Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
59| Selamanya Bersama


__ADS_3

“Saya terima nikah dan kawinnya Naura Almira Atmajaya binti Angga Atmajaya dengan maskawin tersebut, tunai.”


Dengan suara tegas tanpa ada rasa ragu Raka mengucapkan ijab kabul di depan penghulu, saksi dan Neil---menggenggam erat tangannya. Karena Naura tidak punya orang tua dan sanak saudara yang mewakili, maka Neil sebagai orang terdekat Naura ditunjuk menjadi wali nikahnya.


Dua minggu setelah kejadian Naura bertemu kembali dengan Raka, akhirnya Raka benar-benar menikahi belahan jiwanya.


“Bagaimana, saksi? Sah?” tanya penghulu pada kedua pria di samping kiri dan kanan Raka.


“Sah.”


“Sah.”


“Alhamdulillah, barakallah ....” Seketika riuh menggema di ruangan. Semua mengucap syukur dan do’a pun menggema untuk kedua mempelai. Semoga ini awal kehidupan yang baik bagi Naura dan Raka setelah melewati lika-liku kisah cinta yang rumit.


“Yes, akhirnya jadi suami sah Naura.” Raka bersorai, tanpa canggung memeluk sosok manisnya, hingga semua tertawa melihat tingkahnya.


“Sabar, Bro. Masih lama malamnya,” goda Neil mengedipkan mata semakin membuat semua orang terbahak. Sementara Naura, wajahnya merah padam, hanya bisa bersembunyi di dada bidang suaminya. Ya, suaminya, Raka Earnest Forrester, bukan yang lain.


“Kau senang, Baby Yukhei?” Sunny mengangkat bayi berumur dua bulan itu dari pangkuannya, menatap lekat bola matanya. Kemudian melirik kekasihnya.


“Kapan kita menyusul couple ini.” Sunny menyenggol lengan Do-jin. Pria tinggi itu hanya melontarkan senyuman dan mengelus pucuk kepala kekasihnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


“Selamat menempuh hidup baru!!”


Ucapan selamat dari tamu undangan di gedung ballroom menggema, seiring sepasang pengantin baru itu berjalan menuju panggung dengan lemparan bunga mawar menaungi sepanjang mereka berjalan.


Naura memakai gaun pengantin putih tampak serasi dengan Raka yang memakai tuxedo putih. Sepanjang jalan, Naura mengapit lengan Raka - berjalan dengan gagahnya. Keduanya selalu mengumbar senyum bahagia.


Hari ini resepsi pernikahan mereka digelar setelah sehari yang lalu melakukan akad nikah. Mereka tak jadi menikah di tanah air atau pun di pulau Jeju melainkan di kota Seatle. Raka telah memutuskan untuk menetap di kota Seatle. Tempat dulunya dia menyembuhkan hatinya yang luka. Dan di kota ini juga, Raka akan memulai kehidupan barunya bersama Naura dari nol. Membangun bisnis sendiri untuk menghidupi keluarga kecilnya.


“Saatnya pengantin wanita melempar bunga. Ayo! Yang single, siap-siap merapat dan memperebutkan buket bunganya dari sang pengantin.” Seorang MC wanita memberikan isyarat untuk Naura berdiri di tengah-tengah panggung---pada sesi resepsi terakhir. Kemudian dalam hitungan ketiga Naura melempar bunganya dengan berbalik badan.


Tanpa disangka yang mendapatkan buket bunga itu seorang pria tinggi berkebangsaan Korea. Pria itu tersenyum. Berjalan pelan ke arah sosok yang malu-malu di samping Cathie - menggendong Baby Yukhei.


Pria itu duduk bertopang seraya menyodorkan buket bunga pada wanita impiannya. Ia tersenyum sembari berkata dengan penuh keyakinan.


“Sunny, will you marry me?”


Sorakan dari tamu undangan membahana mendukung sosok wanita itu untuk menerima pinangan  kekasihnya, begitu pun dengan Naura. Semoga saja setelah dirinya menikah, Sunny, sahabatnya menyusul menikah dengan Park Do-jin.


