Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
06| Overprotektif [Extra Chap]


__ADS_3

“Maura?” Lucas mengernyitkan dahi ketika memasuki kamar Maura, gadis itu tidak ada di dalam kamarnya.


“Di sini, Kak Yukhei,” sahut Maura dari balkon. Lucas segera melangkahkan kakinya ke balkon. Benar saja Maura ada di sana. Duduk di kursi sembari menopang dagu dengan pandangan menengadah menatap langit malam kota Seatle.


“Apa yang kau pikirkan, hum?” Lucas beranjak duduk di samping Maura.


Maura menghela napas sebentar. Mengalihkan pandangan sepenuhnya ke Lucas. Ditatapnya bola mata Lucas begitu lekat.


“Tadi sore, saat cerita, Mum menangis tersedu-sedu. Baru kali ini Maura melihat Mum menangis seperti itu,” desahnya seraya mengeratkan mantel di tubuh kurusnya.


“Mungkin Mum lagi ada masalah yang tak bisa diceritakan dengan kita,” hibur Lucas sembari mengelus kepala Maura. Ya. Masalah yang tak pernah dia duga sebelumnya, bahwa Maura bukanlah adik kandungnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Itu artinya ... dia bisa memiliki Maura sepenuhnya tanpa terhalang hubungan darah.


Patut Lucas syukuri. Ternyata Tuhan mendengar do’anya setiap malam. Berharap ada keajaiban. Ah, benar kata pepatah. Bila jodoh takkan ke mana. Dan akan ia pastikan bahwa Maura-lah jodohnya.


“Kak Yukhei ...” Maura diam sesaat.


“Ya?”


“Bila melihat Mum begitu sedih seperti itu, Maura jadi gak tega menyakitinya.”


“Menyakiti Mum?” Lucas menautkan kedua alisnya.


Maura kembali mendesah. Digigitnya bibir cherry-nya. Kali ini ia menurunkan pandangannya, tak berani menatap bola mata Lucas.


“Maura rasa ... lebih baik kita akhiri saja hubungan kita.” Maura memilin jemarinya. Sedang Lucas terhenyak mendengar penuturan Maura. Rasanya dadanya berdentum-dentum kuat ingin keluar dari tubuhnya. Sungguh, pernyataan ini lebih menyakitkan dibandingkan kau mendengar kata PHK dari bos-mu.


Secepat itukah jalinan cinta mereka?


Hanya dua minggu?


“Kau tidak mencintai Kakak, Maura?” tanya Lucas serak.


“Maura mencintai Kakak seperti seorang perempuan ke pria-nya. Sungguh sangat mencintai Kakak. Tapi ... hubungan kita ini terlarang, Kak.” Maura menjawab tak kalah seraknya.


Kembali Lucas terdiam. Ia termenung beberapa saat. Bila dirinya belum mengetahui yang sebenarnya, mungkin ucapan Maura telah menghujam telak ke ulu hatinya.


Andaikan saja kau tahu yang sebenarnya, Maura ... Kau bukanlah adik kandungku. Dan kita tak ada hubungan darah secuilpun.


Ingin Lucas berkata seperti itu. Tetapi mulutnya tetap diam membisu. Biarkan orang tuanya yang berbicara langsung kepada mereka. Ia lebih memilih menghormati keputusan orang tuanya ketimbang mengecewakan mereka. Setidaknya hatinya sudah lega mengetahui hal yang sebenarnya.


“Kak Yukhei, katakan sesuatu, please.” Maura menarik ujung mantel Lucas.


“Kakak ... tidak ingin kita putus.”


“Tapi, Kak---”


“Kakak tidak ingin mendengar penolakan. Cukup!”


Maura terdiam. Ia tertunduk. Pelan ia menangis.


“Ssst! Jangan menangis.” Lucas meraih tubuh Maura dan memeluknya begitu erat. “Kita hanya butuh waktu sedikit lagi. Bersabarlah!” bisik Lucas serak.


Maura menggigit bibirnya. Hanya bisa berkeluh kesah dalam hati. Tapi sampai kapan harus seperti ini. Maura tak ingin jatuh ke dalam lubang dosa yang semakin besar, huks ...


