![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
“Naura? Lho kok, sudah masuk?”
Ketika tiba di ruangan divisi umum di perusahaan tempatnya bekerja Naura, segera diserbu rekan kerjanya sesama sekretaris, Kania. Sekretaris senior.
“Katanya, liburan dua minggu ke Indonesia? Lha, ini baru dua hari tak masuk kerja, kau sudah datang?” Kania menatap heran sosok manis yang begitu hati-hati duduk di sampingnya sambil memegangi perut buncitnya.
Naura memandang satu persatu rekan-rekan sekitarnya. Ekspresi mereka tidak jauh berbeda dengan Kania saat ini, keheranan. Sosok manis ini mengembuskan napas pendek. Ketika memandang wajah-wajah rekan kerjanya, hatinya dipenuhi perasaan sedih. Hari ini, terakhir kalinya dirinya melihat mereka semua.
“Sebenarnya, liburannya dibatalkan,” terang Naura. Sempat diliriknya ruang kerja Jongin yang tertutup rapat. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah pria berkulit eksotis itu sudah datang?
“Wah sayang sekali,” komentar Kania diangguki rekan yang lainnya. “Kenapa, Na. Apa ada masalah?”
Masalah? Naura mengernyit sekilas. Tentu saja ada banyak masalah akhir-akhir ini. Tetapi syukurnya, satu-persatu telah diselesaikan dengan baik--meski tak sepenuhnya baik, mengingat dirinya masih belum bertemu dengan Theresia kembali. Salah satu sumber yang membuatnya tidak bisa tenang dalam tiga hari ini.
“Tak ada masalah.” Naura tersenyum tipis menutupi sedikit kebohongannya. “Hanya saja liburannya dibatalkan, karena aku ...” Naura meraih paper bag di atas mejanya. Kemudian mengeluarkan isinya.
“Apa itu?” Kania yang pertama kali memberi komentar ketika melihat setumpuk kartu undangan di atas meja Naura.
“Baca saja,” balas Naura sembari memberikan satu persatu kartu undangan pernikahannya pada rekan-rekan kerjanya. Kini di tangannya hanya tinggal satu kartu undangan yang tersisa. Milik Jongin. Kembali sosok manis ini mengembuskan napas pendek kala membaca nama Jongin di kartu undangannya.
“Ya, Tuhan! Kau akan menikah, Naura?” Kompak semua orang di ruangan divisi umum berbicara. Tidak seperti keadaan beberapa detik yang lalu, tampak lengan. Kali ini ruangan bagaikan pasar. Mereka semua terbelalak kaget. Terlebih ketika membaca nama yang menjadi pasangan hidup Naura ke depannya.
“Astaga! Kau akan menikah dengan penerus dari Group Pintech, Naura?”
“Wow, daebak.” Semua memandang Naura tidak percaya.
“Aih, jadi iri.”
“Selamat, Naura. Semoga keberutunganmu mengalir pada kami juga.”
“Kalau kau menikah dengan Raka ... Apakah bayi yang kamu kandung itu anak dia?” tanya Kania diangguki oleh yang lainnya. Semua penasaran. Selama ini Naura tidak pernah memberitahukan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
Naura mengangguk penuh keyakinan seraya mengelus sayang perut buncitnya. “Iya. Ini anaknya.”
“Astaga! Kita jadi seperti orang bodoh selama ini.” Seru mereka. Raut wajah mereka tampak kesal bercampur kaget. Kesal karena iri akan kehidupan Naura menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan kaget, karena tidak tahu apa-apa. Padahal mereka dekat dengan sosok manis ini. Hampir tujuh bulan mereka bersama.
“Maafkan aku, selama ini tidak jujur pada kalian,” sesal Naura.
“Bukankah kau bilang bayimu itu hasil inseminasi?” Kembali Kania melontarkan pertanyaan. Mencoba mengingat kembali ucapan Naura ketika pertama kalinya bergabung di perusahaan mie ini.
“Memang betul.” Naura tak menampiknya. “Awalnya aku memang benaran tidak tahu dan tak mau tahu. Tapi kemudian ... Raka datang sendiri padaku. Mengatakan kalau bayiku ini adalah benih darinya. Satu lagi, dua tahun yang lalu aku memang pacaran dengan Raka. Tapi karena suatu sebab kami putus,” jelas Naura dengan jujur, agar ke depannya tak ada lagi masalah yang ditimbulkan akibat kesalah-pahaman yang tidak diinginkan.
“Oh, ya Tuhan!”
“Sungguh rumit.”
