![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
[Dua bulan kemudian ....]
“Na, apa kau bahagia sekarang ini, hum?”
“Apa kau menikmati hidupmu dengan baik sesuai pilihanmu?”
“Kau tahu? Aku di sini sama sekali tidak baik. Aku ... aku ...”
Lama Raka menatap layar gawainya. Memandang foto belahan jiwanya bersama malaikat kecilnya. Bagai orang gila. Ia berbicara sendiri, tertawa dan menciumi layar gawainya atau mengelus-elusnya. Rambut hitamnya mulai memanjang. Wajahnya tidak terurus, dibiarkan begitu saja bulu-bulu halus memenuhi sekitaran dagunya. Bentuk wajahnya makin tirus, begitu pula dengan bentuk tubuhnya, makin mengurus. Matanya bengkak dan merah.
Ditinggalkan sosok yang dicintainya membuatnya begitu terpuruk dan frustasi. Kondisinya sekarang ini jauh lebih mengenaskan dibandingkan dirinya putus dari Naura beberapa tahun yang lalu. Sungguh memprihatinkan.
“Sekarang kau puas, Na. Aku ... hancur,” gumamnya serak.
“Bagaimana Baby Yukhei? Ia baik-baik saja, kan?” Kembali Raka meneruskan monolognya. Samar sudut bibirnya tertarik ke atas, tersenyum manakala memandang foto bayinya di dalam inkubator. Hanya foto-lah menjadi media pelepas rindunya pada malaikat kecilnya.
“Na, kenapa kau lakukan ini padaku. Kenapa kau tega padaku. Kenapa, Na. Kenapa?” tanya Raka di depan gawainya seolah benda elektronik di tangannya itu adalah sosok yang dicintainya.
“Sayang? Waktunya makan.” Tanpa disadari Raka, Cathie telah berdiri di sampingnya. Berjalan ke arah jendela. Membuka jendelanya begitu lebar, membiarkan cahaya matahari memasuki kamar yang dibiarkan gelap itu. Menatap kembali sang putra. Hatinya sakit melihat putranya bagai mayat hidup itu.
Cathie mendesah. Sungguh ia tidak mengerti akan pola pikir Naura. Kenapa dia tega menghancurkan semuanya, membuat Raka, dirinya dan Andrew syok berat. Bahkan suaminya sama seperti putranya, hampir gila. Ketika mereka sedang bahagianya mendapatkan cucu pertama, tiba-tiba Naura merenggut semua kebahagiaan mereka.
“Sayang. Mommy sudah siapin makanan kesukaanmu. Jajangmyeon kacang hitam pedas.” Cathie duduk di samping putra kesayangannya. Sudah dua bulan ini Raka memakan mie jajangmyeon--makanan kesukaan Naura ketika berada di negeri gingseng ini--setiap harinya. Dengan memakan mie jajangmyeon ini, seakan Raka bisa melepas rindu pada sosok manisnya.
Raka menggeleng. “Nanti saja, Mom. Raka belum laper,” jawabnya sembari mengelus perutnya yang berbunyi keras.
“Sayang. Dari pagi tadi kau belum makan apa pun. Makan, ya. Sedikit saja.”
“Nanti saja, Mom.”
“Huft. Baiklah.” Cathie menyerah ketika melihat raut wajah Raka yang serius. Tak menggubris ajakannya.
“Sekali-kali kau keluar dari kamar ini, Sayang. Kau seperti pertapa. Astaga! Kadar ketampananmu jadi berkurang karena penampilan jelekmu ini. Idih, enggak banget, deh,” seloroh Cathie terkekeh, mencoba menghibur sang putra---meski kedengaran sumbang selorohannya.
“Lihat!” Cathie menyisir rambut panjang putra kesayangannya dengan jemarinya. “Ada banyak hal yang bisa kau lakukan, hum.”
“Mommy salah. Tak ada lagi yang bisa Raka lakukan tanpa Naura, Mom. Hidup Raka sudah hancur,” sarkas Raka meletakkan smartphone di sampingnya. Mengacak rambutnya menjadi berantakan---barusan saja dirapikan oleh Cathie.
“Sayang, jangan pesimis begitu. Bayi yang bersama Naura juga putramu, kau bisa mencarinya. Suatu hari kau bisa mengambil alih hak asuhnya.”
Cathie mengelus lengan putranya. “Di bawah ada Theresia. Dia datang kemari mengajakmu jalan-jalan. Pergilah bersamanya.”
“Theresia? Untuk apa dia kemari. Tidak tahukah dia, ini semua karena ulahnya,” sarkas Raka.
