![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Lama Naura memandangi wajah tampan Raka, tanpa ekspresi sama sekali, bagaikan orang yang tidak punya jiwa. Pandangannya begitu kosong. Entah apa yang ada dalam benaknya. Sosok manis ini tak bisa menebak jalan pikiran sang kekasih saat ini.
Wanita muda ini mendesah dalam diam. Kebisuan telah melanda keduanya selama lebih kurang lima belas menitan setelah makanan tersaji di hadapan mereka. Tidak. Naura rasa kebisuan melanda mereka sekitar sejam lebihan. Lebih tepatnya ketika Raka menjemputnya sepulang dari bekerja. Pria itu terus diam. Bahkan ketika dia mengutarakan singgah sebentar di cafe favorit mereka, Raka hanya menurut saja, tanpa protes sama sekali.
Naura mengembuskan napas pendek. Tidak biasanya Raka diam seperti ini. Adakah hal yang membuat hati kekasihnya kesal saat ini?
"Dear, kau baik-baik saja?" Wanita muda ini bertanya hati-hati. Suaranya begitu lembut, bagai seorang ibu yang membujuk buah hatinya - enggan membuka mulut mungilnya untuk memakan nasi putih.
Raka tergagap ketika sang kekasih menepuk lembut punggung tangannya. Memberi tahu di mana mereka saat ini. Seolah memberi kode kepadanya - cukup untuk waktu melamunnya. Bola matanya bergerak-gerak memperhatikan sekitar.
Hanya beberapa pengunjung memenuhi meja di sekitar mereka duduk. Cahaya lampu yang tidak terlalu menyilaukan mata menyinari ruangan cafe, hingga membuat para pengunjung begitu nyaman menikmati santap malam mereka. Ditambah dengan hiburan dari suara merdu seorang penyanyi wanita melantunkan musik mellow - membuat para pengunjung betah berlama-lama berada di dalam cafe ini.
"Ya. Aku baik-baik saja, Baby," jawabnya dengan sedikit tersungging senyuman di belah bibirnya setelah kembali menatap iris cokelat bening sang kekasih. Tak bosan memandang kedua bola mata indah yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan. Seolah merasakan berkali-kali jatuh cinta untuk pertama kalinya.
"Apa kau punya masalah, Dear?"
"Tidak." Raka menggeleng cepat. "Memangnya kenapa, Baby?" tanyanya sembari menyeruput kopi hitam originalnya. Rasa pahit dan manis ketika pertama kali menyentuh ujung lidahnya membuat pikirannya sedikit tenang. Tidak sedikit kusut seperti beberapa jam yang lalu. Dalam hati pria ini memuji pilihan minuman sang kekasih ketika dirinya butuh rasa penenang selain kata-kata support---biasanya---dari sosok manisnya.
"Tapi wajahmu tidak bisa membohongiku, Dear."
"Ya?" Raka meletakkan cangkir kopi ke tatakannya. Dahinya mengkerut mendengar ucapan bernada cemas dari sang kekasih.
"Ekspresimu seolah mengatakan kau punya masalah. Adakah yang membuat hatimu kesal?" Naura mencoba menebak. "Barangkali dengan bercerita padaku, bisa mengurangi sedikit beban masalahmu, Dear."
Sosok manis ini tahu benar sifat Raka. Selama mereka menjalin kasih, Raka tidak pernah menunjukkan bila dirinya punya masalah berat padanya. Ia sangat mengerti tujuan sang kekasih tidak pernah menceritakan masalahnya. Tak ingin membuatnya ikut-ikutan cemas terhadapnya.
Tetapi ... bukankah itulah tujuan hidup kita dalam berpasangan? Untuk saling berbagi dalam keadaan sulit, bukan hanya berbagi dalam kebahagiaan saja. Ada istilah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Percuma punya pasangan bila tidak bisa dijadikan teman untuk berbagi pikiran. Percuma bila tidak bisa dijadikan sandaran ketika punya masalah.
