Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Ketulusan


__ADS_3

Aisyah mengernyitkan alisnya menatap pria yang masih enggan melepaskan pergelangan tangannya.


"Memastikan apa?" tanya wanita bercadar itu.


"Duduklah dulu." Akmal melepaskan tangan Aisyah lalu menepuk kasur di sisinya, memberi isyarat kepada Aisyah untuk duduk di sampingnya.


Dengan langkah pelan, Aisyah menuruti permintaan Akmal. Ia benar-benar duduk di samping pria itu. Hanya tinggal beberapa senti saja lengan mereka akan bersentuhan.


"Maaf, tolong kamu jangan tersinggung dengan pertanyaanku ini, tapi aku benar-benar ingin memastikan sesuatu agar aku tidak salah tangkap," ungkap Akmal yang kini mengubah posisi duduknya menghadap Aisyah.


Aisyah menoleh ke arah Akmal, ditatapnya manik mata pria itu, sorot matanya seperti memancarkan rasa penasaran sekaligus rasa takut yang tentu saja hanya Allah dan dia yang tahu.


"Apa?" tanya Aisyah sembari memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan. Ia sungguh tak mampu menatap mata Akmal lebih lama lagi, terlebih saat degup jantungnya yang semakin lama terasa semakin kuat.


"Sejak tadi aku merasa kamu selalu berusaha melaksanakan hal-hal yang biasa istri lakukan kepada suaminya, aku ingin memastikan, apa kamu melakukannya tulus, atau kamu hanya ingin memenuhi tugasmu saja?" tanya Akmal hati-hati.


Aisyah yang mendengar pertanyaan itu merasakan hatinya sedikit tercubit, apa hanya sependek itu ia memaknai pernikahannya ini?


"Jawaban seperti apa yang kamu inginkan? Bukannya menjawab, Aisyah kini membalikkan pertanyaannya.


"Aku ... Aku ...." Akmal sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan wanita di hadapannya.


Aisyah tersenyum getir di balik cadarnya saat menangkap respon Akmal yang gelagapan.


"Pernikahan kita ini terjadi begitu mendadak, bahkan saking mendadaknya dan di tambah sikap kamu yang acuh selama satu minggu ini, aku hampir lupa jika aku telah memiliki suami." Aisyah menggantungkan perkataannya.

__ADS_1


Kali ini giliran Akmal yang merasa tersentil dengan penuturan Aisyah.


"Tapi, aku membulatkan tekadku, bahwa aku telah kembali menjalin hubungan pernikahan, dan pernikahan ini adalah ibadah, tentu aku akan sangat rugi jika aku melakukannya hanya karena ingin menggugurkan tugasku sebagai istri. Semuanya akan terasa sia-sia dan hambar jika tidak ada ketulusan di dalamnya."


Aisyah lagi-lagi menghentikan sejenak perkataannya lalu memperbaiki posisinya menghadap Akmal.


"Oleh karena itu, izinkan aku melakukan tugasku ini dengan tulus, aku ingin berbakti kepadamu meski mungkin kamu belum bisa menerimaku dalam pernikahan ini. Aku sadar diri, aku hanyalah seorang janda yang memiliki kekurangan, jika nanti kamu ingin meninggalkanku, aku akan terima tapi tolong jangan khianati pernikahan ini," ungkapnya dengan suara yang mulai bergetar.


Akmal menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, maafkan aku, aku bertanya seperti ini bukan karena status masa lalu kamu. Aku hanya ingin memastikan karena aku takut aku salah tangkap akan sikapmu, aku takut jika nantinya aku jatuh hati pada orang yang mungkin hatinya masih memiliki perasaan pada orang lain, apalagi kamu yang hampir menikah dengan Bang Zafran," ungkapnya jujur lalu menunduk.


"Maafkan sikapku yang kekanak-kanakan ini, aku juga pernah di khianati di masa lalu, itu sebabnya aku takut jatuh di lubang yang sama," lanjutnya jujur.


"Tidak ada pria yang berhak kuberikan hatiku selain pria yang telah mengucapkan aqad nikah di depan Abi," tegas Aisyah, membuat Akmal seketika mengangkat wajahnya dan menatap bola mata indah yang memancarkan kejujuran.


