Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
01| Overprotektif [Extra Chap]


__ADS_3

Bocah berusia lima tahun itu menatap tak berkedip pada bayi perempuan mungil di dalam box bayi. Bayi itu terlihat sangat lemah, selang infus dan masker oksigen berada di mulut mungilnya. Kulitnya yang putih kemerah-merahan tampak pucat. Sedari tadi bayi itu hanya memejamkan mata.


Lalu pandangannya beralih pada bayi satunya lagi. Bayi laki-laki dalam gendongan neneknya. Ya. Adiknya kembar, laki-laki dan perempuan. Seminggu yang lalu Naura melahirkan anak keduanya.


Berbanding dengan adik perempuannya yang tampak begitu lemah, adik laki-lakinya tampak begitu sehat dan kuat, Mauriq namanya, sedangkan nama saudara kembar perempuannya diberi nama Maura.


Kemudian bocah itu mengalihkan perhatiannya pada kedua orang tuanya. Naura masih saja menangis dalam pelukan Raka---meski bayi perempuannya sudah ditangani. Sejam yang lalu, dia dan suaminya dibuat panik. Tiba-tiba saja, bayi perempuannya susah menarik napas, sulit menyusu padanya dan wajahnya membiru. Dokter bilang bayinya terkena penyakit autoimun.


Astaga! Bayi sekecil itu sudah merasakan menderita. Sungguh Naura tak sanggup membayangkannya. Andaikan bisa ditukar, lebih baik dirinya saja yang menanggung sakit, bukan bayinya.


“Ssst! Sudahlah, jangan menangis lagi,” bujuk Raka mengelus punggung belakang Naura.


“Tap---”


“Jangan cemas. Sebentar lagi Maura akan baik-baik saja. Kau lihat saudara kembarnya, Baby? Maura akan sehat seperti Mauriq.”


Naura diam. Tak sanggup untuk berbicara lagi. Hanya bisa pasrah dan mencoba mempercayai suaminya. Ia tak ingin larut dalam kesedihan dan penyesalan kembali. Cukup kenangan pahit ketika Yukhei dilahirkan menjadikannya merasa down hingga membuat Raka salah paham padanya. Kali ini, ia takkan bersikap seperti itu lagi. Lebih baik bertekad menjaga anak-anaknya sehat sampai mereka dewasa. Ya, itu yang paling penting.


“Mum ...” Mata Yukhei berkaca-kaca melihat Naura menangis. Hatinya sakit melihat ibunya sedih seperti itu. Batita itu meraih tangan mungil adik perempuannya dan menciumnya dengan lembut. Berbisik sembari menatap wajah manis yang terpejam itu. Bertekad dalam hati, takkan membuat ibunya menangis lagi di masa depan karena bayinya.


“Maura, Kakak janji akan selalu melindungimu.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Baby, kau tahu di mana dasi hitamku?”


Naura meletakkan alat penyemprot tanaman ke atas meja. Menengadah, menatap suaminya telah berdiri di depannya. Kemeja putihnya tidak terkancing dengan baik. Sementara jas hitamnya tersampir di bahunya.


Menghela napas, Naura berjalan pelan ke arah Raka.


“Di sini mana ada dasi, Dear.” Naura menepuk dada Raka. “Kebiasaan, belum dicari sudah berteriak. Tuh, ada di laci,” ujarnya sambil memutar tubuh, hendak beranjak dari balkon tetapi ditahan oleh suaminya.


“Kenapa?” Naura menaikkan salah satu alisnya.


Raka hanya terkekeh. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Dengan cepat mencium bibirnya. Rasanya terbang ke atas awan melihat pendaran merah merona menghiasi wajah manis istrinya. Meski pernikahan mereka telah memasuki usia sembilan tahun, tak lelah dan bosannya ia menggoda sang istri--tetap sama dilakukannya seperti diawal-awal menikah.


“Senang menggoda orang, eoh,” cibir Naura mencebik. Namun, tak memungkiri hatinya yang berbunga-bunga.


“Kau sudah menentukan di mana si kembar akan di sekolahkan, Baby?”


Tahun ini, Maura dan Mauriq mulai memasuki sekolah taman kanak-kanak. Sementara putra sulungnya, Yukhei naik tingkat ke kelas lima. Dan mulai sekarang---semenjak jagoannya memasuki sekolah, maunya dipanggil dengan nama Lucas. Katanya biar keren. Seperti para artis yang punya nama panggung sendiri.


Naura mengangguk. Dia memutuskan untuk menyekolahkan anak kembarnya ke tempat Yukhei---salah, maksudnya Lucas, pernah mengenyam pendidikan Kindergaten-nya di sana. Selain itu, berdekatan dengan sekolah Lucas. Jadi, Lucas bisa mengawasinya bila terjadi apa-apa pada si kembar. Ia tahu, putra sulungnya itu sangat menyangi adik kembarnya. Terlebih Maura. Lucas sangat perhatian pada gadis kecilnya itu.


