Dear, My Baby [Tamat]

Dear, My Baby [Tamat]
32| Balikan


__ADS_3



Kelopak yang terpejam erat itu tiba-tiba saja terbuka lebar, menampakkan iris indah di dalamnya. Iris yang mampu membuat lawan jenisnya akan terpikat untuk pertama kalinya, dan susah untuk berpaling ke lain lagi. Iris itu juga yang pertama kalinya membuat Raka terpesona pada pertemuan pertamanya pada sosok manis ini, membuat debaran jantungnya meningkat tajam kala bertemu pandang, membuat dunia pria itu hanya berpusat pada sosok manis ini seorang.


Naura mengerjap, membiaskan cahaya kamar terang benderang pada retinanya. Dahinya berkerut samar manakala menyadari dirinya berada di tempat asing. Ini bukan kamarnya. Seketika ia membeliak. Baru sadar ini kamar Raka. Sebelumnya ia datang kemari membawa bubur hangat. Lalu mengompres dahi pria itu yang suhunya sangat panas. Kemudian sambil menunggu buburnya dingin dan suhu tubuhnya menurun, dia melakukan ....


Astaga! Naura melotot. Faktanya ia ketiduran. Cepat ia bangun dari baringannya. Tunggu. Sosok manis kembali mengernyit. Perasaan dirinya duduk di samping tidur Raka. Lalu sekarang ... kenapa bisa dia tidur di tempat Raka? Dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya? Lalu ke mana Raka? Bukankah tadi pria itu yang berbaring diposisinya sekarang?


"Sudah bangun?"


Iris Naura langsung menuju ke sumber suara di sudut ruangan dengan cahaya tetap dibiarkan temaram. Dilihatnya Raka menikmati bubur buatannya. Pria itu tampak begitu lahap dan matanya berbinar-binar bahagia, seolah anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru dari ayahnya di hari ulang tahunnya.


Entahlah. Apakah itu efek dari cahaya lampu temaram dengan mengandalkan cahaya bulan---bersinar terang di balik jendela yang terbuka lebar---hingga wajah Raka terlihat sangat tampan bak pahatan wajah dewa-dewa mitologi yunani di kerajaan olimpus. Sosok manis ini tertegun sejenak, terbius akan pemandangan indah itu.


"Sudah berapa lama aku ketiduran?" Naura mengelus kepalanya sembari menutup kuapnya. Menyeret langkahnya yang terasa berat ke arah sofa di mana Raka berada dan duduk bersebarangan tidak jauh dari pria itu.


Saat kembali melihat wajah Raka, sosok manis ini buru-buru menundukkan kepala menatap lantai---berusaha menyembunyikan wajahnya yang tanpa diundang memerah tomat---manakala mengingat pria ini yang telah menggendongnya ke atas tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya.


"Tidak lama," sahut Raka setelah menyelesaikan suapan terakhir bubur di mangkuknya. Habis tak bersisa. Sepertinya pria ini benar-benar kelaparan.


"Buburnya pasti sudah dingin." Naura berkata dengan pandangannya tertuju pada mangkuk kosong di atas meja. Samar sudut bibirnya sedikit terangkat, tersenyum tipis kala melihat buburnya ternyata masih dimakan oleh pria ini.


"Tidak juga. Masih tetap hangat." Raka berkata jujur sembari mengangkat bahu.


"Um ... bagaimana denganmu. Sudah merasa baikan?" tanya Naura sedikit gugup.


"Ya. Sangat lebih baik dari sebelum kamu datang kemari." Raka menjawab jujur. Berkat kehadiran sosok manis ini, rasa sakit yang menggelayutinya selama semingguan ini pergi entah ke mana. Ajaib bukan. Dengan kehadiran wanita muda ini saja sudah membuat perubahan besar dalam hidupnya. Ia jadi teringat ketika dirinya menghakhiri hubungannya dengan sosok manis ini. Dunianya jadi kacau seketika. Terasa tak sanggup lagi menjalani hari-hari ke depannya.