“Itu namanya jodoh,” ujar rekan-rekan Naura lainnya--ikut berkomentar.
“Sekali lagi aku minta maaf pada kalian,” tambah Naura.
“Tidak apa-apa. Kami mengerti.” Kania berkata mewakili rekan-rekan lainnya. “Dan sekali lagi, selamat ya, Naura. Akhirnya kau menikah juga.”
“Terima kasih. Eung ...” Naura menggigit bibir. Kembali melirik pintu Jongin yang tertutup rapat. Sedari tadi Jongin tidak keluar dari ruangannya padahal sedari tadi begitu gaduh. Apakah pemuda berambut hitam lebat itu marah padanya? Apakah atasannya ini sudah mengetahui kabar pernikahannya? Hingga Jongin tidak bersedia bergabung bersama di sini?
“Eonnie,” panggil Naura pada Kania, ketika gadis dengan rambut panjang sepinggangnya---hasil dari hair extention kemarin sore---itu memperhatikan dengan penuh kekaguman pada kartu undangan pernikahannya.
“Ya, Na? Ada apa?” Kania meletakkan kartu undangannya - setelah di dalam hati memanjatkan do’a agar nasibnya sama seperti Naura. Menikah dengan cowok tampan dan kaya yang sangat mencintainya.
Naura memilin-milin jari. Tampak dirinya begitu gugup. “Pak Jongin-nya ada di dalam?”
“Pak Jongin?” Kania menautkan kedua alisnya. Menatap heran Naura. “Kau tak mendengar kabarnya kemarin?”
Naura menggelengkan kepala. “Kabar?”
“Iya. Kupikir kau orang yang pertama dikabari oleh Pak Jongin.”
“Aku?” Naura menunjuk dadanya sendiri.
“Hu’eum.” Kania menjawab dengan gumaman setelah menyeruput teh panasnya. Bukan tanpa sebab gadis ini menebak begitu. Sebab, sudah jadi gosip umum bila atasan mereka menyukai sosok manis ini. Semenjak kejadian Raka meninju Jongin.
“Masa sih, beliau tidak cerita,” ucap Kania sedikit tidak percaya.
“Benaran. Aku tidak bohong. Pak Jongin tidak berbicara apa pun padaku.” Bahkan saat ketemu kemarin sore, Jongin tidak cerita apa pun padaku, tambah Naura meremat ujung gaun hamilnya. Dadanya bergemuruh. Entah kenapa, dirinya kembali merasakaan perasaan tidak enak. Sama seperti yang dirasakannya kemarin sore, ketika Jongin pamit darinya.
“Lagian, ya. Kalau aku tahu. Buat tanya padamu.”
“Iya, juga ya.” Kania menggaruk kepala.
“Memang apa yang terjadi dengan Pak Jongin?” tanya Naura terlihat cemas tak kentara. Kembali sudut matanya melirik ke arah pintu ruangan Jongin. Kemudian menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Semua rekan kerjanya mulai sibuk ke aktifitas masing-masing.
__ADS_1
“Mulai dari kemarin pak Jongin mengundurkan diri dari perusahaan. Dia tidak bekerja lagi di sini.”
Naura terhenyak mendengar penuturan Kania. Seketika dia kembali mengingat pertemuannya dengan Jongin. Masih teringat dengan jelas ekspresi Jongin yang begitu sedih menatapnya, serta hendak ingin mengatakan sesuatu padanya tapi tidak terucapkan satu patah kata pun dari belah bibirnya.
Ya, Tuhan. Apakah ini jawaban dari perasaan tidak enakku kemarin. Pantas saja Jongin tampak begitu sedih, ternyata mau pergi dari perusahaan.
“Kau tahu alasan pak Jongin mengundurkan diri?” Naura menatap Kania. Gadis itu sibuk mengetik di laptop-nya.
Kania mengangkat bahu sekilas. “Tidak. Beliau tidak cerita apa pun pada kami. Hanya berkata pamit saja.”
“Kau tahu pak Jongin pindah ke mana?” tanya Naura lagi. Ditatapnya begitu lekat nama Jongin yang terukir dalam kartu undangan dengan perasaan hampa. Ia mendesah pendek.
“Tidak.” Kania menjawab singkat. Gadis itu menghentikan ketikannya, menoleh pada Naura. “Kurasa pak Jongin bergabung dengan perusahaan keluarganya, deh.”
🍃Dear, My Baby🍃
Naura menatap jalanan di depannya. Tampak kendaraan berlalu-lalang. Sebuah bus berhenti sebentar untuk mengangkut penumpang yang berada di sekitarnya, kemudian bus itu melaju pergi--meninggalkan Naura sendirian di halte.
