![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Sebuah suara bisikan lembut di telinga Naura seketika menyadarkannya. Matanya membuka sempurna. Sontak bangun dari baringannya. Sedikit meringis kala kepalanya berdenyut. Tanpa sadar ia telah ketiduran, padahal sedari semalaman ia terus berjaga-jaga untuk tidak ketiduran.
“Berkemaslah! Sudah jam lima pagi.” Jenny melirik jam beker di atas nakas. “Kau tidak punya banyak waktu, Na.”
“Tapi---” Naura ragu dengan ucapan Jenny, irisnya sontak beralih pada CCTV di setiap sudut kamarnya. Kemudian kembali beralih pada Jenny dan meringis.
Seakan mengerti apa yang dicemaskan sosok manis ini. Jenny berkata meyakinkan. “Tak perlu khawatir soal itu. Aku sudah membereskan semuanya..” Jenny menutup mulutnya--menahan tawa geli--membayangkan seluruh bodyguard dengan tampang sangar itu telah pingsan semua oleh obat biusnya---tanpa terkecuali.
“C’mon, Naura! Tunggu apa lagi, bersiap-siaplah! Sebelum mereka sadar dari obat biusnya.”
Tanpa berbicara lagi Naura langsung melompat dari tempat tidurnya. Memakai mantel, telah dipersiapkannya secara diam-diam dari semalam - sejak Jenny mengatakannya untuk membantunya. Lantas mempersiapkan bayinya sebaik mungkin. Mantel tebal, sarung tangan, sepatu dan topi. Setelah selesai, segera menggendong bayinya di depan dadanya. Bayinya terbangun ketika dia mengangkatnya dari tempat tidur. Namun tidak menangis---seakan mengerti apa yang sedang dilakukan oleh dua orang dewasa di sekitarnya.
“Baby Yukhei jangan nakal, ya, Sayang.” Naura mengelus pucuk kepala bayinya dan menciumnya. Bayi itu hanya terkikik dan menepuk-nepuk dada Naura.
“Naura, ini ada sedikit uang. Pokoknya kau harus keluar dari rumah ini dan carilah tempat teraman dulu. Aku tak bisa membantumu setelah ini.”
Jenny memasukkan beberapa pecahan uang kertas dollars ke dalam ransel Naura, ketika sosok manis ini menyandang ranselnya ke belakang punggungnya. Tak banyak persediaan. Hanya selembar pakaian dan sisanya persediaan untuk bayinya.
Dan yang lebih penting lagi, paspor dan kartu identitas. Siapa tahu ada nasib mujur, bisa kembali ke tanah air dan kembali ke tempat Raka---ia rasa. Entahlah, soal kekasihnya, ia kurang yakin. Apakah akan percaya ucapannya atau tidak.
“Terima kasih, Jen.” Naura tersenyum. Baginya tak masalah tinggal di mana pun. Yang penting dirinya bisa keluar dari rumah ini.
“Bagaimana dengan Richard?” Terlihat di wajah pucat Naura rasa cemas berlebihan. Takut, bila akhirnya kembali ketahuan oleh Richard--dan konsekuensinya akan lebih besar dari yang diterimanya dari sebelumnya. Tidak. Ia tak ingin dikurung di rumah ini lagi.
“Jangan cemas. Richard biar aku yang menanganinya---astaga!” Jenny melotot ketika melihat angka di jam beker di belakang Naura terus bergerak.
“Kita harus bergegas keluar, Na. Waktumu tinggal lima belas menit lagi. Mereka semua akan sadar dari obat biusnya.”
Jenny mulai panik dan menarik cepat tangan Naura keluar. Keduanya berlari menyusuri tangga dengan Jenny memimpin jalan---tanpa menemui hambatan sama sekali. Di sepanjang sudut rumah, pria-pria berwajah sangar tampak tak berdaya, tergeletak bagai gerombolan tikus yang mati keracunan.
Dan udara segar yang berembus pelan menyapa keduanya ketika telah berada di luar rumah. Keduanya telah berdiri di depan pagar. Matahari mulai menampakkan sinar kemerahannya di ufuk timur
“Tak ada taksi yang lewat.” Jenny tampak memberengut melihat jalanan di depannya. Tak ada satu pun kendaraan atau pun manusia berlalu lalang di sekitar kompleks. Begitu sunyi.
“Seharusnya aku pesankan taksi online dulu. Astaga, mana ponselnya ketinggalan lagi di kamar Richard tadi.” Jenny cemberut sambil meraba-raba saku celana jeans-nya.
“Nggak apa-apa, Jen---sekali lagi, makasih banyak ya. Kuharap kita bertemu lagi.” Naura memeluk erat Jenny.
“Yup. Aku juga.” Jenny melepaskan pelukannya dan mengelus pucuk kepala Baby Yukhei dengan sayang. Tersenyum gemas ketika bayi berusia dua bulan itu mencoba meraih tangannya.
“Selamat tinggal Baby Boy---pergilah, Na! Cepat!” Jenny mendorong tubuh Naura. Tanpa menunggu waktu lagi, Naura segera berlari menyusuri jalan.