"Oh." Naura berkata pendek. Tak bisa menyembunyikan rasa lega di hati sembari mengelus perut buncitnya. Sepertinya sang jabang bayi juga senang mendengar ucapan dari belah bibir calon ayahnya. Mungkin. Siapa tahu. Hati orang siapa yang bisa menebak. Hanya sang pemilik alam semesta-lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


Setelah itu, terjadi keheningan panjang mengisi cela di antara kedua insan manusia ini. Keduanya seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Membiarkan jarum jam berdetak nyaring bagaikan suara penyanyi wanita solo yang menghibur fansnya di kamar temaram ini, dengan latar suara dari angin yang berembus pelan mengiringi.


"Na." Raka berujar dengan suaranya yang serak, berhasil memecah keheningan di antara keduanya.


"Y-ya?" Lagi Naura berkata gugup. Entah mengapa. Mendengar suara bass milik Raka jantungnya berdetak tak karuan. Apa mungkin efek dari semingguan ini tidak mendengar suara pria ini di sekitarnya?


Raka menggeser duduknya, lebih mendekat pada sosok manis-nya. Ditatapnya lekat wajah manis Naura dalam bayangan temaram. Tidak jauh berbeda dari wanita muda ini rasakan. Dada pria ini pun berdebar-debar tak karuan manakala menatap wajah mempesona Naura yang bagaikan salah satu bidadari surga dunia.


"Terima kasih sudah mau datang ke sini," ucap Raka setelah mampu mengendalikan detak jantungnya. Untuk mengalihkan debaran di dadanya, pria ini mengusap sudut bibir sensualnya dengan mata elangnya tiada henti menatap sosok manisnya. Seolah takut wanita hamil ini akan menghilang dalam sekejap mata dari pandangannya.


Dan Raka tak perlu bertanya darimana sosok manis ini tahu dirinya sakit. Sudah tentu itu dari Neil. Padahal, sudah dia peringatkan pada dokter muda itu untuk tidak berkata apa pun tentang sakitnya ini. Kendati demikian, ia sangat bersyukur Naura mau kemari. Dilihat dari sikapnya ini, sosok manis ini masih menyimpan rasa peduli padanya, bahkan mungkin masih menyimpan rasa cinta padanya. Mungkin. Sangat berharap begitu.


"Um ... sama-sama." Naura menjawab hampir berbisik. Suaranya nyaris tenggelam oleh debaran jantungnya. Wajahnya makin memerah. Samar sosok manis ini menelan air liur manakala pandangan Raka terlalu intens padanya, membuatnya merasa terintimidasi oleh aura dominannya.


"Terima kasih bubur hangatnya. Kau tahu? Sudah dua hari ini aku tidak makan." Raka berkata jujur.


"Astaga! Kenapa enggak dirawat di rumah sakit saja?"


Raka menggeleng cepat. "Kau sudah tahu sifatku. Aku paling malas dirawat di rumah sakit."

__ADS_1


"Tapi, seenggaknya ada yang merawatmu."


"Ya, kuakui itu. Kupikir tadinya demamku hanya biasa saja. Palingan minum obat dan besoknya sudah sembuh lagi."


"Dan ternyata itu enggak. Dasar keras kepala," sambung Naura cepat dengan wajah cemberut. Raka hanya mengangkat bahu.


"Jangan diulangi lagi. Bagaimana kalau demamnya semakin parah?"


"Ya. Ya. Aku mengerti. Takkan kuulangi lagi."


"Katanya punya pacar. Kenapa enggak minta dirawat dia saja." Saat menyebut kata pacar. Dada Naura terasa sangat sesak mengatakannya. Seolah dirinya terjebak di ruangan sempit tanpa ada oksigen untuk dihirup.


Raka terdiam sesaat. Pacar? Tentu saja ia tidak punya. Kalau tunangan ia punya. Tetapi itu bukan keinginannya. Dan sebentar lagi dirinya pun akan memutuskan pertunangannya bila kembali ke Indonesia.


