Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
33| Dear & Baby


__ADS_3


“Kenapa, Na. Apa kau sakit?” Suara bass Richard terdengar begitu khawatir di seberang telepon. Sebelumnya, Naura memberinya kabar, dirinya izin tidak bisa masuk kerja hari ini.


Wanita muda ini menggigit bibir sembari mengelus perut buncitnya. Jujur. Sebelumnya ia tidak pernah berbohong seperti ini. Akan tetapi ... wanita muda ini menghela napas panjang. Seakan permasalahannya semakin menumpuk dan bertambah rumit saja.


Dengan langkah pelan ia berjalan menuju balkon. Pandangannya lurus menatap ke bawah. Semilir angin yang bertiup pelan menerbangkan helaian rambut almond panjangnya. Seolah memberi salam untuk pagi yang dingin di hari ini. Sosok manis ini menggigil kedinginan manakala angin yang berembus pelan itu menyapanya, menyelinap ke balik mantel tebalnya, dan membelai kulit porselennya.


Naura mengeratkan mantel tebal ke tubuhnya. Mantel milik Raka. Pria itu meminjaminya sebagai ganti pakaiannya, sebab semalam ia terpaksa menginap di rumah pria ini. Mengingat hari sudah sangat malam. Terlalu riskan untuknya kembali ke apartemen di tengah malam dan dalam keadaan hamil pula. Terlebih Raka tidak akan mengizinkannya.


Pria itu mulai menunjukkan sikap protektifnya setelah mereka berdua sefakat untuk kembali menjalin kasih. Disesapnya sekilas wangi khas tubuh yang tertinggal dari pemilik mantel hitam ini, membuatnya merasa rileks serta merasa hangat. Terutama pada bagian hatinya.


"Na, kau baik-baik saja?"


"Eh? Iy-ya." Naura tergagap ketika suara Richard menginterupsi lamunannya. Samar telinganya menangkap suara desahan pria berkulit cokelat itu. Begitu berat. Seolah pria itu tidak akan melihat sosok manis ini lagi.


"Perlukah aku ke apartemenmu?"


"Enggak usah." Buru-buru Naura menjawab, hampir berteriak mengalahkan suara anak burung-burung yang mencicit di pepohonan manakala induknya pergi mencari makan.


"Tapi kau sendirian di apartemenmu, Na. Sementara kau sedang sakit. Tak ada yang mengawasimu saat ini." Suara Richard di seberang telepon makin terdengar cemas, mengalahi cemasnya seorang ibu ketika anak gadisnya pergi bersama pacarnya di malam minggu.


"Um ..." Naura bergumam sekilas. Berusaha mencari alasan yang tepat. Ia mengetuk-ngetuk bibir cherrynya. "Sebenarnya ... aku berada di apartemen Sunny. Semalam aku menginap di sini."


"Oh ... syukurlah." Richard menarik napas lega. Meski sosok manis ini dengan jelas menangkap nada kecewa dari pria itu.


Maafkan aku,Richard. Naura menatap kosong perut buncitnya. Untung Jongin tidak tahu di mana apartemen Sunny berada. Jadi aman. Pria itu takkan nekad datang ke apartemen sahabatnya. Selain itu, kebohongannya juga tidak akan terbongkar.


"Eum, sudah dulu, ya, Rick. Sepertinya aku harus istirahat total hari ini." Suara sosok manis ini nyaris tenggelam ketika berusaha mengakhiri kalimatnya.


"Baiklah. Lekas sembuh dan jangan lupa minum obatnya. Bila kau butuh bantuan, segera telepon aku, oke."


"Oke. Terima kasih banyak, Rick."


Setelahnya Naura buru-buru menutup sambungan teleponnya. Ia sudah tak sanggup untuk berbicara dengan Richard karena kebohongannya ini. Sungguh, dirinya tidak tega membohongi Richard seperti ini, dimana pria itu begitu dalam menaruh hati padanya. Akan tetapi, bila ia berkata jujur, bahwa dirinya izin kerja karena mengurusi Raka yang sakit, tentu Richard akan makin kecewa padanya.


Huft, sekali lagi maafkan aku, Richard. Hanya kalimat di dalam hatinya-lah yang saat ini diutarakannya. Seolah ada sosok Richard berada di depannya saat ini. Sekaligus menenangkan hatinya sendiri.


