
Matahari begitu terik siang itu, bahkan awan yang menghiasi langit bisa di hitung jari, entah kemana perginya yang lain. Angin berembus membawa sedikit kesejukan di sela panasnya suhu di kota itu.
Kerudung panjang yang menjadi simbol ketaatan Aisyah melambai kesana kemari oleh terpaan angin, namun berbeda dengan sang pemilik kerudung yang justru diam bagaikan patung.
Dua bola mata indahnya terpaku pada sosok yang sangat familiar di hadapannya. Sosok yang pernah mengisi hidupnya, bahkan sosok yang pernah mengisi hatinya.
Tanpa kata, tanpa air mata, wanita itu menatap dengan ekpresi datar. Namun hatinya bergemuruh. Rasa sesak kembali menghampirinya, tapi sekuat tenaga ia menahannya agar tidak terlihat oleh siapa pun yang berada di sana.
"Aisyah," panggil pria itu.
Sekali lagi, suara itu mampu membuat dunianya kembali berputar ke masa lalu yang begitu menyakitkan dan menyiksa psikisnya.
"Aisyah," ulang pria itu karena sang pemilik nama hanya bergeming.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aisyah setelah terdiam beberapa saat untuk menormalkan gejolak amarah dan kesedihan yang kembali merangkul hatinya.
"Aisyah, a-aku, aku ingin minta maaf atas semua kesalahanku 2 tahun yang lalu, aku salah," aku pria yang ternyata adalah Zaid, sang mantan suami yang pernah memberikan kebagahiaan sekaligus menorehkan luka di hati wanita bercadar itu.
"Untuk apa? Itu sudah berlalu 2 tahun yang lalu." Aisyah membuang muka setelah tersadar 100% dari lamunannya.
"Aisyah ..."
"Pergilah, sudah tidak ada yang perlu dimaafkan," usirnya sebelum pria itu menyelesaikan kata-katanya.
Aisyah segera berbalik dan berjalan meninggalkan Zaid yang masih terdiam di tempatnya dengan tatapan sendu dan penyesalan. Segera ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rapat.
Langkahnya terhenti saat telah berada di balik pintu, tubuhnya merosot ke lantai, tiba-tiba ia kembali merasakan sesak di dadanya. Berkali-berkali ia memukuli dadanya untuk mengurangi rasa sesak itu, tapi semua hanya sia-sia.
Tubuhnya kini begetar, wajahnya berubah pucat, bahkan matanya seketika terasa panas, dan perlahan air mata luruh membasahi pipihnya.
"Astaghfirullah, Aisyah kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu Lina yang sembari berjalan ceoat menghampirinya karena merasa khawatir.
Namun, tidak ada jawaban dari Aisyah, yang ada hanya suara isakan yang berusaha ia tahan tapi masih lolos walau hanya sedikit.
"Aisyah, katakan pada ummi, kenapa tiba-tiba kami seperti ini?" tahya Ibu Lina kembali dengan nada khawatir.
"Ummi, dia datang lagi," ucapnya sesenggukan.
"Siapa, Nak?" tanya Ibu Lina yang tidak mengerti maksud perkataan putrinya itu.
"Mas Zaid, Ummi," jawab Aisyah.
__ADS_1
"Apa? Zaid? Dimana dia?" tanya Ibu Lina, dan Aisyah hanya menjawab dengan menunjuk ke depan rumah.
Ibu Lina langsung berdiri dan melihat keluar melalui jendela, tapi tak menemukan satu orang pun orang di halaman rumahnya saat ini.
"Dia tidak ada, Nak," ujar Ibu Lina kembali berjongkok di hadapan Aisyah.
"Mugkin dia sudah pergi, Ummi. Aisyah tadi mengusirnya," ujar Aisyah yang kini telah berhenti menangis namun masih tampak pucat.
"Bagus, Sayang, kamu harus tegar menghadapi orang seperti itu, sekarang biar Ummi bantu kamu istriahat di kamar, kamu terlihat pucat, Nak," ujar Ibu Lina lalu membantu Aisyah berjalan ke kamarnya.
Setelah membantu Aisyah berbaring di tempat tidurnya, Ibu Lina bergegas keluar, ia ingin memberi waktu kepada putrinya untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
Aisyah menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih, matanya sembab tapi tidak lagi mengeluarkan air mata. Namun, setiap kali mengingat pria itu, rasa sakit akan perlakuan pria itu kembali menghampirinya.
Padahal sudah lebih dua tahun berlalu, kenapa rasa sakitnya masih begitu terasa?
Perlahan Aisyah memejamkan matanya, berharap semua yang ia hadapi tadi bisa segera ia lupakan.
⚓⚓⚓
Keesokan harinya, usai mengantar Khaira ke sekolah, Akmal mengantar Zafran ke bandara. Ya, hari ini adalah jadwal keberangkatan Zafran ke Singapura.
"Aku berangkat dulu, Mal. Aku titip Khaira dan Mama, doakan aku agar pengobatanku berjalan lancar," pamit Zafran.
