![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Raka tak bisa membayangkan dalam hidupnya, dirinya akan melakukan mastubarsi di rumah sakit di dalam ruangan praktik dokter. Mungkin hal ini adalah pengalaman paling memalukan sekaligus berkesan baginya. Lihat saja sekarang, betapa tak tahu malunya ia. Mengeluarkan desahan demi desahan yang tertahan, memenuhi seluruh ruang kecil ini. Terasa panas menggairahkan akibat atmosfir yang menguar dari dalam tubuhnya.
Tangannya terus memompa kejantanannya, berusaha mengeluarkan cairan kental miliknya, mengikuti intuisi gairahnya. Sementara tangannya yang lain, memegang erat smartphone-nya yang menyala, menampilkan foto dari sosok yang dicintainya. Dengan melihat foto Naura, maka dirinya makin cepat terangsang dan segera mengeluarkan cairan yang dibutuhkan Neil.
Raka menggeram dalam kenikmatan desahannya yang teredam, tidak terlalu berani di eksplore desahannya, sebab akan menggangu sosok lain di luar ruang praktik ini. Menunggu hasil dari mastubarsi-nya.
Hanya butuh lima belas menit bagi Raka untuk menyalurkan syahwatnya. Napasnya mulai berat seiring teriakan kepuasan yang ditahan ketika mencapai orgasmenya. Bibirnya menyunggingkan senyuman setelah benar-benar menarik napas lega.
Bergegas Raka memasukkan cairan sperma-nya ke dalam botol, yang sebelumnya ia tampung ke dalam telapak tangannya. Setelahnya, barulah Raka membersihkan bekas mastubarsi-nya. Di tubuh, tangan serta lantai - sedikit tercecer ketika memasukkan sperma-nya tadi ke dalam botol. Raka tersenyum puas memperhatikan botol di tangannya, lalu beralih menatap ke layar smartphone-nya yang masih menyala. Lalu mengecup foto Naura dengan perasaan bahagia sambil membayangkan Naura benar-benar berdiri nyata di depannya.
“Sampai bertemu lagi, Baby.”
🍃Dear, My Baby🍃
"Sudah selesai, Bro?!" Neil mengangkat kepala, menatap Raka yang ke luar dari kamar praktiknya, menenteng botol yang sebelumnya ia berikan.
"Nih. Segeralah menanamkannya ke rahim Naura." Raka meletakkan botol berisi sperma-nya ke hadapan Neil dengan penuh percaya diri.
Neil meraih botol di atas mejanya. Setengah ragu-ragu mengambilnya, memutuskan apakah memakai tisu atau sarung tangan anti kuman, atau hanya dengan tangan telanjang saja. Demi terjaganya kualitas sperma, serta agar tetap steril dan memimalisir kegagalan, akhirnya Neil menggunakan sarung tangan mengambil botol itu. Kemudian memasukkannya ke dalam kantung plastik.
Neil bergidik jijik, beruntung mengambilnya tadi menggunakan sarung tangan. Tak pernah sebelumnya terpikirkan melakukan hal seperti ini, mengambil sperma milik pria lain. Meski sebelumnya, juga pernah dua kali melakukannya. Itu pun sperma miliknya, untuk ditanamkan ke rahim sang istri.
"Ini yang namanya sperma super, ya." Neil mengangkat tinggi botol kecil di dalam kantung plastik di tangannya sambil diperhatikannya begitu lekat.
"Tentu saja. Kalau tidak tangguh, takkan mungkin kau datang padaku dengan wajah memelas minta dikasihani."
"Anjir!" Neil menendang kursi Raka. "Aku tahu kalau sperma-mu tangguh, tapi, kok kelihatan lemah begitu ya, seperti orang yang pundung dipojokan karena ditinggal kucingnya kawin." Neil terkekeh.
"Haaah.” Raka mengembuskan napas pendek. “Itu sperma-ku lagi bersedih, karena ia terkekang, sebab tak bisa langsung cari jalannya sendiri."
"Mudah kok, dibuka saja jalannya lebar-lebar." Neil tercengir.
"Belum saatnya. Nanti jalannya terbuka sendiri."
“Hn, bisa saja kau, Ka."
Keduanya pun tergelak. Soal yang berbau mesum kadang keduanya sepemikiran.