Sekali lagi wanita muda ini menghela napas. Kembali fokus pada telepon pintar dalam genggamannya. Kembali mengutak-atik nomor telepon yang hampir ke sepuluh kali dilakukannya. Untuk kesekian kalinya, Naura dihempaskan pada kekecewaan. Panggilannya hanya dijawab oleh operator di seberang telepon.
Setelah berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya, Naura segera pergi dari perusahaan. Sembari berjalan menuju halte di seberang perusahaan, ia terus menghubungi Jongin. Ingin berbicara pada pria itu secara empat mata, sekalian memberikan kartu undangan pernikahannya.
Tapi kini ... Naura memandang hampa pada layar smartphone-nya, sosok yang dihubunginya tidak mengaktifkan ponselnya.
Kau ke mana, Jongin? Kenapa tidak mengaktifkan ponselmu? Apa kau marah padaku? Maafkan aku, Jongin.
“Sudahlah. Minta tolong Raka saja. Mungkin Raka tahu ke mana perginya Jongin,” gumam Naura. Kini kembali mengutak-atik smartphone-nya. Menelepon Raka. Dia sudah berjanji pada pria bermata bulat itu untuk segera menelepon dan menjemputnya bila urusannya di perusahaan sudah selesai.
“Manalagi nggak bawa power bank. Errr ... lengkap sudah,” gerutu Naura sembari memasukkan alat komunikasi kesayangan-nya ke dalam tas. Dengan terpaksa menunggu bus berikutnya lagi.
Ketika asyik memperhatikan semut-semut hitam yang bergerombol di ujung kakinya, sebuah limousine berhenti di depannya. Ia menengadah. Kaca jendela mobil mewah itu diturunkan. Tampak pria paruh baya menoleh pada Naura.
“Naura Almira Atmajaya.”
Naura menelan ludah ketika pria paruh baya itu menyebutkan nama lengkapnya. Siapakah dia? Kenapa tahu namanya?
“Nona, silakan masuk.”
Naura tidak menyadari ketika seorang pria muda bersetelan jas dan berkaca mata hitam berdiri di hadapannya, saat pandangannya hanya fokus pada pria paruh baya itu.
“Tidak usah takut. Kami tidak akan menculik anda. Majikanku hanya ingin berbicara dengan Nona empat mata di dalam mobil,” lanjut pria muda itu ketika Naura tampak ragu-ragu dan takut.
🍃Dear, My Baby🍃
“Naura Almira Atmajaya ... putri kedua dari Maya Almira Atmajaya dan Doni Atmajaya.” Pria paruh baya itu membuka percakapan ketika akhirnya Naura---memutuskan---untuk masuk ke limousine mewah ini.
Naura tertegun ketika pria paruh baya itu menyebutkan namanya kembali plus nama lengkap kedua orang tuanya.
“Maaf, Om. Dari mana anda tahu namaku dan kedua orang tuaku?” tanyanya hati-hati.
__ADS_1
Pria paruh baya itu tersenyum tipis. Tentu saja dia tahu seluk beluk sosok manis ini. Setelah Raka memberi tahunya soal nama asli putri tirinya. Segera diselidikinya latar belakang putri tirinya yang tidak dia ketahui dari almarhumah sang istri selama ini. Selama ini ia sangat percaya pada sang istri, hingga tidak perlu sampai menyelidiki latar belakang mereka.
Dan betapa terkejutnya dia, ternyata selama ini Maya mempunyai dua orang putri kandung. Theresia dan Naura. Entah alasan apa, sang istri tidak mengadopsi Naura. Dan kini sosok manis ini jugalah yang menyebabkan Theresia batal bertunangan dengan Raka. Pria muda itu lebih memilih Naura. Kemudian ia beralih menatap perut wanita muda ini.
Ternyata dia benaran hamil, Denny mengembuskan napas pendek. Setelah Theresia mengatakan penyebab putusnya pertunangannya dengan Raka, ia berniat ingin menemui sosok yang dipilih oleh Raka. Seberapa baiknya ia, hingga Raka memilihnya ketimbang putrinya.
“Kau ...” Denny menatap lekat iris cokelat Naura. Pandangannya meredup ketika melihat wajah manis Naura. Sontak dadanya bergemuruh. Rasa rindunya tiba-tiba saja naik ke permukaan.
