Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
27| Takkan Goyah


__ADS_3


"Please, Kak Neil. Tolong angkat panggilanku, hiks." Naura terisak sembari menggigit bibirnya begitu kuat. Suara gemuruh dan hujan deras di luar jendela tiada henti menakutinya. Di dering kelima, akhirnya dokter muda itu mengangkat panggilannya. Sosok manis ini menghela napas lega.


"Naura?" Suara berat Neil di seberang telepon terdengar terputus-putus karena terganggu cuaca yang begitu buruk.


"Kau baik-baik saja?" lanjut dokter muda ini. Terdengar dari suaranya, ia mencemaskan sosok manis ini. Meski wanita muda ini tidak pernah menceritakan soal ketakutannya terhadap hujan dan petir pada siapa pun, Neil tahu itu dan merasakannya.


"Kakak." Naura menahan isakannya dan menahan napas beberapa detik, tak ingin Neil mengetahui bila dirinya sedang menangis. Ia mengelus perut buncitnya. Janinnya ikut bereaksi, merasakan apa yang tengah dirasakannya saat ini.


"Bisakah kakak menginap malam ini di apartemenku?" pinta sosok manis ini memelas dengan suaranya yang terdengar begitu serak. Berharap kali ini saja, dokter muda ini mengabulkan keinginannya.


Neil mengembuskan napas berat di seberang telepon. Suaranya bergetar kala menjawab permintaan tetangga manisnya ini. "Maafkan Kakak, Na. Kakak saat ini berada di Seoul. Untuk sampai ke pulau Jeju, Kakak harus naik pesawat. Menurut prakiraan cuaca akan ada badai topan. Pada cuaca buruk begini, semua rute penerbangan akan delay."


Naura mengigit bibir begitu kuat sembari melihat keluar jendela. Membenarkan ucapan Neil. Cahaya kilat tampak begitu terang dan membuat nyalinya ciut seketika.


"Ya, aku mengerti, Kak," jawabnya dengan suara nyaris tidak kedengaran.


"Apa sebaiknya kakak telepon Raka?" Kali ini Neil berbicara jujur, meminta izin terlebih dahulu pada sosok manis ini. Tak ingin lagi mengecewakannya seperti sebelumnya.


"Jangan." Naura langsung menjawab. "Aku nggak mau berhubungan dengan dia lagi, Kak," jelasnya.


"Tapi, kond---"


"Enggak. Kakak gak usah telepon dia," sergah Naura lagi. Kali ini dengan suara sedikit tegas. Dokter muda itu terdiam beberapa detik di seberang telepon.


"Huft. Kalau begitu ... bagaimana dengan Sunny?" usul Neil. Suaranya nyaris tenggelam, kalah dari suara gemerisik hujan dan petir.


"Sunny juga enggak bisa, Kak. Dojin lagi sakit."


"Oh." Tampak suara Neil begitu kecewa. Tak bisa membantu apa pun untuk tetangga manisnya saat ini.


"Sudah Kak enggak usah cem--- Arrrgh!" Naura terpekik kaget saat suara guntur menyela pembicaraannya diiringi cahaya kilat yang begitu terang menyilaukan penglihatan. Ia kembali meringkuk bagai janin. Detik itu pula bunyi beep panjang terdengar dari speaker smartpone yang telah tergeletak di sampingnya - terlepas begitu saja dari tangannya. Sambungannya terputus akibat cuaca buruk.


Naura memejamkan mata sembari menutup telinganya rapat-rapat. Ia menggigil hebat. Seolah berada di daerah kutub utara tanpa persiapan apa pun. Sosok manis ini mau tak mau mencoba berjuang sendiri melawan ketakutannya, tak ada yang bisa membantunya keluar dari rasa ketakutannya saat ini kecuali dirinya sendiri. Di saat-saat seperti ini. Ingatan Naura tertuju pada satu sosok. Sosok yang akan selalu menenangkannya dikala hujan deras dan petir begini. Selalu mendekapnya dan membisikkan beribu kata hiburan sampai ia tertidur lelap dan tak merasakan lagi ketakutan.


Hiks, Raka ...


