
Aisyah terbangun saat mendengar sayup-sayup suara orang mengaji, suara yang sama saat ia berada di dermaga kala itu. Wanita itu memposisikan dirinya untuk duduk sejenak setelah membaca doa. Ia memindai seluruh ruangan, mencari keberadaan sang suami yang sejak tadi malam kembali bersikap dingin kepadanya.
Aisyah memperbaiki kerudung yang sengaja ia pakai saat tidur, kemudian beranjak mencari suami sekaligus suara orang mengaji yang dulu telah membuatnya ingin mendengarnya lagi. Kini pandangannya tertuju pada balkon kamar di mana pintunya sedikit terbuka.
Perlahan ia mendekat dan sedikit mengintip keluar, seketika hatinya menghangat saat menyadari bahwa suara itu adalah milik Akmal, suaminya. Pantas saja selama ini ia merasa tidak asing dengan suara Akmal, ternyata dialah pemilik suara indah itu. Suara yang tanpa sadar telah membuatnya jatuh hati, dan ia bersyukur sebab pemilik suara itu adalah suaminya sendiri.
Waktu masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tapi hingga saat ini Akmal tidak bisa memejamkan matanya. Hatinya begitu gelisah hingga ia memilih mengaji untuk menenangkan hatinya. Karena tak ingin mengganggu Aisyah yang sudah tertidur pulas, ia memilih mengaji di balkon kamar, meski suhu dingin menusuk tulangnya.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya Aisyah sembari duduk di sampingnya, meski tak mendapat respon apa pun dari pria itu.
"Suaramu begitu indah saat mengaji," puji Aisyah ingin menghilangkan kecanggungan yang kembali hadir di antara mereka.
"Terima kasih, kenapa tidak tidur? Ini sudah tengah malam." Akmal menutup Al-Qur'an yang sejak tadi ia baca.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa ada yang mengganggu pikiranmu hingga kamu tidak bisa tidur?" tanya Aisyah.
Terdengar embusan napas kasar dari pria itu meski mereka di batasi oleh sebuah meja.
"Lebih baik kamu bersikap biasa saja kepadaku, jangan terlalu baik padaku, jangan pula terlalu menaruh perhatian padaku," ujar Akmal.
Aisyah mengernyitkan alisnya menatap pria itu. "Kenapa?"
"Karena Zafran bisa saja memintamu kembali dan aku tidak ingin jatuh lebih dalam karena perasaanku ini," batin Akmal.
"Aku tidak menginginkan semua ini, aku tidak nyaman dengan semua perlakuanmu padaku," jawab Akmal berbohong.
Aisyah membuang napas lesu setelah mendengar perkataan Akmal. Dadanya terasa sesak, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya.
"Maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman," ucapnya singkat lalu beranjak dari tempat itu.
Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dan tertutup. Akmal yakin, Aisyah telah keluar dari kamar itu. Kini ia meraba dadanya, ia juga merasakan sakit tapi itu lebih baik daripada ia akan semakin sakit nantinya.
"Maafkan aku, Aisyah. Maafkan sikap kekanak-kanakanku ini. Kelak kamu akan bahagia bersama Zafran, saat itu terjadi, lupakan aku," lirihnya dengan suara bergetar.
⚓⚓⚓
Di sisi lain, Aisyah duduk di tepi tempat tidur Ainun. Tatapannya sendu, kedua tangannya meneremas gamisnya dengan kuat hingga tampak urat-urat halus di tangan putihnya.
"Sya, kamu kenapa?" Ainun duduk di samping Aisyah sembari merangkul pundaknya.
__ADS_1
"Ainun, apakah aku memiliki kesalahan selama ini? Kenapa aku merasa seperti sedang mendapat hukuman dari Allah? Aku-aku baru saja merasakan sedikit kebahagiaan, tapi kemudian aku kembali di hempaskan ke bawah." Suara Aisyah tercekat di tenggorokannya, isakan tangis yang tertahan terdengar lirih keluar dari mulutnya.
"Jangan di tahan, Sya. Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi jika kamu ingin menangis keluarkan saja, biarkan tangisan itu keluar membawa kesedihanmu, jangan di tahan karena akan menyiksamu," ucap Ainun langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
Sangat terasa tubuh Aisyah yang bergetar karena menangis dalam pelukannya, bahkan bajunya di bagian pundak kini terasa basah oleh air mata sahabatnya itu.
"Jika kamu mendapat masalah, positive thinkink yah, Allah hanya ingin menguatkanmu, aku yakin kebahagiaan sesungguhnya sedang menantimu di sana." Ainun menepuk pelan punggung Aisyah.
⚓⚓⚓
Matahari pagi yang begitu cerah kini mulai memancarkan kehangatannya. Akmal masih duduk diam di atas tempat tidur usai menunaikan sholat subuh. Sesekali ia melirik barang-barang milik Aisyah, ada rasa bersalah yang hinggap di hati Akmal, ia sadar telah melukai hati wanita itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Rasa takut akan kehilangan Aisyah membuatnya tak bisa berpikir jernih. Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar untuk lari pagi sekaligus langsung menjenguk Zafran. Subuh tadi ia mendapat kabar dari Ibu Sofi jika Zafran sudah sadar.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuatnya langsung beranjak dan membukanya.