“Yes, i do.” Dengan menahan airmata Sunny menerima pinangan kekasih hatinya diiringi sorakan dan tepuk tangan bahagia dari tamu undangan. Dan berakhir sudah pesta resepsi pernikahan Naura dan Raka digelar hari ini.


“Yuhuuu, saatnya bulan madu!” Raka bersorai bahagia, mencium bibir Naura tanpa malu di depan umum. Toh, sudah sah juga jadi istrinya. Hanya saja, ekhem ... malam pertama mereka sebagai pengantin baru--kemarin malam--gagal total karena ada makhluk kecil mereka yang mengganggu. Baru saja Raka melakukan pemanasan, keduanya dikejutkan dengan tangisan Baby Yukhei.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


“Inilah istana kita!” Raka membuka lebar pintu rumahnya pada sang istri. Usai resepsi Raka segera memboyong Naura dan Baby Yukhei ke kediamannya sendiri.


Awalnya, untuk menikmati kehidupan sebagai pengantin baru selama beberapa hari, Raka berniat menitipkan sementara waktu jagoannya pada Cathie dan Andrew, namun segera ditolak mentah-mentah oleh sang istri. Ya. Mana mau Naura berpisah dengan Baby Yukhei setelah pengalaman pahit menimpanya. Lagipula, bayi berumur dua bulan itu masih sangat bergantung padanya.


Dan sungguh Raka tak menyangka bila rumah yang dulunya dia beli untuk pelarian dari rasa patah hatinya terhadap Naura, justeru berbuah manis. Pada akhirnya, rumah ini akan menjadi saksi perjalanan rumah tangganya bersama Naura.


“Bagaimana, kau suka, Baby?” tanya Raka, memandu sang istri berkeliling di rumah dua tingkat ini. Minimalis, namun tampak artistik. Sebelum di tempati, ia merancang ulang sendiri rumah ini sesuai selera sang istri.


“Sangat suka. Ternyata, kau pintar memilih, Dear,” puji Naura seraya menghentikan langkahnya di depan jendela ruang keluarga.


Ia terpana. Pemandangan di luar sangat indah. Langit cerah mendominasi dan di bawahnya ada hamparan laut biru yang selaras dengan warna langit. Naura tersenyum bahagia. Sungguh tak sabar untuk mengelilingi area pantai tepat di belakang rumah ini. Bergandengan tangan bersama sang suami dan malaikat kecil mereka, menikmati indahnya sunset.


“Kau juga suka, kan, Baby Yukhei.” Naura mengecup pucuk kepala bayinya. Bayinya tampak sibuk dengan mainan kecil di tangannya. Mainan kodok mini. Saat acara resepsi tadi, Neil memberikan mainan itu pada bayinya untuk mengalihkan perhatiannya dari menangis. Ya, menangis. Sepertinya bayi mungil ini cemburu pada Raka, terus menopoli perhatian Naura sepanjang resepsi tadi.


“Maaf, Baby. Aku belum bisa mengajakmu bulan madu pergi ke mana pun. Hanya berada di rumah ini saja.” Sesal Raka mengembuskan napas pendek. Disenderkan dagunya ke bahu sempit sang istri dengan kedua tangan melingkar erat di pinggang rampingnya - back hug.


“Bulan madu? Bukankah di sini juga bisa disebut bulan madu, Dear? Lihatlah pemandangan di luar sana. Kita bisa mengelilingi pantai. Bergendangan tangan dan menikmati sunset. Bukankah itu luar biasa, Dear?” Perasaan nyaman dan terlindungi sosok manis ini rasakan saat menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Hum, kau benar, Baby. Bahkan kita bisa selamanya bulan madu.” Raka terkekeh.


“Hn, itu maunya kamu.” Naura memutar bola mata. “Satu lagi, Dear. Kota Seatle. Kau juga bisa mengajakku keliling kota ini,” tambah Naura semangat.


