maura bila dia mengintip.


“Sedang apa?” Raka melirik pada pintu kamar Maura di belakang Naura. Buru-buru Naura meletakkan tangan di bibir memberi kode. Raka mengangguk.


“Enggak.” Naura menggeleng dan memelankan suaranya. “Kamu sendiri lagi ngapain di sini, Dear?”


“Nyusul kamu, Baby.” Pas keluar dari kamar mandi tadi, Raka tak menemui Naura di tempat tidur. Padahal sudah semangatnya ingin menerkamnya. Ia pikir Naura sudah siap bertempur dengannya. Tahunya, didapatinya tempat tidurnya kosong. Ya, sudah. Ia susul saja Naura keluar.


“Aih, pakai nyusul segal---Dear.” Naura menepuk dada bidang Raka ketika mengangkatnya bridal style, nyaris sosok manis ini kembali berteriak.


Raka mengedipkan mata dan mengecup bibir Naura. “Kita teruskan acara tertunda kita tadi. Tak baik setengah-setengah. Pamali kata orang tua.”


“Dasar kodok sawah mesum.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Tengah malam Naura terbangun ketika suara smartphone-nya berdering nyaring. Dengan hati-hati melepaskan tangan Raka yang melilit di pinggangnya, lantas meraih gawainya di atas nakas.


Mengerutkan dahi kala yang meneleponnya adalah dokter Mila. Dokter yang membantunya bersalin ketika melahirkan si kembar tujuh belas tahun silam. Dan sampai sekarang tetap menjalin hubungan baik dengan dokter Mila.


“Hallo?” sapa Naura sembari menguap. Baru sejam ia tidur setelah berolahraga malam dengan Raka.


“Nyonya Naura?”


“Iya, ini saya. Ada apa dok?”


“Begini ... um, bisakah nyonya datang ke rumah sakit Seatle sekarang? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan sekarang.”


“Maafkan saya, dok. Sekarang saya berada di Indonesia. Tidak bisakah dibicarakan lewat telepon saja sekarang?”


Samar Naura mendengar dokter Mila menarik napas berat di seberang telepon. “Tidak apakah dibicarakan di telepon nyonya? Apakah nyonya tidak keberatan?”


“Tidak apa-apa. Saya tidak keberatan. Mau bagaimana lagi, terhalang jarak. Lagipula kata dokter, ini masalah penting kan?”


“Betul.”


“Ya, sudah tidak apa-apa. Kalau begitu katakan saja, dok. Saya siap mendengarkan.”


“Baiklah. Sebelumnya saya minta maaf atas kejadian tujuh belas tahun silam. Ada kesalahan fatal dari perawat kami.”


Mendengar penuturan dokter Mila, tiba-tiba saja membuat dada Naura berdebar kencang. Ia merasakan firasat buruk.


“Sebenarnya salah satu dari anak kembar nyonya bukanlah anak kandung nyonya. Salah satunya tertukar dengan bayi di rumah sakit ini.”


Maura atau Mauriq bukan anak kandungnya? Ya, Tuhan! Naura mendekap mulutnya rapat-rapat. Tubuhnya bergetar hebat. Tak siap akan pemberitaan yang mengejutkan ini.


“Rasanya tidak mungkin tertukar, dok,” sangkalnya. “Golongan darah mereka sama dengan kami. Mauriq sama denganku, dan Maura sama dengan suamiku.” Sebab itulah Naura dan Raka tidak pernah menaruh curiga apa pun pada keduanya.


“Meskipun golongan darahnya sama masih tidak bisa memastikan bila keduanya anak kandung nyonya. Lagipula ini pengakuan langsung dari perawat yang tidak sengaja menukarnya.”


“Ka-kalau begitu, bisakah dokter mengirimkan data keluarga bayi kami yang tertukar itu?” tanya Naura penuh harap.


Sekali lagi dokter Mila mengembuskan napas di seberang telepon. “Sayang sekali ... dua hari yang lalu gudang penyimpanan arsip kami kebakaran dan menghanguskan semua data pasien sepuluh sampai dua puluh tahun yang silam.”


Itu memang benar. Naura melihat beritanya di media online. Sungguh tak menyangka bila data anak kembarnya juga lenyap dimakan api. Andaikan saja tidak terjadi insiden kebakaran, mungkin perawat itu tidak akan berbicara yang sebenarnya. Astaga! Sampai dia mati mungkin takkan tahu kebenarannya.


“Dan agar lebih yakin lagi, saya sarankan sebaiknya nyonya untuk melakukan tes DNA saja.”


===============


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 

__ADS_1


 


__ADS_2