Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
18| Fix Tak Ada Kerjaan Lain [1]


__ADS_3


Fix si kodok sawah ini benar-benar ngikutin ke mana pun gue pergi. Errr menyebalkan ... Naura menggeram samar. Menghentikan langkahnya, begitu pula suara langkah kaki di belakangnya pun berhenti. Ditariknya napas dalam-dalam, bagai naga yang bersiap menyemburkan api dari mulutnya, Naura siap mengomel.


"Yaaa, mau sampai kapan kau mengikutiku, kodok!!" Naura berkacak pinggang dengan mata melotot tajam pada Raka.


Berulang kali pria itu mengelus dadanya, mencoba menenangkan debaran jantungnya - terlalu kaget akan reaksi sosok manis ini padanya. Astaga! Itu teriakan apa auman singa betina yang lagi lapar, nyaris copot jantungku.


"Galak amat, Agashi (nona). Santai saja, euy." Raka mencoba bercanda di tengah mengembuskan napas tersendat-sendat, seolah baru saja mendapatkan kabar paling buruk dalam hidupnya. Sudut bibirnya tercengir lebar. Namun sedetik kemudian cengirannya lenyap seketika bagaikan ditelan bumi manakala melihat ekspresi wajah Naura 'sedang tidak bisa diajak bercanda' ini.


Bukan hanya Raka saja yang terkejut karena teriakan sosok manis ini tadi, beberapa pedagang dan pengunjung di sekitar mereka pun berhenti sejenak. Menoleh ke arah mereka, ingin tahu apa yang terjadi lalu kembali ke aktifitas semula.


Sekilas Naura mengibaskan debu tak kasat mata di lengannya dengan tatapan tetap melotot kesal pada Raka.


"Jangan mengikutiku!" peringatnya lagi sembari memberikan tatapan tajam membunuhnya. Berharap lewat tatapan tajamnya, pria di depannya ini menciut nyalinya, bak seekor tikus bertemu dengan seekor ular sanca.


"Awas kalau mengikutiku. Sssh," lanjutnya mendesis bagai ratu ular. Memutar tubuh dan memelesat cepat ke kerumunan manusia, bagai air mengalir di sungai, mengikuti manusia-manusia yang bergerak vertikal.


Sosok manis ini mengembangkan cupingnya begitu lebar sambil memelankan laju langkahnya. Berusaha mendengar suara langkah kaki di antara langkah kaki manusia lainnya. Meski banyaknya langkah kaki, entah mengapa ia bisa mengenali langkah kaki Raka begitu mudahnya. Sedetik kemudian, belah bibir plum sosok manis ini tersungging senyuman manis.


Hm, sepertinya si kodok sawah sudah menyerah. Gak ngikutin gue lagi. Baguslah. (=^▽^=)


Naura mulai bersenandung ceria menyusuri Black Pork Street setelah memastikan Raka tidak mengikutinya lagi. Kemudian berhenti di salah satu pedagang yang menjajakan barang aksesoris - terjepit di antara pedagang yang menjajakan makanan khas Korea lainnya.


"Aegseseolileul bwajuseyo, (*Silahkan dilihat-lihat aksesorisnya, nona)," ujar sang penjual laki-laki seusia Naura, lalu beringsut mendekati sosok manis ini.


Diam-diam sang pedagang begitu lekat memperhatikan penampilan Naura di balik mantel tebal yang menyelimuti tubuhnya, memakai dress bermotif bunga selutut dipadukan dengan stoking hitam. Untuk menambah penampilannya, sosok manis ini memakai boots hitam berhak sesenti. Sederhana, namun aura-nya begitu terpancar kuat. Ditambah senyuman mempesona yang terukir indah di bibir plum tipisnya, semakin menguatkan aura dari tubuhnya.


"Areumdawo (cantik)." Tanpa sadar sang pedagang berbicara, memuji penampilan Naura.


"Agashi (nona)---"

__ADS_1


Seketika saja sang penjual menelan kembali kata-katanya. Mengelus tengkuknya. Menoleh kiri kanan. Pedagang ini tiba-tiba saja mengigil, layaknya terkena demam tinggi. Sekali lagi menatap Naura, lalu---tanpa kata---bergegas menjauhi sosok manis ini kembali ke tempatnya semula.


Entah kenapa, pemuda ini merasakan ada sepasang mata serigala, bersiap hendak memangsanya dan mencabik-cabiknya ketika mencoba mendekati pembeli cantik satu ini.


Mengerikan. Apa nona ini punya peliharaan semacam serigala siluman gitu. Brrr ... merinding aku saat mendekatinya. Pemuda penjual ini berkali-kali menggelengkan kepala dengan pandangan memperhatikan lekat Naura.


"Um." Naura menggumam samar, mengelus dagu sembari memperhatikan aksesoris yang mungkin bisa menarik minatnya. Sama sekali tidak memperhatikan ekspresi sang penjual yang ketakutan melihatnya. Kemudian sosok manis ini mengambil satu jepitan rambut berbentuk kupu-kupu. Kebetulan poninya sudah memanjang. Ia butuh jepit ini untuk membuat poninya tidak ke mana-mana.


"Itu sangat cocok untukmu."


Naura segera menoleh ke samping saat sebuah suara bass nan serak menyela dunianya, membuyarkan fokusnya. Seketika sosok manis ini kembali melotot tajam


"Kamu!" pekiknya. Tanpa disadarinya Raka telah berdiri di sampingnya. Tercengir lebar seolah dunia ini tidak pernah bermasalah dengan hidupnya.