“Sayang. Maafkan kesalahan dia. Memang Theresia salah. Tapi setidaknya dia mencoba memperbaikinya. Setiap hari dia datang menemuimu. Tidakkah kau lihat usahanya selama dua bulan ini, eum. Dia sudah berubah.”
“Mom---”
“Sayang. Sudah cukup kau terpuruk. Sudah dua bulan---lihatlah dirimu sendiri. Kau ... seperti bukan putra Mommy yang Mommy kenal selama ini. Lupakan Naura. Mungkin itu sudah menjadi keputusannya. Kalau dia memang mencintaimu, takkan tega dia membawa Baby Yukhei pergi bersamanya di saat menjelang pernikahan kalian.”
Raka terdiam. Mengepalkan tangannya. Hatinya kembali teriris-iris dengan belati tajam.
Tanpa Raka dan Cathie sadari, Theresia telah berdiri di ambang pintu sambil mengigit bibir. Menyela pembicaraan keduanya. “Raka, betul yang dikatakan Tante. Kembalilah hidup seperti semula.”
“Untuk apa kau kemari, huh.” Raka melotot tajam.
“Sayang, enggak boleh begitu.” Cathie mengelus lengan sang putra. “Dia kemari dengan niat baik. Ingin menghiburmu.”
“Menghiburku?!” Raka mendengkus dan berpaling dari wajah Theresia.
Beringsut Theresia berjalan ke arah Raka. Memberanikan diri duduk di sampingnya---karena ia tahu pria muda ini takkan bertindak kasar pada wanita. Dengan berani Theresia menyentuh ujung rambut Raka. “Bagaimana kalau kutemani kau ke salon? Kita potong rambutmu.”
“Tidak usah!” Raka menepis tangan Theresia.
“Sayang. Menurut Mommy, ide Theresia itu bagus.”
“Mommy.” Raka mendelik. “Jangan campuri urusanku. Aku tidak suka itu!”
Cathie bungkam. Begitu pula dengan Theresia. Tiba-tiba, dari balik pintu, Inah--wanita tua berumur 60 tahunan. Pengasuh Raka sedari kecil--datang menyela.
“Tuan muda, Nyonya.”
“Ada apa, Bi?” sahut Cathie sambil menatap Inah. Sudah dua bulan ini Inah ikut dengannya, menetap di pulau Jeju untuk mengurusi Raka. Sementara suaminya tetap tinggal di Jakarta, mengurusi perusahaan mereka di sana.
“Ini, Nyonya.” Bi Inah beringsut ke arah Cathie. “Ada kiriman amplop untuk Tuan muda Raka.”
“Eoh, amplop?”
“Iya. Tadi ada kurir orang Korea yang mengirimkannya.”
“Oh. Makasih ya, Bi.” Cathie tersenyum dan meraih amplop di tangan Bi Inah. Wanita tua itu berbalik pergi bersamaan Cathie memberikan amplop cokelat itu pada Raka.
Melirik sekilas pada amplop cokelat di tangannya dengan tidak tertarik. Raka meletakkannya begitu saja.
“Buka saja dulu, Sayang. Siapa tahu itu penting.”
“Malas,” jawab Raka datar.
“Sayang, jarang-jarang ada kiriman amplop besar ke rumah ini.”
Dengan saran Cathie, akhirnya Raka membuka amplop besar itu. Seketika rahangnya mengeras kala melihat isinya. Setumpuk foto berisi gambar Naura dan Baby Yukhei serta ... Jongin?
__ADS_1
Kembali Raka mengaduk-aduk foto di tangannya. Tidak, ini foto ... pre-wedding? Dan foto akad nikah? Raka terhenyak melihat lembaran demi lembaran foto tersebut.
Jadi ... Naura telah menikah dengan Jongin? Dirematnya lembaran foto di tangannya. Lalu membuangnya begitu saja. Tak jauh berbeda dengan Raka, Cathie dan Theresia juga tampak syok melihat foto tersebut.
Mengembuskan napas. Raka berdiri. Pandangannya sedingin kutub utara. Dikepalkan tangannya begitu erat. Samar ia terkekeh mengerikan bak raja iblis keluar dari neraka hingga membuat Chatie dan Theresia bergidik ketakutan---merasakan aura gelapnya.
Raka menyeringai. Seolah hidupnya telah kembali seperti sedia kala. Sesuai keinginan Naura. Dirinya akan menikahi kakaknya. Dengan pandangan dingin, ia berkata pada gadis berambut pirang di depannya. “Theresia, minggu depan kita menikah!”