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


 


Pada kencan pertama mereka, Mauriq mengajak Miuna keliling pulau Jeju. Melihat-lihat museum lokal. Pemuda ini tampak manggut-manggut mendengar penjelasan Miuna, yang sekalian menjadi tour guide-nya. Disela-sela mendengar penjelasan gadis ini, Mauriq mencuri pandang pada Miuna. Semakin dilihat, gadis ini semakin manis dan semakin membuat debaran di dada Mauriq meningkat tajam pula.


“Kita istirahat dulu.” Mauriq menyela penjelasan Miuna. Gadis itu menoleh pada Mauriq dan mengangguk. Sudah dua jam lebihan mereka mengelilingi museum kerang sedunia.


“Di sekitar sini ada restoran tradisional. Mau ke sana?” tawar Miuna.


Mauriq setuju. Keduanya pun berjalan keluar meninggalkan gedung museum. Ketika keluar dari gedung, tanpa terasa hari sudah malam. Selang lima menit keduanya sampai di restoran dan memilih tempat yang nyaman untuk makan.


“Apa yang ingin kau makan?” tanya Mauriq saat melihat-lihat menu. Tampaknya ia bingung memilih menu apa. Sebaiknya ia menyerahkan pilihannya kepada Miuna.


“Karena cuacanya dingin begini, aku ingin makan hot pot.”


Mauriq setuju. Dan mulai memesan. Selang beberapa menit pesanan mereka datang. Sebelumnya Mauriq sudah makan, jadi dia hanya makan sebentar dan sudah kenyang. Dia hanya meminum soju-nya dan memperhatikan Miuna memakan hot pot-nya dengan semangat.


Usai Miuna menyantap hot pot-nya, mereka kembali meneruskan kencan wisata mereka. Kencan mereka berakhir di jam sembilan malam dan mereka pun pulang. Sebelum memasuki mobilnya dan membawa Miuna pulang ke rumah. Mauriq membawa gadis itu ke taman di dekat museum. Saatnya menyatakan perasaannya.


“Kau baik-baik saja, Miuna?” tanya Mauriq saat mendapati wajah Miuna yang tiba-tiba memucat.


Apa mungkin karena cuaca yang begitu dingin sampai ke tulang membuat perubahan di wajah Miuna-kah?


“Ne, aku bai---”


“Miuna!” Sontak Mauriq meraih tubuh Miuna ke dalam pelukannya. Gadis itu tiba-tiba saja pingsan.

__ADS_1


 


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


 


“Eonnie!!”


Mauriq menoleh ke arah pintu dan mendapati Miura berdiri terengah-engah.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Miura dengan perasaan cemas - tergambar jelas di wajah manisnya. Lima menit yang lalu dirinya diberi kabar oleh Mauriq dan bergegas datang ke rumah sakit.


“Duduklah dulu.” Mauriq memberikan kursi pada Miura. Gadis itu menurut dan menghela napas sesaat.


“Kata dokter dia baik-baik saja. Hanya demam biasa,” jelas Mauriq setelah dirasa Miura tenang, tidak sepanik sebelumnya. Sungguh rasanya akan mati bila mendengar saudara kita tiba-tiba masuk rumah sakit. Terlebih bila orang tua sedang tidak bersama kita. Kebetulan hari ini orang tua kedua gadis ini sedang pergi menjenguk kerabat mereka yang menikah.


“Huft, syukurlah.” Kali ini Miura menarik napas lagi. Pandangannya menyayu menatap wajah memucat kakak perempuannya. Saudara satu-satunya. Dan sangat disayanginya. Digenggamnya tangan Miuna. Begitu dingin walau tubuhnya dibalut dengan selimut tebal, serta ditambah mantel tebal milik Mauriq.


Dahi Mauriq mengernyit. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Ia merasakan apa yang dirasakan Miura. Perasaan cemas dan khawatir.


Aneh, padahal kami tidak punya hubungan darah. Tapi kenapa aku merasakan apa yang dirasakan Miura? Mauriq menggaruk kepalanya.


“Meski Eonnie sering sakit-sakitan dan sering keluar masuk rumah sakit. Tetap saja mampu membuat jantung terasa mau copot,” desah Miura berhasil membuyarkan kebingungan sesaat Mauriq.