"Kenapa tidak berkata jujur saja padanya, eum."


Naura membeku saat mendengar suara berat dan serak menembus pendengarannya, bersamaan sepasang tangan kokoh melingkar erat di pinggangnya. Raka merengkuhnya dari belakang. Memeluknya dengan posesif - seperti semalam. Sepanjang malam pria itu terus mendekapnya, seolah memastikan bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi yang selalu menemani tidurnya tiap malam.


Sosok manis ini bergidik manakala napas mint Raka mengembus tengkuknya ketika pria itu menyenderkan dengan nyaman kepalanya di bahu sempitnya. Menyesap wangi tubuhnya.


Naura menggeliat geli. Tangannya menumpu di atas telapak tangan Raka yang mengelus perut buncitnya. Bayinya bereaksi. Menendang-nendang dinding perutnya, merasakan sentuhan hangat tangan pria ini. Seketika dada wanita muda ini dipenuhi rasa sesak bahagia. Seolah ada ribuan bidadari-bidadari kecil menari-nari di sekitarnya.


Sungguh Naura tidak bisa menjabarkan perasaannya seperti apa saat ini. Ini untuk pertama kalinya ia merasakan langsung tangan Raka mengelus perut buncitnya. Meski ia tidak memungkiri, sebelumnya Raka telah mengelus perut buncitnya. Tapi itu berbeda. Saat ini dia dalam keadaan sadar. Sedang sebelumnya dalam keadaan tidur, ia merasa itu seperti mimpi.


"Kalau aku berkata jujur, aku takut mengecewakannya."


"Biarkan saja dia kecewa, Na.”


“Ih, jahat kamu.”


“Well. Aku tak peduli.”


“Jangan gitu ih. Nggak boleh jahatin orang, nanti kena karma.”


“Biar dia tahu, Na.”


“Tahu apa?”


“Sekarang kau benar-benar milikku. Dia tidak berhak lagi mengusikmu." Terdengar nada suara pria ini naik setingkat. Kesal. Bila membayangkan wajah tampan Jongin, ingin sekali Raka menonjoknya kembali. Sudah jelas dia katakan sosok manis ini adalah miliknya, masih tetap main embat saja si pria berkulit eksotis itu.


"Huft. Enggak bisa begitu, Ka---"


"Dear," potong Raka cepat. Segera memutar tubuh wanita-nya, hingga berhadapan dengannya. Sudut bibirnya tersungging senyuman menawan manakala menatap iris indah kekasih hatinya ini.


"Ya?" Dahi Naura berkerut. Irisnya menatap lekat wajah pucat Raka di bawah sinar mentari pagi. Kembali sudut bibir pria ini mengembangkan senyuman lebar. Diselipkannya poni yang menjuntai sosok manis ini ke samping telinganya. Lalu mengelus pipi putih mulus dan berisi itu.


"Bukankah itu panggilan untukku? Apa kau sudah lupa?" Raka mengingatkan sembari melayangkan kecupan ringan di dahi wanita-nya.


Naura bersemu merah. Tentu saja ia tidak pernah lupa. Dulunya ia memanggil pria ini dengan sebutan Dear, dan Raka memanggilnya Baby.


"Karena kita sudah resmi balikan. Aku juga ingin panggilan sayang itu kembali. Oke, Baby." Raka mengedipkan sebelah matanya, kemudian mengelus pucuk kepala kekasih manis-nya ini.

__ADS_1


"Terserahlah." Naura mengangkat bahu. Berpura-pura cuek. Padahal sebenarnya untuk menutupi jantungnya yang berdegup-degup kencang.


Bagaikan mimpi. Ia masih tidak percaya bahwa dirinya kembali lagi kepelukan Raka setelah perpisahan dua tahun lebih yang lalu. Dia pikir selamanya tidak akan melihat pria itu lagi. Bahkan Neil menjadi saksi hidup ketika dia menangis meraung-raung sepanjang malam saat putusan dari Raka.


"Eung, sebaiknya kita masuk. Di luar dingin. Nanti kamu makin demam." Naura menarik lengan Raka, menyuruhnya masuk.


"Tak apa, Baby. Kan, ada kamu yang mengurusi." Raka kembali memeluk sosok manisnya dari belakang sambil berjalan masuk ke kamarnya kembali.


