![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Range Rover itu bergerak dengan kecepatan standar kala melintas di jalan raya yang begitu padat bersama lampu-lampu mobil menghiasi jalanan, seolah ingin menyaingi bintang-bintang yang berkelap-kelip menghiasi langit malam. Pria bermata bulat itu melirik sosok manis di sampingnya. Kesunyian melanda keduanya. Seolah mereka berada di tempat kuburan dan itu sudah hampir lima menit berlalu, terhitung dari dirinya menjemput sosok manis ini pulang dari bekerja.
Lagi dan lagi Raka mengeluh pada kekasihnya ini dalam diam tanpa bisa berbuat banyak. Salah satu alasan dia melarang wanita muda ini bekerja tentu saja karena pulang malam. Paling cepat jam delapan malam. Akibatnya akan berdampak pada kelelahan fisik, dan juga berpengaruh pada kandungannya. Tetapi, apa daya. Ia juga tak bisa terlalu keras melarang sosok manis ini bekerja - walau pun ia sudah membujuk dengan mati-matian. Tetap saja ia kalah dari wanita yang dicintainya ini.
Raka menghentikan mobilnya tepat berada di depan resto yang menjual berbagai macam seafood. Mungkin saja dengan mengajak sosok manis ini makan, akan membuat Naura kembali bersemangat. Diperhatikannya, sepanjang perjalanan, wanita muda ini tampak lesu dan tak berbicara sama sekali. Awalnya, dalam perjalanan tadi pria ini mengajaknya mengobrol. Tapi, pada akhirnya ia pun diam saat yang diajak bicara hanya mengeluarkan kata 'ya atau tidak' saja. Seolah ia adalah robot.
"Baby," panggil Raka dengan suara lembut namun tidak mengurangi rasa wibawa dan tegas dalam kata-katanya. Pria ini menempelkam bibir sensualnya sekilas di pipi putih berisi itu. Memanfaatkan keadaannya ketika dalam fase blank. Entahlah apa yang dipikirkan sedari tadi oleh kekasihnya ini.
Naura menoleh cepat saat merasakan pipinya dicium. Irisnya segera beradu dengan mata elang Raka yang jaraknya sangat tipis di antara mereka, bahkan ujung hidung keduanya saling bersentuhan. Wanita ini bisa mencium aroma mint yang keluar dari mulut pria yang selalu mampu membuat debaran di dadanya meningkat tajam bak kesatria yang mengayunkan pedangnya ke leher musuh, berembus pelan menerpa wajahnya. Segera sosok manis ini memalingkan wajahnya, agar tidak terjadi tabrakan bibir. Cukup dengan tabrakan hidung saja, sudah membuat pendaran merah merona menari liar di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Naura setelah bisa menguasai hati dan pikirannya.
"Seharusnya aku yang bertanya." Raka mengelus perut buncit wanita-nya di balik coat biru dongker yang dibeli olehnya.
"Ya?" Sosok manis ini menaikkan salah satu alisnya. Tidak mengerti. Dibiarkan saja Raka mengusap perutnya, membiarkan bayinya menendang-nendang, selalu bereaksi setiap telapak tangan pria ini menyentuh perutnya.
Raka menarik tangannya dari perut sang kekasih. Kali ini iris abu-abunya begitu lekat memperhatikan iris cokelat bening Naura. Bila melihat iris indah sosok manis ini, ia jadi ingat pada satu wanita yang bila tidak diselesaikan masalahnya akan menjadi batu penghalang paling besar antara dirinya dan Naura, Tesha.
Bagaimana kabar wanita yang sebentar lagi menjadi mantan tunangannya itu? Karena dirinya sakit beberapa hari ini, terpaksa dia menunda kepulangannya ke Indonesia untuk bertemu dengan wanita itu.
"Kau ingin makan?" tawar Raka setelah mengenyahkan masalahnya bersama tunangannya ini. Diselipkannya poni Naura yang menjuntai ke samping telinganya.
"Kau lapar?" Naura balik bertanya, membiarkan kekasih hatinya memainkan ujung rambut almondnya.
"Tidak."
