Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kembali ke Kapal?


__ADS_3

Akmal keluar dari ruangan dengan membawa barang-barangnya saat beberapa pegawai sedang mengikuti rapat, termasuk Zafran.


"Akmal," panggil seorang wanita, membuat langkah kaki pria itu terhenti.


Wanita berpakaian modis dan seksi itu kini mengahmpiri Akmal. "Aku bisa membantumu agar kembali bekerja di sini, bahkan aku akan membuatmu memiliki jabatan yang tinggi di perusahaan ini, asal kamu mau memenuhi syaratnya."


Akmal bergeming di tempatnya, ia bahkan tak sudi melihat ke arah wanita di sampingnya itu.


"Jadikan aku istrimu, tidak masalah jika hanya menjadi istri kedua, karena dengan begitu aku pun sudah begitu bahagia bisa kembali bersamamu," ujar wanita itu pelan.


Akmal tertawa sumbang mendengar permintaan wanita yang tidak lain adalah Via. "Aku bahkan lebih memilih dipecat daripada harus menduakan istriku. AKU SANGAT MENCINTAI ISTRIKU dan untuk alasan apa pun, aku tidak akan menduakannya." Akmal menekan kata-katanya tanpa menatap ke arah Via lalu kembali melangkah meninggalkan wanita itu tanpa menoleh lagi, membuat Via mengepalkan tangannya kuat karena begitu kesal.


-


Mobil yang dikemudikan Akmal kini tiba di halaman rumahnya yang sudah kosong sebab Aisyah sudah pergi ke sekolah. Pria itu melangkah gontai dan merebahkan tubuhnya sejenak di atas sofa ruang keluarga.


"Maafkan aku Aisyah, aku bukan pemimpin yang baik, aku bahkan sudah jadi pengangguran saat ini," ucapnya lesu.


Tak ingin tinggal diam dalam keterpurukan, Akmal membuat beberapa surat lamaran kerja untuk ia ajukan ke beberapa perusahaan yang sedang mencari lowongan. Pria itu melepas jasnya lalu melajukan mobilnya menuju ke beberapa perusahaan tersebut.


Namun, hingga sore hari, ia masih tak kunjung menemukan perusahaan yang ingin menerimanya, dan semua perkataan mereka hampir sama, "kenapa tidak mengajukan lamaran ke perusahaan yang bergerak di bidang pelayaran saja?"


Bukannya tidak ingin, tapi ia merasa begitu berat jika harus meninggalkan Aisyah dalam jangka waktu lama, pun belum tentu Aisyah mengizinkannya. Apalagi ia juga sedikit takut menjalani hubungan jarak jauh seperti yang lalu-lalu.


Akmal memarkirkan mobilnya saat tiba di halaman rumah di mana motor Aisyah sudah terparkir di sana. Cukup lama ia berdiam di dalam mobil, hingga suara ketukan kaca mobil menyadarkannya dari lamunan.


"Aisyah," lirih Akmal saat melihat sang istri sedang menantinya di luar mobil. Pria itu segera membuka pintu mobil dan keluar menemui istrinya.


"Assalamu 'alaikum, Sayang," ucapnya sembari mengulurkan tangannya ke arah Aisyah dan langsung di sambut oleh wanita itu seraya mencium punggung tangannya.


"Kenapa kamu lama di dalam, Mas?" tanya Aisyah saat Akmal mengecup kening dan langsung memeluknya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Aisyah lagi karena tak mendapat respon dari sang suami. Ia hendak melepas pelukan Akmal untuk melihat wajahnya, tapi rupanya pria itu tak ingin melepaskan pelukan tersebut.


"Biarkan dulu seperti ini, Sayang," lirih Akmal yang semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Tak ingin lagi bertanya, Aisyah membalas pelukan sang suami sembari menepuk pelan pundaknya, berharap bisa menenangkan pria itu jika saja ia memiliki masalah yang belum bisa ia ceritakan.


Setelah merasa sedikit tenang, Akmal melepaskan pelukannya dan merapatkan keningnya dengan kening Aisyah.


"Kamu tahu kan aku sangat mencintai kamu?" Terasa anggukan kepala dari Aisyah. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Tolong jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi," lirihnya dan lagi-lagi terasa anggukan kepala dari wanita itu.


Sangat terasa embusan napas Akmal di wajah Aisyah, bahkan semakin lama pria itu semakin mendekatkan wajahnya, membuat Aisyah semakin merasa malu dan bercampur tidak nyaman karena berada di depan rumah meski terhalang pagar.


"Jangan di sini yah, banyak yang lihatin," ucapnya lirih.