“Una sering sakit-sakitan?” Mauriq mengerutkan dahi. Pantas saja ketika dia membawa Miuna beberapa perawat segera mengenalinya.


“Ya. Eonnie punya penyakit autoimun.”


“Eh? Autoimun?” Mata Mauriq membesar.


“Yup.”


“Sama seperti Maura. Dia juga sakit autoimun,” gumam Mauriq.


“Siapa itu Maura?” tanya Miura penasaran.


“Saudara kembarku.”


Mauriq mengangguk, tak menyangka melihat sebegitu antusiasnya Miura ketika dia memberitahu punya saudara kembar. “Tapi dia tinggal di Seatle bersama kedua orang tuaku dan kakak sulungku.”


“Wow! Pasti seru punya kembaran. Bisa diajak bertukar pikiran, bermain, hangeout bareng, saling rebutan pakaian.”


“Untuk yang terakhir itu tidak terjadi pada kami,” koreksi Mauriq.


“Eh? Maksudnya, kalian tidak rebutan pakaian? Tidak saling pinjaman atau tukaran?”


“Karena kami beda jenis kelamin. Aku laki-laki, dia perempuan.”


“Oh, pantas. Tidak heran sih.” Miura mengedikkan bahu.


“Dan pastinya akan seru lagi bila kau bertemu dengan saudara kembarku itu. Berasa kita jadi saudara kembar tiga. Kau seolah kembaran kami yang terpisah.” Mauriq menatap lekat mata berbinar Miura.


“Kau benar, Mauriq. Meski kita tak punya ikatan darah. Wajah kita mirip. Nama kita pun juga mirip. Mauriq, Miura dan Maura,” timpal Miura antusias. Entah mengapa berbicara dengan Mauriq seolah ia merasakan ada ikatan batin tersendiri.


 


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


 


“Kau ingin pindah kuliah? Kenapa mendadak begitu, Sayang?” Naura menatap lekat Maura yang menunduk memperhatikan piring makannya. Tak berani gadis muda ini memandang satu persatu anggota keluarganya di ruang makan. Terutama pada Lucas yang mengeraskan rahangnya.


Lucas sangat terkejut dengan keputusan Maura yang mendadak. Bukankah semalam mereka baik-baik saja? Tidak. Sepertinya hanya Lucas saja yang baik-baik saja dengan hubungan rahasia mereka. Buktinya Maura tidak sanggup melanjutkan hubungan rahasia mereka dan memilih mundur secara halus.


“Kau punya masalah di kampus?” Kali ini Raka yang bertanya sembari melirik ke arah Lucas. Buru-buru Lucas mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar. Lucas mendesah dalam hati. Sepertinya, Raka tahu apa yang disembunyikan darinya. Sesama pria dewasa tentu saja Raka tahu. Insting pria memang lebih tajam dan tak bisa dipungkiri.


“Benar kau punya masalah di kampus, Sayang?” timpal Naura dengan wajah cemas.


“Enggak. Maura gak punya masalah di kampus, hanya saja ...” Maura menarik napas dalam. Wajahnya seketika memanas. Ia merasakan Lucas memandangnya begitu tajam. “...Maura nggak nyaman saja tinggal di Indonesia.”

__ADS_1


Bilang saja tidak nyaman tinggal serumah denganku di Indonesia, sahut Lucas dalam hati sembari mengetuk meja makan dengan sedikit keras.


“Aku ingin kuliah satu kampus dengan Mauriq di Jeju,” tambah Maura semakin menundukkan kepalanya manakala Lucas semakin menatapnya begitu tajam. Seolah ingin memakannya bulat-bulat.


Alasan macam apa itu, Maura. Jadi, kau sengaja menghindar dariku. Lucas mengembuskan napas panjang. Beranjak dari meja makan dan pergi begitu saja, meninggalkan kebingungan pada Naura dan Raka. Tidak lebih tepatnya hanya Naura saja yang tidak tahu apa-apa di sini.


 


 


 


 


🍃Dear,MyBaby🍃


 


 


 


 


“Dear, menurutmu, kenapa Maura tiba-tiba kepingin pindah kuliah?” Naura bergelayut manja di lengan Raka ketika suaminya masih sibuk mengetik di laptop. Meskipun ini hari minggu, masih mengerjakan pekerjaan kantornya. Mendekati akhir tahun seperti ini, banyak pekerjaan harus segera diselesaikan.