"Kau sudah makan?"
Raka mengembuskan napas pendek. Kenapa dirinya yang jadi ditanyai. Jari-jarinya bergerak-gerak mengikuti helaian rambut sosok manis ini.
"Sudah." Pria ini menjawab jujur. "Kau sendiri?"
"Belum, tapi aku lagi gak mood makan, Dear." Naura buru-buru menjawab sebelum pria yang paling tidak suka dibantah perintahnya ini mengeluarkan protes keras dari celah bibir tebalnya itu.
"Jangan begit---"
"Aku tahu. Kalau lapar aku juga bakalan makan, kok. Gak bakalan nahan-nahan lapar, kasihan debaynya," potong sosok manis ini sembari mengelus sayang perut buncitnya.
Lagipula tak perlu khawatir. Kemarin masih sempat belanja mengisi kulkasnya sebelum kembali ke rumah sang kekasih, mengurusnya yang masih sakit. Hari ini dirinya memutuskan bekerja karena pria yang kembali mengisi hari-harinya ini sedikit membaik. Diliriknya penampilan Raka, memakai kemeja putih yang sudah tidak rapi lagi. Lengannya digulung sampai batas siku dengan kancing kemeja teratas dibiarkan terbuka hingga dada bidangnya sedikit mengintip.
Naura menggembungkan pipi. Sedikit kesal. Baru saja sembuh hari ini, pria bermata bulat ini sudah mulai bekerja. Sebenarnya ia ingin protes. Tapi diurungkan mengingat sifat pria ini keras kepala soal pekerjaannya. Tidak bisa memungkiri juga, sifatnya hampir mirip dengan kekasihnya ini bila menyangkut ke pekerjaan.
"Kenapa, Baby?" Raka berkata setelah akhirnya untuk memutuskan menyerah, tidak memaksa kekasihnya untuk makan. Pria ini menghidupkan kembali Range Rover-nya, perlahan meninggalkan parkiran resto seafood bersama angin dingin menyertai.
"Ya?"
"Apa di dalam pikiranmu hari ini hanya ada kosa kata ya atau tidak saja, Na?"
"Eh? He he he." Naura tercengir sembari mengelus batang hidungnya. Entahlah. Dirinya saja bingung.
"Kenapa denganmu? Sepertinya kau tampak lesu? Kau sakit?" Dari nada bicaranya, Raka sangat cemas terhadap sosok manis ini. Ia khawatir Naura mulai tidak enak badan karena kelelahan mengurusinya selama dua hari ini, ditambah lagi seharian ini sudah masuk kerja.
"Ani," sahut Naura dengan logat Korea-nya yang tidak terlalu lancar.
"Atau kau masih memikirkan siang tadi? Kita tidak bisa makan bersama?" tebak Raka dengan pandangan fokus menatap jalan di depannya. Sesekali mobilnya disalip oleh beberapa kendaraan yang tidak sabaran akan kecepatan laju mobilnya. Sengaja dirinya memperlambatnya, sebab ingin berbicara lebih banyak pada kekasihnya ini.
"Um, itu ..." Naura memperhatikan jari-jari tangannya berada di atas perut buncitnya. Sebenarnya bukan karena tidak bisa makan bersama dengan Raka siang tadi. Tetapi, karena dirinya terus terngiang-ngiang ucapan Richard. Pria itu berhasil mempengaruhinya. Sedikit membuatnya ragu akan keputusannya ini. Apa benar pilihannya ini sudah tepat. Bisakah dia memegang ucapan Raka?
__ADS_1
Tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Tidak akan meninggalkannya sampai kapan pun.
"Na?"
Naura mengembuskan napas pendek. "Enggak. Aku gak mikirin soal tadi. Hanya tiba-tiba nggak mood saja. Haaah. Mungkin karena kehamilanku semakin dekat dengan waktu melahirkan saja. Jadi deg-degan." Sosok manis ini menyunggingkan senyuman, mencoba berkilah sekaligus mencoba untuk menenangkan batinnya yang dipenuhi rasa gelisah ini.