Akmal tersenyum lalu menjauhkan wajahnya dari sang istri dan merangkul wanita itu masuk ke dalam rumah.


-


"Di minum dulu tehnya, Mas." Aisyah menyodorkan secangkir teh melati yang masih mengepulkan asap di atas meja, aroma melati yang begitu khas di indera penciuman Akmal semakin membuatnya merasa rileks dan tenang.


Perlahan Akmal menyeruput teh itu sembari memejamkan mata menikmati rasa yang memanjakan lidah dan menghangatkan kerongkongannya.


"Sayang, ada yang ingin aku ceritakan padamu," ucapnya setelah meletakkan kembali cangkir tersebut di atas meja.


Aisyah mendekatkan duduknya dengan sang suami. "Ceritakanlah, Mas. Aku akan mendengarkan."


"Apa ada masalah sampai Mas di pecat?" tanya Aisyah.


Akmal terdiam, ia benar-benar tidak tahu apakah dia harus menceritakan kepada Aisyah tentang sumber masalahnya atau tidak, ia hanya tidak ingin sang istri merasa bersalah.


"Mas?" ulangnya.


"Entahlah, mungkin mereka melihat latar belakang pendidikanku yang tidak sesuai di perusahaan itu," jawabnya tak jujur.


"Memangnya latar pendidikan kamu apa, Mas? Kali aja aku bisa bantuin kamu cari pekerjaan yang sesuai."


"Pelayaran, Sayang."


"Apa?" Aisyah begitu terkejut. "Apa itu artinya jika kamu bekerja di bidang pelayaran, kamu akan jarang pulang?" Akmal mengangguk lemah.

__ADS_1


Wajah Aisyah seketika memucat, membayangkan suaminya akan hidup jauh tanpanya seolah membuat hatinya sedikit takut, takut jika apa yang pernah ia alami akan terulang kembali.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Akmal saat melihat Aisyah hanya diam dengan wajah yang tampak pucat.


"Aku ... aku akan menyiapkan makan malam dulu," ucap Aisyah langsung pergi meninggalkan Akmal di ruang keluarga.


Akmal menatap kepergian Aisyah sembari membuang napas kasar.


--


Malam harinya usai makan malam, Aisyah membersihkan semua perabotan makan yang baru saja ia dan suaminya gunakan. Namun, rupanya hanya tangannya yang bekerja tapi pikirannya melayang memikirkan nasibnya jika ia harus kembali hidup jauh dengan sang suami.


Sungguh hatinya sangat tidak siap jika harus berpisah jarak dengan suaminya kali ini. Bukannya Aisyah tidak mempercayai kesetiaan Akmal, hanya saja trauma masa lalunya benar-benar membuatnya takut untuk membuka jalan yang sama seperti dulu.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Aisyah berjalan ke lantai dua di mana kamarnya berada, perlahan ia membuka pintu dan mencari sosok suaminya, tapi tak ia temukan. Hingga terdengar suara ponsel Akmal yang berdering di balkon kamar.


"Halo assalamu 'alaikum, Pak Bagas," ucap Akmal berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.


Aisyah yang mendengar sekilas percakapan sang suami memutuskan untuk duduk bersandar di kepala ranjang sembari memeriksa ponselnya.


"Apa? Bapak meminta saya kembali ke kapal?"


Aisyah menghentikan aktivitasnya saat mendengar kata kapal, ia menajamkan pendengarannya agar bisa mengetahui apa yang sedang dibicarakan Akmal dengan orang itu.


"Maaf, Pak, sepertinya saya belum bisa menerima tawaran Bapak kali ini, saya baru saja menikah dan saya tidak bisa meninggalkan istri saya seorang diri di rumah."


"..."


"Hahah, Bapak bisa saja, jika misalnya ada kursi kosong, tolong Bapak cari saja yang lain, saya tidak bisa menjamin sampai kapan saya bisa memikirkan tawaran Bapak ini. Tapi bagaimana pun terima kasih Pak karena sudah menawarkan pekerjaan kepada saya."


"..."


"Wa'alaikum salam."


Aisyah dengan cepat memposisikan dirinya untuk tidur membelakangi Akmal dan memejamkan mata saat melihat sang suami telah mematikan ponselnya dan hendak masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Terasa Akmal naik di tempat tidur dan langsung memeluk tubuh Aisyah dari belakang. "Aku mencintaimu, istriku," bisiknya sembari mengecup kepala Aisyah membuat mata wanita itu sedikit memanas dan mulai mengeluarkan air mata.


-Bersambung-


__ADS_2