"So, setelah ini apa lagi yang harus kulakukan?" Raka kembali serius berbicara.
"Selesai, tinggal Naura yang melakukan proses akhir inseminasinya," jelas Neil sambil membereskan seluruh berkas-berkas di atas meja. "Sudah tak ada lagi, kan, yang ingin kau tanyakan?" lanjutnya seraya membenahi letak kacamatanya.
"Ya."
"Kalau begitu, aku akan segera membawa sperma-mu ke laboratorium. Kau mau ikut?" tawar Neil. Beranjak berdiri keluar dari ruangannya diiringi Raka di belakangnya.
"Apa masih membutuhkanku?"
"Nggak. Cuma mengantarkan sperma-mu saja ke sana."
"Oh." Raka mengangguk paham. "Setelah itu apa kau punya waktu luang?"
Neil bersidekap seraya mengelus dagu. "Mmm, punya. Habis melakukan proses inseminasi, aku punya waktu. Kenapa memangnya?"
"Sudah lama kita tak berbicara bebas. Yuk kita hangeout sore nanti," ajak Raka, berjalan santai bersisian bersama Neil menyusuri lorong rumah sakit.
"Oke."
🍃Dear, My Baby🍃
"Begitulah ceritanya." Neil mengakhiri ucapannya. Menarik napas panjang sambil menatap sosok manis di depannya. Tak ada yang ditutupinya lagi, dari awal sampai akhir ia ceritakan semuanya pada Naura. Sekarang tinggal menyerahkan semuanya pada Naura. Ia akan menerima apa pun konsekuensinya.
"Sungguh gak bisa dipercaya. Kakak bekerja sama dengan Raka." Naura mengembuskan napas berat. Menatap wajah bersalah Neil padanya.
"Maaf, silakan marahi Kakak sepuasnya."
__ADS_1
"Aku nggak marah sama sekali, kok, Kak." Naura menyunggingkan senyuman lebar bagai model iklan pasta gigi di bawah teriknya matahari, sembari memukul-mukul kuat meja Neil, bahkan getarannya sangat terasa di paha Neil, kebetulan menempel di mejanya.
Gila, meski hamil tenaganya sangat kuat, seperti banteng yang ngamuk. Ini yang katanya disebut nggak marah? "Oh, begitu ya. Syukurlah. He he he." Neil menelan ludah berkali-kali.
"Ha ha ha." Naura makin keras memukul meja, layaknya drumer yang asyik menabuh drum di atas panggung.
"Coba Kakak pikir, masa aku tega marahin Kak Neil yang sudah kuanggap Kakak sendiri, yang gak mungkin banget Kakak tega membiarkan Naura punya masalah. Iya, kan, Kak," ujar Naura dengan suara datar ketika menekankan kalimat demi kalimat. Sosok manis ini tetap mempertahankan senyum lebar ala pasta giginya.
"He he he."
Neil hanya mampu tercengir, tidak bisa berkomentar lagi, seolah mulutnya dilakban sangat kuat. Ucapan Naura terlalu menohoknya. Dokter muda ini membuka beberapa kancing teratas kemeja putihnya. Tiba-tiba terasa panas dan pengap, seolah udara di sekitarnya tersedot ke dalam lubang hitam tak kasat mata. Neil menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, bagaikan keberadaan oksigen di muka bumi ini akan musnah seketika.
Sedangkan Naura menatap Neil dengan wajah sayu. Menggigit bibir kuat-kuat. Ia tak bisa marah sepenuhnya pada sosok tetangganya ini. Salahnya. Sebelumnya tak mau tahu identitas pendonornya, padahal Neil pernah berkata padanya. Mengingatkannya. Yang lebih penting lagi, ia sadar diri, karena kriterianya yang terlalu tinggi, hingga menyulitkan Neil untuk mencari pendonor yang tepat, berakhir Neil hanya justru kepikiran dengan Raka seorang.
"Huft. Selain bekerja sama dengan Raka diam-diam di belakangku, sedikit aku menyayangkan tindakan Kakak," sambung Naura dengan nada kecewa sembari memperhatikan satu persatu kuku-kukunya yang mulai memanjang, lalu kembali beralih memandang bola mata hitam Neil.
"Apa itu?" tanya Neil pasrah di bawah tatapan dingin tetangga manis-nya ini.