"Iya aku tahu. Tapi enggak seperti ini juga. Jangan disengaja, ah." Naura memukul gemas lengan pria-nya ini.


"Yes, Nyonya Forrester. Bisa dipahami."


"Apa kau sudah meminum obatnya?"


"Belum."


"Aiya. Kenapa belum diminum?”


“Malas.”


“Astaga. Kamu benaran pengen makin sakit, ya." Naura melotot, segera melepaskan dekapan Raka. Mundur selangkah darinya sembari bersidekap. Layaknya ia memarahi bocah lima tahun yang susah sekali dibujuk untuk makan nasi.


"Bukan begitu, Baby.” Raka mengusap perutnya sembari tercengir lebar. “Sebenarnya, perutku belum diisi makanan. Cuma diisi bubur doang semalam."


"Ya ampun!" Naura menepuk jidatnya. Karena menelepon Jongin tadi, ia sampai lupa membuatkan sarapan bubur buat pria bermata bulat ini.


"Baiklah, aku buat sarapan dulu, ya, Dear. Kamu berbaring saja." Naura memutar tubuh berisinya, berjalan pelan menuju pintu.


"Tunggu, Baby."


"Ya?" Wanita muda ini kembali memutar tubuhnya, menatap Raka yang lagi-lagi tercengir lebar padanya.


"Sarapannya boleh direquest tidak?"


"Enggak ada request-an, My Dear. (=^▽^=)" Sosok manis ini menutup mulut. Menahan tawa geli. Sesekali boleh juga mengganggu pria ini.


"Baby---"


"Katanya sakit. Yaaa, harus makan bubur, masa makan pizza."


"Tapi, Beb---"


"Oke. Oke. Jangan ngambek, My Baby Girl."


"Makanya nurut, ih."


"Aye, Nyonya."


“He he he.”


“Puas, hm. Mengerjai calon suami sendiri.”


“He he he.”


 


 


 


 


🍃Dear, My Baby🍃


 


 


 


 


"Sudah sampai." Raka memberhentikan Range Rover-nya tepat di depan lobi perusahaan di mana sang kekasih hati bekerja, sebelumnya sudah dua hari ini absen karena mengurusi dirinya yang sakit.


"Hah, seharusnya kau berhenti bekerja saja, Na." Kembali Raka mengutarakan isi hatinya sembari melepas sabuk pengamannya. Mengembuskan napas berat ketika mata elangnya menatap bangunan kokoh di depannya.

__ADS_1


Sungguh, pria ini sangat keberatan sosok manisnya bekerja di saat hamil besar begini. Ingin rasanya ia suruh bos besar di perusahaan ini memecat saja kekasihnya ini. Akan tetapi, ia tidak sanggup melakukannya. Bukan karena dirinya takut. Melainkan menghargai perasaan wanita-nya. Tak ingin Naura merasa kecewa untuk kedua kalinya karena sikap otoriternya.


"Enggak bisa, Dear. Aku enggak bisa berhenti bekerja untuk saat ini. Bukankah kita sudah sefakat sebelumnya, bila kau lupa." Naura mengingatkan kembali kesefakatan yang terjadi di antara mereka berdua. Malam ketika mereka balikan. Wanita hamil mengatakan semua yang menjadi haknya selama mereka balikan.


"Tapi, Baby. Kau hamil bes---"


"Tenang saja. Hanya tinggal dua bulan setengah lagi aku bekerja. Dua minggu menjelang kelahiran aku akan resign dari perusahaan."


"Huft. Tetap saja, Baby." Raka membantu Naura melepaskan sabuk pengamannya. Lalu melayangkan kecupan ringan di dahi wanita-nya.


"Mengertilah, Dear." Naura menumpu punggung tangan pria ini ketika mengelus perut buncitnya. Setiap kali Raka mengelus perutnya, bayinya akan selalu bereaksi. Menendang-nendang.


"Bukannya aku enggak mau berhenti untuk sekarang ini, Dear. Tapi ... kalau berhenti sekarang, aku bakalan mati bosan hanya tidur, makan, tidur lagi, makan lagi, karena enggak ada pekerjaan lagi. Bukankah wanita hamil harus banyak gerak? Biar lancar melahirkannya nanti," jelas Naura berusaha memberikan pengertian pada kekasihnya ini.