γ€€


γ€€

__ADS_1


γ€€


γ€€


πŸƒDear, My BabyπŸƒ


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


"Sialan!" Sepanjang jalan Raka mengumpat keras. Berkali-kali membunyikan klakson Range Rover-nya tak sabaran. Ia terjebak macet di tengah hujan deras dan angin yang bertiup kencang. Sosok tampan ini menyipitkan mata, berusaha melihat pemandangan di depan, terhalangi oleh air hujan dan membuat kaca mobilnya menjadi buram. Kegelisahan tergambar jelas di wajah tampannya.


Raka mengembuskan napas panjang. Menyenderkan tubuhnya ke sandaran jok kursi sembari mengelus keningnya yang berdenyut-denyut. Sedikit stress dan kalut menggelayutinya saat ini. Pikirannya hanya tertuju pada sosok manisnya. Ia tahu Naura pasti sangat ketakutan dan menangis sendirian di apartemen. Dalam hati pria ini berharap semoga ada yang menemani sosok manisnya saat ini. Apakah itu Sunny bersama pacarnya, atau sahabatnya, Neil. Sebelumnya ia sudah berusaha menelepon kedua orang itu untuk menitipkan Naura sampai dirinya tiba di apartemen. Tetapi karena cuaca buruk begini, semua saluran komunikasi jadi terganggu.


Na. Semoga kau baik-baik saja. Jangan menangis, tunggu aku.


Raka mengetuk-ngetuk setir mobilnya. Duduknya makin gelisah, bagaikan duduk di atas bara api. Andaikan saja dirinya punya kekuatan menghilang. Sudah tentu detik ini pula berada di sisi Naura. Mendekapnya dan menenangkannya, seperti biasa dia lakukan dikala hujan deras dan petir begini. Di tengah dirinya melamun. Kaca jendela mobilnya diketuk seseorang. Segera Raka menurunkan kaca jendelanya. Seorang pria berseragam polisi dibalut dengan jas hujan menundukkan kepalanya.


"Kenapa pak? Tidak biasanya macet begini," ujar Raka mengeluhkan kemacetan panjang di tengah cuaca buruk begini.


Rahang Raka seketika mengeras. Astaga. Itu berada di depan kompleks apartemen Naura.


"Untuk keselamatan anda sendiri. Sebaiknya anda memutar jalan. Atau untuk sementara tidak usah lewat dulu di sana. Permisi." Polisi itu segera berbalik dan menuju ke mobil lainnya di tengah kemacetan yang semakin parah, serta suara klakson kendaraan membaur bersama suara guntur dan deru angin kencang memenuhi langit kota Jeju saat ini.


Raka mengepalkan tangan. Giginya gemeretak menahan amarah yang sudah berada di ubun-ubun. Menunda perjalanannya karena tidak bisa lewat di jalan utama? Astaga. Itu sama saja membuatnya tidak tenang sepanjang malam dan mungkin akan membuatnya kembali menyesal untuk kedua kalinya. Atau memutar arah. Itu sama saja. Justru akan membuatnya makin cemas berkali-kali lipat karena menghabiskan waktu sejam untuk sampai di apartemen Naura. Tak ada pilihan lainnya. Raka menepikan Range Rover-nya. Melompat keluar dan mengunci pintu mobil. Bergegas berlari menembus hujan deras dan puluhan mobil yang terjebak macet.


Menghiraukan guyuran hujan yang menimpanya, Raka terus berlari cepat bersama deru napasnya yang terengah-engah. Tak peduli pada bisikan angin yang berusaha menghambat langkah kakinya. Tak peduli pada gemuruh guntur yang menyapanya, seolah menggertak dan berusaha menciutkan nyalinya. Tetap semangatnya membara, tak goyah dan padam oleh rintangan apa pun di depannya demi segera berada di sisi sosok manisnya.


Ketika berlari cepat dengan pandangan buram karena terkena percikan air hujan menerpa wajahnya, tiba-tiba saja suara petir menyambar sebuah pohon oak di dekat Raka. Tanpa bisa menghindar sebuah dahan pohon sepanjang semeter dengan besarnya seukuran kepalan tangan pria dewasa menghantam tubuh Raka. Tak pelak Raka tersungkur ke jalan beraspal. Pikirannya kosong nyaris pingsan, selama sepuluh menit mencoba mencerna apa yang terjadi pada dirinya.