“Siap, dengan senang hati, Nyonya.” Raka mengedipkan mata.


“Oh, omong-omong kau belum melihat kamar utama kita, Baby.” Raka melepaskan pelukannya, lantas menggandeng mesra sang istri. Menuntunnya menuju kamar besar di sudut ruangan. Untuk kedua kalinya Naura terpana dengan kamar utama---kini telah disulap oleh Raka menjadi kamar pengantin. Warna putih mendominasi.


“Sebaiknya kau ganti pakaian dulu, Baby.” Raka menepuk pundak sang istri. “Dan kau, jagoan! Selagi menunggu Mommy ganti pakaian, kau bersama Daddy, kita main,” lanjut Raka mengambil alih bayinya dari tangan sang istri. Dan tanpa canggung Raka mendaratkan ciuman panas di bibir sang istri dengan durasi cukup lama, hingga mendapatkan cubitan gratis di perutnya.


“Aih, malu dilihat anak.” Naura mengusap sudut bibirnya dengan wajah memerah.


Raka hanya terkekeh dan mengangkat bahu. Kemudian mendekatkan bibirnya di telinga sang istri. Berbisik dengan suara serak menggoda.


“Kutunggu kau nanti malam, Baby. Persiapkan diri sebaik mungkin. Kita buat Raka junior yang kedua secara langsung.”


 


 


 


 


 


 


 


 


[Empat tahun kemudian ...]


 


 


“Muuum, Daddy nackal, huweee!”


Seorang bocah lak-laki berambut hitam lebat dan berusia empat tahun berlari dari arah ruang keluarga. Memeluk erat kaki Naura ketika sosok manis ini sibuk mencuci piring.


“Astaga! Yukhei.” Naura menghentikan kegiatannya. Segera menggendong jagoan kesayangannya. Mengusap wajahnya, meski suaranya menangis namun tidak mengeluarkan air mata.


“Kenapa, eum. Diganggu Daddy lagi?” Naura menatap lekat bola mata berwarna cokelat bening putranya. Ia tebak, Raka pasti menggelitiki perut Yukhei lagi. Batita ini paling tidak suka digelitiki perutnya.


Yukhei menganggukkan kepalanya dengan polos. Anak-anak rambutnya ikut bergoyang lembut mengikuti gerakan kepalanya.


“Iya, Daddy menggelitiki pelut Yukhei. Padahal, padahal Yukhei cudah minta ampun,” celoteh Yukhei mengerucutkan bibirnya sambil menyatukan kedua jari tunjuknya.


Raka datang dan menyela seraya berkacak pinggang. “Siapa yang duluan mengganggu.”


“Uh, tapi Daddy ... Daddy yang duluan ambil mainan Yukhei.” Batita ini tak mau kalah berdebat.


“Bukankah kamu duluan yang mengganggu, Daddy. Mengetik kata-kata aneh di laptop Daddy dan mengirimkannya ke teman bisnis Daddy---ya, Tuhan. Pasti si Do-jin berpikiran aneh tentangku.” Raka mengacak rambutnya menjadi sangat berantakan. Matanya melotot tajam pada sang putra.


Naura mengerutkan dahi akan tingkah suaminya yang seperti orang depresi---tidak dapat jatah batin dari sang istri.

__ADS_1


“Sudah, bilang saja kalau bukan kamu yang mengirimkannya.” Naura memberi solusi. Toh, tak usah dibesar-besarin juga, kan. Cuma salah ketik. Paling yang dikirim adalah abjad acak.


“Iya. Tapi---kurasa Do-jin bakalan tak percaya.” Raka mengembuskan napas.


“Memangnya kata apa sih yang dikirim oleh Yukhei?” tanya Naura penasaran.


“Coli.”


“Coli?” Wajah Naura tiba-tiba memerah bagai buah persik. Bukankah kata-kata itu untuk seorang pria yang biasa melakukan **** sendirian? Astaga! Putranya sepintar itu? Mengirim kata-kata aneh. Naura bergigik membayangkannya. Jaman sekarang, anak-anak begitu mudahnya menyerap teknologi. Kalau begitu dia harus extra ketat mendidik anaknya.