“Ya, Tuhan. Betapa dirimu begitu mirip dengan Maya,” gumamnya tanpa sadar. Suaranya begitu serak. Ingin rasanya ia menangis, menumpahkan rasa rindunya pada sosok manis ini. Seakan saat ini sedang berhadapan dengan almarhumah istrinya.
Naura mengerutkan dahi mendengar kalimat dari belah bibir Denny. Seolah merasakan rasa cinta dan rindu begitu besar dalam diri pria paruh baya ini.
Siapakah pria ini?
Astaga! Naura menahan napas ketika sebuah kesimpulan terbentuk dalam benaknya. Jangan-jangan dia adalah ....
“Ya. Aku suami kedua dari ibumu,” jawab Denny menjawab rasa keterkejutan Naura. “Namaku Denny Brown, ayah tiri dari kakakmu, Theresia.”
Naura terdiam. Ia tak sanggup untuk berbicara. Jujur. Baru kali ini ia melihat langsung sosok pria yang menjadi suami dari ibunya. Jangankan melihat langsung, mengetahui namanya saja Naura tidak tahu.
Denny menghela napas. “Andaikan saja Maya jujur padaku. Mungkin saja kau juga kuadopsi.” Terdengar dari kata-katanya pria paruh baya ini begitu menyesal.
Naura tetap diam. Ia menunduk, menatap ujung sepatu flat-nya. Bingung mau berbicara apa.
“Sungguh sangat disayangkan sekali.” Kembali Denny berbicara seraya mengembuskan napas pendek.
“Soal Theresia ...”
Naura menengadah ketika nama kakaknya disebut. Ia tahu pria paruh baya ini pasti memanggilnya untuk membicarakan masalahnya.
“Om sudah mengetahui semua masalah kalian, baik dari Theresia sendiri mau pun dari Raka,” lanjutnya.
“Setelah melihat keadaanmu langsung, sepertinya aku tidak bisa berbuat banyak lagi.” Denny memperhatikan perut buncit Naura. Bisakah ia menyebut bayi dalam kandungan wanita muda ini juga cucunya?
“Maafkan aku.” Untuk pertama kalinya Naura memberanikan diri bersuara.
Denny hanya mengangkat bahu. Kemudian ia teringat dengan ucapan Theresia pagi ini. “Naura,” panggilnya seolah dirinya sedang memanggil sang istri saat ini.
“Ya?”
“Bisakah kau ikut ke villaku sebentar?” pintanya penuh harap. Bolehkah ia melepaskan rindunya pada almarhumah sang istri pada wanita muda ini sesaat saja - tanpa mengenal batas usia.
Naura meremat ujung gaunnya. Ia tak bisa menjawab permintaan pria paruh baya ini sekarang juga. Takut, mendominasinya saat ini. Lagipula Raka tidak diberi tahunya. Pasti calon suaminya itu akan cemas padanya.
“Sebentar saja,” tambah Denny.
“Eung ...”
“Tidak usah takut. Aku takkan berbuat sesuatu padamu. Aku hanya ingin kau melihat keadaan Theresia. Dia begitu terpukul setelah Raka memutuskan pertunangan mereka.”
Naura tertunduk mendengar penuturan Denny. “Tapi ... kak Tere enggak mau bertemu denganku.”
“Itu yang dikatakannya kemarin. Pagi ini, Theresia berbicara padaku, bila ingin bertemu denganmu empat mata. Maukah kau menemuinya Naura? Barangkali dengan bertemu kamu, Theresia sedikit lebih tenang,” mohon Denny penuh harap. Baginya, Theresia adalah segala-galanya setelah kepergian Maya dari sisinya. Apa pun akan dilakukannya demi putri tirinya itu.
“Naura, Om mohon ...”
Naura memilin jarinya. Apa yang harus dilakukannya sekarang ini? Pergi menemui Theresia? Atau memberi tahu Raka terlebih dahulu? Tetapi smartphone-nya mati.
“Sebentar saja, Naura. Tidak akan lama.” Kembali Denny berbicara.
“Baiklah.”
“Terima kasih, Naura.” Denny tersenyum setelah Naura memutuskannya. Segera memerintahkan supirnya untuk menuju villa pribadinya. Rasa bahagia tercetak jelas di wajah menuanya.
Naura mengelus perut buncitnya. Ia meringis. Entah mengapa, perutnya terasa mulas. Tetapi ditahannya demi bisa menemui Theresia. Barangkali setelah pertemuannya dengan Theresia, mereka kembali berbaikan. Semua masalah akan beres. Hatinya akan menjadi tenang--ia rasa.
Target cerita ini selesai lebih kurang sepuluh chapter lagi. Huft. Semoga mencapai target.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1