![Dear, My Baby [Tamat]](https://asset.asean.biz.id/dear--my-baby--tamat-.webp)
Lama pria paruh baya dengan tinggi 180cm meter itu hanya berdiri mematung, memandangi sosok
perempuan cantik---tertidur lelap di atas tempat tidur rumah sakit---tanpa menghiraukan rasa pegal mulai merayapi kakinya.
Lima belas menit yang lalu pria yang umurnya lebih tua setahun dari Andrew ini baru saja sampai di pulau Jeju. Rasa lelah begitu jelas terlihat dari wajahnya yang tampak kusut. Meski terlihat begitu lelah, Deny tidak tidak menghiraukannya. Rasa lelahnya telah kalah oleh rasa cemasnya. Sepanjang perjalanan pikirannya hanya tertuju pada putri tirinya. Mencemaskan keadaannya.
Sungguh. Meski Thesa bukanlah dari darah dagingnya sendiri, tetapi sudah dianggapnya putri kandungnya. Apalagi bila melihat warna mata Thesa yang begitu mirip dengan warna mata wanita yang begitu dicintainya, Maya Almira Atmajaya, yang telah pergi darinya selama-lamanya. Meninggalkan duka lara yang sampai kini tak sanggup dihapusnya.
Dipejamkan sejenak matanya. Pikirannya mulai berkelana. Sedikit flahsback ke masa mudanya. Tentang kisah cintanya bersama Maya, yang tidak pernah berjalan mulus hingga maut akhirnya benar-benar memisahkan cinta mereka. Ia dan Maya mengalami lika-liku percintaan yang begitu rumit.
Tiga tahun menjalin kasih dengan Maya. Akan tetapi dirinya harus merelakan kenyataan. Dengan berat hati melepaskan sang pujaan hati dinikahi pria lain - akibat status sosial keluarga mereka yang berbeda. Dirinya dari kalangan kelas menengah ke bawah, sementara Maya dari keluarga kaya.
Akibat patah hati dan penolakan keluarga dari sang pujaan hati, membuatnya bertekad untuk memperbaiki ekonominya menjadi lebih baik lagi. Dirinya mulai berjuang dari nol. Hingga akhirnya, delapan tahun kemudian memetik hasil dari jerih payahnya. Ia sukses dengan perusahaan otomotif miliknya sendiri. Tetapi, di tengah kesuksesan yang diraihnya, satu hal yang tidak berubah dalam hidupnya. Ia tetap melajang. Ya. Hatinya terlalu mencintai Maya, hingga tak mampu menghadirkan cinta yang lain di hatinya.
Dan di tengah kesendiriannya. Ia bertemu kembali dengan Maya, dengan kondisi terpuruk. Maya baru saja kehilangan suaminya. Suaminya meninggal dunia akibat kanker. Meninggalkannya tanpa harta. Tanpa berpikir lagi, ia pun menolong Maya. Kemudian mereka berdua memutuskan untuk menikah.
Sayangnya, selama lima tahun mereka menikah, mereka belum dikaruniai seorang anak. Dokter memvonisnya mandul, selamanya tidak akan punya keturunan. Di tengah rasa terpuruknya. Maya memberi tahunya, bahwa sebenarnya Maya punya seorang putri dari hasil pernikahan dengan suami pertamanya, dan kini ditinggalkan di panti asuhan. Singkat cerita, Thesa akhirnya mereka adopsi.
“Papa?”
Deny membuka mata ketika suara lemah memanggilnya, menyadarkannya dari lamunan masa lalunya. Thesa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Papa, hiks ...” Gadis itu segera menghambur kepelukan Deny ketika pria paruh baya itu duduk di sisi tempat tidurnya. Thesa menangis sejadi-jadinya dalam pelukan ayah tirinya.
“Ssst, jangan menangis.”
“Hiks, Raka memutuskan pertunangan kami, Papa. Thesa nggak mau itu. Thesa mau bersama Raka. Hiks,” adu gadis itu.
Deny menepuk-nepuk punggung Theresia, menenangkannya. Pandangannya begitu kosong di tengah ia memikirkan sesuatu.
Tegakah ia membiarkan putri kesayangannya larut dalam kesedihan?
Membiarkannya mengikuti jejaknya di masa muda?
Membiarkannya tidak menikah dengan pujaan hati?
Sekarang apa yang harus dilakukannya?
Deny menoleh ke arah pintu tepat Andrew muncul bersama sang istri - dengan Cathie membawa keranjang buah di tangannya.
“Oh, kau sudah datang Deny.” Andrew tersenyum kaku. Setelah insiden Raka memutuskan pertunangannya dengan Thesa, hubungannya dengan Deny sedikit memburuk. Seperti yang diprediksikannya sebelum datang ke rumah sakit.