Kendati demikian, tidak sepenuhnya Raka selalu menutupi masalah darinya. Adakalanya pria ini bercerita. Mungkin ada hal yang memang tidak perlu Raka ceritakan pada sosok manis ini. Dan Naura menghargai setiap keputusan kekasihnya. Sama seperti yang selama ini Raka lakukan padanya. Selalu menghormati keputusannya.
"Aku siap menjadi pendengar setiamu, lho," sambung Naura dengan senyum menenangkan setelah menyeruput cokelat panasnya.
Raka menggeleng samar. "Tak ada, Baby."
"Benaran nggak ada masalah?" Sekali lagi Naura bertanya. Hatinya seolah tak yakin dengan jawaban sang kekasih. Ia meragukannya.
"Ya, benar."
"Yakin?"
"Yakin."
"Nggak bo'ong?" Naura berkata penuh selidik, bagaikan seorang polisi yang menginterogasi penjahat.
"Benaran, Baby. Sudah tak usah dipikirkan. Bila memang ada yang benar-benar mengganjal hatiku. Aku akan cerita padamu. Karena menurutku ini memang tidak terlalu penting, jadi aku putuskan buat tidak cerita padamu." Raka berkata panjang lebar. Mencoba meyakinkan sang kekasih.
Naura mengangkat bahu. "Ya sudah kalau begitu. Lain kali kalau punya masalah, apa pun itu, cerita padaku ya. Siapa tahu aku bisa membantu, Dear," katanya dengan serius.
"Siap, Nyonya." Raka tersenyum lebar. Mengusap sayang pucuk kepala sang kekasih. Inilah yang disukainya dari sifat Naura. Perhatiannya yang begitu tulus.
Ekor mata Raka melirik ke sekitarnya. Sedikit gugup manakala pandangannya menyapu ruangan. Seolah ada seseorang yang sedang mengintainya saat ini. Dalam diam pria muda ini mengembuskan napas tak kentara. Ingatannya segera melayang pada kejadian siang tadi.
“Kenapa, Sayang? Kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?”
Senyum yang sedari tadi dipertahankan oleh Thesa, kini tak sanggup lagi dia pertahankan, tiba-tiba lenyap entah ke mana. Digantikan dengan ekspresi sedih, marah, dan kaget. Bibirnya bergetar, begitu pula dengan tubuhnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sungguh bukan ini yang ingin didengarnya dari belah bibir Raka.
__ADS_1
“Um ... ini pasti lelucon, kan. Kau marah padaku karena sudah membuat kejutan tadi. Begitu, kan? Kau membalas perlakuanku tadi.”
Ya, pasti begitu. Thesa menatap lekat pria muda di depannya. Sama sekali Raka tidak menatap gadis itu. Ia buang pandangannya ke atas meja. Menatap minuman espresso-nya yang sudah mendingin. Sama seperti hatinya terhadap gadis itu. Selalu dingin.
“Raka. Katakan padaku. Ini pasti kejutan untukku. Kuakui kejutanmu sangat berhasil. Kau berhasil. Wow, lihatlah! Aku mulai menangis.” Kembali Thesa berkata ketika pria muda ini tetap diam.
“Raka. Please, katakan sesuatu.” Thesa mencengkram sendok di tangannya. Sudut matanya mulai berembun.
Raka menggeleng dengan pandangan tidak pernah berubah. Sangat dingin.
“Tidak. Aku serius. Aku ... Raka Earnest Forrester memutuskan hubungan pertunanganku dengan Thesalia Brown. Mulai sekarang dan di masa mendatang, kita tidak ada hubungan apa pun lagi!” tegas Raka. Kali ini ia tatap wajah penuh air mata Thesa.
“Tidak! Ini bohong. Ini pasti mimpi.”
“Maafkan aku.” Raka beranjak dari duduknya. Ia tidak bisa berlama-lama setelah mengucapkan keputusannya. Takutnya akan terjadi hal yang tidak diinginkannya.
“Tunggu Raka! Kau tidak bisa memutuskan pertunangan kita begitu saja. Bagaimana dengan keluarga kita? Rakaaa!”
..............
Maafkan aku, Thesa. Jangan dendam padaku. Aku yakin, Tuhan telah memberikan rencana yang lebih indah untukmu lebih dari ini.
