Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
28| Kau Butuh Aku, Baby


__ADS_3


Entah berapa lama Naura dan Raka berada dalam posisi berpelukan. Hanya suara guntur dan derasnya hujan menemani keduanya dalam kebisuan. Baik Naura dan Raka tak ada yang mau beranjak atau pun memisahkan diri. Seolah tubuh keduanya dilem begitu kuat. Hingga kesadaran sosok manis ini mengambil alih pikirannya kembali. Dengan enggan Naura akhirnya memisahkan diri dari dekapan hangat Raka.


"Kamu kebasahan." Sosok manis ini baru menyadari bahwa tubuh Raka basah kuyup meski mantel kulit menyelimuti tubuh atletis pria ini, tetap saja tak mampu melindungi semua tubuhnya. Bahkan piyama tipis berwarna ungu milik Naura juga ikut basah terkena cipratan air hujan. Segera pandangan wanita hamil ini menyapu seluruh tubuh pria di depannya sembari menghidu wangi tubuhnya. Meski sudah diguyur ribuan kubik air hujan, tetap saja wangi maskulin di tubuh pria ini tidak luntur.


"Astaga, kenapa dengan kepalamu?" Naura terkejut ketika irisnya menangkap samar noda darah di pelipis Raka yang tertutupi rambut hitam lebatnya.


"Oh ini ..." Raka sedikit menyibak poni di sekitaran pelipis dan mengelusnya. Sedikit meringis kala merasakan kepalanya berdenyut menyakitkan. Tadi, sepanjang perjalanan menuju kemari, sama sekali ia tak merasakan sakit.


"Saat mau pergi tadi kejedot pintu," kata Raka sedikit berbohong sembari menyugar rambut basahnya dengan senyum tak pernah luntur dari belah bibir sensualnya. Tidak ingin Naura mengetahui yang sebenarnya, dan yang pasti tak ingin membuat sosok manis ini semakin khawatir. Cukup membuat hujan dan petir menjadikan sosok manis-nya ketakutan, jangan ditambah lagi dengan mencemaskan keadaan dirinya.


Naura memicing, memperhatikan darah segar di pelipis pria yang tetap mempertahankan ekspresi datar biasanya itu. Sedikit dirinya tidak percaya dengan ucapan pria ini. Ia mengenal sifat pria ini. Seketika darah Naura berdesir halus.


Memperhatikan Raka yang basah kuyup serta dengan kepala berdarah begitu, mungkinkah karena Raka mencemaskan dirinya?


Raka rela berbasah-basahan dan menantang hujan badai di luaran sana demi dirinya-kah?


Astaga! Sosok manis ini tersentak. Seketika ia menarik tangan Raka masuk ke apartemennya tanpa mempedulikan beberapa protesan kecil keluar dari belah bibir pria ini manakala ia menyentaknya, layaknya ia menarik boneka kodok miliknya begitu saja.


"Sebaiknya masuk dulu, lepaskan mantelnya. Nanti masuk angin." Naura mendorong tubuh Raka lalu menyuruhnya mengeringkan rambut menggunakan handuk miliknya.


Selagi menunggu Raka melepaskan mantelnya, sosok manis ini menyiapkan obat untuk luka pria itu serta menyiapkan pakaian ganti. Dilihatnya kaus yang dipakai Raka sedikit basah terkena air hujan aibat rembesan dari balik mantelnya. Kebetulan ada pakaian Neil yang ketinggalan di apartemennya ketika dokter muda itu sedang berkunjung ke rumahnya. Kala itu Naura tak sengaja menumpahkan minuman ke pakaian Neil.


Sudut mata Naura melirik ke luar jendela. Hujan tetap mengguyur deras bersama petir yang menggelegar membelah langit, tampak berkilat-kilat dan terang benderang bagaikan lampu diskotik. Sosok manis ini sedikit bernapas lega. Meski cuaca masih sangat mengerikan di luaran sana, layaknya musuh yang tak gentar untuk melumpuhkan lawannya. Tetapi dia sedikit merasakan tenang setelah kehadiran Raka di apartemennya.


Sekali lagi Naura menatap punggung lebar dan kokoh Raka yang mengeringkan rambutnya - sedang membelakanginya. Pandangannya meredup. Demi dia, Raka rela datang ke sini di tengah cuaca ekstrim begini. Wanita ini mendesah tak kentara. Ah, bagaimana setelah ini dirinya bersikap pada pria ini?


"Kenapa, Na?"


"Eh." Naura terkesiap. Suara bass Raka sukses membuyarkan lamunannya. Tanpa diduganya, pria ini telah berada di depannya. Memperlihatkan otot perut yang berbentuk kotak-kotak itu. Buru-buru sosok manis ini menurunkan pandangannya. Menatap ujung jari-jari kakinya yang gembul-gembul - sedikit terhalangi oleh perut buncitnya. Semenjak melewati tri semester awal kehamilan, tubuhnya semakin terlihat montok dan berisi. Terutama pada bagian pipi dan jari-jari tangan dan kaki. Hal itu sering membuatnya kesal manakala bila dirinya marah jadi bahan cubitan Neil dan Sunny dengan alasan gemas melihatnya.