Saat Naura menelusuri fiture wajah suaminya, keduanya dikejutkan dengan tangisan gadis kecil mereka dari arah bibir pantai. Seperti biasa, di hari minggu yang cerah seperti ini, ketiga buah hatinya bermain di pantai di belakang rumahnya. Untuk hari ini, ia tidak bisa menemani ketiganya, mengingat suaminya ada rapat penting di perusahaannya. Jadi, harus mengurusi bayi besarnya yang satu ini.


“Astaga,  Mauriq berulah lagi.” Naura mengembuskan napas. Kembali memutar tubuh, melepaskan tangan Raka di pinggangnya. Lagi-lagi mengembuskan napas ketika suaminya menahannya kembali.


“Dear, sebentar saja, deh. Ambil sendiri dasimu, oke. Aku mau mengur---”


“Biarkan saja, Baby.”


“Tapi, Maura terus menangis, Dear.” Naura meringis. Tak tega bila mendengar putrinya menangis dan dirinya tak bisa berbuat apa pun. Terlebih kondisi tubuh putrinya tidak seperti anak-anak kebanyakan. Sedari lahir sudah mempunyai tubuh yang sangat lemah.

__ADS_1


“Tidak usah panik begitu. Tunggu saja beberapa detik lagi,” sahut Raka santai. Memutar tubuh istrinya dan kembali memeluknya dari belakang. Mata elangnya memperhatikan dari balkon area bibir pantai.


Naura mengerutkan dahi dan hendak protes. Namun, tak mengeluarkan suara apa pun. Menuruti ucapan suaminya, hanya diam. Seketika sudut bibirnya mengembangkan senyuman manis. Mengerti maksud ucapan Raka.


Dari kejauhan, sepasang sejoli ini melihat putra sulung mereka, Lucas datang dan gadis kecil mereka memeluk tubuhnya. Suara Maura yang menangis kini tidak terdengar lagi. Mereka melihat Lucas melotot dan memarahi Mauriq. Mauriq tampak cemberut dan menjulurkan lidahnya, lalu bermain istana pasir sendirian.


Sedang Lucas, kini membantu Maura membuat istana pasirnya sendiri. Senyum manis tercetak jelas di wajah mungilnya.


“See, Baby. Ada bodyguard khusus untuk putri manis kita. Jadi, kau tak perlu khawatir,” bisik Raka sembari mengembuskan napas di telinga Naura.


Naura mengangguk. Ia bangga dengan tindakan putra sulungnya. Benar yang dikatakan suaminya, ia tidak perlu khawatir. Selama ada Lucas aka Yukhei Earnest Forrester, Maura akan aman. Lucas memang bisa diandalkan.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


Tepat pukul delapan pagi, suara bel yang mendendangkan lagu anak-anak mengalun di bangunan Kindergaten kawasan kota Seatle Utara. Sekali lagi Naura memperhatikan penampilan kedua anak kembarnya. Memutar tubuh keduanya. Bila saja ada yang tidak rapi. Ini hari pertama si kembar mulai berinteraksi dengan teman-teman sebayanya.


“Baik-baik di sekolah, ya, Sayang. Jangan nakal, ya,” ujar Naura sembari membenahi dasi Mauriq yang sedikit miring.


“Iya, Mum.” Keduanya berbicara dengan wajah berseri-seri. Meski sang Daddy, Raka tidak hadir untuk mengantar, disebabkan Raka punya urusan penting di luar negeri, tak mengurangi rasa antusiasme mereka bersekolah untuk pertama kalinya.


“Oke. Mauriq janji akan melindunginya.” Mauriq mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum lebar.


Sedang Lucas yang mendengarnya memutar bola mata. Bukankah Mauriq biasanya yang selalu mengganggu Maura? Bisakah bocah tengil itu diandalkan? Ah, dia jadi ragu.


“Masuklah.” Naura mengecup pipi si kembar bergantian tepat wali kelas si kembar datang dan membawa keduanya masuk.


“Dan kau Yukhei.” Naura menepuk pucuk kepala putra sulungnya, kemudian menatap bangunan Elementary School tepat di samping bangunan Kindergaten berdiri. Dan hari ini juga merupakan hari pertama Lucas menduduki tingkat empat sekolah dasar. “Kau juga harus masuk.”


“Iya, Mum.” Lucas menarik tali ransel ke bahu kanannya. Mengecup pipi Naura bergantian sembari melirik ke kelas si kembar. Tersenyum kecil melihat wajah Maura berseri-seri mengikuti sang guru bernyanyi.


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


“Hey.”


“Apa?” Lucas melirik pada teman sebangkunya. Mark, si pucat pirang.


Mark menyenggol lengannya. Mendekatkan bibirnya ke telinga Lucas dengan matanya terus memperhatikan guru Matematika mereka menjelaskan di depan kelas.

__ADS_1


“Bro, kayaknya ... kau kurang gizi, deh.”


Sialan. Lucas melotot. “Ngehina, ya?” Ditoyornya kepala Mark.