“Kami kira kau belum datang.” Cathie menambahkan, seolah ingin mencairkan suasana tegang - ketika kedua pria paruh baya ini hanya saling berpandangan.
“Ya, begitulah.” Deny mengangkat bahu. “Tepatnya, lima belas menit yang lalu baru sampai ke sini,” jelasnya mengembuskan napas pendek. Berusaha untuk tidak terlalu emosional. Bagaimana pun, ia butuh Andrew. Terlebih dalam membantu keuangannya.
“Silakan duduk,” sambungnya mengajak sepasang suami istri itu untuk duduk di sofa.
Andrew menuruti ucapan Deny, sementara Cathie berjalan ke arah tempat tidur Theresia. Meletakkan keranjang buahnya di atas nakas. Baru saja Cathie duduk di sisi tempat tidur, gadis itu telah menyerbunya. Memeluknya sembari menangis.
“Hiks ... Tante, Raka memutuskan pertunangan kami.”
Cathie terdiam. Tak mampu menjawab ucapan Theresia.
“Aku kecewa dengan sikap Raka. Tiba-tiba saja memutuskan pertunangannya dengan Thesa begitu saja.” Deny mengutarakan perasaannya setelah mengalihkan perhatiannya dari Theresia dan Cathie.
Sama dengan Cathie, Andrew pun nyaris tidak mampu menjawab ucapan Deny. “Aku sama sepertimu, Deny. Aku kecewa dengan sikap Raka. Tapi ...”
Andrew menarik napas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. Ditatapnya sekali lagi wajah Theresia. Dalam benaknya ingin ia berkata. Kenapa gadis ini dan ibunya tega membohongi Deny. Tetapi niatnya diurungkan. Tak baik mencampuri urusan orang lain. Lagi pula seperti yang dikatakan oleh Raka, Deny sudah diberi tahunya.
“Mau bagaimana lagi, ini keputusan yang dibuat oleh Raka sendiri. Aku tidak bisa memaksanya,” sambung Andrew mengangkat bahu.
“Termasuk dengan menyakiti hati putriku.” Deny berkata tajam.
__ADS_1
“Aku minta maaf mewakili putraku soal itu.”
“Seharusnya itu tidak terjadi.”
“Ya, sangat disayangkan.” Lagi Andrew hanya bisa mengangkat bahu. “Dan kuharap, Deny. Setelah kejadian ini hubungan persahabatan kita tidak putus sampai di sini.”
🍃Dear, My Baby🍃
“Ya, Tuhan!”
Nyaris Andrew melempar sepatu pantofelnya ke kepala Raka bila tidak mengingat dalam pelukan sang putra adalah sosok wanita hamil yang dicintainya. Andrew takut salah lempar dan justeru mengenai kepala Naura, atau bahkan justeru mengenai calon cucunya. Tidak. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi.
Andrew bukanlah Raka yang jago melempar apa saja tepat pada sasarannya. Diakuinya, di masa sekolah sang putra kesayangannya itu pandai dalam hal olahraga, termasuk basket dan bola kaki adalah olahraga favoritnya.
Bahkan ketika Raka masih dalam pendidikan Junior High School, pemuda itu pernah berkata padanya, bercita-cita menjadi pemain bola kaki. Tetapi dengan keras Andrew menentangnya. Bukan tanpa sebab ia menentangnya. Kalau Raka meniti karier sebagai pemain bola kaki atau pun pebasket, siapa yang akan meneruskan perusahaannya?
“Daddy? Mommy? Kok, cepat sekali pulangnya?” Raka melepaskan dekapannya dari sang kekasih sebelum meninggalkan jejak kecupan di dahinya. Lantas memandang ayah dan ibunya biasa saja.
Sementara sosok manis di sampingnya, wajahnya sudah sangat merah padam. Ingin bumi menenggelamkannya sekarang juga. Selalu begini. Setiap kali bemesraan dengan Raka, selalu dipergoki oleh Andrew dan Cathie. Lima kali mereka bermesraan, lima kali juga mereka dipergoki.
“Kalau Daddy sama Mommy lama di rumah sakit, kau bisa terus-terusan bermesraan, begitukan,” sahut Andrew jengkel sembari membuka mantelnya dibantu sang istri, kemudian duduk dengan penuh wibawa di sofa panjang di seberang dua sejoli ini. Sebelah kaki kanannya bertumpu di atas kaki kiri dengan pandangannya begitu tajam.
“He he he. Daddy tahu saja keinginan anak muda,” cengir Raka.
“Halah, pintar ngeles,” gerutu Andrew menggelengkan kepala. “Kapan kalian akan menikah?”
Raka mengggenggam erat tangan Naura. “Kami sudah sefakat, Dad. Usai Naura melahir---”
“Kelamaan itu. Tunggu apa lagi. Lusa kalian menikah!”