"Jangan terlalu cemas. Ada aku yang akan selalu di sampingmu. Aku janji akan setia menemanimu waktu melahirkan nanti." Raka meraih tangan kanan Naura dan mengecupi satu persatu jari-jari gembul sosok manis ini.
Naura tersipu. Pendaran merah menari di wajah putihnya. Hatinya menghangat. Begitu pula dengan dadanya - tampak penuh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setidaknya, dengan ucapan Raka barusan membuatnya sedikit tenang. Rasa ragu-ragunya tadi perlahan mulai menguap.
"Eh? Mau ke mana?" Naura menarik tangannya dari bibir Raka ketika pria ini membelokkan tunggangan mewahnya ke jalan berlawanan. Ini bukan menuju ke apartemennya. Tapi ini menuju ke arah rumah Raka.
"Pulang.β
"Ke mana?" Ekspresi wajah Naura terlihat kebingungan.
"Pulang ke rumah kita, Baby." Andai saja mata sosok manis ini jeli melihat keadaan. Tentu ia bisa melihat seringaian penuh arti menari di belah bibirnya. Raka mengetuk setir mobilnya sembari bersiul kecil.
"Eh?" Naura menggaruk kepala sebentar. "Mana ada rumah kita. Kamu mabuk?"
"Ya. Mabuk cintamu. Dimabuk cinta~~" Raka terkekeh geli sembari bersenandung. Sekilas melihat keluar jendela. Tepat di sisi jalan. Di mana seminggu yang lalu dirinya tertimpa dahan pohon.
"Na?"
"Apa?"
"Kamu tahu tidak bed---"
"Cukup." Naura memotong duluan ucapan Raka. Geli bila diteruskan gombalan kekasihnya yang pastinya tidak akan selihai gombalan para pujangga.
γ
γ
γ
πDear, My Babyπ
γ
γ
γ
"Eh, Kak Neil mau ke mana?" Naura menatap heran tetangganya ini. Baru saja hendak membuka pintu apartemennya, dari pintu sebelahnya sosok manis ini melihat pria bermata sipit itu keluar sembari membawa koper besar.
"Mau pulang ke Indonesia. Kebetulan dapat jatah libur seminggu dari rumah sakit," jelas Neil tersenyum lebar hingga mata sipitnya terlihat akan tenggelam. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan sang istri dan buah hatinya. Kurang lebih enam bulan dirinya tidak bertemu dengan kedua orang dicintainya. Rindunya sudah menggunung. Kemudian pandangannya beralih pada pria di samping sosok manis di depannya.
"Bagaimana, Bro. Sehat?" Dokter muda ini menepuk pundak Raka.
Raka mengangkat kedua belah bahunya. "Seperti yang kau lihat. Sudah lebih baik dari dua hari yang lalu, semenjak Naura merawatku."
"Well. Kalau enggak aku yang bicara pada Naura, mungkin kau akan meringkuk sendirian. Sudah sakit, gak ada yang merawat pula. Idih. Sedih banget dengarnya," seloroh Neil.
"Ya. Ya. Ya. Kau benar. Terima kasih karena sudah memberi tahu calon istriku." Raka meraih tubuh berisi Naura dan mendekapnya. Sungguh sangat berterima kasih pada dokter muda ini. Andaikan saja Neil tetap mengikuti keinginan keras kepalanya. Bersikeras untuk tidak memberi tahu wanita muda ini, tentu jalan ceritanya akan jadi lain. Mungkin sampai detik ini dirinya belum berbaikan dengan sosok manisnya.
"Calon istri?" Neil terbelalak. "Astaga. Jadi kau benar-benar sudah berubah pikiran, Na?" Dokter muda ini mengerjap menatap tetangga manisnya dalam dekapan sahabat karibnya ini. Samar ia melihat pendaran merah merona di pipi berisi ibu hamil ini. Berulang kali Naura mencubit perut Raka. Berusaha keluar dari dekapan hangatnya.
__ADS_1
"Sungguh kabar yang sangat bagus bagiku untuk mengawali hari liburku," imbuh Neil tiada hentinya tersenyum. Sugguh sangat senang kedua sahabatnya ini akhirnya kembali bersama.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Neil menatap kedua orang di depannya secara bergantian. Raka telah melepaskan dekapannya.
