
"Mau ngomong apa, Ummi?" tanya Khaira.
"Begini, Sayang. Kamu tahukan Allah yang mengatur semua yang ada di dunia ini? Bahkan satu lembar daun yang gugur dari sebuah pohon pun tak luput dari rencana dan izin Allah." Aisyah mulai berbicara hati-hati agar Khaira bisa memahami maksudnya.
"Iya Khaira tahu itu, kan di sekolah di ajari. Kalau nggak salah dalam Al-Qur'an Surah Al-An'am ayat 59, iya kan Ummi?"
"Masya Allah, pinter banget sih anak Ummi," puji Aisyah.
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” Khaira dan Aisyah menyebut terjemahan Al-Qur'an tersebut bersamaan.
"Masya Allah anak sholehah." Lagi-lagi Aisyah memuji Khaira.
"Lalu, Ummi tadi mau ngomong apa?" tanya Khaira.
"Emm, gini, Sayang. Karena beberapa masalah kemarin, qadarullah, atas izin Allah Ummi nikah sama Om Akmal, tapi Ummi akan tetap ada untuk Khaira kok." Aisyah berkata hati-hati berharap gadis kecil itu tidak kecewa padanya.
Tampak raut wajah Khaira yang tadinya begitu semangat seketika memudar, ia terdiam sejenak mencerna apa yang dikatakan Aisyah.
"Khaira? Meskipun Ummi nggak bisa sama Papa kamu, kamu tetap kok bisa manggil Ummi dengan sebutan 'Mama'," ujar Aisyah kembali.
"Nggak, Ummi bukan Mama, Ummi hanya Tante. Khaira cuma mau Mama, bukan Tante," ungkap Khaira dengan suara bergetar lalu berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Aisyah.
"Khaira ...." Aisyah berdiri hendak mengejar Khaira masuk ke dalam rumah, tapi ia urungkan saat melihat kedatangan Akmal.
Aisyah segera menyambut sang suami tepat saat ia turun dari mobil.
"Assalamu 'alaikum," ucap Akmal sembari tersenyum mendapati sambutan sang istri.
"Wa'alaikum salam," jawab Aisyah sembari mencium punggung tangan Akmal. "Mas, Khaira marah padaku," lirih Aisyah dengan raut wajah sendu.
"Kamu udah ngomong sama dia?"
"Iya, dan dia marah, dia maunya aku jadi mamanya, bukan tantenya." Aisyah tertunduk lesu dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku akan coba bicara padanya," bujuk Akmal lalu menarik tangan Aisyah dengan lembut masuk ke dalam rumah. Mereka kini berjalan bersama menuju ke kamar Aisyah yang kini dalam keadaan terkunci.
Tok tok tok
"Khaira, kamu di dalam, Sayang? Boleh Om bicara sama kamu?" tanya Akmal sembari mengetuk pintu.
"Om jahat, Om udah ngambil Mama Khaira," teriak gadis kecil itu dari dalam.
"Khaira, ini Ummi, Sayang." Aisyah ikut mengetuk pintu, berharap Khaira mau membukakan pintu.
"Ummi jahat, Ummi nggak tepatin janji Ummi, Khaira kecewa sama Ummi," teriak Khaira dengan suara sesenggukan, terdengar jelas gadis itu menangis tersedu-sedu di dalam kamar Aisyah saat ini.
"Ada apa, Nak?" tanya Kiai Rahman yang ikut menghampiri mereka di depan kamar Aisyah setelah mendengar teriakan Khaira.
"Abi, Khaira marah, dia kecewa sama Aisyah," adu Aisyah yang mulai tak bisa menahan air matanya.
"Biarkan Khaira menenangkan dirinya terlebih dahulu, sepertinya dia butuh waktu sendiri," ujar Kiai Rahman dengan tenang.
"Baik Abi," ucap Aisyah.
"Baik, Abi, Akmal bersiap-siap dulu," jawab Akmal lalu menarik tangan Aisyah turun ke kamar tamu tempat ia menghabiskan harinya dari kemarin. Akmal memutuskan mandi terlebih dahulu karena tubuhnya yang begitu gerah dan lengket. Sementara Aisyah mempersiapkan baju sholat untuk Akmal.