🍃Dear, My Baby🍃
“Tak ada pilihan lain lagi, selain menuruti ucapan Daddy, Baby.”
Naura menengadah mendengar ucapan Raka. Setelah makan siang bersama tadi, mereka kembali ke kamar. Ia berdiri dari sisi tempat tidur, beringsut berjalan menuju pria berambut hitam lebat itu kala barusan keluar dari walk in closet.
Sosok manis ini menghela napas sekilas. Ditatapnya punggung kokoh kekasihnya ketika sedang membelakanginya menghadap cermin, mematut pakaian formal kerjanya. Seharusnya Raka tidak usah masuk kerja dulu seperti dirinya. Sayangnya, sekretarisnya barusan meneleponnya. Memberitahukan ada rapat penting yang tidak bisa ditunda siang ini.
“Ya, kurasa juga begitu, Dear.” Naura akhirnya berkata setelah memutar tubuh atletis Raka, membantunya memasangkan dasi berwarna silver ke leher jenjangnya.
“Kau tak suka dengan keputusan, Daddy, Na?” tanya Raka serius. Ditatapnya begitu lekat wajah sosok manis-nya. Dirinya tidak bisa menebak ekspresi wajah datar tak terbaca itu. Apakah senang ataukah tidak.
“Jujur, Na. Bila kau keberatan dengan keputusan Daddy, aku bisa membicarakannya kembali dengan Daddy,” tambah Raka. Baginya, kebahagiaan kekasihnya jauh lebih utama di atas segala-galanya.
Naura menggeleng. “Enggak usah, Dear. Keberatan atau tidak, tetap sama saja bagiku,” jawabnya sambil menggembungkan pipi.
Teringat ucapan Andrew beberapa saat yang lalu. Pria paruh baya itu menginginkannya dan Raka segera melangsungkan pernikahan mereka seminggu kemudian - tanpa ada bantahan sama sekali. Urung sudah rencananya untuk menikah setelah melahirkan. Bahkan mereka pun melaksanakan pernikahan di pulau Jeju sebelum kembali ke tanah air.
“Selesai.” Naura tersenyum lebar setelah berhasil memasangkan dasi. Kini penampilan Raka tampak makin rapi dan berwibawa dengan dasi silver itu terpasang apik di lehernya.
“Ih, kenapa ketawa.” Naura meninju lengan berotot Raka kala menyadari pria muda ini terkekeh geli.
“Perasaan enggak ada yang lucu, deh,” sambung sosok manis ini cemberut. Sudut matanya menatap ke arah lain. Tak berani menatap langsung ke iris abu-abu yang selalu berhasil membuat degupan jantungnya menjadi tidak seirama.
Raka menghentikan kekehannya. Mengangkat rahang Naura, hingga kedua netra mereka saling bertemu pandang. Dielusnya dengan penuh kasih sayang kedua belah pipi putih dan berisi wanita muda ini. Di atas pipi yang sehalus kulit bayi itu bermunculan pendaran merah muda, mulai menari-nari liar di balik sentuhan jemarinya.
“Hum, ternyata keputusan Daddy ampuh juga menundukkan keputusanmu itu, Na. Coba saja dari dulu aku membawamu ke hadapan Daddy. Sudah lama kau menjadi Nyonya Forrester, tentunya tanpa ada bantahan atau pun ancaman,” sindir halus Raka sembari mengingat ancaman Naura ketika dirinya memaksa untuk menikahinya sesegera mungkin.
“Heh, itu maunya kamu.” Naura memutar bola mata.
“He he he.” Raka tergelak puas. Rasanya ia menang atas keputusan kekasihnya kala itu.
“Ih, enggak usah ketawa berlebihan begitu juga, Dear. (︶︿︶)” Naura berkata sewot.
“Ya. Ya. Ya.”
__ADS_1
Sosok manis ini mengerjap ketika jemari Raka beralih menyentuh bibirnya. Aliran darahnya semakin meningkat tajam manakala lambat laun pria bermata bulat ini menundukkan kepala. Wajah mereka saling berhadapan. Hidung mereka saling bersentuhan, ketika jarak di antara mereka makin menipis. Sosok manis ini memejamkan mata saat bibir penuh Raka mulai menyentuh bibirnya. Menciumnya begitu lembut.
Naura menghitung mundur angka di dalam kepala. Tepat angka ke enam puluh, dicubitnya perut berotot Raka. Mengisyaratkan untuk menyudahi ciuman mereka. Ia butuh oksigen untuk memenuhi ruang di paru-parunya.
“Cukup, Dear.” Naura meletakkan jarinya di atas bibir Raka, ketika pria muda ini berniat melanjutkan kembali ciuman mereka.