Raka tertawa ambigu. "Pacar? Kalau punya, sudah tentu aku tidak akan sendirian di sini, Na."


"Tapi kau bilang waktu itu, ada seorang wanita yang ke sini, itu apa?" Naura berkata polos. Ia masih ingat jelas, saat itu Raka mengatakan ada satu-satunya wanita yang pernah menginjak rumah ini.


Raka semakin tertawa geli. "Oh, yang waktu itu, ya. Kau masih mengingatnya dengan baik, heum."


"Iya."


"Kau percaya dengan ucapanku waktu itu?" Raka menaik turunkan sebelah alisnya. Sudut bibirnya tersenyum semakin nyata. Seakan memberi kode pada sosok manis ini bahwa semua itu hanya bualannya saja. Padahal, memang tidak ada satu pun wanita di rumah. Sekali pun itu tunangannya. Kecuali, Naura.


Melihat senyuman menari-nari di belah bibir Raka, membuat Naura melotot. Lagi-lagi, ia dikerjai oleh pria ini.


"Yak, kodok sawah. Kau menipuku?”


β€œBenar-benar deh kamu. Errr ..." Naura mengambil bantal sofa. Beranjak dari duduknya dan menuju sofa panjang tunggal di mana Raka yang tergelak-gelak puas melihat ekspresi bodohnya. Segera ia pukul pria ini dengan bantal sofa.


"Aduh, Na. Hentikan. Sakit, ah." Raka berpura-pura mengaduh kesakitan ketika sosok manis ini memukulnya walau sama sekali dirinya tak menghindar. Ia biarkan saja begitu, sampai hati perempuan hamil ini puas.


"Aih, menyebalkan." Naura mencebik setelah tidak punya tenaga lagi untuk memukul tubuh Raka. Ia kembali duduk dengan kedua tangan bersilang di dada.


"Sebenarnya perempuan yang kumaksud waktu itu kamu, Na."


"Eh?" Naura mengerutkan dahi tidak percaya.


"Kamulah satu-satunya wanita yang pernah menginjak rumah ini." Raka memperjelas ucapannya sembari menggeser duduknya semakin dekat ke wanita muda ini.


"Jangan bo'ong lagi. Nanti hidung kamu makin panjang kek pinokio, tauk." Naura mencibir. Meski rona kemerahan berhasil menari-nari di wajah putih mulusnya - terprovokasi akan ucapan pria itu.


"Tidak. Aku serius, Na." Raka berucap tegas. "Kamulah satu-satunya wanitaku. Kau percaya padaku?"


Naura tertunduk sembari memilin jarinya. Seperti sihir, ia mempercayai apa yang diucapkan pria ini. Samar ia pun mengangguk, membuat Raka tersenyum senang dan menarik napas lega.


"Na, untuk kali ini saja. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku janji takkan mengecewakanmu lagi."


Naura terdiam. Tak mampu untuk menjawab apa. Jujur. Ia mulai menerima pria ini kembali ke sisinya. Tapi di sisi lain hatinya, masih ada rasa takut menghantuinya.


"Na, aku tahu apa yang membuatmu bimbang." Raka meraih tangan Naura dan menggenggamnya begitu erat. Meyakinkan sosok manis ini. Tak ada yang perlu ditakutinya lagi. Pria ini menarik napas sebentar, sebelum kembali melanjutkan ucapan seriusnya.

__ADS_1


"Hatimu bimbang sebab kamu belum berdamai dengan masa lalumu itu." Raka menyinggung soal masa kecil Naura yang sangat menyakitkan untuk diingat kembali. "Cobalah untuk mengikhlaskan semuanya. Aku tahu itu sakit. Tapi ... ini demi kedamaian hatimu sendiri. Agar kau tidak lagi dihantui rasa takut dan tak menjadi traumamu terus-menerus."