Sekali lagi Raka menghela. Kembali mengingat keadaan Thesa ketika dirinya usai mengucapkan kalimat putus. Bergegas meninggalkan gadis itu yang meraung-raung, sangat tidak menerima keputusannya. Ia sudah bertekad untuk tidak membalik tubuhnya. Mengeraskan hati. Berusaha untuk tidak memperhatikan keadaannya. Bukan karena dirinya menaruh hati pada gadis itu atau mengkhawatirkannya. Tetapi kejadian ini seakan dejavu.
Ya. Ia mengingat kembali kejadian dua tahun lebih itu. Saat dengan teganya meninggalkan Naura untuk bertunangan dengan Thesa atas paksaan ayahnya. Kali ini keadaannya terbalik. Ia meninggalkan Thesa demi Naura. Demi masa depannya. Demi kebahagiaannya. Demi cintanya. Demi wanitanya. Kali ini, takkan ia biarkan ujung panah takdir di tangannya kembali berputar arah.
"Dear, kenapa teleponnya nggak diangkat?" Naura bertanya bersamaan membuka pintu ruang ganti pakaian.
Sosok manis ini telah mengganti pakaian kerjanya dengan gaun tidur berbahan sifon. Tubuhnya terasa segar dan ringan. Sebelumnya, ia telah merilekskan tubuhnya dalam bathtub selama kurang lebih lima menitan.
Ia tidak bisa berlama-lama berendam. Sebab dokter menyarankan ibu hamil agar selalu berhati-hati dalam melakukan aktifitas, termasuk dalam berendam dengan air panas. Takut membahayakan bayinya. Baginya menikmati wangi sabun serta air panas kuku di tubuh berisinya sudah lebih dari cukup untuk menenangkan pikirannya sehabis bekerja. Selain itu menambah kualitas tidurnya, agar sedikit lebih nyenyak.
Ditatapnya Raka yang duduk di ujung tempat tidur tergagap karena suaranya. Ini kedua kalinya Naura memergoki kekasihnya hanya memandangi smartphonenya tanpa mengangkatnya sama sekali. Selama dirinya di dalam kamar mandi tadi. Benda persegi panjang dalam genggaman pria itu selalu berdering.
Sebelumnya juga begitu. Ketika mereka dalam perjalanan menuju ke rumah. Ia pikir di dalam mobil tadi, Raka tidak mengangkatnya karena sedang fokus menyetir. Tapi kali ini?
"Dear?" Sekali lagi Naura memanggil sang kekasih. Beringsut duduk di samping pria yang telah rapi memakai piyama tidur berwarna biru muda bergaris-garis. Piyama pilihannya kemarin siang, ketika bersama Raka hendak pergi ke resto dan tidak sengaja melewati butik yang memajang piyama biru muda bergaris-garis itu.
"Eh. Iya." Raka justeru mematikan benda berdering di tangannya dan meletakkannya kembali ke atas nakas, seolah smartphonenya tidak pernah berdering sama sekali. Hal itu membuat wanita muda ini mengerutkan dahi akan tindakannya.
"Kenapa dimatiin? Bagaimana kalau itu penting?"
"Tidak penting, Baby."
"Jangan begitu, Dear. Angkat dulu. Kalau itu memang tidak penting, takkan terus bernyanyi teleponmu itu."
__ADS_1
"Hn. Tak usah, Baby. Nomornya tidak dikenal. Malas mengangkatnya. Palingan orang iseng." Raka berkilah. Tentu saja itu bohong. Sedari tadi yang meneleponnya adalah Thesa. Buru-buru ia tadi mematikannya. Takut Naura melihat nama Thesa di layar telepon pintarnya.
"Yakin itu orang iseng?" Kembali Naura memastikan. Matanya memicing tajam. Siapa tahu itu memang benaran panggilan penting. Misalnya saja dari keluarganya atau rekan bisnis.
"Yakin, Baby. Sebelumnya sudah kuangkat. Yaaa ... maklumlah. Orang ganteng banyak yang ngincer, he he he."