Mark mendengkus. “Bukan menghina. Itu buktinya. Sedari tadi kakimu bergerak-gerak begitu. Kamu cacingan?” Dan di detik berikutnya Mark mengaduh kesakitan. Mendapatkan tinjuan gratis di perutnya.


“Kenapa, Mark? Ada yang mau ditanyain?” tanya guru mereka.


“Tidak ada, Miss.” Mark tercengir lantas mendelik tajam pada Lucas ketika guru mereka kembali fokus ke papan tulis.


“Dasar ********!” Mark mendengkus. Kembali berkutat pada buku di depannya. Tak peduli lagi pada teman sebangkunya. Terserah. Mau Lucas cacingan. Mau Lucas mual-mual. Mau Lucas dirasuki setan jomblo. Tak peduli.


Sedang si tersangka, Lucas, hanya mengangkat bahu. Sebenarnya ia menggerakkan kakinya sedari tadi untuk menutupi rasa gelisahnya. Ya. Ia cemas pada Maura. Apakah adiknya baik-baik saja? Tidak diganggu temannya kan? Apakah Mauriq benar-benar menjaganya?


Astaga! Lucas mengacak rambutnya. Bila tidak memastikannya secara langsung, mana bisa dia tenang seperti ini. Tepat bel pelajaran berakhir. Lucas sudah tak tahan, ia berlari kencang dari luar kelas. Setelah berhasil menyeret sohibnya diiringi umpatan kekesalan darinya.


“Sialan kau, Yukhei Earnest Forrester. Bisa tidak, kalau mau bolos itu tak usah bawa teman segala.” Mark melotot ketika mereka sampai di belakang sekolah. Tepat bersebelahan dengan sekolah Kindergaten.


“Sorry. Habisnya, kalau dihukum sendirian di lapangan upacara tidak seru,” jawab Lucas melewati pagar kecil yang langsung terhubung ke sekolah adiknya.


“Dasar teman ********.” Mark meninju lengan Lucas. Bocah berusia sembilan tahun itu tergelak puas.


“Pulang sekolah nanti kutraktir makan buah semangka, deh---seribu biji, cukup?” Lucas membentuk jarinya v-line.


Mark terbatuk. Wajahnya seketika berseri-seri, lantas mengacungkan jempolnya, tanda setuju. Tanpa protes lagi mengikuti dari belakang ke mana Lucas melangkah.


Lucas melirik jam di tangannya. Pukul setengah sepuluh pagi. Pas waktunya si kembar istirahat. Sambil duduk di bawah pohon, Lucas menatap dari kejauhan kelas kupu-kupu, anak-anak berusia empat tahun berhamburan keluar.


“Ngapain kita di sini?” Mark mengerutkan dahi. “Jadi, hobimu sekarang nguntitin anak TK? Aduh, sialan!” Mark mengaduh, mengelus kepalanya yang dijitak--tanpa ampun--oleh Lucas.


“Bukan nguntit, bodoh. Tapi mengawasi Maura.”


“Beda tipis, Bro,” sungut Mark. “Siapa itu Maura? Gebetanmu yang baru? Astaga! Jadi selera kamu sekarang anak TK? Hmmmpttt.”


“Kecilin suaramu.” Lucas menutup mulut Mark. Mark mengangguk. Barulah Lucas melepaskannya. “Bukan. Maura itu adikku.”


“Kau punya adik? Selama ini kau tak pernah bicara padaku.”


“Kau tak pernah bertanya padaku,” balas Lucas datar.


“Sialan! Kau memang teman ********.”


Lucas hanya mengangkat bahu tanpa memperhatikan Mark, matanya terlalu fokus menatap anak-anak empat tahun itu dari tempatnya. Ia tersenyum melihat Maura bersama Mauriq bergandengan tangan sembari membawa bekal makan di tangan masing-masing.


“Yang mana adikmu?”


“Itu ... yang kembar.” Lucas menunjuk Mauriq dan Maura duduk berdampingan di bawah pohon depan kelasnya. Bersama dua teman lainnya, keduanya menyantap bekal makannya.


“Wah, boleh juga adik cewekmu. Cantik.” Mark tersenyum lebar. “Boleh dong, ngelamar jadi pacarnya.” Senyum yang menghiasi wajah Mark seketika lenyap kala menatap ekspresi wajah Lucas. Mark meneguk ludah.


“Tak usah melotot begitu, deh. Tidak melotot saja matamu sudah kek kodok beranak. Apalagi kalau melotot. Gajah yang lagi bunting pun langsung melahirkan.”


Lucas mendecak.


“Lagian, kamu sih. Jadi kakak over begini. Tak usah juga mengawasinya seperti ini, sampai minggat segala lagi,” sungut Mark.


Lucas diam. Ia mengakui ucapan Mark. Tapi, itu karena dia khawatir. Dan sepertinya, sampai kapan pun dirinya akan menjadi kakak yang akan selalu mengawasi dan menjaga Maura. Itu janjinya.


\=============


 


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 

__ADS_1


__ADS_2