"Tak usah takut, semua akan baik-baik saja, ne." Raka berujar dengan suara lembut menenangkan. Pria ini pikir, Naura menunduk karena masih merasakan takut pada cuaca mengerikan di luar sana. Tak ingin sosok manisnya mengalami ketakutan lagi. Tiba-tiba Raka meraih tubuh Naura ke dalam dekapannya. Menepuk-nepuk punggung ramping sosok manis ini. Sementara Naura bergeming bersama pikiranya yang tak bisa ditebak.


Setelah lima menit berlalu, Raka melepaskan pelukannya. Jari-jari panjangnya menelusuri pipi putih nan pucat milik sosok manis-nya. Pria ini menarik napas dalam saat jarinya merasakan sisa cairan bening berjejak di kedua sudut mata Naura. Hatinya terenyuh. Andaikan saja tadi dia tak datang ke sini. Entah apa jadinya. Dia tak bisa membayangkannya. Seorang diri Naura melawan ketakutannya.


"Kau baik-baik saja, Na?" ulang Raka lagi. Seolah ingin memastikan. Atau hanya ingin meyakinkan sendiri perasaannya.


Naura mengangguk kecil, lantas menyodorkan kaus putih ke tangan Raka. "Pakai saja kaus ini. Kulihat pakaianmu basah."

__ADS_1


Raka memandang kaus di tangannya. Dahinya berkerut. Jelas ini kaus seorang pria. Milik siapa? Jongin-kah? Seketika dada pria ini menjadi sesak kala pikiran-pikiran negatif meracuninya. Jujur. Ia cemburu. Ingin rasanya meremukkan benda apa saja yang membuatnya menghalangi jalannya untuk meraih sosok manis-nya kembali.


"Pakai saja. Kaus itu milik Kak Neil," jelas Naura menjawab garis-garis kerutan yang menghiasi dahi Raka.


"Oh ..." Seketika wajah kusut Raka kembali bersinar cerah kala mendengar kaus itu milik Neil, sahabatnya, bukan milik saingan cintanya atau pria lainnya. Ia berdeham sejenak, untuk menetralkan rasa sesak sesaatnya tadi. Sementara ia dalam pikirannya. Ternyata Naura---entah kapan perginya---telah kembali lagi di depannya dengan membawa wadah air dan obat-obatan.


"Sini aku obatin lukanya. Duduklah di sini." Naura menepuk sofa panjang di sampingnya usai Raka memakai kaus putih itu.


"Tidak usah. Hanya kejedot sedikit," jawab Raka sembari duduk di samping Naura. Sosok manis itu sedang mencelupkan cotton bud ke dalam air yang telah diberi antiseptic.


"Sudah enggak usah bohong lagi. Aku tahu kamu orangnya gimana." Naura mulai mengoleskan cotton bud-nya ke dahi Raka.


Raka hanya menghela. Membiarkan saja Naura mengolesi dahinya. Dalam hati pria ini tersenyum bahagia, manakala sosok manis ini begitu telatennya mengolesi lukanya. Aih. Sungguh dia sudah tak sabaran untuk mengumumkan pada dunia bahwa dirinya adalah pemilik sah wanita ini.


β€œPedih nggak?” tanya Naura penasaran. Sesekali sosok manis ini memperhatikan begitu lekat ekspresi wajah Raka. Tidak berubah sama sekali. Tetap datar seperti biasanya. Padahal tadi ia tidak sengaja menumpahkan agak banyak cairan antiseptic ke dalam wadah air. Seharusnya itu membuat pria ini meringis, atau setidaknya dahinya berkerut samar, mungkin juga alisnya bergerak sedikit. Itu sebabnya ia bertanya seperti itu.


β€œTidak.” Raka menggeleng cepat. Ia sudah tidak merasakan pedih atau apa pun di dahinya lagi. Semua rasa sakitnya telah terhapus oleh perhatian kecil dari sosok manis ini.


"Selesai~" Naura berseru gembira bersamaan suara petir tiba-tiba kembali menggelegar, seolah membentak sosok manis ini. Detik itu juga cahaya padam seketika. Sontak wanita ini terpekik kaget dan memeluk tubuh Raka begitu erat. Seakan tidak ingin melepaskannya walau seinchi pun.


"Ssst! Tenang, Na. Jangan takut. Ada aku di sini." Raka terus berbisik. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naura begitu erat.


"Hiks ... aku benci hujan," racau Naura bergetar. "Itu ... membuatku takut," lanjutnya bergumam sedikit tersedak oleh isakannya.


"Sssh, sekarang tidak usah takut lagi. Ada aku di sini." Kembali Raka berbisik. Menyakinkan Naura. Sosok manis ini mengangguk. Beberapa saat kemudian ruangan kembali menyala terang, membuat pernapasan Naura sedikit longgar.