“Uh, itu Mum, **** caat kita becalah. Bukankah Mum mengajali Yukhei bilang minta maaf? Nah, itu Yukhei kilim ke teman Daddy.”


Ya, Tuhan! Naura menepuk jidatnya. Sementara Raka mendelik tajam.


“Bukan ****, tapi sorry. Dan untuk apa kamu kirim. Daddy tidak melakukan kesalahan apa pun pada Do-jin.” Raka mengerang. Mana pula salah tulisannya lagi. Astaga! Mungkin sekarang Do-jin mengira dia lagi *****.


“Tapi, Yukhei tadi dengal lho omongan Daddy. Daddy bilang ditelepon, **** berkali-kali. Jadi, Yukhei kilim bial Om-nya mau memaafkan Daddy. Kacian Daddy bilang **** telus.”


Raka terbatuk-batuk kecil dan menyengir lebar pada sang istri. Tak menyangka pembicaraan dewasanya pada Neil didengar batita ini. Dokter muda itu curhat padanya, bila salah satu pasiennya ada yang suka bermartubasi dan memintanya bagaimana cara menyembuhkannya.


“Astaga! Kan, sudah kubilang jangan ngomong kotor saat lagi bersama anak, Dear. Nanti ketularan mesum darimu. Bisa repot. Umuran segini mereka bisa menirukan apa pun di sekitarnya, terlebih ucapan kita.” Naura melotot.


“Ya, aku salah.” Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, tak bisa lagi mengelak.


“Sudah, sekarang main lagi sama Daddy, ya.” Naura mengusak gemas rambut putranya.


Yukhei menggeleng. Melingkarkan kedua tangannya dengan erat di leher Naura. “Enggak mau.”


“Tapi, Mum mau beres-beres, Sayang. Nanti Yukhei bisa main sama Mum kalau sudah selesai,” bujuk Naura menepuk butt jagoannya. “Oke.”


“Popo Yukhei dulu.” Batita ini mendekatkan wajahnya ke wajah Naura. Memajukan bibir mungilnya.


“Oke, popo.” Naura mengecup bibir putranya. Batita itu berteriak girang dan menjulurkan lidahnya ke arah Raka. Raka mendecak sebal.


“Gendong sama Daddy dulu, ya.” Naura mengoper putranya pada sang suami.


“Aku juga mau popo.” Raka memajukan bibirnya setelah mengambil alih sang putra.


“Enggak boleh, Dear. Ada anak-anak.” Naura mencubit gemas mulut Raka yang maju. Ia terkekeh geli melihat wajah suaminya cemberut.


“Cuma popo, doang, Baby.”


“Tetap enggak boleh, Dear. Kau minta popo beda maknanya. Kau lihat putra kita?”


Raka melirik ke bawah. Batita itu menatap lekat dirinya sembari mengerjap.


“Eung ... Yukhei mau lihat cala Daddy popo Mum. Nanti Yukhei bica plaktekin dengan teman cekelas Yukhei.”


“TIDAK BOLEH!” Baik Naura dan Raka berteriak bersamaan. Segera Raka membawa putranya menjauh dari dapur sembari bersungut kesal sebelum sang istri melempar isi dapur padanya.


“Apa yang kau tertawakan, Jagoan.” Raka mencubit gemas pipi Yukhei, ketika batita itu terkikik menutup mulutnya.


Yukhei mendekatkan bibir mungilnya. Berbisik di telinga Raka. “Kacian, Daddy. Enggak dapet popo dali Mum. Kalah cama Yukhei.”


Kemudian batita itu mengambil sesuatu di dalam kantung baju kodoknya dan menempelkannya ke pipi Raka. “Nih, bial nggak kacian, kodok ini caja yang popo Daddy.”


“Sialan. 💢”


\================


Yukhei Earnest Forrester



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2