"Kenapa Kakak justru kepikiran ke Raka soal pendonornya. Kan, banyak pendonor yang mungkin bisa memenuhi kriteria yang kuajukan."
"Yakin banyak?" Neil mengangkat sebelah alisnya, lantas terkekeh geli.
"Ih, Kakak. Tentu saja yakin." Naura mengerucutkan bibir. Tak suka mendengar kekehan Neil, yang sudah pasti mengandung olokan untuknya.
"Tapi menurut Kakak, enggak."
“Ne? (ya?)” Naura berbicara dengan logat Korea serta kedua alis menyatu.
"Kalau memang banyak, tentu saja sekarang ini janin dalam perutmu bukan dari sperma Raka. Dan Kakak, tak perlu menjadi pertapa di dalam gua bersemedi selama seminggu ini memikirkannya."
"He he he." Naura tercengir. Tak bisa lagi mendebat ucapan Neil.
"Jadi, selama ini Raka yang membayar semua biaya hasil proses inseminasiku?" tanya Naura mengalihkan topik soal pendonor sperma-nya. Sangat tak ingin membahas soal itu. Ia masih belum menerima sepenuhnya bila yang menanamkan sperma di rahimnya justru mantan kekasihnya dua tahun silam. Orang yang pernah melukai hatinya, dengan tega mengatakan alasan mereka putus karena keturunan.
"Iya, semuanya," jelas Neil jujur.
"Huft. Kakak, padahal aku nggak mau berutang budi pada siapa pun. Sekarang masalahnya jadi makin rumit. Karena Raka ingin menikahiku."
"Kurasa kalian memang berjodoh. Memang ada sedikit campur tangan dari Kakak. Tapi, kau tahu Naura.”
“Ya?”
“Campur tangan Kakak itu semuanya juga berasal dari Yang Maha Kuasa. Kalau gak ada izin dari-Nya. Juga enggak akan terjadi. Buktinya sekarang, Raka-lah yang mendonorkan sperma-nya padamu. Kalau gak berjodoh, mungkin saja saat ini kau mengandung anak orang lain,” ucap Neil berkhotbah.
Naura tertegun. Ditatapnya bola mata hitam pekat Neil di balik kacamata-nya seraya termangu dalam kebimbangan.
Mengandung anak orang lain, ya.
"Sudahlah, Naura, menurut Kakak, terima saja niat baik Raka," tutur Neil, seolah membimbing ke mana arah tujuan jelas hati Naura saat ini.
"Enggak semudah itu menerimanya kembali, Kak," balas Naura cepat, seakan kembali menemukan pijakan hatinya yang rapuh.
"Aku ...” Tanpa sadar tangan Naura terkepal erat di bawah meja. “...masih sakit hati padanya. Lagipula, menikah bukan tujuan hidupku untuk sekarang ini."
Neil mengembuskan napas pendek. "Tapi ini kesempatan yang baik, Naura. Dari pada kau hidup sendirian, lebih baik hidup berdua.” Neil kembali memberi petuah layaknya seorang bapak ke anak gadisnya.
"Iya, makasih atas nasihatnya. Nanti aku pikirkan lagi," jawab Naura mencebik. Lebih baik di-iya-kan saja, dari pada terus mendebat soal itu. Ini perkara hati, bukan asal main terima niat orang tersebut.
"Karena kita sudah jauh membahas masalah ini. Sekalian Kakak buka yang lainnya juga, biar gak ada kesalah pahaman lainnya lagi."
"Apa itu?" Kedua alis Naura bertautan erat. Begitu penasaran.
"Dulu, kau pernah tanya kenapa Kakak bisa ada di sini."
"Hm.” Naura mengelus dagu. Berpikir sejenak. “Iya," lanjutnya.
"Nah, sebenarnya orang yang merekomendasikan Kakak adalah Raka. Kau pasti tahu alasannya."
__ADS_1
"Karena aku?"
"Yup. Raka mencemaskanmu dan kandunganmu. Makanya dia nekad merekomendasikan pada rumah sakit di Jakarta untuk mengirim Kakak ke sini, menjadi dokter khusus untukmu."
"Hn! Mungkin.” Naura berucap dengan suara nyaris berbisik. Wajahnya bersemu kala mendengar ucapan Neil. Ada perasaan bahagia menyelinap di hatinya.
