Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kedatangan Citra


__ADS_3

Akmal terbangun saat perutnya meraung-raung minta di isi, sejujurnya sejak semalam ia sudah merasa lapar, hanya saja ego sedang menguasainya saat itu, membuatnya memilih langsung tidur dan mengabaikan Aisyah.


Akmal mengamati seluruh kamar dengan lampu tamaram, tapi tak menemukan istrinya di sana. Pria itu melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Ia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar guna mencari keberadaan wanita yang sejak semalam ia diamkan.


Langkah pertamamya kali ini adalah mushola, dimana istrinya sering berada di sana saat sepertiga malam. Dan benar saja, wanita itu sedang duduk di atas hamparan sajadah, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang tertutupi mukenah.


Tubuh Aisyah tampak bergetar, sepertinya ia sedang menangis, sayup-sayup Akmal dapat mendengar kalimat-kalimat istighfar dari mulutnya. Akmal tertunduk, ia mundur selangkah lalu bersandar di dinding luar musholla. Tangannya mengusap perlahan matanya yang mulai mengeluarkan bulir-bulir bening.


"Apa aku terlalu keras pada Aisyah?" batinnya sembari mendongak menatap langit-langit agar air mata tak keluar lagi dari matanya.


"Maafkan aku, aku ingin menjaga Khaira dan Bang Zafran agar tidak lagi tersakiti oleh wanita itu, tapi aku malah menyakiti istriku sendiri, dia tidak salah, dia hanya tidak tahu, perasaannya terlalu lembut hingga begitu mudah merasa simpati pada orang lain," batin Akmal sembari mengusap kembali matanya.


Akmal berbalik hendak masuk kembali ke dalam musholla, tapi terhenti saat Aisyah sudah berdiri di ambang pintu tanpa menggunakan mukenah. Matanya begitu sembab, dengan jejak air mata yang masih membasahi bulu matanya.


"Mas? Ada apa? Kenapa berdiri di sini? Apa Mas mau sholat? Atau Mas mau makan? Semalam Ma ...." Pertanyaan Aisyah seketika terputus saat Akmal memeluknya dengan begitu erat.


"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah menyakiti perasaan kamu," lirih pria itu tanpa melepas pelukannya.


Aisyah tersenyum, meski air mata kembali mengalir dari matanya. Tangannya terangkat untuk membalas pelukan sang suami lalu mengusap punggungnya dengan lembut.


"Aku yang minta maaf karena nggak dengerin kamu, Mas," lirihnya.


Akmal melepas pelukannya dan menatap Aisyah, ia mengusap air mata sang istri dengan tangannya lalu memberikan kecupan di seluruh wajahnya.


"Maafkan aku, Sayang, udah buat kamu nangis," ucapnya kembali memeluk Aisyah.


"Udah ah melow-melownya, makan yuk Mas, laper nih," ujar Aisyah membuat senyuman seketika terbit di wajah Akmal.


"Tahu aja kalau lagi laper." Akmal merangkul pinggang Aisyah dan berjalan bersama menuju meja makan.


"Aku angetin dulu yah makanannya." Aisyah membuka penutup makanan dan terlihatlah sup daging kesukaan Akmal, membuat mata pria itu berbinar.


"Jangan lama-lama angetinnya, aku laper banget nih." Pria itu duduk manis di kursi meja makan.


"Makanya kalau di ajak makan yah makan, Mas, bukan malah tidur."


"Iya iya, aku yang salah," ujarnya sembari mengamati makanan yang masih begitu banyak. "Kamu juga nggak makan yah? Ini makanannya masih banyak gini?" lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Nafsu makanku hilang karena kamu cuekin," ungkap Aisyah sembari sesekali mengaduk sup daging ynag sedang dihangatkan di atas kompor.


Akmal beranjak dari duduknya dan memeluk sang istri dari belakang, dagunya ia letakkan di pundak Aisyah.


"Maaf yah istriku sayang, aku salah," lirihnya di dekat ceruk leher Aisyah membuat wanita itu merasa sedikit geli.


"Iya, Mas. Yuk makan, udah siap nih." Aisyah mengambil mangkuk dan menuangkan sup daging tersebut ke dalamnya dan membawanya ke meja makan.


Sementara Akmal, pria itu terus saja bertahan di posisinya bagaikan anak kecil yang di gendong oleh ibunya.


"Mas mau makan dalam keadaan seperti ini?" tanya Aisyah.