Tak menunggu lama, Akmal kini keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk sepinggang, menampilkan tubuh bagian atasnya yang berotot. Aisyah yang tidak sengaja melihatnya sedikit terkejut karena selama mereka menikah, ini pertama kalinya ia melihat Akmal dalam keadaan seperti itu. Saat di Singapura saja ia tidak pernah melihatnya karena Akmal memakai bathrobe dan mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi.
Berbeda dengan saat ini, pria itu bahkan terlihat begitu percaya diri mondar-mandir di depan Aisyah sembari memakai baju koko dan sarung, membuat ketampannya semakin bertambah.
"Kamu kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Akmal seketika menyadarkan Aisyah dari lamunannya dan refleks mengalihkan pandangannya ke segala arah.
"Nggak apa-apa kok," jawab Aisyah tanpa ingin menoleh ke arah suaminya.
"Kalau ngomong sama orang itu di lihat." Akmal menangkup kedua pipi Aisyah dan memaksanya melihat ke arahnya.
Pria itu tersenyum saat melihat pipi Aisyah yang kini memancarkan rona merah.
__ADS_1
"Mas, ini wudhunya batal, loh," cicit Aisyah.
"Nggak apa-apa, nanti aku wudhu di masjid saja," jawab Akmal santai tanpa melepaskan kedua pipi Aisyah.
"Aisyah, apa aku boleh memberi kecupan untukmu? Seingatku, aku tidak pernah melakukannya setelah kita nikah," lirih Akmal, membuat wajah Aisyah semakin memerah bak kepiting rebus.
"Allau Akbar, kenapa minta izin segala sih? bikin tambah salting aja," jerit Aisyah dalam hati.
"Kok nggak jawab? Nggak boleh yah?" Lagi-lagi Akmal bertanya, membuat Aisyah langsung menggelengkan kepalanya.
"Kok menggeleng, nggak boleh yah?" tanya Akmal sekali lagi dan Aisyah refleks menganggukkan kepala.
"Jadi beneran nggak boleh," jawab Akmal lesu sembari melepaskan tangkupannya.
Aisyah sejenak terdiam dengan wajah kebingungan.
"Eh, ini sebenarnya gimana sih? Kok aku bingung sendiri?" monolog Aisyah dalam hati.
"Maksud aku boleh," cicit Aisyah kemudian. Akmal berusaha menahan tawanya karena berhasil mengerjai Aisyah, salah sendiri nggak mau bicara dari tadi.
"Beneran nih?" tanya Akmal.
"I-iya," jawab wanita itu singkat.
Akmal kembali menahan tawa sembari menangkup kedua pipi Aisyah, perlahan ia mengikis jarak di antara mereka hingga membuat Aisyah dapat merasakan aroma napas suaminya yang begitu menyegarkan.
Mata Aisyah terpejam saat merasakan sebuah kecupan mendarat di keningnya. Hati Aisyah berdesir, merasakan kehangatan dan rasa tenang yang tercipta oleh kecupan sederhana tapi begitu bermakna. Sebuah kecupan yang diiringi oleh cinta dan di sambut oleh cinta, meski belum ada ungkapan satu sama lain.
Perasaan Aisyah yang tadinya sempat kalut karena sikap Khaira perlahan berubah menjadi tenang, seolah ia baru saja menemukan obat yang begitu ampuh untuknya. Cukup lama Akmal mengecup kening Aisyah hingga terdengar suara ketukan dari luar kamar.
"Akmal, apa sudah siap? Sebentar lagi adzan maghrib." Kiai Rahman mencoba mengingatkan dari luar kamar, membuat Akmal langsung melepaskan kecupannya.
"Aku ke masjid dulu yah, assalamu 'alaikum," ucap Akmal lalu kembali mengecup kening Aisyah sejenak dan bergegas keluar kamar setelah memakai peci dan mengambil sajadah yang telah disiapkan Aisyah.
__ADS_1
-Bersambung-