"Kau mau pulang?" Naura menatap cemas wajah Raka ketika pria ini melepaskan pelukannya dan beranjak berdiri. Rasa cemas dan takut kembali menyergap sosok manis ini. Dia tak ingin ditinggal sendiri seperti ini. Tanpa disadarinya lelehan cairan bening mengalir deras di sudut matanya, seolah ingin kembali menandingi derasnya volume hujan di luar sana.


Raka berjongkok di depan tubuh Naura. Sebelah tangannya bertumpu di samping sosok manis ini. Sedang tangan kanannya menyapu lelehan cairan bening tersebut sambil menggeleng. Merasakan air mata di jarinya. Hati Raka berdenyut sakit.


"Tidak. Aku takkan pulang sampai kau baik-baik saja di sini," jelas Raka dengan suaranya yang begitu lembut di telinga Naura. Mana bisa Raka meninggalkan Naura seorang diri dikala sosok manis ini masih membutuhkannya. Dan masih ketakutan begini.


"Syukurlah." Naura menarik napas lega.


"Ayo. Aku antar kau ke kamar." Raka menyodorkan tangan kanannya. Memberi kode pada sosok manis ini untuk meraihnya. Dengan ragu Naura meraih tangan Raka dan berdiri, membiarkan pria ini menuntunnya ke kamar.


"Kau sendiri tidur di mana?" tanya Naura ketika dirinya telah berbaring nyaman. Menatap Raka yang berdiri menjulang di sampingnya - usai membenahi selimut di tubuhnya.


"Tidur di sofa." Raka menunjuk sofa panjang di ruang tamu. Dengan jarak begitu dekat antara kamar dan ruang tamu, ia bisa leluasa mengawasi Naura yang tidur.

__ADS_1


"Asalkan saja jangan ditutup pintu kamarnya, oke," sambung pria ini tersenyum menenangkan sambil mengelus pucuk rambut sosok manis ini.


Naura mengangguk ragu-ragu. Menggigit bibir cherry-nya. Bukan seperti ini yang diinginkannya.


"Tunggu ..." Sontak Naura meraih pergelangan tangan Raka, menahan pria itu berbalik dan berjalan menuju sofa. Meninggalkannya.


"Ya?"


"Aku ... um ..." Naura tampak gugup dan bingung ketika mengutarakan isi hatinya.


Raka diam, menunggu dengan sabar sosok manis-nya melanjutkan ucapannya.


Naura menghela napas pendek dan mengelus hidungnya sekilas. Melanjutkan kembali kata-katanya. "Um ... aku tak ingin tidur sendiri."


"Terus?" Raka mencoba mencerna ucapan Naura. Sedetik kemudian sudut bibir seksi pria ini terangkat ke atas. Tersenyum senang. Ia tahu maksud ucapan sosok manisnya.


"Kau ingin tidur dipeluk olehku?" tanya Raka memastikan.


Pandangan Naura menurun. Menatap perut buncitnya dan mengelusnya dengan sayang.


"Tapi jangan salah ya. Aku memintamu karena keinginan Baby-nya." Saat berkata Naura tetap mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap langsung wajah Raka. Samar wajahnya bersemu merah. Sebenarnya dengan tidur dipeluk Raka membuatnya merasa dilindungi.


"Sama saja. Mau Baby-nya atau Mommy-nya, tetap aku akan mengabulkannya." Raka terkekeh geli akan cara Naura mempertahankan gengsinya. Tidak menunggu waktu lagi. Bergegas pria ini membaringkan tubuhnya di samping Naura. Merengkuh tubuh Naura ke dalam dekapannya, lalu menempatkan kepala sosok manis-nya ke dada bidangnya. Seolah ingin memberitahukan bahwa jantungnya yang tetap berdetak seirama ini hanyalah milik Naura Almira Atmajaya seorang. Serta seakan ingin melindungi Naura dari hujan dan petir di luar sana.


"Tidurlah." Raka berbisik lembut. Kembali menarik selimut yang tersingkap di ujung kaki Naura dan menyelimutkannya ke seluruh tubuh sosok manis ini.


Naura mengangguk. Melingkarkan kedua tangannya di tubuh Raka. Dengan kepala bersandar nyaman di dada Raka, sambil mendengarkan debaran jantung yang stabil itu Naura pun memejamkan mata.


Raka terus mengelus punggung Naura, seolah ingin membuat sosok manis ini terus merasakan nyaman dalam dekapannya. Sesekali ia mengelus perut buncit Naura. Diam-diam pria bermata bulat ini melabuhkan bibirnya di kening calon ibu dari bayinya ini. Mengecupnya sekilas. Kemudian turun ke hidung lalu ke bibir merah muda merekah itu.


Merasakan bibir Naura di bawah bibirnya, membuat tekad dan keyakinan Raka menjadi berkali lipat kuatnya. Kali ini akan ia pastikan dirinya menjadi tempat berlindung paling aman dan nyaman untuk Naura. Raka yakin, kelak ia bisa menjadi cangkang yang kuat untuk Naura di masa depan.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.


γ€€

__ADS_1


γ€€


__ADS_2