"Setelah Naura melahirkan." Raka menjawab sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku coatnya. Berdiri tegap, bergaya bak model di atas catwalk.
"Setelah melahirkan? Apa enggak terlalu lama?"
"Tuh dengar, Baby, ap---"
"Nggak lama, kok, Kak. Nggak sampai tiga bulan juga," potong Naura cepat. Jangan sampai Neil kembali menjadi provokator. Membujuknya untuk secepatnya menikah dengan Raka.
"Oh, itu benar ..." Neil menyingkap sedikit lengan bajunya. Menatap jam tangannya. "...ah, sepertinya aku harus berangkat. Takut ketinggalan pesawat." Dokter muda ini menarik kopernya setelah menepuk pundak Raka, lalu mengelus pucuk kepala Naura dengan sayang.
"Kudo'akan semoga kalian bahagia selalu."
"Makasih, Kak Neil. Kakak juga semoga sukses dengan liburannya. Salam buat kak Pretty dan Baby Kiara." Sosok manis ini tersenyum bahagia. Setiap Neil mengusap pucuk kepalanya, ada rasa tenang di hati, seperti dilindungi oleh seorang kakak laki-laki.
"Ya. Akan kusampaikan. Yo, pergi dulu."
Naura dan Raka melambaikan tangan hingga Neil menghilang di balik pintu lift.
"Yuk." Raka merangkul mesra tubuh kekasihnya. Membimbingnya masuk ke apartemen. Tak sabaran untuk melihat reaksi dari Naura ketika membuka pintunya nanti. Sebelumnya ia sudah menyiapkan kejutan untuk sosok manis ini.
"Sudahlah, Baby. Nggak usah merasa kehilangan begitu. Neil tidak lama liburannya. Nanti bisa ketemu juga." Pria ini mengelus pinggang Naura.
"Lagian, kalau Pretty tahu, dia bisa cemburu. Mau dicakar sama Pretty, eum?" lanjut Raka berseloroh, mencoba menghibur sang kekasih.
"Ih. Nggaklah. Aku bukan pelakor, tauk." Naura menepuk dada bidang Raka. "Hn. Bukan itu masalahnya, Dear," sambungnya sembari melepaskan tangan Raka di pinggangnya, lalu membuka pintu apartemennya.
"Bukan?"
"Iya. Melihat kak Neil pulang ke Indonesia. Aku jadi kangen. Ingin pulang juga."
"Aku tahu perasaanmu, Na. Aku janji, dalam seminggu ini kita menyusul Neil ke Indonesia."
"Eh? Benarkah?"
"Tentu saja. Sekalian kita liburan awal tahun." Raka melayangkan kecupan ringan di bibir sang kekasih. Ia sudah memantapkan hati. Dalam seminggu ini akan membawa Naura ke hadapan orang tuanya. Memperkenalkan calon istri dan calon bayinya.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku. Lagian aku sudah hamil besar." Naura mengerucut.
Raka menyeringai. Itulah rencananya. Naura akan dibawanya ke Indonesia dan tidak akan kembali ke pulau Jeju lagi. Dengan kata lain, mau tak mau sosok manis ini akan berhenti dari pekerjaannya dan akan melahirkan di Indonesia saja.
"Itu bisa diatur," sahut Raka mengelus dagu - siang tadi baru selesai dicukur bulu-bulu halus di sekitaran dagunya.
"Hum, bisa diatur? Tapi jang---" Seketika Naura menghentikan ucapannya. Ia membeliak kala pintu apartemennya terbuka lebar. Semua isi apartemennya telah kosong melompong. Raib entah ke mana. Sontak ia berbalik. Siapa lagi pelakunya yang bisa menguras isi apartemennya selain sang ke-ka-sih. Pandangannya menajam menatap Raka yang tercengir sembari membentuk jarinya V-sign.
"Yak! Kau ke manakan isi apartemenku, kodok sawah!!!π’β
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes π, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya π€π, oke π.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya π€π.
γ
γ
__ADS_1