“Satu lagi."
"Apanya?"
"Seminggu yang lalu, kau pernah minta Jajangmyeon pada Kakak tengah malam, kan. Setelahnya, ada kiriman Jajangmyeon tanpa nama."
"Hum, iya. Kupikir itu dari Kakak.” Naura mengibaskan ujung rambut di bahunya. “Tapi, tulisan tangannya beda dengan Kakak."
"Tentu saja beda. Sebab yang kirim makanannya memang bukan dari Kakak, tapi dari Raka. Sebelumnya, Kakak-lah yang meneleponnya."
"Huft, lagi-lagi dia." Naura mencebik.
"Tapi, kau suka, kan," goda Neil seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Lalu soal kiriman boneka kodok, apa juga dari Raka?" Tiba-tiba Naura juga teringat soal siapa yang mengirim bonekanya.
"Boneka kodok?"
"Iya. Tengah malam aku juga pernah ngidam pingin peluk boneka kodok, dan sempat cerita ke Sunny. Pagi-paginya, aku dapat kiriman boneka."
"Oh, soal itu, maaf, Naura. Kakak benar-benar gak tahu. Coba tanya langsung sama Sunny."
"Sudah, katanya bukan dia."
"Kalau begitu tanya Raka. Siapa lagi selain Raka yang mengirimnya."
"Hm ..." Naura hanya menggumam seraya mengelus dagu.
"Naura."
Naura menengadah, kedua matanya segera bertemu dengan bola mata hitam pekat milik Neil ketika dokter muda ini melepas kacamatanya.
"Ya?" jawabnya.
"Bukannya Kakak mau ikut campur masalah kalian atau pun mendukung Raka. Ini juga demi kebaikanmu dan Baby-mu sendiri ..." Neil menjeda kalimatnya, sebelum melanjutkan kembali nasihat untuk tetangganya ini.
"Sebaiknya, pikirkan kembali niat baik Raka. Oke."
Naura tercenung. Tidak segera menyahut, seolah semua untaian kalimat di balik lidahnya telah melebur dalam kebisuannya, melemahkan pendiriannya, membiarkannya tenggelam dalam lautan kebimbangan di palung hatinya yang terdalam.
🍃Dear, My Baby🍃
Matahari telah lama beristirahat di peraduannya. Tugasnya telah digantikan oleh cahaya bulan, masih tampak malu-malu mengintip di balik awan. Sejenak sang bulan melupakan tugasnya, diam-diam memperhatikan dua insan manusia yang saling berpandangan intens, mencoba menyelami perasaan masing-masing.
Tiada hentinya Raka mengembangkan senyuman indah di belah bibirnya, seolah bahagia memang tercipta abadi hanya untuknya tanpa tergores tinta kesedihan yang mencorengnya. Tak pernah diduganya akan ada hari seperti ini. Entah apa yang merasuki sosok manis ini hingga dengan sendirinya datang ke kediamannya - terlepas dari maksud utama kedatangan Naura kemari.
"Kenapa tidak menelepon terlebih dahulu? Aku bisa menjemputmu." Masih terbawa euforia. Raka bingung harus berbuat apa ketika berbicara.
"Enggak usah. Aku bisa datang ke sini sendirian, memangnya rumahmu di tengah hutan." Naura berkata ketus. Usai meminta alamat Raka lewat Neil---setelah sebelumnya Naura mengancam dokter muda itu agar tidak bermulut ember, memberi tahukan kedatangannya pada Raka---bergegaslah Naura ke sini. Lumayan jauh rumahnya, terletak di pesisir timur pulau Jeju, di kompleks perumahan elit. Hanya menghabiskan waktu sekitar lima belas menit naik taksi online dari apartemennya.
"Tapi kau bukan dalam keadaan biasa. Kau hamil." Raka menatap sendu perut buncit Naura dan wajah Naura bergantian.
"Bukan urusanmu!" Naura mendengkus.
"Jangan begitu, Naura, bayi dalam perutmu itu juga anakku."
Naura bungkam sesaat.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandunganmu?"
"Enggak usah cemas.” Naura mendelik tajam. “Aku bisa menjaganya sendiri. Lagian aku ke sini---"
__ADS_1
"Berubah pikiran, kan. Siap kunikahi."