“Kerja dulu gih, cari uang yang banyak buat modal kawin.” Seloroh Naura memperingatkan. “Lagian, malu kalau kepergok terus-terusan sama Mommy dan Daddy.” Cepat diliriknya pintu kamar yang tertutup rapat. Takut, tiba-tiba pintunya terbuka lebar.
“Oke,” jawab Raka dengan berat hati seraya mengembuskan napas sangat panjang.
“Dear.”
“Ya?” sahut Raka ketika dirinya tengah menyisir rambut. Mengerling sekilas pada sang kekasih; tengah membereskan handuk di atas kursi di sampingnya.
“Pulang kerja nanti kita kembali menemui kak Tere. Mau, ya, ya,” pinta Naura memelas. Sungguh, di balik kebahagiaan yang dirasakannya saat ini, masih terselip rasa cemas untuk Theresia.
Untuk kedua kalinya Raka mengembuskan napas panjang. “Baby, bukannya aku tak mau menemani atau melarangmu menemui Theresia. Tapi, bila mengingat sikapnya kemarin sore, aku riskan untuk membawamu ke sana.” Raka mengaku jujur.
“Aku takut kau kembali kecewa akan sikapnya,” imbuh pemuda ini sembari meletakkan sisir ke atas meja rias. Kemudian memasangkan jam tangan Patek Philipe di pergelangan tangan kanannya. Kini, penampilannya semakin sempurna sudah dengan jam tangan koleksinya.
Naura menggigit bibir. Menunduk menatap ujung jari kakinya yang gembul-gembul. Hatinya berdesir halus bila mengingat sikap kasar Theresia.
“Ssst! Tidak usah dipikirkan.” Raka meraih tubuh berisi sosok manis-nya dan mendekapnya. “Kita diamkan saja dulu selama tiga hari ini, sampai hatinya benar-benar tenang. Lagian, Baby. Ada Mr. Brown di sisinya. Jadi, kau tak perlu cemas. Oke.”
“Huft! Kuharap juga begitu, Dear.”
“Satu lagi.” Raka melepaskan dekapannya saat dirasa sang kekasih sudah mulai tenang.
“Ya?”
“Dalam seminggu ini kita berdua akan disibukkan dengan persiapan pernikahan kita. Jadi, kumohon ... jangan membuatmu lelah berpikir sendiri. Oke, Baby.”
“Ya, kau benar, Dear.” Naura mengangguk kecil. Apa yang diucapkan Raka ada benarnya. Sebaiknya fokus untuk persiapan pernikahan mereka. Meski pun waktunya begitu mepet, setidaknya ia harus mempersiapkan pernikahannya sebaik mungkin.
Bagaimana pun juga, pernikahan mereka akan dilaksanakan sekali seumur hidup. Pernikahan yang akan menjadi moment paling dikenang sepanjang sejarah hidupnya dan Raka. Pernikahan yang akan menjadi saksi atas menyatunya cinta mereka yang berliku ini. Pernikahan yang akan diceritakannya dengan bangga pada anak-anak mereka kelak.
“Termasuk tidak usah bekerja,” tambah Raka lagi.
“Aku mengerti. Tapi ... sepertinya, aku harus mengabari atasanku dulu, deh.”
“Untuk?”
“Izin kerja,” jawab Naura polos.
“Kok izin kerja?” Raka menautkan kedua alis tebal hitamnya.
Naura menepuk dahinya. “Eh, iya juga ya, Dear. Bukankah kau sudah mengizinkanku liburan semingguan ini sama atasan.”
Teringat kemarin malam, sebelum terjadinya insiden kedatangan Theresia, Raka berencana mengajaknya liburan ke Indonesia dan telah menelepon atasan dari atasannya untuk meminta cuti.
“Bukan itu, Baby. Maksudku, tidak usah izin kerja lagi. Sekalian saja langsung minta resign dari perusahaan. Bukankah janjimu waktu itu akan berhenti bekerja bila sudah menikah? Kuulangi lagi, Baby, bila kau lupa.”
“Iya, deh. Bukan izin, tapi langsung resign.” Naura mengoreksi ucapannya. Ia mencebik bila mengingat janjinya pada Raka. Dan dirinya harus merelakan tidak bisa kembali bekerja dan berkumpul dengan rekan-rekan kerjanya lagi.
“Nah, gitu dong. Mulai sekarang persiapkan diri sebaik mungkin jadi calon ibu dan istri yang baik buat Abang. Ok--- hey, hey. Abang belum selesai bicara, Baby.” Protes Raka ketika Naura menghindarinya.
“Iya. Aku dengar kok. Tapi nggak usah juga cari-cari kesempatan begini.”
“He he he. Tahu saja kalau Abang mau nyosor bibirmu.”
“Aih. Dasar kodok sawah mesum. 💢”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
__ADS_1
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.