"Assalamu 'alaikum, Kak. Bang Zafran udah bangun, aku dan Mama mau pergi melihat keadaannya, apa Kakak dan Kak Aisyah mau pergi juga?"
Akmal membuang napas lesu, ia sempat mengira jika yang mengetuk pintu tadi adalah Aisyah, ternyata adiknya, Aira.
"Apaan sih, Kak? Kalau Kakak belum mau pergi, biar aku pergi sama Kak Aisyah saja," protes Aira.
"Nggak perlu, nanti dia bareng kakak aja," tolak Akmal lalu pergi meninggalkan Aira yang mendengus karena sikap kakaknya itu.
⚓⚓⚓
Akmal tiba di rumah sakit seorang diri. Ia benar-benar langsung singgah di rumah sakit setekah melakukan lari pagi. Niatnya kali ini ingin melihat kondisi Zafran, setelah memeriksanya baru ia akan kembali ke hotel untuk mandi dan sarapan.
"Assalamu 'alaikum," ucapnya memasuki kamar rawat Zafran.
"Wa'alaikum salam, loh kok sendiri, yang lain mana?" jawab Zafran dan langsung bertanya.
"Loh, Mama dan Aira belum datang yah?" Akmal justru balik bertanya, ia melangkahkan kakinya mendekat ke tempat tidur Zafran
"Belum, kamu orang pertama yang datang, oh iya, apa kamu tidak datang bersama Aisyah?" tanya Zafran lagi.
"Dia ... dia nanti menyusul sama Ainun," jawabnya asal. "Bagaimana keadaanmu, Bang? Di mana tante Sofi?" tanyanya cepat untuk mengalihkan pembicaraan awalnya.
__ADS_1
Namun, sepertinya usahanya itu sia-sia. Zafran justru memicingkan mata menatapnya, seolah sedang merasakan sesuatu yang tidak beres.
"Jujurlah padaku, apa kamu masih tidak memperlakukan Aisyah sebagaimana perlakuan suami kepada istrinya?"
Akmal terdiam, seketika tenggorokannya terasa kering, rasanya untuk menelan saliva saja begitu sulit. Jujur saja ia merasa tertampar oleh pertanyaan Zafran, sejauh ini ia benar-benar tidak pantas disebut suami.
Bukankah ia begitu egois? Ia bersikap dingin kepada Aisyah untuk menjaga perasaannya, tapi tanpa disadari, di saat bersamaan ia justru telah melukai perasaan wanita tak berdosa itu.
"Ma-maafkan aku, Bang," lirihnya dengan suara bergetar.
"Ck, kau itu, apakah kau bersikap seperti ini karena berpikir aku merelakan Aisyah demi kehormatan Aisyah? Tidak, Mal! Aku merelakan dia karena kamu!" tegas Zafran menunjuk ke arah Akmal.
"Apa? Karena aku?"
"Iya, Mal. Aku merelakan Aisyah kepadamu karena aku tahu kamu mencintainya!"
Degh, Jantung Akmal seketika berdegup kencang mendengar penuturan Zafran, tapi lagi-lagi dia tidak bisa berkata apa-apa, dadanya terasa sesak, seakan menahan gemuruh yang ingin segera menerobos keluar.
"Kamu sempurna, bahkan jauh lebih sempurna dariku, Mal. Kamu sehat, berbeda denganku. Meski aku sembuh dari gagal ginjal ini, kamu tetaplah lebih sempurna dariku. Aku mengiginkan pasangan yang sempurna untuk Aisyah dan itu hanya ada pada kamu."
Akmal terdiam sejenak mencerna perkataan Zafran.
"Jadi, maksudmu, meski kamu telah sembuh dari sakitmu ini, kamu tidak akan meminta Aisyah untuk kembali padamu?" tanya Akmal pada akhirnya.
"Pemikiran bod0h macam apa itu? Akmal, kau ini cerdas sejak kecil, kenapa hanya dalam sekejap kamu menjadi bod0h dan berpikiran childist seperti ini?" Sarkas Zafran. "Tentu saja tidak, inilah takdir yang telah Allah atur untuk kalian," lanjutnya.
Kepala Akmal seketika berdenyut. Rasa bersalah dan menyesal kini menyelimuti pikirannya. Perlahan ia melangkah mundur menjauhi Zafran lalu segera berbalik tanpa berkata apa pun. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Aisyah, istrinya, wanita yang sebenarnya sangat ia cintai sejak awal pertama bertemu.
Ceklek
"Kak Akmal mau ke mana?" tanya Aira yang berpapasan dengannya di ambang pintu.
"Aku ingin menjemput Aisyah," jawabnya dengan suara bergetar dan mata yang telah berembun.
"Loh, bukannya pagi ini Aisyah dan Ainun akan kembali ke Indonesia? Dia tadi pamit sama mama," ujar Ibu Shalwa sedikit heran.
"Apa?"
-Bersambung-
__ADS_1