“Banyak gerak tak mesti dengan bekerja, Baby. Kau bisa melakukan olahraga ringan bila kau mau.”


“Itulah sebabnya. Aku malas olahraga.”


“Makan juga malas?” goda Raka terkekeh geli.


“Ih, nggaklah, Dear. Apalagi hamil begini. Anakmu rakus tuh makannya.”


“Oh, ya?”


“Ya. Mirip bapaknya.”


“Mirip bapaknya ... atau Mommy-nya yang cari-cari kesempatan, heum.”


“Maksudnya?”


“Biasanya begitu. Wanita hamil memanfaatkan masa kehamilannya buat makan sepuasnya. Nanti pas ditanya, ya seperti jawabanmu tadi, bayinya yang makan.”


“He he he.” Naura tercengir. Ucapan Raka mendekati kebenaran. Sosok manis ini mengelus sayang perut buncitnya.


Maafkan, Mommy ya, Baby. Mommy nggak salahin kamu, kok. Kita salahin Daddy-mu saja, ya. (=^▽^=)


“Jadi intinya kamu masih tetap ingin bekerja?” Sekali lagi Raka bertanya memastikan.


“Yup.”


"Oke. Aku paham." Raka menarik napas panjang seraya mengetuk-ngetuk setir mobilnya. Dia tidak punya pilihan lain. Selain menuruti kehendak sang kekasih. "Tapi janji, ya, Baby. Setelah melahirkan kau harus fokus dengan rumah tangga kita. Fokus mengurus bayi kita dan aku. Oke?" imbuhnya.


"Aye, My Dear."


"Ha ha ha." Tawa renyah keluar dari belah bibir pria ini manakala Naura memberikan penghormatan layaknya tentara pada komandannya. Diacaknya gemas rambut panjang sang kekasih hingga ia mendapatkan cubitan gratis di perut six packnya.


“Dear,” panggil Naura hati-hati. Ia mendongak. Irisnya menatap lekat bola mata Raka yang juga serius menatapnya. Pria muda ini hanya diam menunggunya melanjutkan ucapannya.


Naura mengelus perut buncitnya. Ketika memandang mata elang kekasihnya, seolah ingin mencari jawaban atas pertanyaan yang selama ini menggelayutinya.


“Kenapa, Baby? Ada yang ingin kau katakan?” Raka memutuskan untuk berbicara saat dirasa sosok manis-nya hanya diam dengan pikiran yang tidak mampu dirinya tebak.


Naura menggeleng. “Enggak ada. Um  ... sudah, ya, Dear. Aku masuk."


Pada akhirnya Naura kembali menelan ucapannya mengingat kondisinya tidak memungkinkan untuk bertanya. Awal mulanya dirinya ingin bertanya alasan Raka memutuskannya secara tiba-tiba - selain alasan karena keturunan. Ia yakin ada alasan lainnya yang disembunyikan Raka darinya. Entah itu apa.


Ya, sudahlah. Lain kali saja bertanya. Bila ada waktu santai.  Naura mengembuskan napas pendek. Segera memutar tubuhnya dan membuka pintu mobil.


"Tunggu, Baby."


"Ya---" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja tubuh berisinya direngkuh kembali oleh Raka. Mendekapnya.


"Dear, aku mau kerja." Naura mengingatkan. Meski sejujurnya, ia pun sama dengan yang dirasakan pria ini. Enggan berpisah dalam rentang waktu beberapa jam ke depannya.


"Aku tahu, Baby. Sebentar saja." Raka berbisik dengan mata elangnya tembus menatap ke belakang punggung Naura. Richard berdiri terpaku beberapa langkah dari Range Rover miliknya dengan mata terbelalak. Seolah sedang melihat kejadian paling menakutkan.


Baiklah,Richard. Karena kau sudah melihat semuanya. Sebaiknya akan kutunjukkan bahwa Naura adalah milikku seorang, bukan milik siapa-siapa ....


Sudut bibir Raka menyeringai melihat Richard yang mematung menatapnya. Pria ini menangkup wajah Naura hingga wanita muda ini menengadah padanya. Sedetik kemudian bibirnya telah menempel di atas bibir plum sosok manis ini. Menyesapnya begitu dalam.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.

__ADS_1


 


 


__ADS_2