Sebuah mobil yang kebetulan melintas berhenti untuk menolong Raka. Salah satu dari dua pria paruh baya di dalam mobil itu segera menyingkirkan dahan pohon di atas tubuh pria muda ini.


"Ya, Tuhan! Kamu baik-baik saja, Nak?" ujar pria paruh baya lainnya sembari membantu Raka duduk. Lelaki muda ini mengerang. Dadanya terasa sesak dan sulit menarik napas. Ia memegangi kepalanya yang berdenging. Darah segar mulai merembes di pelipisnya.


"Sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit saja, Mr. Choi," timpal pria paruh baya lainnya di samping Raka, ia meringis melihat darah segar mengucur di pelipis Raka bercampur air hujan.


Mendengar kata rumah sakit, bagai sebuah mantra, Raka tersadar sepenuhnya. Ia menggelengkan kepala dan berusaha bangkit terhuyung-huyung. Buru-buru mengusap darah di pelipisnya yang tersapu oleh guyuran air hujan. Pria muda ini tersenyum tipis, seolah menunjukkan bahwa dirinya memang baik-baik saja. Dengan ke rumah sakit itu sama saja akan menambah masalah baru untuknya. Tidak. Ia tak ingin itu. Yang diingininya berada di sisi Naura secepatnya. Apa pun yang terjadi.

__ADS_1


"Tidak usah, Ahjussi (paman). Terima kasih sudah menolongku." Raka membungkuk sekilas. Menghiraukan denyutan di kepalanya, pria beriris abu-abu ini kembali menembus hujan yang semakin deras, meninggalkan dua pria paruh baya itu dalam kebingungan dan cemas secara bersamaan menatap punggung kokohnya.


γ€€


γ€€


γ€€


πŸƒDear, My BabyπŸƒ


γ€€


γ€€


γ€€


Naura melirik pada kaca jendela sembari mengusap lelehan cairan bening di sudut mata. Berharap Sang Maha Pencipta berbaik hati untuk sedikit meredakan curah hujan yang semakin deras mengguyur bumi.


Jangan menangis, Na ....


Tiba-tiba saja tanpa diundang suara bariton Raka menggema di kepala sosok manis ini.


"Hiks, Raka ..." Naura bergumam menyebut nama sosok itu. Ya. Hanya Raka yang mengetahui ketakutannya ini. Tetapi kini ... sosok itu sudah bukan miliknya lagi. Naura semakin menangis tersedu-sedu seolah ingin menandingi curah hujan di luaran sana. Di tengah angin deras dan suara petir yang menggelegar membelah langit kota Jeju, suara bel apartemennya berdering berkali-kali. Mengaum tak sabaran.


Dahi sosok manis ini mengernyit. Siapa yang bertamu di tengah hujan deras begini? Neil-kah? Tapi katanya dokter muda itu sekarang berada di kota Seoul. Atau mungkin Sunny? Mungkin juga Jongin? Yang berusaha mendekatinya. Namun demikian,Β  jauh di lubuk hatinya, sosok manis ini berharap sosok Raka-lah yang datang.


Tak ingin menerka-nerka dalam hati. Naura beringsut membuka pintu apartemennya sembari mengusap cairan bening di sudut matanya. Tidak peduli bila saat ini keadaaannya berantakan. Rambut panjangnya sedikit acakan, piyamanya juga kusut, serta matanya yang sembab, setidaknya ia akan punya teman nantinya. Ketika membuka pintu. Wanita muda ini terpaku sejenak melihat sosok di depannya. Bibirnya bergetar. Lelehan cairan bening di sudut matanya kembali menyeruak. Hatinya lega, seolah baru saja menemukan sesuatu yang telah lama hilang dalam dirinya.


"Naura," panggil sosok itu begitu serak. Hatinya trenyuh melihat kondisi Naura yang begitu ketakutan.


"Hiks, Raka ..." Tak peduli pada apa pun, Naura segera memeluk Raka begitu erat. Menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.


"Sssh! Jangan menangis, semua akan baik-baik saja."



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2