"Ish. Sombong." Naura memukul dada bidang kekasihnya ketika Raka meraih tubuhnya, mendekapnya begitu erat.
"Well. Itu kenyataan. He he he." Raka terkekeh canggung, berusaha menutupi kegugupannya.
"Dear," panggil Naura dengan nada serius. Ia mendongak, mendapati bola mata Raka yang menatapnya; sama serius seperti dirinya. Pria muda ini hanya diam. Sepertinya menunggu sosok manis ini melanjutkan ucapannya.
Naura menarik napas pendek sebelum mengeluarkan apa yang menjadi pikirannya semenjak beberapa hari ini - saat ia memutuskan untuk menerima Raka kembali dalam hidupnya. Sampai sekarang pertanyaan dalam benaknya belum menemui titik terangnya. Pertanyaan yang selalu menjadi tanda tanya besar dalam benaknya selama dua tahun ini.
"Jujur padaku, Dear."
"Soal?" Raka menaikkan salah satu alis tebalnya.
"Apa yang menyebabkanmu memutuskanku secara tiba-tiba di malam itu? Padahal selama berpacaran, kita tidak pernah bertengkar. Tak ada masalah serius yang memicu hubungan kita retak. Bahkan bila ada masalah kecil kita selalu bisa menyelesaikannya."
Raka diam sesaat. Pertanyaan Naura membuatnya kembali memikirkan kejadian tadi siang. Astaga! Kenapa pertanyaan wanita muda ini begitu tepat sasaran di saat dirinya barusan saja memutuskan pertunangannya dengan Thesa.
Dan haruskah ia jujur?
"Sudah kubilang diawal, aku memutuskanmu karena paksaan orang tuaku. Yaaa, kau sendiri tahu masalahnya, Baby."
"Masalah keturunan," gumam Naura menunduk sembari mengelus perut buncitnya. Ada rasa yang menusuk di hati bila selalu mengingat alasan Raka memutuskannya.
"Ya, itu betul." Raka berdeham kecil, seolah menutupi kebohongan di balik alasannya.
Maafkan aku, Na. Aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu. Aku dipaksa memutuskanmu karena wanita lain. Sungguh. Aku tak ingin kau sakit hati.
Raka menunduk ketika kata hatinya menjerit. Seolah ingin mendesaknya berkata jujur. Tetapi ia tidak sanggup untuk mengatakannya.
“Cuma masalah keturunan? Enggak ada masalah lainnya?” Kembali Naura bertanya, memastikan. Entah mengapa jawaban Raka tidak berhasil memuaskan hatinya.
"Ya, hanya itu. Tak ada yang lain,” jawab Raka setengah ragu. Diraihnya tangan sosok manisnya, lalu menggenggamnya dengan erat.
“Maafkan aku, Na. Kuakui aku salah. Tapi aku memutuskanmu waktu itu karena terpaksa. Daddy memaksaku. Bila aku tak menurutinya, maka Mommy jadi bahan taruhannya. Sungguh aku tak ingin Mommy menderita karena kekeras kepalaanku. Kuharap kau paham dengan alasanku, Na," sambungnya.
Naura diam sesaat. Lalu mengangkat kedua belah bahunya. “Oke, aku paham.” Meski tidak sepenuhnya menjawab rasa penasarannya selama dua tahun ini.
"Sudahlah kita tidur saja, Baby. Sudah malam." Raka segera membaringkan tubuhnya dan Naura. Mendaratkan bibir tebalnya ke dahi sang kekasih. Mengecupnya dengan ringan. Lantas menepuk-nepuk punggung sang kekasih.
“Good night, Baby,” bisiknya. Dalam hati pria muda ini berharap, Tuhan tidak punya rencana buruk lainnya lagi terhadap dirinya dan Naura. Cukup dengan rencana indah saja. Seperti misalnya, dalam waktu dekat menanti kelahiran buah hati mereka dan diteruskan dengan rencana pernikahan; termasuk agenda membeli cincin.
Karena urusanku sudah selesai dengan Thesa, sebaiknya besok aku membawa pulang Naura ke Jakarta, mempersiapkan semua rencanaku.
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.
__ADS_1