"Apa itu termasuk aku?" Akmal benar-benar tidak menyangka dirinya akan membuat pertanyaan bod0h seperti ini.


Untuk ukuran wanita yang pernah menjalin hubungan pernikahan sebelumnya, Aisyah merasa tak perlu malu untuk sekadar mengungkapkan kejujuran. Ia bukan lagi anak gadis yang menganggap semuanya harus laki-laki yang memulai suatu kejujuran.


"Terima kasih," cicit Akmal pada akhirnya, dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Aisyah.


Wanita itu justru kembali merubah posisinya menghadap ke dinding di hadapannya. Akmal kembali ingin mengatakan sesuatu kepada Aisyah tapi ia merasa sedikit takut dan gugup. Pria itu terdiam sesaat, perlahan ia menarik napas dalam lalu membuangnya perlahan untuk menstabilkan kegugupannya.


"Aisyah, apa boleh aku melihat wajahmu?" tanya Akmal yang pada akhirnya memberanikan diri.


Aisyah sekilas menatap wajah sang suami. Meski ia merasa gugup, pada akhirnya ia tetap menganggukkan kepala pelan. Wanita itu kembali mengubah posisinya menghadap Akmal lalu membuka cadarnya perlahan.

__ADS_1


Jantung Akmal semakin dibuat berdegup tidak keruan saat melihat wajah Aisyah yang begitu cantik dan sempurna, matanya yang indah, hidungnya yang mungil tapi mancung, bibir tipis berwarna pink alami serta kulitnya yang putih bersih, seolah menjadi magnet yang membuat Akmal tak bisa memalingkan tatapannya dari wajah Aisyah.


"Sudah ku duga, kamu adalah wanita yang di toilet saat itu," batinnya tak mengalihkan tatapannya.


Semburat merah kini tampak semakin menghiasi kedua pipi Aisyah tatkala Akmal menyentuh wajah itu dengan tangannya.


"Kamu cantik," pujinya antara sadar dan tidak sadar karena begitu terpesona. "Apa Bang Zafran pernah melihat wajahmu?" tanyanya.


"Iya, saat lamaran waktu itu," jawab Aisyah jujur.


"Zafran mengetahui betapa cantiknya wajah dan karakter Aisyah, tapi dia masih merelakannya untukku? Apa dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena penyakitnya? Tapi sekarang dia sudah operasi dan tidak lama lagi dia akan sembuh, apa dia akan kembali meminta Aisyah dariku?" batin Akmal bertanya-tanya, bahkan alis tebalnya kini saling bertautan dan memperlihatkan raut wajah serius.


"Ada apa?" tanya Aisyah seketika membuyarkan lamunannya.


"Ah, maaf, aku ingin cari udara segar dulu," ucap Akmal lalu segera memakai pakaiannya dan keluar dari kamar itu.


Entah kenapa pikiran pria itu kembali kacau saat memikirkan itu, padahal apa yang ia pikirkan belum tentu terjadi. Namun, hatinya juga tak bisa memaksakan kehendak, jika saja Zafran benar-benar meminta Aisyah kembali, bukan tidak mungkin ia akan menurutinya.


⚓⚓⚓


Waktu telah menunjukkan pukul 22.00, tapi Akmal belum juga kembali ke kamarnya. Pria itu bahkan tidak membawa serta ponselnya sehingga Aisyah tidak bisa menghubunginya.


Aisyah tampak gelisah di tempat tidur, ia yang tadinya hendak tidur akhirnya mengurungkan niatnya lantaran khawatir saat Akmal datang nanti tak ada yang membukakan pintu untuknya. Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara bel dari luar kamar. Wanita itu bergegas memakai kerudungnya lalu turun dari tempat tidur untuk membuka pintu, dan benar saja, itu adalah Akmal.


Namun, ada yang berbeda dari pria itu. Raut wajahnya kembali dingin, sama seperti saat pertama kali ia menikah, bagaikan siang dan malam yang berganti dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Tadi raut wajahnya terlihat hangat, kenapa sekarang dingin lagi?"


-Bersambung-


__ADS_2