"Eheheh, makan dulu lah kalau gitu, nanti aja baru lanjut," jawabnya sembari mengerlingkan matanya menggoda Aisyah.


⚓⚓⚓


Di tempat lain, Zafran terbaring di tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamar. Hingga saat ini ia belum bisa memejamkan matanya. Entah kenapa sejak pertemuan terakhirnya dengan Ainun, hatinya selalu saja merasa ingin bertemu dengannya, apalagi saat mengetahui bahwa ta'arruf Ainun di batalkan, ia merasa sangat bahagia.


Tapi kenapa? Apa dirinya benar-benar tertarik pada wanita itu? Apa dia mulai mencintainya? Jika memang demikian, bukankah seharusnya ia segera melamarnya agar perasaannya tidak dinodai oleh setan?


Zafran bangkit dari tidurnya dan mengusap kasar wajahnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan mulai mendirikan sholat istikharah untuk memantapkan hatinya. Jika hatinya telah mantap, maka ia tidak akan menunda waktu lagi untuk segera melamar Ainun.


-


Di saat Zafran sedang fokus, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dan masuklah Fadil setelah dipersilahkan masuk.


"Maaf, Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap sang asisten.


Zafran mengerutkan keningnya dan menghentikan pekerjaannya sejenak. "Siapa? Apa dia sudah buat janji?" tanya Zafran.


"Anu Pak ...."


"Apa aku juga harus membuat janji jika ingin bertemu dengan mantan suamiku?" Seorang wanita muncul di balik pintu dengan pakaian yang cukup seksi dengan kacamata hitam yang bertengger di kepalanya.


Mata Zafran membola dan rahangnya mengeras saat melihat wanita yang tidak ingin ia lihat sejak 5 tahun lalu kini muncul kembali di hadapannya dengan begitu arogan.


Fadil yang menyadari adanya aura mencekam di ruangan itu segera pamit untuk keluar.

__ADS_1


"Mau apa kamu ke sini, Citra?" tanya Zafran ketus dengan sorot mata tajam.


"Tentu saja aku ingin menemuimu," jawab Citra santai sembari mendaratkan tubuhnya di sofa meski belum mendapat izin dari si pemilik ruangan.


"Aku tidak memiliki urusan denganmu, keluar!" Zafran berusaha menahan emosinya agar tidak lepas kendali.


"Kenapa kamu jahat sekali? Kita baru saja bertemu kembali dan kamu malah mengusirku?"


"Aku tidak peduli, Citra. Sekarang aku minta kamu KELUAR!" Zafran menekan katanya dengan suara yang lebih tinggi.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? aku datang ke sini karena ingin membawa surat ini untukmu." Citra meletakkan sebuah amplop di meja kerja Zafran.


"Apa lagi ini?"


"Buka aja."


Zafran segera membuka amplop itu dan membaca isinya. Tak lama kemudian ia meremas kertas itu dan membuangnya ke lantai.


"Siapa kamu ingin mengambil hak asuh anakku?"


"Aku ibunya."


"Ibu?" Akmal tersenyum kecut mendengar pernyataan Citra yang begitu percaya diri.


"Kalau memang Ibu, kemana kamu selama ini? Kemana kamu saat Khaira menangis ingin minum ASI? Kemana kamu saat Khaira membutuhkan kasih sayangmu? Kemana kamu saat dia sedang sakit?"


Citra terdiam seribu bahasa. Sungguh pertanyaan itu bagai tombak yang menghujamnya bertubi-tubi tanpa ampun. Katakanlah dia memang kejam karena tega meninggalkan sang putri di saat dia masih sangat membutuhkan kehadirannya, tapi ia juga tetaplah manusia biasa yang masih memiliki perasaan, sebagai seorang ibu, Citra tentu merasa begitu tersiksa harus berpisah dengan darah dagingnya sendiri.


Apalagi di tambah dengan dirinya yang tidak kunjung memiliki anak setelah pernikahan keduanya, membuat kedudukannya sebagai istri kedua terancam akan musnah.


"Aku minta maaf atas semua itu, aku benar-benar terpaksa saat itu," ucap Citra dengan suara pelan.


"Aku tidak membutuhkan maafmu, aku hanya ingin kamu membatalkan gugatan hak asuh anak ini, karena aku tidak sudi melepaskan Khaira tinggal bersama wanita sepertimu," tegas Zafran.


"Baik, aku akan membatalkannya, asal kamu mau menerima syarat dariku."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Menikahlah kembali denganku, kita akan mengurus putri kita bersama."


-Bersambung-


__ADS_2