🍃Dear, My Baby🍃
“Richaaard. Kau tahu?”
“Sialan! Kenapa berteriak. Kau tidak tahu dengan siapa saat ini aku bersama, huh.”
“Berengsek! Memangnya aku memikirkannya. Aku pun sama. Saat ini bersama dengan Raka,” balas Theresia melotot tajam. Sudut matanya mengerling pada pintu ruang ganti pakaian yang tertutup rapat. Kemudian menatap gaun yang dipakainya dan mematut dirinya di depan cermin. Tersenyum lebar melihat tubuhnya berbalut gaun pengantin berwarna putih.
Penantianku nggak sia-sia. Setelah dua tahun menunggu, akhirnya impianku tercapai. Dengan bangga Theresia memperhatikan lekuk tubuhnya.
“Hey. Kau mendengarku?”
“Masih,” jawab Theresia riang sambil berjalan ke arah jendela. Menghirup udara pagi di kota Jakarta. Akhirnya dia kembali menginjak kota ini, setelah dua bulan lebih berada di pulau Jeju. Mereka baru tiba kemarin sore. Raka yang memutuskan sendiri untuk kembali ke sini. Ia tahu kenapa Raka buru-buru kembali ke tanah air. Sudah tentu untuk mengubur kenangan pahitnya di pulau itu.
“Apa yang ingin kau katakan?”
“Kau tahu saat ini aku sedang ada di mana?” Alih-alih menjawab ucapan Richard, Theresia justeru melontar balik pertanyaan. Ia merasakan bila pemuda berkulit cokelat itu sedang memutar bola matanya di seberang telepon.
“Kau hanya ingin bermain tebak-tebakan denganku saja. Well, aku banyak pekerjaan. Tak punya waktu meladeni ucapan gilamu.”
“Sabar, Dude. Jangan marah dulu.”
“Fine. Aku menyerah. Aku bukan penyihir dan tidak punya mata batin untuk menebak kau berada di mana saat ini.” Terdengar suara Richard tampak kesal.
Theresia terkekeh. “Aku sekarang ini berada di butik.”
“You know? Aku sedang fitting baju pengantin.”
“Oh, ya?” Tampaknya Richard di seberang telepon mulai tertarik dengan ucapan Theresia.
“Yes. Aku sekarang sedang bersama Raka. Dia mencoba pakaian pengantinnya.”
“Good. Langkah yang bagus.”
“Setelah dia menerima foto yang kau kirimkan, Raka memutuskan menikah denganku saat itu juga,” bisik Theresia memperhatikan sekelilingnya dengan wajah penuh binar. Tak bisa menyembunyikan dengan baik perasaan bahagianya saat ini.
“Wow, suatu pencapaian di luar prasangka. Kapan kalian akan menikah?”
“Tiga hari lagi.”
“Secepat itu?”
“Sepertinya Raka enggak mau menunda-nunda lagi.”
“Bagus itu.”
“Dan kau Richard, jaga Naura. Jangan sampai dia kabur.” Theresia berkata sengit.
“Tak usah kau bilang pun aku sudah melakukannya.”
“Kalau bukan karena ideku, belum tentu kau mendapatkan Naura dengan mudah, hum.”
“Well, aku tahu.”
“Omong-omong ... apa kau masih berada di San Diego?” Theresia membalik tubuhnya. Seketika membeku, tanpa diduganya Raka telah berada di belakangnya.
Gadis ini meneguk salivanya seraya mengelus ujung rambut panjangnya, berusaha menutupi kegugupannya. Dia berpikir, kapan Raka ada di belakangnya? Apakah tadi mendengarkan percakapannya dengan Richard barusan?
“Ya. Aku masih berada di San Diego. Hey, kau masih hidup di sana?”
Theresia melirik benda panjang dalam genggamannya. Baru sadar sambungannya masih terhubung ke benua Amerika.
“Hum, sudah dulu ya, Girl. Calon suamiku telah selesai berganti pakaian.” Buru-buru Theresia menutup sambungan teleponnya. Samar, sebelum menutup telepon ia mendengar Jongin mengumpatinya karena memanggilnya gadis.
Theresia mengerjap. Berkali-kali memastikan pandangannya. Rasa gugupnya seketika menguap digantikan dengan decakan kagum. Raka tampak makin tampan dengan setelan jas berwarna putih. Bagaikan pangeran-pangeran dalam novel dongeng yang sering dibacanya semasa kecil.
“Wow, kau sangat tampan Raka,” pujinya.
“San Diego?” Dahi Raka berkerut, mengabaikan pujian Theresia.