"Kenapa mengikutiku!" Naura berkacak pinggang. Raka hanya mengangkat bahu.


"Kau ini sangat semena-mena sekali, heh. Apa kau enggak ngerti arti kata larangan," lanjut sosok manis ini seraya menggeram.


"Bila kau memakainya, kau makin cantik, layaknya ratu kupu-kupu." Raka berujar santai, sama sekali tidak menggubris ucapan sarkas Naura. Tersenyum lebar bagai model iklan pasta gigi. Mata elangnya tertuju pada jepit kupu-kupu di tangan Naura.


"Tidak jelek, kok, menurutku bagus," bantah Raka.


"Siapa yang minta pendapatmu." Naura melotot tajam. "Lagian sudah gak minat lagi," lanjutnya menggembungkan pipi.


"Hm, begitu ya. Kurasa ..." Raka mengambil salah satu ikat rambut dengan hiasan kepala kelinci mini di dekatnya.


"Jangan bergerak!" perintahnya mutlak.


Entah ada angin apa. Naura bagai orang yang terkena hipnotis mengikuti dengan pasrah perintah Raka. Ia bergeming. Sementara Raka---entah apa yang dilakukannya---sibuk pada poninya. Diam-diam sosok manis ini menengadah. Memperhatikan lekat wajah tampan Raka yang berjarak hanya sesenti saja dengannya. Seolah wajah Raka lebih menarik dari apa pun di sekitarnya, semua tampak memudar, hanya Raka yang berdiri begitu bersinar di depannya.


Naura mengerjap sekilas ketika embusan napas Raka menerpa wajahnya, mengalirkan panas di sekitar wajahnya, lantas ditariknya napas hanya untuk menghidu wangi parfume pria ini yang begitu menusuk ke hidungnya. Pikirannya segera melayang ke masa lalu. Seolah berada di sebuah tempat kencan yang indah bersama Raka.

__ADS_1


Tapi itu dulu, sekarang sudah berbeda. Dia sudah menjadi milik orang lain. Tanpa diundang kata hati Naura berceletuk ria, kembali menyadarkan siapa dirinya dan Raka saat ini. Hanyalah seorang mantan kekasih. Samar sosok manis ini mengepalkan tangan, mencoba tidak terpengaruh pada sikap Raka saat ini.


"Yaaa, jauh---"


"... nah ini baru cocok untukmu." Raka memotong ucapan Naura.


Sosok manis ini menghela napas panjang. Ditatapnya pria ini, tersenyum lebih lebar dari kuping ke kuping. Mata elangnya berbinar-binar memperhatikan ikat rambut berwarna biru telah tertata apik mengikat poni Naura yang menjuntai, memperlihatkan iris cokelat bening sosok manis ini sepenuhnya.


"Jadi makin yeppo-yo (manis)," tambah Raka seraya mengelus pucuk kepala sosok manis ini. Suatu kebiasaan dahulu Raka lakukan ketika masih menjalin kasih dengan Naura.


Sesaat Naura menahan napas. Aliran darahnya seakan berhenti mengalir, ketika sentuhan lembut jari Raka menyentuh rambutnya. Dadanya menjadi sesak. Ada rasa sakit bercampur perasaan lain yang tidak bisa dijabarkannya saat ini. Hatinya menghangat dan berubah dingin seketika, lalu kembali menghangat lagi. Naik turun. Seolah ia terkena sindrom bipolar saja.


Ia gerah. Rasanya tak butuh mantel lagi untuk menghangatkan tubuhnya. Buru-buru sosok manis ini kembali menunduk, memperhatikan ujung sepatu boot-nya, tidak berani menatap langsung ke arah mata Raka. Ia berusaha mencoba kembali menguatkan hatinya. Mencoba mengingatkan dirinya sendiri. Siapa mereka berdua saat ini.


"Chogiyo, igeo eolmayeyo? (Permisi, berapa ini harganya?)" tanya Raka menunjuk ikat rambut di kepala Naura ke sang penjualnya. Penjualnya menelan ludah gugup sebelum menjawab pertanyaan Raka, pandangan tajam pria ini mengingatkannya ketika dia mendekati pembeli cantik ini tadi.


"Dangsin gat-eun dalkomhan keopeul-ui gyeong-u, naneun 50 % hal-in-eul jegonghabnida. (Untuk pasangan manis seperti kalian aku beri diskon lima puluh persen.)" Sang penjual tersenyum lebar seraya merentangkan kelima jarinya lebar-lebar.


"Jeongmal? Khamsahammida." Raka juga tersenyum tak kalah lebarnya mendengar pujian sang penjual. Segera saja menyenggol lengan Naura dan menaik turunkan alis tebalnya.


"Kau dengar? Dia bilang kita pasangan manis." Raka berbisik usai membayar belanjaannya.


Naura menggulir bola mata dan memutar tubuhnya. Menjauh dari lapak pedagang aksesoris. "Hhh ... pasangan manis nenek moyangmu. Lagipula itu karena penjualnya takut padamu. Makanya dia memujimu dan memberimu diskon. Dia takut dijadikan lalapan olehmu."


"Jangan suuzhon begitu, Naura. Orang berniat tulus memuji seharusnya diapresiasi, toh."


"Coba kalau pedagang itu yang memujiku dengan Jongin. Masih mau kau apresiasi, hum?" Naura menyeringai puas.


Senyum yang mengembang di belah bibir Raka sukses menjadi layu seketika. "Jangan memancing mood-ku menjadi buruk, Naura," ujarnya mengacak rambut hitam lebatnya.


__ADS_1


 


 


__ADS_2