"Tapi ..." Naura tak sanggup lagi untuk melanjutkan ucapannya kala terlintas punggung dingin ibunya dan Theresia yang meninggalkannya disaat hujan deras. Tanpa diundangnya, cairan bening telah menggenang di pelupuk mata indahnya. Segera Raka meraih tubuh berisinya kala air mata sudah tak sanggup lagi dibendungnya, mendekapnya begitu erat. Ia terisak di dada bidang Raka.



Raka mengembuskan napas. Hatinya sakit bila sosok manis-nya menangis pilu seperti ini. Berkali-kali ia mengecup puncak kepala wanita muda ini sembari mengelus punggungnya.


"Ssst! Jangan menangis lagi. Aku janji takkan seperti ibumu yang meninggalkanmu sendirian. Aku akan selalu ada di sisimu, Na." Raka berjanji dengan segenap jiwa raganya.


Naura menengadah, menatap rahang tegas Raka di atasnya dari balik pandangannya yang memburam oleh air mata. "Janji?" ujarnya di sela-sela isakannya.


"Janji." Raka berkata tegas. Menatap lekat ke arah bola mata Naura.


"Awas kalau bohong, kusumpahin kamu makin tampan."


"Siap." Raka terkekeh geli, semakin erat memeluk sosok manisnya. Setelah lima belas menit berlalu hanya saling berpelukan tanpa berbicara lagi. Seolah membiarkan jalinan waktu mengisi cela di antara mereka berdua. Menghayati detik demi detik sentuhan kulit lawan masing-masing. Akhirnya---dengan enggan---Raka melepaskan pelukannya bersamaan malam semakin menjelang.


"Jadi, kau ingin kembali padaku dan kita menikah?" ulang Raka lagi, meyakinkan dirinya sendiri. Disekanya jejak-jejak air mata di pipi sosok manis-nya, lantas menambatkan ciuman ringan di dahinya.


"Ya, aku mau kembali padamu, tapi ..." Naura menarik napas dalam, dengan pelan diembuskannya. "...soal menikah nanti saja."


"Kenapa?" tanya Raka tak mengerti. Sedikit kecewa sosok manis ini belum mau dinikahinya. Akan tetapi, ia tetap bersyukur sosok manis ini mau kembali lagi padanya.


"Kita menikah setelah aku lahiran saja, ya."


Raka mengerang mendengar alasan Naura. Cukup masuk akal. Tetapi ... ia sudah tidak sabaran untuk menjadikan sosok manis ini miliknya seutuhnya. Terutama menandai pada saingannya, bahwa sosok manis ini telah sah menjadi miliknya.


"Kurasa enggak lama juga kok menunggunya. Kandunganku sudah enam bulan. Kurang lebih tiga bulan lagi kau menungguku," jelas Naura. Ia tahu pria ini keberatan akan keputusannya. Tapi mau bagaimana lagi. Ini keinginannya.


Raka mengembuskan napas berat. "Tap---"


"Enggak ada tapi-tapian. Pokoknya h-a-r-u-s. Harus. Atau kau pilih kita tidak menikah sama sekali."


"Andwae (jangan)." Raka menjerit dengan mata melotot hingga membuat sosok manis ini tersenyum menahan tawa geli. "Fine. Aku setuju. Setelah kau lahiran, kita langsung menikah, tidak boleh ditunda lagi."


"Oke." Naura mengangguk mantap.


Samar Raka menghela napas sembari menjalin tangannya bersama sosok manis-nya. Dalam hati pria ini menyetujui rencana Naura. Sebenarnya Raka memang ingin segera kembali ke Jakarta, tetapi karena terhalang dirinya sakit selama seminggu ini, akhirnya rencananya pun ditunda.


Huft. Mungkin ada benarnya juga kami menikah setelah Naura melahirkan. Dengan begitu aku punya waktu menyelesaikan masalahku dengan Thesa.



Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya πŸ€—πŸ˜‰, oke πŸ‘.


Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya πŸ€—πŸ’œ.


γ€€


γ€€

__ADS_1


__ADS_2