“Huft. Semoga kalian selamat sampai tujuan,”gumam Jenny memperhatikan punggung Naura - mulai mengabur dari pandangannya.
“Apa yang kalian lakukan!! Naura kabur!”
“Astaga, Richard!” Bergegas Jenny kembali masuk, sebisa mungkin menghalau jalan Jongin.
🍃Dear, My Baby🍃
Sambil berlari-lari kecil, Neil melakukan gerakan stretching mengelilingi sekitaran hotal tempatnya menginap. Seperti biasa, di mana pun dirinya berada, selalu menyempatkan diri untuk berolahraga pagi. Tanpa terkecuali, seperti pagi ini. Dan udara kota San Diego yang sejuk membuatnya bisa beradaptasi selama dua hari ini. Karena pekerjaannya membuatnya harus berada di kota ini selama seminggu.
Neil menarik napas dalam-dalam, udara yang bersih tanpa polusi membuat pikirannya tenang. Melirik pada jalanan di depannya. Sepi tanpa kendaraan, membuatnya tergelitik untuk melangkahkan kakinya dari area parkiran. Menyusuri jalanan bebas hambatan.
Kira-kira baru sepuluh langkah dokter muda ini menyusuri jalan, ia mematikan langkahnya. Menyipitkan mata, memperkecil jarak pandang di depannya. Neil membuka kaca matanya dan mengucek matanya, lalu memasangnya kembali. Sekali lagi melihat pandangan di depannya. Bila saja ia salah lihat. Seketika matanya membelalak lebar bersamaan objek pandangnya semakin mendekat padanya. Bukankah itu ...
“Naura?”
Ya. Itu Naura dan Baby Yukhei. Kenapa mereka ada di San Diego? Bagaimana bisa? Dan kenapa Naura tiba-tiba saja pergi dari Raka?
__ADS_1
Menyingkirkan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya. Tanpa berpikir lagi, Neil segera berlari menuju Naura, apalagi ketika melihat di belakang Naura beberapa orang berwajah sangar mengejarnya.
“Naura.” Dari jauh Neil sudah berteriak tak sabar, semakin mempersempit jarak di antara keduanya.
“Kak Neil?” Naura berhenti sejenak untuk memastikan sosok yang memanggil di depannya adalah sosok familier baginya. Setelah memastikan sosok di depannya benar-benar Neil, Naura segera melompat dan memeluk Neil.
“Kak Neil.”
“Ya, Tuhan, Naura.”
🍃Dear, My Baby🍃
“Sialan, kau Jenny!” Richard melotot, kembali terduduk paksa di sofa ketika rasa pening menghantam kepalanya. Sebenarnya, berapa dosis obat tidur yang diberikan Jenny padanya hingga kepalanya masih terasa berputar-putar. Tetapi setidaknya ia bisa tenang, sebab beberapa orang suruhannya telah bergerak cepat mengejar Naura.
“Sudah cukup, Richard. Biarkan Naura pergi.” Jenny memeluk erat tubuh Richard dari belakang. Menghadang langkahnya ketika pemuda itu kembali memaksa untuk bangun.
“Menjauh dariku, Jenny. Dan jangan ikut campur urusanku!”
“Richard, mengertilah. Naura bukan milikmu. Sadarlah! Dia mencintai orang lain. Kau terlalu terobsesi padanya hingga menutup hal lainnya. Aku ...”
Jenny mengigit bibir. Menyurukkan kepalanya di punggung belakang Jongin, kedua tangannya semakin erat melingkar di pinggang Richard. Mengabaikan Richard yang memberontak. Sebenarnya tenaganya tidak cukup kuat untuk menahan Richard. Andaikan saja Richard tidak dalam pengaruh obat bius, mungkin saat ini tubuhnya sudah dibanting Richard ke lantai.
“...sebenarnya, aku mencintaimu.”
Richard terpaku. Dunianya seakan berhenti berputar. Gadis ini mencintainya? Tidak mungkin. Seketika rahangnya mengeras. Astaga! Dia baru sadar. Jadi, selama ini sikap Jenny yang selalu menempel padanya, mengikutinya setiap saat karena menyukainya?
“Bukankan kau sendiri pernah bilang padaku, kebahagiaan orang yang kita cintai adalah kebahagiaan kita juga. Dengan tindakanmu ini kau telah merenggut kebahagiaan Naura. Apakah kau bahagia dengan caramu ini? Kau senang melihatnya menderita?”
Merenggut kebahagiaan Naura? Membuatnya menderita? Jongin tersentak. Ada sepasang tangan tak kasat mata meremat-remat jantungnya. Rasanya sakit sekali.
“Aku sangat tahu perasaanmu, Rick. Bagaimana rasanya mencintai orang yang tidak membalas perasaan kita.”
Richard tertunduk, menatap jari-jari telanjang kakinya. Berkat ucapan gadis ini, membuat pengaruh obat bius di dalam tubuhnya mulai menghilang serta mengembalikan kenyataan yang selama ini ditolaknya.
Naura tidak akan pernah menjadi miliknya.