__ADS_1
Degh!
Mendadak wajah Theresia pucat pasi.
“Siapa di San Diego?”
“Um, itu ... itu ... sahabatku ... Nina. Dia lagi liburan di San Diego. Kenapa?” Theresia balik bertanya dan menahan napas.
“Kau mendengarkan percakapanku tadi?” Theresia mengangkat ujung gaun pengantinnya, berjalan pelan mengikuti Raka duduk di sofa. Pemuda itu mengangkat bahu.
“Se-semuanya?” tanyanya gugup, iris cokelat beningnya tiada henti memperhatikan Raka. Membuka jas pengantinnya. Dengan sigap salah satu pramuniaga butik mengambil alih jas di tangannya.
“Kenapa kalau aku mengetahui semuanya?” Raka bertanya serius seraya memperhatikan wajah Theresia, lantas tersenyum miring. “Kau takut?”
“Ng-nggak kok. Apa yang kutakutkan.” Theresia menggeleng kaku.
“Kau terlihat pucat.” Raka memiringkan kepala, senyum miring di sudut bibir sensualnya terus bertahan.
“Uh ... be-begitukah?” Theresia menepuk pipinya. Berusaha memaksa tersenyum, walau itu sangat kaku.
“Se-sebaiknya aku ganti pakaian dulu. Nanti gaunnya kotor.” Mengalihkan perhatian dan rasa gugupnya. Mengenyahkan untuk tidak memburu pertanyaan lagi pada calon suaminya, Theresia bergegas masuk ke ruang ganti.
“San Diego ya ...” Raka mengelus dagu. Kembali mengingat ucapan Neil pagi tadi. Memberi tahunya, bahwa dokter muda itu dikirim oleh rumah sakit Universitas Nasional Jeju ke rumah sakit Internasional di San Diego untuk melakukan riset selama seminggu.
🍃Dear, My Baby🍃
“Rakaaa, tunggu aku, dong.” Theresia mengentakkan kakinya berkali-kali. Mendengkus kesal, menatap punggung lebar di depannya. Berjalan begitu dinginnya tanpa mempedulikan keadaannya.
“Rakaaa.”
Akhirnya Raka menghentikan langkahnya. Memutar tubuh. Bersidekap. Memandang dingin gadis di depannya. Tertatih-tatih melangkah dengan high heels-nya.
“Cepatlah. Aku tidak punya waktu menunggui tuan putri manja sepertimu,” sindir Raka tajam.
Theresia mendengkus. Berjalan cepat hingga akhirnya sampai di depan Raka, kembali Raka melanjutkan perjalanannya, menyusuri toko-toko di sampingnya sampai menuju ke arah parkiran di ujung jalan.
“Sialan! Kenapa sikapmu tidak pernah berubah sih, tetap dingin. Padahal kita akan menikah,” gerutu Theresia sambil menendang kerikil di depannya.
“Jangan berharap lebih banyak dariku, Theresia. Setidaknya kau patut bersyukur. Keinginanmu untuk menikah denganku akhirnya terlaksana,” tukas Raka dingin dengan nada penuh sarkasme.
“Kau memang berengsek, Raka!”
“Well, itulah diriku.” Raka mengedikkan bahu. Samar dahinya mengernyit seraya mengepalkan tangan. Berpikir, ya, aku memang berengsek. Bahkan Naura pun pergi dariku. Menyerah padaku dan memilih menikah dengan Jongin bersama Baby Yukhei ...
Raka tersentak. Ia melotot dan kembali berjalan cepat---dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Kembali berpikir, baby Yukhei, putraku ...
“Raka, berhentiii.”
...Sialan. Takkan kubiarkan Baby Yukhei tinggal bersama Naura dan Richard...
“Rakaaa, tunggu akuuu.”
...astaga! Kenapa Richard tidak terpikirkan olehku selama ini. Di mana Richardmembawa Naura hingga tak terlacak olehku?
“Rakaaa, berhenti, kyaaa!!”
...dan kenapa Naura tiba-tiba saja mau menikah denganRichard?... bukankah selama ini Naura tidak menyukai Richard? Sungguh aneh ... atau jangan-jangan Naura selama ini di---
“Raka, tolong aku ... kakiku keseleo, huks ...”
Sontak Raka menghentikan langkahnya, memutar tubuh dan menatap Theresia yang meringis - terduduk di pinggiran toko mengelus kakinya. Seketika Raka menegang, berpikir ulang. Apakah keputusanku menikahi Theresia sudah tepat? Ya, Tuhan!
\============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1