Raka mengalihkan laptop di pangkuannya ke atas meja. Segera merengkuh tubuh Naura dan ditatapnya iris cokelat beningnya.


“Masih ingat ucapanmu yang waktu itu, Baby?”


“Yang mana?” Naura mengerutkan dahi.


“Kau pernah merasa bila bahasa tubuh Yukhei dan Maura seperti sepasang kekasih.”


“Ya, it---astaga!” Naura menutup mulutnya. Sungguh terkejut.


“Feeling-mu tepat, Baby,” imbuh Raka menegaskan.


“Ja-jadi mereka benaran ... se-sejak kapan mereka ...” Naura tak sanggup untuk meneruskan ucapannya.


“Kurasa mereka mulai menjadi kekasih sejak dua minggu ini. Aku rasa ... yaaa bila dilihat dari bahasa tubuh mereka.” Raka mengangkat bahu. “Mungkin itu alasannya kenapa Maura memutuskan untuk pindah kuliah,” terka Raka yakin.


“Ya, Tuhan!” Naura memijat pelipisnya. Tiba-tiba saja kepalanya jadi terasa berat. Tak siap dengan informasi mendadak seperti ini.


“Tapi, kita tidak perlu cemas soal hubungan keduanya. Mereka bukanlah saudara kandung dan sepersusuan, jadi mereka bisa menikah---maybe ... untuk saat ini jalan mereka masih panjang.” Raka memberikan pendapatnya.


“Kau benar, Dear. Sangat bersyukur keduanya bukan saudara kandung. Kalau tidak---ya, Tuhan! Aku tak bisa membayangkannya.” Naura menguburkan wajahnya di dada bidang Raka.


“Ssst! Jangan pikirkan hal itu lagi---” Raka melirik sekilas pada layar laptopnya, ada notifikasi panggilan dari skype-nya. “---Mauriq menghubungi kita,” bisiknya.


“Pas banget, ada yang ingin dibicarakan dengan Mauriq.” Buru-buru Naura melepaskan diri dari pelukan Raka. Membiarkan Raka mengambil kembali laptopnya dan sambungan skype mereka terhubung. Menampilkan wajah Mauriq yang sedikit kelelahan dengan latar belakang ruang inap pasien. Jam di Korea menunjukkan angka sepuluh malam.


“Kamu sakit, Sayang?” tanya Naura cemas.


“Enggak.”


“Tapi ... sepertinya kau ada di ruang inap rumah sakit?”


Mauriq melirik ke arah tempat tidur. Miuna sedang tertidur lelap. “Lagi nungguin teman sakit.”


“Oh, syukurlah.” Naura menarik napas lega. “Sayang, kapan pulang ke Seatle?”


Mauriq menggaruk kepalanya. “Mungkin tahun depan.”


“Tahun depan?!” pekik Naura. “Terlalu lama, bisakah lusa pulang ke Seatle. Enggak lama, kok, kau bisa balik lagi setelahnya.”


“Apa ada yang penting, Mum?” tanya Mauriq menautkan kedua alisnya. Ia merasakan sesuatu yang tidak beres.


“Ada. Soal Maura.”


“Maura? Kenapa dengannya?”


“Makanya kau harus pulang,” timpal Raka, sedari tadi hanya mendengarkan istri dan anaknya berbicara.


“Iya, iya, iya. Lusa Mauriq pulang, deh---oh, hampir lupa.” Mauriq menepuk dahinya. “Mum, Dad. Aku punya teman. Namanya Miura. Anehnya, dia sangat mirip denganku,” cerocos Mauriq penuh semangat. Dan alasan dia melakukan skype untuk memberitahuan hal ini.


“Sangat mirip?” Naura dan Raka saling berpandangan.


“Yup, Mum sama Dad bakalan nggak percaya. Bahkan warna matanya mirip sama Daddy. Dan bentuk wajahnya mirip sama Mum. Nih Mauriq kasih buktinya.” Mauriq memperlihatkan foto Miura di layar ponselnya, di depan layar skype-nya.


Sontak Naura dan Raka membelalak lebar. Astaga! Bisa jadi gadis itu saudara kembar asli Mauriq?


==============


Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2