"Iya, Bang. Cepatlah sembuh dan kembali ke sini, semoga Allah memudahkan semua urusan kita," ujar Akmal sembari menepuk pundak Zafran.
Zafran kini berjalan memasuki bandara, sementara Akmal segera meraih ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Halo, David," ucap Akmal setelah sambungan teleponnya di angkat.
"..."
"David, dia sudah berangkat, tolong pantau dan kabari setiap perkembangannya kepadaku," pinta Akmal kepada seseorang yang bernama David itu.
Setelah perbincangan mereka yang begitu singkat, Akmal segera mengakhiri teleponnya lalu melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Pria itu berjalan dengan langkah lebar memasuki kamarnya. Namun, perhatiannya langsung tertuju pada secarik kertas yang berada di atas nakas.
Namanya Mawar, temuilah dia pukul 10 nanti di Restoran XX. Dia adik temanku, dress codenya baju kemeja putih celana hitam. Dari abang sepupumu yang tampan, Zafran.
"Ck, apa-apaan ini? Dia benar-benar melakukannya. Dasar pria tua, bukannya fokus dengan pengobatannya, ini malah sibuk jadi pak comblang, dan apa lagi ini? Pake dress code segala, norak banget, hitam putih lagi, memangnya dia pikir aku mau nyari kerja apa?" decak Akmal dengan mulut yang sudah berkomat-kamit karena merasa kesal lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Tangannya terangkat menutupi wajahnya. "Di mana kelak hatiku akan berlabuh? Duhai Allah, sungguh rahasiamu tak akan ada yang bisa menebaknya. Kapan? Di mana? Siapa? Bagaimana pun ceritanya, ku pasrahkan semuanya kepadaMu, ampuni hamba karena telah jatuh di tempat yang salah, kuatkan hati ini agar mampu bangkit dan menjauh dari tempat itu." Akmal berbicara dengan suara pelan.
Pria itu melirik ke arloji di tangannya yang telah menunjukkan pukul 09.40.
"Astaga, ternyata aku harus bertemu seseorang," ucapnya lalu bangkit dan mencari pakaian yang sesuai dengan permintaan kakak sepupunya itu.
Dan di sinilah ia sekarang, berada di dekat pintu masuk Restoran XX dengan mengenakan pakaian hitam putih seperti orang yang ingin melamar kerja, tapi sangat terlihat tampan. Apalagi lengan kemejanya yang panjang sedikit ia gulung ke atas sehingga menampakkan sedikit lengannya yang di penuhi urat dan otot.
Pandangannya menyisir ke segala arah di dalam restoran yang mulai terlihat ramai, hingga ia melihat seorang wanita yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Sepertinya itu dia," monolog Akmal lalu berjalan dengan membawa muka datarnya.
"Halo, Akmal yah?" tanya wanita berhijab modis itu.
"Iya," jawabnya singkat sembari mendaratkan bokongnya di kursi tepat di hadapan wanita itu.
"Kenalin, aku Mawar," ucap nya sembari mengulurkan tangannya ke arah Akmal dan di sambut singkat oleh Akmal.
Keduanya pun mulai saling berbincang. Dan yang menjadi pembicara kali ini adalah Mawar, sementara Akmal menjadi pendengar, ia hanya berbicara sesekali dan seperlunya saat di tanya.
Hingga 15 menit pun telah berlalu, Akmal merasa lega karena pertemuan mereka hanya memakan waktu yang sangat singkat. Jangan tanyakan siapa yang meminta bubar terlebih dahulu, sebab sudah bisa di pastikan jawabannya adalah Akmal.
Kini ia sudah berada tidak jauh dari sekolah Khaira, meski belum waktunya jam sekolah berakhir, tapi pria itu memilih langsung menunggunnya sebab ia malas untuk bolak-balik ke rumah lagi.
Tak lama kemudian, terlihat anak-anak sekolah mulai berhamburan keluar dari kelas mereka. Begitu pun Khaira yang berjalan bersama Aisyah menuju ke depan gerbang sekolah seperti biasa.
Akmal sejenak terdiam memandangi wanita bercadar itu dari kejauhan. "Astaghfirullah, sadar dong Mal, dia punya Abang kamu," ujar Akmal menyadarkan dirinya sendiri.
Akmal hendak menjalankan mobilnya ke arah gerbang di mana mereka berdiri, tapi tiba-tiba ia menangkap sosok seorang pria yang sedang memandangi kedua wanita itu tidak jauh dari posisinya saat ini.
"Siapa dia?"
-Bersambung-
Assalamu 'alaikum.
Apa kabar kakak semua? Maaf yah kemarin Author tidak up dulu karena fokus revisi PUEBI dari novel ini. Untuk kakak yang menemukan kesalahan PUEBI atau typo dalam episode ini sampai seterusnya tolong beri tahu Author yah, soalnya Author masih belajar 😊.
Oh iya, happy reading, mohon tinggalkan jejak like dan komen serta hadiahnya yah agar Author selalu semangat untuk berkarya, meski belum pemes 😅.
Terima kasih kakak-kakak, love you all 🥰
__ADS_1