Tidak akan pernah.
Haruskah melepaskan Naura dan menerima hati yang lainnya?
Saat itu, terdengar suara gaduh di lantai satu. Suara khas pria yang dikenalnya melengking tinggi memanggil namanya. Detik itu pula muncul pria yang selama ini menjadi saingan cintanya di ambang pintu. Bagaimana bisa dia ada di sini? Bukankah seharusnya besok dia dan Theresia menikah?
“Rak---”
Bugh!
Richard seketika tersungkur ke lantai kala sebuah tinjuan bersarang di perutnya bersamaan teriakan kaget Jenny mengiringi.
“Di mana kau sembunyikan Naura dan anakkku, bedebah!”
Bugh!
__ADS_1
Kembali Raka melayangkan tendangan di tubuh Richard. Secepat kilat Jenny meraih tubuh Richard memeluknya, melindunginya dari serangan brutal Raka.
“Kat---”
“Naura baru saja kubebaskan beberapa menit yang lalu.” Jenny buru-buru memotong ucapan Raka dan menatap nanar wajah dinginnya serta beberapa polisi di belakangnya. Pasti polisi itu datang untuk menangkap Richard.
Rahang Raka mengeras. Ternyata ia berselisihan dengan Naura di jalan. Jalan mereka bertentangan. Seharusnya ia datang lebih cepat lagi ke sini, andaikan saja di jalan tadi tidak ada hambatan. Mobilnya mogok. Dan ketika sampai di kota San Diego tadi, segera dirinya menuju ke rumah ini berdasarkan laporan detektif yang disewanya, serta petunjuk dari ucapan Theresia tiga hari yang lalu.
Melirik sekilas pada Richard yang diringkus polisi tanpa perlawanan. Raka bergegas menuruni tangga sembari merogoh saku jaketnya--hendak memberikan perintah pada orang suruhannya untuk mengejar Naura--bersamaan deringan smartphone-nya bergetar. Neil meneleponnya? Astaga! Ia lupa memberi tahu Neil bila dirinya juga berada di San Diego.
“Nei---”
“Raka, Naura telah kutemukan!”
🍃Dear, My Baby🍃
Raka nyaris melompat dari mobil. Memperhatikan sejenak bangunan di depannya. San Diego Hospital International. Ya. Sepuluh menit yang lalu Neil meneleponnya, memberi tahunya bila Naura ada bersamanya di rumah sakit.
Raka terus berlari menyusuri lorong rumah sakit. Berdasarkan informasi dari Neil, mereka ada di lantai dua, di mana ruangan Neil berada.
Ketika telah berada di depan pintu, Raka menarik napas dalam. Mengatur napasnya yang memburu seiring jantungnya berdegup kencang. Di balik pintu ini ada sosok yang dicintainya bersama malaikat kecilnya. Ya, Tuhan. Setelah berpisah dua bulan lamanya, akhirnya mereka kembali dipertemukan.
🍃Dear, My Baby🍃
Neil melepas kaca matanya. Mengusap sudut matanya yang berair. Ia terharu melihat adegan di depannya. Pada akhirnya Naura bisa kembali kepelukan Raka setelah bisa meloloskan diri dari tangan Richard. Saat menunggu Raka datang, Naura telah menceritakan semuanya. Selama dua bulan ini, ia tidak melarikan diri. Tetapi diculik oleh Richard Park. Astaga! Cinta bisa membuat orang menghalalkan segala cara untuk memilikinya.
Beruntung Naura bertemu dengannya. Tadi, ia sempat adu jotos dengan salah satu orang yang mengejar Naura dan mendapatkan beberapa lebam juga di wajahnya, hingga akhirnya orang yang mengejar Naura memilih pergi secara tiba-tiba---setelah salah satu dari mereka menerima telepon.
Mengabaikan rasa nyeri di wajahnya, Neil tersenyum lega. Tak ada lagi kesalahpahaman. Selama ini Raka mengira Naura pergi dari sisinya karena tak sanggup hidup dengannya.
Dan Raka--baru saja diketahuinya--telah membatalkan pernikahannya bersama Theresia tepat keberangkatannya ke San Diego. Dengar-dengar dari ucapan Raka tadi, gadis itu telah masuk penjara atas perbuatannya di Indonesia, begitu pun dengan Richard. Kini, baik Raka dan Naura tak ada lagi menghalangi keduanya untuk bersatu.
“Baby Yukhei.” Neil menatap bayi laki-laki hasil inseminasi darinya. Sangat sehat. Bolehkah ia besar kepala. Ini semua karena campur tangannya. Bagaikan ada benang takdir di antara Raka dan Naura selalu ada dirinya yang menyelip. Dari proses membuat bayi sampai menyatukan keduanya.
Neil menepuk butt bayi berusia dua bulan dalam gendongannya. Bayi itu menepuk-nepuk kedua tangan mungilnya. Terkikik senang memperhatikan Naura dalam pelukan Raka. “Kau senang, Baby Yukhei. Akhirnya kedua orang tuamu bersatu lagi.”
==============
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1